Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
23. MENJAGA DARIMANA PUN


__ADS_3

Terdengar suara berisik dari kamar Alina. Karena kali ini Alina akan fokus dengan tujuannya, ia akan tinggal lebih lama dari sebelumnya. Alina sibuk mengeluarkan baju-bajunya dan mentalnya didalam lemari. Sebelumnya lemari itu bahkan sama sekali tidak Alina buka. Namun kini penuh terisi baju-bajunya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Sebentar," saut Alina yang dikelilingi tumpukan bajunya sendiri. Ternyata itu Bi Iyah, berdiri dengan senyum menyambut Alina. Bi Iyah dan yang lain sedang memasak cemilan bersama, mumpung tidak ada siapapun dirumah.


Alina pun diajak bergabung dengan mereka sembari saling mengobrol dibelakang. Alina lalu buru-buru membereskan bajunya lalu ikut bergabung. Setelah beberapa hari bersama, Alina dan yang lainnya sudah akrab sekarang. Rasanya juga sudah tidak canggung lagi untuk Alina berada disana.


"Wah, apa ini keliatan enak banget," ucap Alina, matanya berbinar melihat makanan enak didepannya.


Ada rujak, baso goreng, bahkan seblak makaroni. Terlihat seperti sebuah pesta, tidak lupa ditemani jus dari jeruk asli yang dibawa dari kampung halaman Pak Anton. Alina senang dirumah ini masih ada kegembiraan yang bisa menghiburnya yang jauh dari keluarga dan sahabatnya.


"Kita disini saling jaga Al, jadi kalo kangen rumah atau ada sesuatu cerita ya ... " ucap Bi Iyah dengan hangat.


"Iya ... pasti, makasih ya."


Bi Iyah seperti ibu dari para pelayan. Selain memang menjadi yang terlama disini, jiwa keibuannya sangat terpancar. Meskipun Bi Iyah ini sebenarnya belum menikah apalagi punya anak. Bi Iyah yang terlalu sibuk dengan keluarga ini membuatnya terus menunda menikah hingga sekarang.


Di Banjarmasin ada sebuah perubahan jadwal mendadak. Arkana dan Satrio saat ini sedang rapat dengan mantan dosennya dan beberapa orang pemerintahan setempat terkait kerjasama mereka. Diskusi mereka sempat alot, tidak adanya persetujuan setelah hampir dua jam berlalu membuat semua pihak cukup lelah.


"Saya memang tidak bisa memberikan banyak janji yang nantinya tidak bisa saya tepati."


"Yang pasti adalah jika anda bersedia untuk menjalin kerjasama dengan kami, saya akan pastikan semua keraguan yang ada di benak anda sekarang hilang sedikit demi sedikit." Arkana mengatakan hal itu dengan tatapan tajam dan kepercayaan diri.


Tatapan penuh keyakinan itu membuat pihak mereka luluh. Arkana pun berdiri dan mengulurkan tangannya lebih dulu, lalu disambut oleh pihak mereka. Hal ini menandai disetujuinya kerjasama antara LifeCare dan pihak pemerintah setempat.


"Emang bener penutup sama lo, Ar."

__ADS_1


"Ga pernah gagal." Satrio memuji Arkana yang semula tidak terlalu banyak bicara, tetapi selalu memberikan kalimat penutup yang baik.


"Berisik ... mau tidur," ucap Arkana lirih karena mengantuk.


Jadwal Arkana dan Satrio di Banjarmasin berakhir lebih cepat dari dugaan. Yang berarti besok pagi mereka bisa langsung pulang ke Jakarta. Sebelum pulang ke hotel Satrio mampir ke drivethru restoran cepat saji untuk membeli makan malam.


Satrio memesankan beberapa menu untuknya dan Arkana. Arkana sejak tadi masih tertidur pulas, tubuhnya terlalu lelah untuk tetap tersadar. Untung saja Satrio sempat tidur sebentar beberapa saat mereka sampai di Banjarmasin.


Cukup lama mereka berteman, membuat Satrio tidak perlu repot-repot menanyakan makanan apa yang akan Arkana pesan. Setelah pesanannya selesai, ia lalu menjalankan mobilnya lagi menuju hotel. Jalanan disana cukup tenang dimalam hari.


Tiba-tiba Arkana yang terbangun membuka kaca jendela dan menikmati malam bersama hembusan angin. Keduanya memulai perusahaan ini bersama. Sejak awal merintis mereka selalu lalui bersama-sama. Karena tidak pernah pulang kerumahnya, Arkana sering menginap dirumah Satrio.


Ibunya akan memaksakan banyak makanan rumahan untuk Arkana. Saat itu tidak banyak yang tahu siapa Arkana. Bahkan ibunya Satrio pun sempat tidak tahu, meskipun begitu ia tetap menganggap Arka seperti anaknya sendiri.


"Ngarang banget tiba-tiba ... entar kalo nyampe Jakarta gue bilang ibu buat bikinin," jawab Satrio sibuk menyetir.


"Oke. Gue catet, awas dusta lo." Arkana kembali memejamkan matanya tanpa menutup kaca mobilnya.


Suara tawa didapur belakang sangat jelas terdengar bahkan sampai pintu depan. Bi Iyah asik menceritakan masa-masa awal ia bekerja dengan keluarga Miller. Saat itu bahkan Arka dan Bas belum ada. Bu Rose pun masih awal menikah dengan Tuan Miller sehingga masih canggung.


"Bu Rose itu menikah masih sangat muda ... kami hampir seumuran," ucap Bi Iyah.


"Dulu saya sering banget salah, Tuan Miller itu kan khas soalnya semua alat makannya harus yang itu-itu aja."


"Pernah saya asal ambil aja ... piringnya saya pake buat ayam goreng."

__ADS_1


"Wah marah besar, hampir diusir saya ... mana rumah masih ngontrak." Semua orang tertawa mendengar cerita Bi Iyah termasuk Alina.


Namun, dibalik itu semua mereka kagum dengan Bi Iyah yang setia kepada keluarga Miller. Melihat bagaimana atasan mereka, Bi Iyah termasuk yang tahan dengan itu. Bi Iyah berkata jika Bu Rose lah yang membuat dirinya bertahan, "Rasanya kayak ke temen deket sendiri gara-gara kita seumuran."


Setelah asik mengobrol dan sama-sama membereskan bekas makan mereka. Alina segera kembali ke kamarnya. Alina mengeluarkan amplop yang berisi dokumen kakaknya. Sekali lagi Alina menguatkan dirinya untuk berada lebih lama disini.


Sebelumnya Alina sudah meminta izin jika ada beberapa hari yang dirinya harus ke kampus untuk bimbingan dengan dosennya. Untung saja langsung diizinkan, tetapi Alina belum sempat mengatakan ini kepada Baskara.


Semenjak pagi tadi Baskara tidak ada dirumah. Ia sudah pergi dengan beberapa pengawalnya menemui klien dan beberapa temannya. Karena itu saat ini rumah keluarga Miller hanya diisi oleh para pelayan dan supir pribadi.


Waktu menunjukan pukul satu malam. Alina sengaja memasang alarmnya untuk bangun. Alina memastikan semuanya sudah tidur di kamar mereka masing-masing. Diam-diam Alina keluar dari kamarnya dan hanya berbekal senter dari ponselnya.


Alina mencoba mencari petunjuk tentang apapun mengenai keberadaan kakaknya. Orang yang dibayar Alina untuk menyelidiki ini hanya mengatakan jika petunjuknya ada dirumah ini.


"Duh mana sih ... mana ini serem banget lagi sepi kayak gini."


"Gapapa Al, ayo Alina bisa kamu pasti bisa jangan takut .... "


Mencoba mencari kemana-mana tetap saja tidak menemukan petunjuk apapun. Alina yang kesal akhirnya kembali ke depan foto keluarga Miller. Disana hanya John Miller yang punya karir paling cemerlang diantara saudaranya yang lain.


Kak dimana sih? orang-orang ini apain lo. 


Alina kembali mengingat hari dimana mereka bertemu untuk terakhir kalinya. "Kakak ga akan kemana-mana, akan terus jagain Alina bahkan kalo terjadi sesuatu .... " Katanya terhenti sejenak, "Kalo terjadi sesuatu, Kakak akan tetap jagain kamu darimana pun."


Apa lo udah bisa memprediksi kalo hal ini bakal terjadi Kak? sesuatu ... sesuatu apaan sih. 

__ADS_1


__ADS_2