Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
81. MENYEBAR LUAS


__ADS_3

Acara perkenalan ekstrakulikuler sudah selesai. Kini pada murid-murid mulai mendatangi setiap ruang kelas yang telah disiapkan untuk mereka mendaftar. Pendaftarannya akan dilakukan dua hari, sehingga besok pun tidak ada pembelajaran formal.


Alina beserta rekan-rekan gurunya yang lain bersama-sama membereskan aula. Kini Alina sudah mulai akrab dengan yang lain sehingga kegiatan hari ini lebih menyenangkan baginya. Mereka banyak mengobrol dan saling bercerita tentang pacar dan suami masing-masing.


Disana Alina hanya banyak tertawa karena perbedaan umur diantara mereka. Tetapi meskipun begitu mereka saling menghormati satu sama lain. Alina bisa cepat akrab disana karena terbiasa mengobrol dengan orang-orang baru di bar.


Tiba-tiba ponsel Alina berbunyi. Mereka yang turut mendengarnya meledek Alina mengira telepon itu dari kekasihnya. Alina pun pamit keluar sebentar untuk menerima telepon dari Tari.


"Halo ... kenapa Tari?"


"Aku lagi di sekolah nih, kalo mau ngobrol nanti aja di bar ya kayak biasa."


"Bentar, Al ... jangan dulu ditutup, cepetan kamu buka tautan berita yang aku kirim deh penting banget," ucap Tari serius.


Setelah Tari menutup teleponnya, Alina segera melihat tautan berita yang diberikan Tari padanya. Kedua mata Alina terbuka lebar melihat berita yang tertulis disana. Ketika melihat penulisnya, ternyata salah satu dari karyawan ayahnya.


Alina yang panik kemudian meminta izin pulang lebih dulu. Melihat wajah panik Alina membuat rekan guru yang lain mengizinkan Alina. Dengan panik Alina berlari keluar sekolah dan mencegat taksi menuju kantor ayahnya. Banyak hal yang ada dikepalanya sekarang, termasuk pertanyaan dari mana ayahnya tau tentang ini.


Alina hanya curiga dengan satu orang, yaitu ibunya. Mirna satu-satu nya orang yang memungkinkan untuk melakukan ini. Karena tidak ada orang lain lagi disekitar Alina yang mengetahui ini. Arkana tidak mungkin dengan sengaja memberitahukan ini kepada ayahnya.


"Ayah ...  tolong jangan gini, dengerin dulu aku." gumam Alina didalam taksi.


Supir taksi yang dinaiki Alina yang melihat wajah panik dan tidak tenang Alina dari kaca spion akhirnya menancap gas nya melaju lebih cepat. Alina hanya berharap waktunya cukup untuk ayahnya menarik semua berita itu.


Sesampainya disana, Alina kemudian berlari kedalam dan mendapati sang ayah sedang sibuk dengan karyawan lainnya. Sekuat tenaga Alina memanggil ayahnya. Setelah melihat Alina, ayahnya kemudian berjalan menghampiri Alina dan menariknya keluar.

__ADS_1


"Yah dengerin Alina dulu."


"Alina ... bisa-bisanya kamu rahasiain ini dari Ayah, kamu sudah tau tentang ini dan diam saja?" Adi sedikit menaikkan suaranya kepada Alina.


"Ayah, maksud Alina ga gitu ... aku cari waktu yang tepat biar ayah ga kayak gini respon nya."


"Kayak gini gimana? ayah cuma mau keadilan untuk Kai," ucap Ayahnya marah besar.


Adi kemudian meninggalkan Alina seorang diri dan kembali kedalam. Alina mengejar sang ayah karena belum selesai dengan pembicaraannya, "Ayah, dengerin dulu ... lawan Ayah itu keluarga Miller, Tuan Miller ... kalo Ayah diapa-apain sama mereka gimana?" tutur Alina dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.


"Ayah tidak peduli, Ayah sudah siap dengan apapun konsekuensinya."


Alina berdiri terdiam ditengah orang-orang yang saling sibuk mencari informasi untuk dijadikan bahan berita berikutnya. Disaat yang sama Mirna tampak senang dan tersenyum lebar melihat ramainya tanggapan orang-orang banyak tentang berita ini.


Kantor John Miller tempak kacau, banyak telepon keluhan yang masuk. Banyak karyawan yang hampir kewalahan menangani ini. Sementara Baskara terus menekan pihak IT untuk menghapus semu pemberitaan dan membuat berita itu tidak lagi menyebar.


Sampai saat ini Arkana belum juga mengangkat teleponnya. Baskara sampai kesal dan hampir melempar teleponnya. Disaat seperti ini Baskara yakin Arkana bisa menangani nya dengan kepala dingin tidak seperti dirinya yang ikut panik.


Rose yang sempat pingsan tadi akhirnya siuman. Disampingnya ada Bi Iyah yang sejak tadi setia menunggunya. Rose masih sangat lemas, namun hal yang pertama ditanyanya adalah kedua anaknya. Bi Iyah mengatakan jika saat ini Mas Baskara sedang sibuk menahan berita yang ada.


Sedangkan Mas Arkana sama sekali tidak bisa dihubungi, Mas Satrio pun sama-sama tidak bisa dihubungi. Pihak pengawal sudah mencoba menghubungi kantor LifeCare tetapi menurut mereka saat ini Mas Arkana sedang ada rapat penting yang biasanya akan tertutup dan tidak bisa diganggu.


"Arkana!" Rose dibuat kesal dan marah dengan perilaku anaknya itu yang sangat mirip dengan ayahnya. John Miller juga akan menutup semua akses ke ruangannya jika dirinya sedang ada hal penting yang dibicarakan. Rose kemudian meminta mereka sebisa mungkin segera mengabari Arkana secepatnya.


Tidak tahu apa yang harus diperbuatnya Alina hanya duduk terdiam di luar. Alina merasa gagal dan ini semua juga salahnya. Salahnya yang tidak langsung mengatakan yang sebenarnya sejak awal, dan membiarkan Mirna membukanya duluan.

__ADS_1


Ia sangat tahu bagaimana sifat licik ibunya. Mirna pasti mengatakan itu semua dengan gaya dilebih-lebihkan sehingga membuat ayahnya terpancing. Adi biasanya tipe yang tenang dan tidak mudah terpancing, tetapi saat ini Adi sangat marah dan bisa melakukan hal ini.


Saat ini Alina juga tidak bisa menghubungi Arkana. Hubungan keduanya sejak lama terpisah. Akan terasa sangat canggung jika ia meneleponnya saat ini. Alina kehilangan arah, dan tidak tahu harus bagaimana. Namun Alina tidak akan menyerah, dia akan kembali ke dalam dan meyakinkan ayahnya untuk  berhenti.


Akhirnya rapatnya selesai. Arkana pun keluar dan berjalan menuju ruangannya yang sudah berbaris seorang resepsionis loby, dan beberapa karyawan yang lain. Satrio yang berdiri dibelakang Arkana pun ikut kaget dibuatnya.


"Ada apa ya? kok pada berdiri disitu?" tanya Arkana heran.


"Sejak tadi kami mencoba untuk bertemu Pak Arkana ... kami mendapat kabar dari rumah, dan itu penting Pak," ucap salah satu resepsionis loby.


Arkana akhirnya masuk ke ruangannya dan mencari ponselnya. Disana sudah ada belasan missed call dari Baskara dan ibunya. Arkana mencoba tenang dan mencoba menelepon Baskara lebih dulu.


" Halo, Bas ada apa telepon gue banyak banget."


"Ar, cepet lo liat berita deh ... kacau banget Ar, gue kewalahan," ucap Baskara terdengar lelah.


"Bentar ... nanti gue telepon lo lagi."


Arkana mencoba melihat portal berita seperti yang Baskara katakan. Arkana sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Berita tentang keluarganya kini menempati urutan kedua, dan yang pertama adalah John Miller. Saat ini LifeCare masih cenderung tenang.


Salah satu alasannya yaitu karena tidak banyak orang yang tahu keterkaitan LifeCare dan keluarga Miller. Namun begitu, Arkana tetap meminta beberapa ahli IT nya untuk berjaga jika ada yang bocor dan menyerang ke kantornya.


Arkana juga meminta yang lain untuk membantu kantor ayahnya menghadang berita yang ada. Arkana juga meminta Satrio dengan beberapa ahli IT nya mencari tahu sumber berita ini. Dengan sigap dan tenang Arkana mencoba mengatasi ini.


Alina tau tentang ini ga ya? saya jadi khawatir sama dia. 

__ADS_1


__ADS_2