
Arkana menyambut beberapa investor yang datang. Hari ini mereka ada rapat cukup penting dimana rapat ini menentukan kinerja mereka beberapa tahun kedepan. Arkana, Satrio dan karyawan yang lain sudah mengerjakan projek ini sejak lama. Mereka sangat berharap rapat hari ini berjalan dengan baik.
Karena itu Arkana sengaja meninggalkan ponselnya di ruangannya agar tidak menggangunya saat rapat nanti. Tari mencoba meneleponnya tetapi tidak kunjung diangkat. Alina mengira Arkana sudah tidak peduli lagi dengannya.
"Udah Tari, gausah di telepon lagi ... lagipula disana ga ada barang yang penting kok bisa nanti lagi."
"Atau mungkin bisa dibuang aja," tutur Alina memilih pergi ke dapur meninggalkan Tari seorang diri.
"Mereka kenapa sih?" gumam Tari tidak mengerti dengan apa yang terjadi diantara mereka.
Baskara kini sudah mulai mengambil alih beberapa tugas ayahnya. Sama halnya dengan Arkana, Baskara juga sedang menghadapi salah satu klien ayahnya. Tugas ini adalah tugas pertama yang diberikan John Miller kepada Baskara.
Meskipun melakukan hal yang kurang lebih sama, tetapi cara kerja keduanya jelas berbeda. Pengalaman seorang CEO yang memegang sebuah perusahaan besar jelas terlihat lebih unggul dibandingkan Baskara yang baru saja terjun di bidang ini.
Cukup awal sepertinya bagi Baskara untuk bisa menangani klien seperti ini. Bisa dilihat dirinya cukup kesulitan mengimbangi cara kerja staff yang mendapinginya. Jika hal seperti ini terjadi Baskara selalu bertanya-tanya kenapa dirinya yang selalu diunggulkan sang ayah untuk menjadi penerusnya.
Sementara di LifeCare, selain memiliki seorang CEO berpengalaman seperti Arkana mereka juga memiliki seorang yang kompeten seperti Satrio. LifeCare saat ini berada di masa jaya nya. Sampai saat ini diskusi berjalan dengan baik.
Presentasi yang disampaikan oleh Arkana ditanggapi positif oleh pihak investor. Tambahan dari Satrio juga semakin menguatkan kerjasama mereka. Diluar dari permasalahan pribadinya, Arkana berhasil memprioritaskan perusahaannya untuk saat ini.
Arkana merasa jika terlalu fokus dengan urusan pribadinya dan mengabaikan tanggung jawabnya di perusahaan merupakan tindakan tidak profesional, dan ia tidak mau seperti itu. Meskipun terkadang di sela-sela pekerjaannya Arkana masih memikirkan Alina.
__ADS_1
Tetapi ia tidak bisa hanya fokus terhadap Alina saja. Akhirnya rapat investor berjalan dengan baik hingga akhir, keputusan pihak mereka akan diberitahukan beberapa hari lagi. Yang paling penting adalah mereka cukup puas dengan presentasi Arkana tadi.
Untuk merayakan hari ini Arkana berniat mentraktir semua yang terkait mengerjakan projek itu. Arkana bahkan secara sukarela membelinya secara langsung di cafe favoritnya. Tidak jauh dari sana Arkana ternyata melihat Tari.
Awalnya Arkana ingin menyapanya, tetapi ia ragu. Arkana khawatir jika Alina sudah menceritakan apa yang terjadi kepada Tari. Disaat yang bersamaan Tari juga melihat Arkana dan menyapanya dengan senyuman. Arkana yang bingung membalasnya dengan anggukan canggung.
"Tadi seharian saya coba telepon ga diangkat, sibuk ya?" tanya Tari.
"Iya ... maaf, tapi ada apa ya?"
"Oh, saya diminta Alina ambil beberapa barangnya yang ada di apartemen Mas Arkana."
"Apa bisa?" lanjut Tari.
Setelah sepakat Tari pun pamit pergi lebih dulu, karena kebetulan ada panggilan dari atasannya. Tari bahkan belum sempat menanyakan masalah yang terjadi diantara Arkana dan Alina. Apa yang terjadi hingga membuat pasangan yang lengket seperti perangko ini bisa terpisah seperti sekarang.
Sementara Alina dirumahnya hanya berdiam diri di kamar. Besok pagi ia berencana mulai mencari pekerjaan part time yang bisa ia lakukan sembari melamar untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Alina seorang lulusan jurusan psikologi selalu berkeinginan untuk bekerja di sebuah sekolah sebagai guru konseling.
Alina sendiri memiliki pengalaman buruk semasa sekolah. Perpisahan kedua orang tuanya membuatnya sering di ganggu oleh teman-temannya. Dan saat itu tidak ada yang bisa menolongnya bahka seorang guru sekalipun. Yang menguatkan Alina bisa melewati masa-masa itu hanyalah foto keluarganya.
Melihat wajah Kai yang tersenyum lebar di foto itu selalu menjadi sumber kekuatan Alina. Namun kini membayangkan Kai sudah benar-benar tidak ada membuat hatinya sakit. Sosok yang menjadi pengganti Kai dihati nya lah penyebabnya.
__ADS_1
Alina masih belum bisa menerima ini. Cukup sulit baginya harus mengendalikan perasaannya, seraya menahan dirinya untuk tidak dulu menceritakan ini kepada ayahnya. Alina perlu mencari waktu yang tepat bagi ayahnya tahu tentang ini semua.
Keesokan paginya Arkana dengan hati yang berat membereskan barang-barang Alina. Disana bahkan terselip foto keluarga Alina bersama dengan foto-foto mereka saat di taman hiburan. Kebahagiaan sesaat itu kenangannya tidak akan pernah Arkana lupakan.
Pagi-pagi sekali Alina sudah rapi dan berpamitan kepada ayahnya. "Mau kemana kamu, Al?" tanya Adi heran melihat Alina berpenampilan seperti itu. Alina kemudian mengatakan jika dirinya sudah tidak bekerja dengan keluarga Miller lagi.
Pagi ini Alina akan mencari pekerjaan part time sekaligus mencari kesempatan pekerjaan full time. Adi menatap Alina khawatir. Adi selalu berkata kepada Alina untuk tidak memaksakan diri. Ia masih bisa membiayai keluarga ini, sehingga Alina tidak perlu bekerja sekelas itu.
"Ayah, Alina gamau repotin Ayah ... banyak hal yang mau Alina beli, karena itu Alina harus cari uang sendiri dengan bekerja."
"Ayah ga perlu khawatir, tinggal doanya aja ... Alina hanya butuh doa dari Ayah." Alina pun pamit pergi dan buru-buru keluar rumah untuk mengejar bis nya.
Disaat yang sama Arkana sudah berada didalam mobilnya meluncur ditengah-tengah keramaian kota. Saat ini keduanya sama-sama membutuhkan waktu untuk saling menjauh dan menata ulang kehidupan mereka. Bukan saling melupakan, tetapi saling memberi jarak terhadap masing-masing.
Alina membutuhkan waktu untuk memaafkan keluarga Miller, dan Arkana juga memberikan Alina waktu sebanyak apapun yang Alina butuhkan. Arkana tidak mau memaksakan Alina untuk segera memaafkannya. Mengingat kesalahannya bukanlah hal yang sederhana.
Di lampu merah, kebetulan Arkana melihat Alina yang berada didalam bis. Arkana memanfaatkan waktu itu untuk memperhatikan Alina. "Mau kemana dia, pagi-pagi gini tapi banget," gumam Arkana dimobilnya. Bis itu kemudian maju lebih dulu saat lampu hijau menyala.
Arkana memutuskan untuk mengikuti bisi itu secara diam-diam dibelakangnya. Arkana penasaran kemana Alina akan pergi pagi-pagi begini. Ternyata Alina berhenti disebuah sekolah yang tidak asing baginya. Rupanya Alina berhenti di sekolah Arkana dan Kai dahulu.
Arkana semakin penasaran, apa yang membuat Alina sampai datang ke sekolahnya. Apa yang Alina inginkan, apakah Alina mencari sesuatu. Semua pertanyaan itu sedang mengelilingi isi kepala Arkana. Hingga tanpa ia sadari hampir saja dirinya terlambat ke kantor.
__ADS_1
Selama Tari belum tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, hanya melaluinya lah Arkana bisa menanyakan kabar Alina. Meskipun masih tidak tahu permasalahannya apa, Tari tetap membantu Arkana mendapatkan kabar terbaru dari Alina.