
"Ini dimana sih?" Alina masih terus menangis ditempat yang sama sekali asing baginya. Ditambah kegelapan dan dinginnya malam tidak ada satu orang pun yang bisa dimintai nya pertolongan. Hingga tiba-tiba ditengah kebingungan nya Alina mendapat sebuah telepon.
"Al ... ini saya Arkana, kamu dimana sekarang?"
Mendengar suara Arkana membuat Alina semakin menangis, "Gatau ... " jawab Alina dengan suara yang terpotong-potong.
"Coba share loc bisa ga? ini saya dijalan udah deket rumah."
Sayangnya karena gangguan sinyal telepon dari Arkana ke Alina terputus. Alina sempat frustrasi sembari menangis. Banyak hal yang terlintas di pikirannya saat ini, salah satunya apakah tujuannya mencari kakaknya sendiri yang membuat dia seperti ini.
Arkana yang biasanya tenang saat ini tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia sangat marah, ditambah lagi Alina yang sulit dihubungi karena sinyal yang terganggu. Yang bisa dilakukannya adalah menuruti feeling dan intuisinya.
"Malem gini ga mungkin mereka bawa Alina jauh dari rumah ... jarak Baskara telepon gue sama tadi gue telepon Alina juga ge begitu jauh, kemungkinannya Alina dibawa lebih jauh lagi ke atas dari wilayah rumah." Arkana mencoba berpikir dengan tenang untuk mencari tahu keberadaan Alina.
Alina masih terus mengotak atik ponselnya, mencoba sekeras mungkin untuk mendapatkan sinyal. Ketika ada saja sedikit sinyal yang berhasil didapatkannya, Alina dengan cepat mengirimkan pesan singkat kepada Arkana. Didalam pesan itu berisi detail sekeliling tempat dirinya berada.
Alina tahu jika menelepon akan membutuhkan waktu dan sinyal yang ia dapatkan belum tentu bisa bertahan selama itu. Sehingga Alina memilih untuk terus menerus mengirimkan pesan yang sama kepada Arkana. Berharap salah satunya bisa terkirim dan berhasil dibaca oleh Arkana.
Saat ini yang bisa Alina lakukan hanyalah terus berdoa agar secepatnya ada yang menolongnya. Berdoa agar Arkana membaca pesannya dan berhasil menemukannya. Hari semakin larut, Alina sempat dikejutkan oleh suara hewan liar yang berasal dari hutan dibelakangnya.
Hingga tiba-tiba tubuhnya tersinari oleh cahaya yang berasal dari mobil Arkana. Alina yang sedang meringkuk menundukkan kepalanya mencoba melihat ke arah cahaya itu.
Arkana dengan cepat keluar dari mobil dan berlari ke arah Alina yang sendirian di kegelapan malam. Alina yang melihat Arkana hanya bisa menangis sejatinya. Arkana langsung memeluk Alina dan menenangkannya. Kini Alina menumpahkan semua tangisnya di pelukan Arkana.
Arkana melepaskan jasnya lalu memasangkannya kepada Alina yang kedinginan, "Yuk kita masuk ke mobil ... sini saya bantu." Arkana menuntun Alina berjalan ke mobilnya dengan perlahan.
Arkana memastikan heater mobilnya menyala sehingga Alina nyaman didalamnya. Arkana masih membiarkan Alina meluapkan emosinya, kesedihannya di mobil. Ia bahkan tidak berniat untuk menanyakan kronologinya kepada Alina.
Baskara yang khawatir dengan keadaan Alina kemudian menelepon Arkana. "Gimana Ar ... ketemu Alina ga?" tanya Baskara cemas.
__ADS_1
"Aman ... ga terlalu jauh dari rumah tapi karena ga ada lagi pemukiman warga adanya ya hutan doang."
"Mama sama gue khawatir banget setelah tau Alina dibawa sama orang-orang suruhan papa," ucap Baskara.
"Gue bawa Alina ke apartemen gue aja malem ini biar dia tenang dulu ... thanks udah kabarin gue."
Ketika kembali dari mengangkat telepon Baskara, Arkana melihat Alina sudah tertidur di mobilnya. Alina mungkin lelah setelah menangis sejak tadi. Arkana pun masuk ke mobil dan segera pergi dari tempat itu.
Sepanjang jalan sesekali Arkana melirik ke arah Alina yang masih tertidur lelap. Terkadang ia pun membenarkan jasnya yang dipakai selimut oleh Alina. Arkana tidak tega melihat keadaan Alina sekarang. Dia tidak habis pikir ayahnya akan melakukan ini.
Meskipun ia sendiri sadar betul jika John Miller adalah orang yang tidak akan segan-segan melalukan hal apapun demi kepentingan dirinya. Tetapi ini perempuan, ayahnya menghukum seorang perempuan itu yang membuat Arkana sangat marah sekarang.
Arkana yang tidak tahu rumah Alina memutuskan untuk membawa Alina ke apartemennya. Tidak mau mengganggu tidurnya, Arkana pun menggendong Alina perlahan-lahan naik ke unit apartemennya.
Arkana membaringkan Alina diatas kasur lalu menyelimutinya dan memastikan Alina nyaman. Setelah itu Arkana pun berjalan ke luar untuk mengambil minum. Arkana membiarkan Alina untuk istirahat setelah apa yang terjadi padanya malam tadi.
Alarm ponsel Arkana berbunyi nyaring ditelinga nya. Ia lupa semalaman ponselnya berada tepat dipinggir kepalanya. Arkana pun bangun dan mematikan suara alarmnya, ia tidak mau membangunkan Alina.
Alina terbangun di kamar Arkana. Karena sebelumnya pernah kesana, Alina pun sudah tidak kaget lagi. Ia memeriksa ponselnya dan banyak sekali missed call dari Bu Rose. Rose tentu sangat mengkhawatirkan Alina, ia tidak menyangka obrolan dengan suaminya kemarin berakhir seperti ini.
Setelah merapikan dirinya, Alina pun keluar dari kamar dan melihat ke sekeliling. Arkana tampak tidak ada disana. Alina mencoba mencarinya dengan memanggil nama Arkana tetapi tidak juga ada jawaban.
Tiba-tiba ada suara pintu terbuka dan muncul lah Arkana yang ternyata dari loby mengambil pesanan sarapan yang dia pesan melalui aplikasi. "Udah bangun ternyata." Arkana meletakkan sarapannya diatas meja. Ia sebisa mungkin bersikap tenang.
Arkana masih menunggu Alina sendiri yang bercerita padanya tentang kejadian semalam, alih-alih ia yang memaksa. Alina menatap Arkana dalam dan terdiam tanpa kata.
"Kenapa?"
"Makasih ya," ucap Alina.
__ADS_1
"Iya ... cepet sana ambil mangkuk saya beliin bubur yang menurut aplikasi sih paling enak," tutur Arkana.
"Percaya banget sama aplikasi," ucap Alina sedikit tersenyum.
Arkana yang melihat Alina bisa sedikit tersenyum merasa lega. Ia sempat khawatir kejadian semalam membuatnya trauma dan terus bersedih.
"Semalem mau anterin ke rumah, tapi saya gatau rumah kamu."
"Iya gapapa ... lagian aku gabisa pulang dengan keadaan gini," ucap Alina.
Arkana bisa mengerti, keadaan semalam memang cukup rumit untuk Alina pulang kerumahnya.
"Kalo mau disini dulu gapapa, santai aja."
"Ga ngerepotin?" tanya Alina tidak enak karena selalu merepotkan Arkana.
"Engga ... sampe masalahnya beres semua, kamu aman disini Al."
"Makasih ya, lagi-lagi aku ngerepotin Mas Arkana," tutur Alina.
Arkana pun harus pergi ke kantornya, untuk dua sampai tiga hari dia tidak pulang ke apartemen karena ada yang harus ia selesaikan. Arkana pun meminta Alina mengajak temannya untuk menginap disana jika ia ketakutan seorang diri.
"Mas Arkana ga tanya apa-apa ke aku?"
"Saya tunggu kamu siap cerita Al, saya ga mau paksa kamu."
"Urusannya mulai malam ini? tadinya aku mau cerita nanti malam," ucap Alina.
"Saya usahain malam ini sempetin kesini." Arkana pun pamit pergi, dengan bercanda menitipkan apartemennya kepada Alina.
__ADS_1