
Sampai di bengkel mobil, Arkana menyuruh Pak Anton untuk pulang ke rumah dan tidak perlu menunggunya. Setelah menyelesaikan pembayaran biaya perbaikan, Arkana pergi ke suatu tempat. Sebuah wilayah perumahan kumuh menjadi tujuan Arkana.
Entah siapa yang dirinya cari, tetapi Arkana cukup sering kesana. Beberapa warga sana bahkan sampai ada yang mengenalinya. Meskipun begitu tidak ada dari mereka yang berani bertanya kepadanya. Mereka hanya saling menatap memberi kode 'lelaki itu datang lagi' dan saling bertatapan satu sama lain.
Satu-satunya yang bisa diajak bicara adalah ketua RT disana. Cukup lama mereka saling mengobrol dirumah ketua RT. "Masih belum ada kabar Pak?" tanya Arkana menatap serius.
"Sayangnya belum, udah sangat lama jadi susah mencarinya," ucap Pak RT.
"Kalo ada kabar nanti saya pasti hubungi kamu." Pak RT menepuk pundak Arkana meyakinkan.
Dengan kecewa Arkana pun memutuskan untuk kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Selain itu juga demi menghindari acara keluarganya hari ini. Arkana juga diberitahukan jika akan ada liputan keluarga mereka.
Arka juga sudah tahu dengan rumah pengganti untuk Baskara. Hal ini bukan pertama kalinya dilakukan sang ayah demi menjaga privasi keluarga mereka. Mungkin hanya Arkana yang bisa sesuka hatinya berada di banyak acara besar tanpa takut diketahui paparazi.
Ayahnya sendiri saja sudah tidak peduli dengan yang dilakukan Arkana. Kebebasan itu justru membuat hidup Arkana lebih baik dibandingkan Baskara yang selalu berada dibawah bayang-bayang Tuan Miller dan keluarga besarnya.
Liputan akan diadakan malam nanti. Beberapa staff keluarga mereka sudah mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan, termasuk peralatan lukis milik Baskara. Mereka membuat rumah itu se natural mungkin seperti sebuah rumah workshop yang penuh dengan lukisan dan peralatannya.
Alina membantu Rose membawa bunga-bunga yang mereka hias khusus untuk ditata dirumah itu. Karangan bunga ini bisa dibilang sebagai ciri khas rumah keluarga Miller. Sehingga sudah seharusnya diletakkan disana jika ingin meyakinkan para penonton.
Alina melihat Baskara yang tidak terlihat bersemangat. Entah kenapa hari ini Baskara tidak seperti biasanya. Dimulai dengan dirinya yang tiba-tiba menceritakan hal pribadi kepada Alina. Hingga kini wajahnya terlihat lesu.
Salah satu pengawalnya melihat Baskara dengan tatapan khawatir, "Gapapa Mas?" tanya pengawal pribadi Baskara. Semakin khawatir karena Bas tidak bereaksi, pengawal itu pun menghampiri Rose dan melaporkan apa yang terjadi.
Rose yang cemas langsung buru-buru menghampiri anak sulungnya itu. Kedua tangannya menyentuh pipi Baskara dan memastikan anaknya itu baik-baik saja. "Kalo ga fit, gausah ya ... " ucap Rose lembut.
__ADS_1
Alina yang kebetulan melihat itu hanya bisa terdiam sekaligus takjub dengan bagaimana lembutnya Rose kepada anaknya itu. Rose benar-benar sinar diantara gelap dan misteriusnya keluarga Miller. Anehnya melihat itu sama sekali tidak membuatnya rindu pada ibunya.
Sudah sejak lama Alina melupakan jika dirinya memiliki seorang ibu. Ibu yang seharusnya ada disampingnya, memilih pergi dan tidak kembali.
"Gapapa, aku bisa kok."
"Ma, Ar ga ada ya?" tanya Baskara yang tiba-tiba mencari adiknya.
"Iya ... malem ini dia pulang ke apartemennya," jawab Rose.
Seperti sudah kebiasaan, setiap Baskara merasa kurang enak badan dirinya akan langsung menanyakan keberadaan Arkana. Setelah diberi aba-aba acara liputan pun akan segera dimulai. Tuan Miller yang sedang berada di luar negeri tidak bisa hadir menemani Baskara, sehingga Rose lah yang menggantikannya.
Merasa tidak nyaman, Alina pun kembali kerumah atas persetujuan Rose. Tanpa disadarinya, setiap masuk kerumah Alina selalu berdiri beberapa saat didepan foto keluarga Miller dan terlihat memikirkan sesuatu. Seperti ada yang dicari nya dari foto itu.
"Lama-lama fotonya bakal pindah ke kamar kamu." Sebuah suara tiba-tiba muncul dan mengangetkan Alina.
"Ada yang aneh ya emang?" tanya Arkana heran.
"Ga ada ... bingung aja, sebanyak ini orangnya kenapa yang ada dirumah ini cuma bertempat," jawab Alina berhati-hati.
"Karena rumah ini rumah kami berempat, bukan rumah keluarga besar." Arkana menaikkan sebelah alisnya dan menatap Alina.
Alina tidak menyangka jarak antara wajah mereka bisa sedekat ini. Padahal mereka belum pernah saling kenal sebelumnya. Apa yang sebenernya ada dipikirkan Arkana, kenapa menaruh wajahnya sedekat ini?
Tanpa disadarinya kedua pipi Alina memerah dan diketahui oleh Arkana. Sedikit tersenyum, Arkana kemudian pergi meninggalkan Alina sendirian disana. Alina masih terdiam terpaku masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Tepat empat kali, hanya empat kali mereka bertemu tetapi Arkana sudah berhasil membuat Alina salah tingkah. Dengan waktu yang dihabiskannya bersama dengan Baskara, waktu singkatnya dengan Arkana berhasil membuat Alina membeku kebingungan.
Al ... harus fokus jangan oleng sama Arkana.
Alina menghabiskan malamnya berdiam diri di kebun bunga. Sembari menatap langit Alina kembali mempertanyakan nasibnya. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari balik salah satu pohon bunga. Alina yang mendengar itu kaget dan membenarkan posisi duduknya.
"Siapa ya?" tanya Alina ketakutan.
Selang beberapa lama, ternyata Arkana. Dengan membawa minuman Arkana yang awalnya sedang berjalan-jalan sekitar situ melihat Alina yang duduk sendirian disana. Kursi yang biasanya kosong semenjak dirinya tumbuh dewasa kini ada yang mengisinya.
"Dulu ini tempat duduk saya sama Mama, kenapa jadi kamu dudukin?" tanya Arkana sinis.
"Emang ada tulisannya kalo tempat ini khusus Mas Arkana?" Alina cukup kesal mendengar perkataan Arkana.
"Udah deh aku masuk aja." Bangun dari kursinya, tangan Alina ditahan oleh Arkana.
"Ambekan, duduk sini .... " Arkana mengarahkan Alina untuk kembali duduk.
Keduanya tidak saling bicara, melainkan sama-sama menatap langit yang kebetulan hari ini dipenuhi dengan bintang. Langit sepertinya tahu bagaimana caranya menghibur hati kedua orang ini. Cukup lama mereka memperhatikan langit dan tidak mengatakan apapun, tetapi rasanya tidak canggung.
Semuanya terasa natural dan sudah biasa dilakukan. Sesekali Alina memandang Arkana dan mengalihkan pandangannya lagi jika lelaki itu menyadarinya. Tidak tahu apa yang ada dipikirkan mereka, tetapi yang pasti keduanya memiliki masalah yang cukup dalam dan tidak bisa diceritakan.
Tidak terasa waktu semakin larut. Arkana kemudian mengajak Alina untuk masuk karena cuaca juga semakin dingin. Alina dan Arkana lalu berjalan bersama masuk kedalam rumah. Keadaan dirumah sudah sepi karena semua orang hampir berada di kamarnya masing-masing.
Keduanya kemudian berpisah di ruang makan, karena posisi kamar Arkana berada di area yang berlawanan dengan kamar Alina. Tanpa mengucapkan kata-kata apapun, Arkana pun pergi ke kamarnya. Sama halnya dengan Alina.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikan mereka. Dengan raut wajah tidak suka jika mereka bersama.