
Keduanya memutuskan untuk pulang dan tidak kembali masuk kedalam acara. Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam. Mereka sama-sama sedang mencerna semua informasi yang masing-masing mereka miliki.
Arkana sangat yakin kalau ia belum pernah mengenakan Kai kepada keluarganya secara langsung. Mungkin bisa saja pernah melihatnya, tetapi Arkana yakin betul keluarganya tidak mengenal Kai. Kemungkinan bahwa ibunya mengenal Kai membuat Arkana tidak mempercayai keyakinannya lagi.
Dalam hatinya Alina sudah menerima kenyataan kalau dirinya tidak mengenal kakaknya sendiri. Berpisah di umur yang masih muda, keduanya tidak tumbuh dewasa bersama. Mungkin hal itu yang membuat Alina tidak tahu Banyak tentang kehidupan dewasa kakaknya.
Alina juga menyesal, kenapa tidak sejak awal ia mencari kakaknya. Kenapa setelah tumbuh dewasa ia memberanikan diri bertemu dengan Kai. Adi sering kali menghalangi Alina untuk bertemu dengan kakaknya. Entah apa alasannya, tapi karena itu hubungan Alina dan Kai tidak sedekat saat kecil dulu.
Namun yang pasti, meskipun begitu Kai masih sangat menyayangi adik perempuannya. Dengan merahasiakan cerita mengenai keluarganya, tetapi hanya bercerita tentang adik perempuannya sudah membuktikan rasa sayangnya Kai pada Alina.
Sesampainya dirumah, Arkana menahan tangan Alina. "Gapapa kan?" tanya Arkana dengan nada suara yang tidak pernah Alina dengan darinya. Nada suara lembut dan khawatir.
Alina melepaskan tangan Arkana dari tangannya pelan, lalu berkata, "Gapapa kok." Alina kemudian berjalan lurus menuju kamarnya, lalu menutup pintunya perlahan. Setelah melihat Alina masuk ke kamarnya, Arkana kemudian berjalan menuju kamarnya juga.
Didalam kamarnya Arkana masih saja memikirkan apa yang terjadi hari ini. Sembari melepaskan jaket, kemeja dan menggantinya dengan pakaian yang lebih santai Arkana masih berpikir bagaimana meluruskan semua informasi yang saling berikatan ini.
Gue harus tanya ini ke Mama, apa hubungan Kai sama yayasannya juga apakah Mama juga mengenal Kai.
Keesokan harinya semua orang sarapan dengan tenang. Posisi duduk masih sama seperti pagi kemarin, hanya saja hari ini Baskara dibuat bingung dengan ekspresi semua orang pagi ini. Seperti ada sesuatu yang terjadi tetapi hanya ia lah yang tidak mengetahuinya.
"Ini ada apa sih ... tumbenan tenang banget?" tanya Baskara memecah keheningan.
"Iya nih pada kenapa ya?" tanya Rose juga merasakan ada yang aneh dari pagi ini.
Arkana kemudian bangun lebih dulu dan pergi ke kamarnya, menggantungkan pertanyaan kakak dan ibunya.
"Ga ada apa-apa kok Bu, Mas Baskara ... " ucap Alina menggantikan Arkana menjawab pertanyaan mereka.
"Beneran, Al?"
"Kemaren kamu juga begitu keluar ga balik lagi ... ga lagi sakit kan?" tanya Rose lembut.
__ADS_1
Alina hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi ke dapur membereskan peralatan makannya.
Pagi ini Arkana memakai motornya untuk berangkat ke kantor. Di parkiran ia hanya bisa menghembuskan nafasnya berat lalu memakai helmnya. Kemudian tiba-tiba ada suara seseorang memanggilnya dari dalam rumah.
Ternyata Alina, hari ini dia ada perlu bertemu dengan ayahnya. Sejak terakhir kali ia pergi, baru semalam ayahnya meneleponnya dan mengajaknya bertemu pagi ini dirumah. "Aku boleh nebeng lagi kan, Mas?" tanya Alina tersenyum lebar.
Tanpa berkata apapun Arkana memberikan helmnya yang lain untuk Alina. "Ih ... helm yang waktu itu kemana?" Alina menanyakan helm yang terakhir kali ia pakai. Aneh karena sepertinya helm itu juga masih terlihat baru.
"Ilang."
"Hah? Kok bisa ... kan kemaren ga pake motor," ucap Alina kaget mendengar jawaban Arkana tadi.
"Iya ... ilang di bengkel, Pak Anton dasar."
Ternyata kemarin Pak Anton memakai helm yang pernah dipakai Alina saat membawa motor Arkana ke bengkel. Namun sayangnya, Pak Anton yang teledor tidak ingat menyimpan helmnya dengan baik. Sehingga hilang di bengkel.
Akhirnya mereka pun berangkat. Angin sepoy yang melewati setiap helaian rambut Alina yang terurai membuat perjalanan pagi mereka lebih indah. Sesekali Arkana melihat Alina yang tersenyum lebar saat angin menyeka rambutnya.
Sementara di paviliun sudah ada Baskara yang tampil rapih tidak seperti biasanya. Hari ini diam-diam Baskara membuat janji dengan Dokter Indra, dokter yang selalu menanganinya. Baskara pergi tidak ditemani pengawalnya, melainkan seorang diri dengan menyetir mobilnya.
Secara rahasia, Baskara mencoba memastikan semua orang yang tahu tentang siapa pendonornya tidak membocorkannya kepada Arkana. Baskara hanya tidak ingin kenyataan ini menyakiti adiknya bahkan membuat hubungan Arkana dan ayahnya semakin buruk.
Sama seperti sebelumnya, Arkana menurunkan Alina di halte bis yang langsung menuju rumahnya. "Helmnya bawa aja. Nanti saya jemput lagi disini." Alina hanya mengangguk lalu segera menaiki bis nya.
Sesampainya di kantor, tiba-tiba resepsionis nya di loby menyampaikan kepada Arkana kalau diruangannya sudah ada seseorang yang menunggunya. Arkana merasa tidak ada janji bertemu dengan siapapun hari ini. Satrio juga tidak menghubunginya.
Meskipun begitu Arkana dengan tenang berjalan menuju ruangannya. Benar saja, Tama sudah duduk di kursi Arkana. Sedari tadi menunggu pemiliknya untuk datang.
"Pagi ini ada apa, Om?"
"Eh ... boleh saya panggil Om saja kan, melihat kedekatan Anda dengan ayah saya."
__ADS_1
Tama sedikit tertawa kaget dengan yang didengarnya, "Hahaha ... boleh, boleh panggil apapun yang kamu sukai."
Kehadiran Tama hari ini sebenarnya tidak ada maksud apapun. Ia hanya tiba-tiba ingin bertemu Arkana. Arkana sudah pasti tidak percaya dengan perkataan Tama. Tidak mungkin seseorang seperti dirinya akan menemuinya tanpa maksud apapun.
"Kamu itu ... kamu itu kenapa mirip sekali dengan John sih," tutur Tama bereaksi gemas sendiri melihat kemiripan Arkana dan ayahnya.
"Oke ... saya kemari ingin memastikan progress kamu mencari tahu keberadaan kakak wanita itu, juga kebenaran siapa pendonor Baskara."
"Hubungannya dengan Anda apa?"
Arkana merasa ia sudah terlalu jauh kenal dengan lelaki didepannya ini, tanpa tahu motifnya apa. Kebencian terhadap ayahnya? Tetapi hubungan mereka cukup dekat untuk dibilang kebencian.
"Papamu sudah tau loh, Arkana."
"Jangan sampai kamu menyesal dengan menggali ini lebih dalam."
Setelah mengatakan itu, Tama langsung pergi keluar meninggalkan Arkana seorang diri di ruangannya. Arkana tetap tenang mendengar itu, bahkan muncul senyuman menyeringai dari Arkana. Hal itu menandakan kalau Arkana sama sekali tidak merasa terancam dengan perkataan Tama tadi.
Alina pun sampai dirumahnya. Adi sudah duduk di sofa ruang tamu menunggu anaknya itu datang sejak pagi tadi. Hari ini Adi sengaja mengambil jatah cutinya dan diam dirumah menunggu Alina datang.
"Alina pulang, Yah."
"Duduk, Al."
Alina belum pernah melihat wajah serius ayahnya itu, "Ada apa Yah?"
"Ayah mau jelasin sesuatu sama kamu, jangan sampai hubungan kita jadi jauh karena Mirna," ucap Ayahnya lebih tenang.
"Mirna butuh uang, dia bilang dia tahu dimana Kai ... karena itu Mirna sering datang kerumah."
Alina tidak paham dengan yang dikatakan ayahnya. Kenapa bisa ayahnya itu tertipu oleh omongan palsu ibunya. Mirna selalu berbohong kemana pun ia berada. Bahkan tentang keberadaan Kai, Alina tidak yakin kalau ibunya itu benar-benar tahu dimana kakaknya itu berada.
__ADS_1