
Di meja makan, Alina dan Adi ayahnya hanya saling diam. Alina masih cukup kesal karena ayahnya masih berhubungan dengan Mirna. Meskipun ayahnya sudah menjelaskan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi, tetapi keberadaan Mirna dirumahnya saja sudah membuat Alina kesal.
"Jadi tadi ibu kamu kesini itu karena ... " ucapan Adi dipotong oleh Alina.
"Bukan ibu ya Yah," kesal Alina.
"Iya oke ... Bu Mirna tadi kesini mau tanya ke Ayah tentang kakak kamu, Al."
"Ngapain dia nanyain Kak Kai, jelas-jelas dia yang pergi ninggalin anaknya duluan," marah Alina.
Bagaimana pun Adi menceritakan maksud ibunya kemari, Alina tetap tidak mau mendengar dan menerimanya. Hatinya sudah terlanjur sakit dan tidak bisa memaafkan ibunya. Bahkan jika kakaknya berhasil ditemukan.
Rencananya besok sore Alina dan Arkana akan pergi ke daerah tempat tinggal Kai dulu. Dan memulai pencarian dari sana. Mereka tidak boleh terlihat terang-terangan mencari Kai. Jika tidak, John Miller akan menghalangi mereka dengan berbagai caranya.
Baskara menemui Arkana di teras depan. Ada yang perlu Baskara bicarakan dengan adiknya itu. Arkana cukup kaget melihat Baskara yang tiba-tiba menghampirinya.
"Tumben."
"Ada yang perlu gue obrolin sama lo," ucap Baskara.
"Oke .... " Arkana bergeser dan memberi Baskara tempat untuk duduk.
"Lo kenal Pak Tama dari mana, Ar?"
Arkana bingung dengan siapa yang sebenarnya dimaksud oleh Baskara. Baskara pun mencoba menjelaskan ciri-ciri lelaki itu yang ternyata cocok dengan lelaki misterius yang beberapa kali bertemu dengan Arkana. "Ternyata namanya Tama," gumam Arkana.
"Kenal dari mana, Ar?"
"Gue ga kenal dengan baik sama orang itu, kita cuma beberapa kali ketemu bahas bisnis."
__ADS_1
"Kenapa emang?" tanya Arkana penasaran kenapa Baskara tiba-tiba membahas orang itu.
Baskara hanya memperingati Arkana agar tidak terlalu dekat dengan lelaki itu. Ada sesuatu yang berbeda darinya, Tama tampak tidak menyukai Baskara. Arkana yang mendengar itu hanya tersenyum sinis. "Gue udah biasa berhadapan sama orang yang berbahaya, contohnya John Miller." Arkana kemudian beranjak pergi.
Baskara sebenarnya sudah tahu Arkana tidak akan mendengar perkataannya. Namun setidaknya Baskara sudah memperingati Arkana agar menjaga jarak dengan lelaki bernama Tama itu.
Di sebuah cafe tidak jauh dari kantor LifeCare, Alina duduk seorang diri menunggu Arkana yang tidak kunjung datang. Arkana terlambat 15 menit. Jika lebih dari setengah jam ia tidak juga datang, Alina akan pergi seorang diri kesana.
Hampir saja Alina pergi, Arkana datang dengan santai nya. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya. Bisa-bisanya Arkana sesantai itu setelah membiarkan Alina menunggunya lebih dari 15 menit.
"Bisa cepet dikit ga sih."
"Kan saya udah bilang tadi masih ada rapat dulu, kamu ngotot jalan ... yaudah deh," ucap Arkana santai.
"Ayo deh sekarang pergi, kemalean entar."
Arkana sudah memarkirkan mobilnya didepan cafe itu, sehingga mereka bisa langsung berangkat menuju daerah tempat tinggal Kai yang lama. Sebelumnya Arkana pernah beberapa kali kesana, tetapi tidak juga mendapat petunjuk keberadaan Kai.
Daerah itu memang sengaja Alina lewati, karena awalnya ia takut jika ibunya Mirna masih tinggal disana. Alina tidak ingin melihat wajah ibunya itu. Semoga saja benar, Mirna sudah tidak tinggal disana.
Akhirnya mereka sampai juga di daerah perkampungan yang padat penduduk. Daerah ini berada tepat di bagian luar tetapi berdampingan langsung dengan ibukota. Suasananya jauh berbeda dari terakhir kali Alina kesini. Tidak lama setelah perceraian orang tua mereka, Alina masih beberapa kali bermain dengan kakaknya disana.
"Saya dulu pernah kesini ... tapi karena ga familiar, ga jadi."
"Kita coba jalan ke arah sana Mas," ajak Alina.
Alina mencoba mencari rumah lama kakaknya Kai. Ia berharap masih bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Alina memimpin dengan berjalan didepan Arkana. Arkana terus melihat ke sekitar, sangat asing dengan tempat dan suasana disana.
"Ini dia, Mas." Alina menunjuk kepada sebuah rumah kecil yang cukup tua dan tidak berpenghuni. Sepertinya Mirna juga memilih pergi dari rumah tua itu, tidak menyisakan siapapun. Alina mencoba masuk dan mencari sesuatu.
__ADS_1
Alina lebih dulu masuk, disusul Arkana mengikutinya dari belakang. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Dalemnya masih sama kayak terakhir kali ... berarti rumah ini ga dijual ke orang lain."
"Bentar Mas, aku coba liat lebih dalem," ucap Alina berjalan lebih jauh kedalam.
Sementara itu Arkana mencari disekitar ruang tamu dan kamar depan, Alina mencari di kamar belakang dan area dapur. Tiba-tiba Alina berteriak dari dalam, membuat Arkana dengan cepat berlari menyusul Alina.
"Aahhhh!" teriak Alina kakinya terperosok di tumpukan kayu-kayu lapuk. Namun, Alina kembali teriak kaget melihat Arkana yang berlari cepat ke arahnya. "Aku gapapa ... gapapa beneran," ucap Alina kepada Arkana.
Arkana menarik tangan Alina perlahan. "Ini ... aku nemu kartu nama seseorang tapi logonya perusahaan Tuan Miller." Arkana mendengar perkataan Alina, tetapi matanya fokus tertuju pada kaki Alina yang kemerahan karena terperosok tadi.
"Mas merhatiin ga sih?" tanya Alina kesal tidak merasa dianggap.
Arkana kemudian melihat kartu nama itu dengan baik, ternyata itu kartu nama salah satu asisten pribadi ayahnya. Tapi untuk apa Kai atau ibunya memiliki kartu nama ini. Seingatnya, ia belum pernah membawa Kai kerumahnya.
Sehingga kemungkinan Tuan Miller mengenalnya itu cukup kecil menurut Arkana. Lalu untuk apa asisten pribadi ayahnya bertemu dengan Kai dan ibunya?
Beberapa saat diluar, Arkana merasa diawasi oleh seseorang. Karena itu ia dengan cepat mengajak Alina untuk kembali ke dalam mobil dan membahasnya di mobil saja. Arkana lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari sana.
Alina kaget dengan perubahan Arkana yang tiba-tiba mengajaknya pergi dari sana. Sepertinya ada sesuatu yang diketahui Arkana disana tadi.
"Kenapa kita buru-buru banget sih Mas?"
"Kan tadi bel-" ucapan Alina terpotong.
"Belum beres? gapapa kita lanjutin obrolan nya di mobil aja." jelas Arkana.
Jika saat itu Arkana seorang diri, ia tidak akan pergi seperti saat ini. Namun, kali ini Arkana membawa Alina bersamanya. Arkana tidak mau terjadi sesuatu kepada Alina. Orang itu sama dengan seseorang yang dilihatnya bersama sekelompok orang yang mengejarnya saat itu.
__ADS_1
Arkana memberhentikan mobilnya ditempat yang menurutnya aman. Akhirnya mereka pun membahas kartu nama itu. "Coba diingat lagi, siapa yang mungkin berhubungan dengan orang di kartu nama ini?" tanya Arkana kepada Alina.
"Aku pernah dapat sebuah info kalau Kak Kai berhutang kepada Tuan Miller."