
Pagi ini suasana rumah keluarga Miller masih seperti kemarin. Sepi ditinggal pemiliknya yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dengar dari Pak Anton, Baskara semalam menginap di hotel dengan beberapa temannya. Sedangkan Tuan Miller dan Bu Rose masih di luar kota selama satu minggu.
"Ngomong-ngomong Mas Arkana jadi pulang ga sih?"
"Eh ... bentar, kok malah tiba-tiba mikirin Mas Arkana pulang apa engga," ucap Alina berbicara dengan dirinya sendiri di teras depan.
Tidak ada yang bisa Alina kerjakan saat ini. Karena bosan, sejak pagi Alina pun hanya berdiam di teras depan untuk melihat beberapa tukang kebun memotong rumput, dan merapihkan pohon-pohon yang tumbuh tidak karuan.
"Jadi nungguin siapa? Mas Arkana atau Mas Baskara?" Terdengar suara seseorang dari belakang dan membuat Alina kaget lalu berbalik.
"Ih ... Bi Iyah, ga nungguin siapa-siapa."
"Jangan ya ... mereka berdua berbahaya," ucap Bi Iyah mengingatkan Alina.
"Berbahaya kenapa Bi?" tanya Alina penasaran.
Ternyata latar belakang keluarga mereka yang berbahaya. Selama ini tidak ada wanita yang benar-benar tahan dengan mereka. Jika dengan wanita biasa saja, tidak akan bertahan dengan gaya hidup keluarga ini. Namun, jika dengan wanita setara biasanya karena hubungan bisnis keluarga.
"Tapi itu banyak kejadiannya sama Mas Bas sih, Al."
"Mas Arka sih ... jaman SMA ga banyak, ada satu tapi udahan gatau juga karena apa," ucap Bi Iyah berusaha mengingat-ingat wanita yang pernah ada hubungan dengan Arkana.
Diantara Baskara dan Arkana, sepertinya Arkana lah yang paling tertutup. Selain memang lama tidak tinggal dirumah, Arkana juga tidak banyak berbicara masalah pribadinya dengan siapa pun.
"Kalau temen Bi? Mas Arkana pernah bawa temen sekolahnya kesini engga?" tanya Alina masih penasaran dengan hubungan Arkana dan kakaknya.
"Temen sekolah sih kayaknya ga pernah ya."
"Mas Arkana tuh gimana ya, kayak pasang tembok besar gitu sama kita semua," ungkap Bi Iyah.
Bi Iyah kemudian mengajak Alina masuk untuk sarapan bersama. Alina pun menuruti dan ikut masuk bersama dengan Bi Iyah.
Kayaknya nanti harus coba beraniin tanya langsung ke Mas Arkana deh.
__ADS_1
Penerbangan Arkana dan Satrio delay hingga dua jam. Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu di sebuah cafe bandara sembari mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Tiba-tiba ada telepon masuk dari sang ibu kepada Arkana.
"Halo, Ma?"
"Bener kamu mau pulang, Ar?" tanya Rose serius, tanpa basa-basi di awal.
"Iya ... Alina kasih tau Mama pasti nih."
"Jangan pulang dulu, Papa marah besar," ucap Rose lebih serius, ada sesuatu yang membuat Tuan Miller saat ini marah besar.
Belum sempat Arkana bertanya, Rose tiba-tiba menutup teleponnya. Meskipun tidak diberitahu alasannya apa, tetapi sepertinya Arkana sudah tahu apa yang membuat ayahnya marah besar padanya.
Bas lo ngapain lagi sih.
Beberapa orang menyelinap masuk kamar hotel tempat Baskara dan teman-temannya menginap. Ruangan itu sangat berantakan dan penuh dengan asap rokok yang masih tersisa. Dengan cepat mereka membawa Baskara yang belum sepenuhnya bangun keluar.
Mereka menutup Baskara dengan masker dan topi agar tidak dilihat banyak orang. Mobil sudah standby didepan loby hotel, mereka pun segera memasukkan Baskara kedalamnya. Hal ini bukan lah kali pertama Baskara seperti ini. Dan saat hal ini terjadi orang yang paling disalahkan adalah Arkana.
Sama seperti hari ini, kalimat pertama yang keluar dari mulut Tuan Miller setelah tahu keadaan Baskara adalah Arkana Benjamin Miller. Tuan Miller selalu berpikir jika Baskara bertindak tidak bisa diatur dan membangkang seperti ini itu gara-gara pengaruh Arkana.
Di kamarnya Baskara bangun dan kaget melihat ia sudah berada di kamarnya. Lagi-lagi ayahnya membawanya pulang dengan paksa. Baskara yang marah mengacak-acak peralatan lukis yang ada di paviliunnya. Keributan itu tidak sengaja didengar Alina yang sedang berjalan menuju paviliun.
"Itu ada apa Pak didalam?" tanya Alina kepada pengawal Baskara yang ada diluar paviliun.
"Jangan dulu masuk."
"Nanti saja ... biarkan dulu sampai tenang." lanjutnya.
Alina yang kaget dan panik akhirnya kembali kedalam rumah. Sedikit demi sedikit bagaimana keadaan keluarga ini yang sebenarnya mulai terlihat. Alina pun memilih masuk ke kamarnya dan mengerjakan tugas akhirnya. Ia tidak mau terlalu ikut campur dengan keluarga ini.
Alina harus kembali mengingat tujuan utamanya masuk ke rumah ini. Ini semua sudah Alina rencanakan sejak awal. Alina sengaja melakukan banyak kerja part time selain untuk membiayai sekolahnya tetapi juga menabung untuk menyewa seseorang yang bisa mencari kakaknya.
Dari sana akhirnya Alina mendapatkan informasi yang mengerucut menuju keluarga Miller. Alina terus berpikir bagaimana caranya ia bisa masuk kesana. Alina yang bekerja sebagai salah satu event organizer juga bagian dari rencananya.
__ADS_1
Hanya ia tidak mengira jika jalannya akan semulus itu. Tuhan benar-benar membantunya untuk masuk kedalam keluarga Miller. Dan disini lah Alina berada, tepat didalam rumah keluarga Miller. Mengetahui sedikit demi sedikit rahasia keluarga ini. Semakin dekat dengan tujuan utamanya.
Kemarahan Baskara sudah mereda. Menyisakan seisi paviliun berantakan seperti terkena bencana alam. Baskara yang lelah tiba-tiba menelepon Arkana. Sayangnya beberapa kali ia mencoba menelepon, tidak kunjung diangkat oleh Arkana. Arka yang sedang didalam pesawat sengaja benar-benar mematikan ponselnya.
"Lo selalu mengabaikan gue, Ar."
"Selalu ... meskipun gue tau lo kayak gitu gara-gara papa, tapi bisa kan lo sedikit perhatian ke gue."
Semua perhatian yang diberikan Tuan Miller, Rose bahkan semua orang padanya dirasa belum cukup jika Arkana masih bersikap dingin padanya. Jujur ia juga berharap Arkana mendapatkan perhatian yang sama seperti dirinya.
Sejak tadi ayahnya terus menelepon Baskara, tetapi sengaja dirinya abaikan. Sepertinya hanya Baskara yang berani mengabaikan telepon dari Tuan Miller. Rose pun akhirnya berusaha menelepon Alina.
Kebetulan Alina sedang memainkan ponselnya dan saat telepon itu masuk, Alina langsung mengangkatnya. "Iya Bu, ada apa?" jawab Alina.
"Kamu lagi dimana ini? udah ke paviliun?" tanya Rose, nada suaranya terdengar khawatir.
"Tadi Alina habis dari sana, tapi denger suara berisik jadi ga berani masuk."
"Ada apa ya Bu? Mas Baskara kenapa ya?" tanya Alina, ikut khawatir.
"Kamu sekarang kesana ya, kalau ga berani minta temani pengawal Bas buat ikut masuk ... kalo udah tau keadaannya gimana telepon saya lagi."
Alina mulanya ragu. Karena dari luar tadi suaranya terdengar nyaring, seperti barang-barang yang dilempar kesana kemari. Namun, mau bagaimana lagi Alina sudah disuruh langsung oleh Rose. Alina akhirnya menarik nafas dalam lalu ia hembuskan, berjalan dengan yakin menuju paviliun.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat dirinya masih mendengar suara berisik. Anehnya pengawal Baskara masih berdiri disana menatap kedepan dengan tenang. Sama sekali tidak terlihat raut wajah khawatir. Sekali lagi, Alina meyakinkan dirinya dan kembali berjalan.
"Pak, saya tadi ditelepon Bu Rose disuruh masuk kedalam ngecek Mas Baskara."
Akhirnya terjadi perubahan pada raut wajah pengawal itu, ia jelas terlihat khawatir mendengar Alina disuruh masuk kedalam. Selama ini setiap Baskara mengamuk seperti ini, ia selalu membiarkan saja hingga tenang.
Dengan perlahan pengawal Baskara membuka pintu paviliun. Alina kemudian masuk dengan hati-hati, matanya melihat ke sekeliling mencari keberadaan Baskara. Hingga tiba-tiba sebuah piala melayang kearah Alina.
Alina yang posisinya masih didepan pintu mendadak tidak bisa bergerak. Tiba-tiba ada seseorang yang meraih tangannya dan menghalangi tubuh Alina dengan tubuhnya.
__ADS_1
Bruk...
Piala itu mengenai punggung lelaki didepan Alina. Sesaat Alina yang semula menutup matanya, kini melihat siapa lelaki didepannya.