
Alina mencoba menghapalkan setiap jalanan yang ia lalui sehingga nantinya bisa dengan mudah memberitahukan posisi tempat penampungan yayasan Rose kepada Arkana. Rose sama sekali tidak menaruh kecurigaan kepada Alina.
Sudah beberapa kali ia mengajak Alina untuk ikut dengannya kesana, tetapi baru kali ini Alina mengiyakan ajakan nya. Tidak lama sampai lah mereka di sebuah rumah besar dengan lahan yang cukup luas dan dipenuhi oleh beberapa anak yang bermain dengan bebas.
Sesaat setelah Rose keluar dari mobil, anak-anak itu menghampirinya dan bergantian menyapa Rose dengan hangat. Sangat jelas terlihat jika anak-anak disini dirawat dengan baik. Wajah mereka yang tersenyum cerah bisa memperlihatkan itu.
Hingga Alina melihat seorang anak yang masih canggung dengan keadaan sekitar. Alina pun mendekati anak itu, "Hai ... masih ingat Kakak kan?" tanya Alina tersenyum hangat. Anak itu kemudian membalas senyuman Alina, wajahnya terlihat lega karena bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.
"Kakak ... kok tau aku ada disini?"
"Tau dong, saudara kamu yang lain gimana sehat kan?" tanya Alina lagi.
Anak itu hanya mengangguk sembari tersenyum. Rose melihat Alina dari kejauhan, lalu memanggilnya untuk bersama-sama kedalam membawa barang-barang yang mereka bawa dari rumah.
Setelah berpamitan dengan anak itu, Alina pun menghampiri Rose ke mobil dan membantunya membawa barang-barang dan bunga yang merek bawa dari rumah. Sesekali Alina memotret keadaan rumah penampungan itu dan mengirimkannya kepada Arkana.
Kiriman foto itu juga disertai pesan singkat berisi, 'Disini terlihat jauh lebih baik ... anak-anak keliatan lebih happy.' Alina merasa lega karena ketiga anak Pak Agus dipindahkan ke tempat yang jauh lebih baik dari penampungan mereka sebelumnya.
Bu Rose berhasil membuat rumah penampungan yang sangat nyaman dan terasa seperti rumah untuk anak-anak terlantar ini. Ia juga sempat mengatakan jika disini juga ada sebuah sistem layaknya sekolah, jadi anak-anak dipastikan mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan.
"Gimana tempat ini, suka ga?" tanya Rose.
"Bagus banget Bu tempatnya, nyaman banget kayak rumah buat anak-anak ini."
"Syukurlah ... kami benar-benar mengupayakan yang terbaik untuk anak-anak ini," ucap Rose.
Di ruangannya Arkana mendapatkan pesan dari Alina. Ia senang Alina samoai dengan selamat, juga ikut senang melihat ibunya berhasil membuat rumah penampungan yang lebih dari layak untuk anak-anak itu. Arkana kemudian menelepon beberapa orang yang diminta nya mengikuti Alina.
__ADS_1
"Gimana ada yang mencurigakan?"
"Sampai saat ini aman Bos, akan kami kabari jika ada pergerakan mencurigakan sekecil apapun."
"Oke." Arkana menutup teleponnya.
Jika keberadaan anak-anak Agus sudah bisa diamankan, kini giliran mengatur pertemuan diantara mereka. Rencana ini harus sehalus mungkin jangan sampai pihak John Miller merasakan keanehan dari pertemuan itu. Karena ada anak-anak yang mereka libatkan.
Arkana kemudian memanggil Satrio ke ruangannya. Mereka akan mendiskusikan langkah selanjutnya. Kebetulan sedang tidak diburu oleh pekerjaan, Satrio pun segera ke ruangan Arkana.
Akan beresiko jika pertemuan dilakukan di rumah penampungan. Banyak mata yang melihat, juga jika salah satu dari orang disana mengetahui ada Arkana dibalik pertemuan itu dan mengadu kepada Rose akan rumit nantinya.
Rencana yang harus mereka lakukan yaitu sebisa mungkin membawa ketiga anak Agus keluar dari rumah menuju suatu tempat yang tidak jauh dari sana. Sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, anak-anak bisa segera di evakuasi ke tempat aman yaitu rumah.
Satrio pun setuju dengan rencana itu. Yang penting adalah menjaga anak-anak tetap aman selama pertemuan itu. Arkana lalu menambahkan, "Sebisa mungkin Alina tidak perlu ada, Sat."
"Lo tau sendiri kan Alina kerasnya kayak gimana."
"Jadi Alina sama anak-anak jadi yang utama."
Setelah makan malam, Alina bersama pelayan yang lain sedang mengobrol bersama tidak jauh dari kamar mereka. Hingga tiba-tiba Arkana menghampiri mereka untuk berbicara kepada Alina. Kehadiran Arkana yang tampak tidak biasa disana membuat pelayan lain membeku terdiam dan tidak berani melanjutkan pembicaraan mereka.
Arkana yang melihatnya berubah menjadi canggung, ia sama sekali tidak bermaksud mengganggu mereka. Dengan cepat Arkana menarik tangan Alina agar mereka bisa segera pergi dari sana. Ia tidak mau membuat pelayan lain canggung dengannya.
Di kebun bunga Arkana dan Alina seperti biasa saling bercerita satu sama lain. Memang hanya tempat itu yang bisa membuat keduanya nyaman.
"Terima kasih hari ini."
__ADS_1
"Sama-sama ... aku juga seneng kok disana, bakal lebih sering main kesana ah," ucap Alina ceria.
"Rencana udah dibikin, kemungkinan lusa bisa kita mulai kalo ga ada halangan apa-apa."
"Kamu ga usah ikutan, Al." Arkana setelah mengatakan itu tidak berani secara langsung melihat ekspresi Alina.
Sudah jelas wajah cemberut dan kesal yang ditunjukkan Alina kepada Arkana yang kini sama sekali tidak melihat kearahnya. Sudah banyak protes yang akan dilakukan Alina. Namun hanya satu kata yang berhasil keluar, "Kenapa?"
"Bahaya."
"Ga bahaya dong, kan cuma ngobrol sama Pak Agus doang ... lagipula akan lebih aman kalo anak-anak aku yang anterin buat ketemu ayah mereka, mereka nyaman sama aku kok ... kenapa tiba-tiba aku ga diajak?" Alina mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada Arkana.
"Oke kalo maksa."
Arkana sama sekali tidak mengelak dan langsung menyetujui itu. Mungkin karena sejak awal ia sudah mempertimbangkan Alina yang tidak terima jika tidak diajak. Itulah alasan plan B dibuat. Rencana yang memasukan Alina didalamnya.
Dari kejauhan Baskara tampak memperhatikan keduanya yang sedang asyik mengobrol dan sesekali saling tertawa satu sama lain. Jujur Baskara kagum kepada Alina karena berhasil membuat Arkana tertawa seperti itu. Tawa yang sudah sangat lama tidak dilihatnya.
Semenjak kejadian yang menimpanya dan gagalnya Arkana menjadi donor organ untuk Baskara, Arkana menjadi lebih tertutup. Tidak hanya hubungan mereka yang menjadi canggung, Arkana juga tidak banyak tertawa dan semakin dingin.
Setelah Arkana mulai dekat dan terbuka dengan Alina, tanpa Arkana sadari ia semakin sering tersenyum bahkan tertawa. Alina jelas telah berhasil merubah Arkana Benjamin Miller.
"Udah deh pokoknya kalo mau tetep ikut, kamu harus dengerin semua instruksi yang kita kasih."
"Kalo ada situasi yang ga diinginkan harus langsung pergi bawa anak-anak," ucap Arkana menekankan hal yang paling penting.
"Iya ... tenang aja."
__ADS_1
Karena hari semakin larut, keduanya pun memutuskan masuk kedalam dan kembali ke kamar masing-masing. Sesaat setelah masuk, Alina kembali berdiri memperhatikan foto keluarga Miller sebelum kembali ke kamarnya.
Kak ... sebenernya aku takut banget ngadepin Tuan Miller, tapi kehadiran Mas Arkana bikin aku tenang ... rasanya kayak aman selama bareng sama dia.