
Arkana diam-diam memperhatikan Alina yang masih terlelap. Berusaha sebisa mungkin tidak banyak bergerak dan membuat Alina terbangun. Meskipun seharian ini kesadarannya kurang baik, tetapi Arkana menyadari jika Alina terus berada disampingnya.
Bahkan suara yang membangunkannya saat di mobil adalah Alina. Jika tidak ada Alina entah apa yang akan terjadi padanya pagi tadi. Arkana sebenarnya sempat melihat Alina dari dalam, saat itu perasaannya lega karena Alina lah yang berhasil menemukannya saat itu.
Arkana kembali kesakitan karena lukanya yang masih basah. Tidak ia sadari suaranya membangunkan Alina. Begitu terbangun hal yang pertama Alina lakukan yaitu memegang dahi Arkana, memastikan apa demamnya sudah turun.
"Oke ... udah turun kayaknya," ucap Alina lega.
"Udah kan ngeceknya? Bisa diturunin tangannya?" Alina tidak menyadari kalau Arkana ternyata sudah bangun, mendengar suaranya membuat Alina kaget bukan main.
"Eh udah bangun?"
"Sorry Mas." Alina menurunkan tangannya dari dahi Arkana.
Alina pun buru-buru bangun dari duduknya, dan tiba-tiba kakinya mati rasa karena terlalu lama berada pada posisi seperti itu. Alina pun kehilangan keseimbangannya dan terjatuh tepat keatas tubuh Arkana. Posisi wajah mereka terlalu dekat sampai keduanya bisa merasakan hembusan nafas ketegangan masing-masing.
Tiba-tiba terdengar seseorang yang mengetuk pintu. Alina di bantu Arkana bangun dan berdiri. Alina pun buru-buru membukakan pintu dan kaget saat melihat Baskara disana. "Mas Baskara .... " Kehadiran Baskara masih membuat Alina sedikit berhati-hati. Ia pun melangkah mundur dan membiarkan Baskara masuk.
Melihat Baskara datang, Alina pun pergi menuju kamarnya. Tidak mau mengganggu waktu kakak beradik ini untuk saling berbicara. Sebelum menutup pintu, Alina kembali melihat ke arah Arkana dan memastikan pria itu baik-baik saja.
Dibawah Alina tidak sengaja bertemu dengan Bi Iyah. Bi Iyah ternyata yang memberitahukan Baskara kalau Arkana sakit dan ada dikamarnya. Menurut Bi Iyah mereka berhak menyelesaikan permasalahan mereka secepatnya sebelum Tuan Miller dan Bu Rose pulang.
Jika tidak, Tuan Miller akan memperkeruh masalah mereka dan semakin memperburuk hubungan keduanya. Bi Iyah bercerita kepada Alina kalau saat kecil dulu keduanya sangat akrab. Semenjak Tuan Miller semakin memihak Baskara, tanpa disadari juga menjauhkan hubungan Arkana dan Baskara.
"Tadi Bu Rose kirim pesan kalau besok akan pulang."
__ADS_1
"Jadi kamu ga usah terlalu khawatir ya, Mas Arka kalau ada mama nya nurut kok." Lanjut Bi Iyah.
Sementara di kamar Arkana tiba-tiba terasa suasana canggung diantara keduanya. Arkana dengan perlahan bangun dari kasurnya dan dibantu oleh Baskara seraya berkata, "Sorry." Baskara mengetahui jika tindakannya kemarin itu salah. Hampir saja ia melukai orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali.
"Lo hampir bunuh anak orang, Bas."
"Iya gue tau ... tapi hasilnya malah lo yang kena," ucap Baskara pelan.
"Oh ini, its oke ... bukan kali pertama ini."
Sebelum ada pengawal pribadinya, saat Baskara sedang kesal akan sesuatu dan melakukan hal seperti kemarin Arkana lah yang akan ayahnya kirim untuk menghentikan Baskara. Tidak jarang Arkana akan terkena lemparan apapun dari Baskara. Namun, kali ini barang yang dilempar nya cukup berbahaya dibanding sebelumnya.
Alina kini berada didepan laptop mengerjakan tugas akhirnya. Tiba-tiba pipinya memerah mengingat kejadian tadi. Selalu saja Arkana yang berada di posisi seperti itu dengannya. Jantung Alina berdegup jika mengingat hal itu.
Jangan gini dong Al. Fokus, harus fokus sama alesan kamu ada disini.
"Saya ga suka bunga yang itu," ucap Arkana sembari berjalan mendekati Alina.
Alina pun menoleh, "Emang udah boleh jalan-jalan?" tanyanya.
"Bosen. Kerja ga boleh, motoran ga boleh."
"Ngomong-ngomong, makasih Al."
Alina hanya tersenyum sambil mengangguk dan melanjutkan kegiatannya menyusun bunga-bunga segar kedalam vas.
__ADS_1
Tidak lama terdengar suara beberapa mobil yang datang. Alina penasaran siapa yang datang pagi-pagi begini. Ia pun bangun dari duduknya untuk melihat siapa itu, tetapi tangannya ditarik oleh Arkana. "Ga usah kesana ... cuma papa sama mama." Arkana sudah sangat hapal itu. Alina pun menuruti dan kembali duduk bersama Arkana disana.
Rose masuk dengan terburu-buru. Ia bahkan tidak sempat menaruh barang-barangnya dan langsung pergi mencari Arkana. Di dapur Rose pun bertemu Bi Iyah yang akhirnya memberitahu Rose kalau Arkana ada di kebun bunga bersama Alina.
Mendengar itu Rose pun bergegas kesana. Berbeda dengan Rose yang langsung mencari Arkana, Tuan Miller langsung menuju paviliun menemui Baskara. Sepertinya kemarahannya belum juga reda. Tuan Miller diikuti asisten pribadinya berjalan terburu-buru kesana.
"Arkana ... " panggil ibunya dari kejauhan.
"Itu kayak suara Bu Rose."
Suara panggilannya semakin mendekat. Begitu melihat Arkana, Rose pun segera memeluk anak bungsunya itu dengan erat. Arkana pun sedikit kesakitan karena ibunya tidak sengaja mengenai lukanya. Rose memegang kedua pipi Arkana, "Kok kurusan?" khawatir Rose.
Arkana tersenyum tipis melihat ibunya sangat khawatir padanya. Awalnya ia sama sekali tidak berharap orang tuanya akan khawatir padanya. Namun, ternyata hanya Tuan Miller saja yang seperti itu. Buktinya yang pertama ia cari yaitu Baskara.
Dari kejauhan suara kedatangannya sudah terdengar oleh Baskara. Sebenarnya ia juga sudah menduga begitu pulang ayahnya itu pasti akan lanjut memarahinya. Tidak ada yang lebih tidak disukai Tuan Miller yaitu anaknya yang membangkang.
Awal Tuan Miller kecewa dengan Arkana yaitu karena Arkana sengaja merusak dirinya sendiri dengan pergaulan yang tidak baik. Mengakibatkan dirinya gagal menjadi donor bagi kakaknya. Hal itu semakin membuat Tuan Miller marah padanya.
Kali ini Baskara melakukan hal yang sama. Namun, dengan alasan yang tidak bisa dimengerti John Miller. Bukan tidak bisa dimengerti, sepertinya memang ia tidak mau mengerti. John Miller selalu merasa pendapatnya lah yang selalu benar.
"Buka pintunya." Tuan Miller memerintahkan pengawal Baskara untuk membukakan pintu paviliun untuknya.
Didalam Baskara yang sedang melukis sudah mempersiapkan mentalnya bertemu dengan ayahnya. "Sini kamu ... masih bisa tenang ya kamu, Baskara!" teriak John Miller yang membuat semua orang kaget dibuatnya.
Baskara pun membalikkan badannya dan sepenuhnya menghadap ayahnya. Terlihat jelas raut wajah kemarahan John Miller kepada anak sulungnya itu. "Kamu kira dengan bergaul sama orang-orang seperti itu bikin kamu hebat?" Baskara hanya menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Saya gamau ya lihat kamu berkelakuan seperti kemarin ... saya gamau penerus saya nanti jadi berandalan."
"Baskara ... ingat, jangan kecewakan saya." Tuan Miller langsung pergi setelah mengatakan itu. Ia sama sekali tidak membahas kejadian Arkana yang terluka.