
Malam ini langit sangat indah. Bintang bertaburan cerah cemerlang di langit malam. Seperti biasa Alina menempati tempat duduk paling eksklusif diseluruh rumah keluarga Miller, yaitu tempat duduk di tengah kebun bunga taman belakang.
Pandangan Alina tidak bisa terlepas dari indahnya langit malam itu. Sudah lebih dari setengah jam Alina diam disana. Banyak hal yang dipikirkannya, dan tidak bisa ia ceritakan kepada sembarang orang. Sejak tadi Alina menunggu Arkana pulang dari kantor setelah kemarin malam menginap disana.
Arkana sempat mengabari Alina kalau hari ini dirinya akan pulang. Mereka sudah berjanji membahas temuan mereka masing-masing di kebun bunga. Tempat yang tergolong sepi dimalam hari karena tidak banyak orang yang lewat.
Alina sibuk memainkan ponselnya saat seseorang menyodorkan segelas coklat panas padanya. Dengan senyuman Alina meraih coklat panas yang dibawa Arkana untuknya, "Tumben banget bawain ini," ucap Alina heran.
"Bi Iyah yang bikinin, katanya udah lama diem diluar pasti kedinginan."
"Sorry telat pulangnya." lanjut Arkana merasa bersalah membuat Alina menunggunya lama.
"Gapapa ... udah sini duduk." Alina meraih tangan Arkana untuk duduk disampingnya.
Sebelumnya Arkana sudah memberitahu Alina kalau Satrio berhasil menemukan jejak keberadaan Pak Agus. Semalaman Arkana menonton rekaman cctv yang didapatkan Satrio dari salah satu anak buahnya. Alina bercanda jika kehebatan Satrio itu bisa membuat orang salah paham.
"Mas Satrio yang punya anak buah, jatohnya kayak ketua geng ya ... " ucap Alina tertawa.
"Tapi Satrio juga anak buah saya ... berarti saya apa? ketuanya ketua geng gitu?" tanya Arkana yang membuat Alina tertawa lepas.
Dari hasilnya semalaman menatap layar komputer demi mencari keberadaan Pak Agus. Pak Agus itu tinggal tidak jauh dari tempat anak-anaknya tinggal. Terkadang cctv merekam Pak Agus akan diam-diam berdiri didepan rumah hanya untuk melihat anak-anaknya.
"Jadi adek kemaren itu bohong kalo ga pernah ketemu ayahnya?" tanya Alina.
"Engga bohong ... salah satu saudaranya aja yang tidak cerita pernah ketemu ayahnya."
"Jadi Pak Agus ini ga ketemu anak itu, tapi ketemu sama anaknya yang lain," lanjut Arkana.
Pak Agus ternyata diam-diam masih mengawasi anaknya. Meskipun sudah kembali bekerja dengan John Miller, Pak Agus tidak sepenuhnya meninggalkan anaknya. Pasti ada alasan tertentu dibelakang kembalinya Pak Agus ke John Miller.
__ADS_1
"Secepatnya kita harus bisa ketemu sama Pak Agus ini, Al."
"Ngomong-ngomong soal Pak Agus, ternyata dia ada di acara golf kemarin." Alina memberikan hasil jepretannya kepada Arkana.
"Itu aku dapetin di meja kerjanya Mas Baskara," tutur Alina.
Arkana melihat hasil foto itu dengan baik. Ia mencoba mengenali setiap wajah disana. Tidak ada yang aneh kecuali Pak Agus, mereka hanyalah orang-orang yang juga diketahui Arkana. Yang cukup aneh mungkin kehadiran Tama.
Arkana sendiri tidak mengenali Tama sebagai teman ayahnya, karena ia hampir tidak pernah hadir di acara pertemuan yang diadakan ayahnya. Baru setelah Tama mendekati Arkana, dia muncul di acara yang diadakan John Miller.
Namun, untuk membahas lebih lanjut tentang Tama, Arkana sama sekali tidak ada waktu. Di kepalanya, Tama hanyalah seseorang iseng dan tidak punya kerjaan yang terobsesi menggangunya. Mungkin karena sampai saat ini masalahnya tidak ada yang terkait dengan Tama.
"Apa kita ga coba tanya Mas Baskara aja? siapa tau dia kenal sama Pak Agus ini," ucap Alina.
"Jangan ... kecuali kita berdua dan Satrio ga boleh ada yang tahu tentang ini."
"Oke kalo gitu, aku cuma nyaranin aja."
Pagi harinya Alina sudah rapih dan bersiap-siap akan pulang. Hari ini jadwalnya ia untuk pulang dan akan kembali kurang lebih satu minggu lagi. Rose selalu mengizinkan Alina punya waktu untuk pulang, ia juga lah yang menyuruh Alina berada dirumahnya lebih lama dari sebelumnya.
Alina masih muda, ia juga berhak untuk punya kehidupan lain diluar pekerjaannya di rumah keluarga Miller. Karena alasan itu Rose mengizinkan Alina pulang selama satu minggu. Kini yang memberikan Alina izin yaitu langsung dari Rose, bukan Baskara.
Baskara sudah menyerahkan Alina kepada ibunya. Lagipula pekerjaannya lebih banyak bersama ibunya dibanding dengan Baskara. Selain itu Baskara sekarang berniat untuk lebih sering berada di kantor ayahnya.
"Ada yang jemput kesini Al?" tanya Bi Iyah.
"Aku nebeng Mas Arkana, Bi Iyah ... gara-gara itu jadi harus udah siap semuanya dari pagi biar ga ditinggal."
"Tapi Mas Arkana udah berangkat, Al," ucap Bi Iyah mencurigakan.
__ADS_1
Setelah mendengar itu hampir saja Alina pergi berlari dengan cepat ke parkiran, tetapi berhasil ditahan Bi Iyah. Ternyata Bi Iyah hanya bercanda, Arkana juga memang belum terlihat dimana pun pagi ini. Sarapan pagi pun tidak ada, itu yang mungkin membuat Bi Iyah berpikir Arkana sudah pergi.
Alina pun memutuskan menyusul Arkana ke kamarnya. Alina benar-benar takut ditinggal Arkana. Tetapi dari jau terlihat pintu kamar Arkana terbuka lebar, tidak seperti biasanya.
Dari dalam kamar Arkana juga terdengar suara bising diikuti teriakan kesal Arkana. Alina khawatir terjadi sesuatu kepada Arkana, akhirnya mempercepat langkahnya bahkan sedikit berlari mendekat. Terlihat Arkana sedang membawa tongkat baseball yang ada dikamarnya.
"Mas Arkana ... ngapain?" tanya Alina.
"Awas Al, minggir dulu jangan gangguan saya."
"Ada kecoa tadi disini," lanjut Arkana beberapa kali mengayunkan tongkat baseball nya.
"Mana ada kecoa di rumah sebesar ini," heran Alina.
"Justru karena besar jadi ga ke kontrol ... ih awas Al, kamu ngalangin dia keluar."
Alina kemudian pergi. Namun sebelumnya ia mengingatkan kalau tidak pergi sekarang Baskara akan terlambat sampai ke kantor. "Suruh orang aja Mas cariin kecoanya, nanti terlambat kalo malah nyari sendiri." Alina berpaling berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas.
Alina memutuskan untuk menunggu Arkana didepan mobilnya. Tidak lupa mengirimkan foto beserta curhatannya kepada Arkana menyuruhnya cepat turun. Tidak lama kemudian Arkana muncul, "Masuk Al." Arkana membuka kunci mobilnya dari kejauhan.
"Pake seatbeltnya."
"Udah siap?" tanya Arkana.
"Siap." Alina memasang seatbeltnya.
Arkana kemudian menancap gas mobilnya dengan cepat keluar dari area parkir. Meskipun kemampuan mengendarai motornya tidak perlu ditanyakan lagi, kemampuan Arkana mengendarai mobil juga tidak kalah baiknya.
Alina memegang erat seatbeltnya. Matanya tidak berhenti melirik kesana kemari, ketakutan. Sesekali Alina melihat Arkana yang menyetir dengan wajah santai nya meskipun kecepatan mobil ini sama sekali tidak seperti wajahnya saat itu.
__ADS_1
Mulut Alina berhenti berbicara. Dirinya hanya fokus menatap jalanan dan berpegangan erat kepada seatbeltnya. Dengan kecepatan seperti itu, lubang yang ada dijalanan bisa saja tidak terlihat. Saat tidak sengaja ban mobilnya melewati lubang dijalanan, Arkana merentangkan tangannya sopan menghalangi tubuh Alina yang bergerak maju.
Aku masih mau hidup Mas, please jangan gegabah gini nyetirnya ...