Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
33. PRIORITAS


__ADS_3

Lelaki itu dan Tuan Miller berteman cukup lama, mereka sudah saling kenal bahkan sebelum masing-masing dari mereka menikah. Namun, hubungan mereka menjadi kurang baik semenjak Tuan Miller lebih sukses dan berhasil. Pencapaian yang dimilikinya membuat Tuan Miller lebih ambisius dan haus pengakuan orang banyak.


"Dimana kamu bertemu dengan Arkana?" tanya Tuan Miller penasaran.


"Di suatu tempat, melihatnya mengingatkan padamu dulu ... sorot matanya yang tegas dan perkataannya yang tidak banyak basa-basi, sangat mirip denganmu John."


"Untuk apa kamu bertemu dengannya?"


Lelaki itu tidak menjawab melainkan tersenyum tipis melihat Baskara yang hanya diam sejak tadi. Ini kali pertama Baskara bertemu dengan teman lama sekaligus rekan bisnis ayahnya, sehingga ia tidak tahu harus melakukan apa.


Mereka pun akhirnya membahas tentang bisnis mereka. Meskipun hubungan mereka kurang baik, keduanya cukup profesional untuk menjalin bisnis bersama yang telah dibangun cukup lama.


Di rumah, Alina berfikir sangat keras bagaimana caranya bisa mendapatkan petunjuk mengenai kakaknya disini. Sementara Arkana yang tinggal disini pun tidak tahu keberadaan Kai. "Kalo Mas Arkana pulang kayaknya kita harus lanjut obrolin Kak Kai," ucap Alina.


Tidak lama terdengar bunyi telepon rumah yang kemudian diangkat salah satu pelayan disana. Pelayan itu memberikan teleponnya kepada Alina. Alina yang kaget mau tidak mau menerima telepon itu.


"Halo, Al."


"Eh ... Mas Arkana? ada apa?" tanya Alina padanya.


"Ada berkas saya yang tertinggal di kamar, bisa suruh orang anterin ke kantor ga ... Mama ga ada dirumah jadi saya minta tolong ke kamu."


"Detail berkasnya nanti saya chat kamu."


Setelah menerima pesan dari Arkana, Alina pun berjalan menuju kamar Arkana. Mencari kesana kemari dan akhirnya berhasil menemukan berkas yang dimaksud. Sebelum keluar kamar, pandangan Alina teralihkan pada foto Arkana dan Kai.

__ADS_1


Dalam foto terlihat mereka sangat akrab. Karena jika tidak seakrab itu, Arkana tidak mungkin menyimpan foto itu terus. Alina pun segera ke bawah menjadi Pak Anton untuk membawa berkas ini ke kantor Arkana.


Sayangnya hari ini Pak Anton pergi mengantar Bu Rose ke yayasan. Tidak ada pilihan lain, akhirnya Alina yang mengantarkan berkas itu diantar ojol langganan para pelayan dirumah keluarga Miller. Sebelum ojol itu datang, Alina ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Tidak mungkin ia pergi ke kantor Arkana dengan memakai celana trainingnya. Ojol itu pun datang, Alina pun akhirnya berangkat mengantarkan berkas milik Arkana ke kantornya. Tidak terbayang dia akan pergi ke kantor Arkana.


"Mas Arkana kan CEO nya, di kantor dia gimana ya ... " ucap Alina Membayangkannya sembari tersenyum sendiri.


Ojol yang dinaiki Alina sempat melihat ke arah spion merasa aneh karena Alina terus saja tersenyum sendiri. Ojol yang dinaiki Alina berjalan dengan cepat menembus kemacetan ibukota. Akhirnya sampailah Alina di kantor LifeCare.


Alina menunggu Arkana di loby kantor seorang diri. Alina terus saja melihat ke sekitar, kagum dengan perusahaan yang dimiliki Arkana. Terutama banyak orang-orang yang bersikap hangat tidak seperti CEO nya. Dari lift keluarlah Arkana.


Arkana berjalan menuju Alina, "Thanks." Ucapa Arkana yang terlalu singkat dan sudah pasti tidak bisa diterima Alina begitu saja. Melihat Alina tidak juga bangun dari duduknya dan masih terdiam disana membuat Arkana kebingungan, "Apa lagi?" tanyanya.


"Thanks ... gitu doang? perjalanan dari rumah kesini lumayan lama loh Mas."


"Saya bentar lagi mau ada rapat, terserah kalo kamu mau nungguin saya." Dengan terburu-buru Arkana kembali menaiki lift ke lantai lima menuju ruang rapat.


Jangan sekali-kali menantang seorang Alina Prameswari. Karena tidak ada yang perlu dikerjakannya dirumah, Alina pun memutuskan untuk menunggu Arkana di loby. Sebelumnya Alina memastikan kepada resepsionis untuk memberitahukan Arkana kalau Alina masih menunggunya.


Waktu berlalu, tanpa sadar Alina sudah menunggu Arkana hampir tiga jam. Sejak tadi Alina fokus pada ponselnya dan sesekali mencari referensi untuk tugas akhirnya. Tiba-tiba Alina merasakan ada yang aneh dengan perutnya lalu pergi ke kamar mandi.


Arkana yang baru saja selesai rapat, diberitahu jika Alina masih menunggunya sejak tadi. Arkana mulanya kaget, tetapi dengan sengaja mengabaikan Alina dan pergi ke ruangannya. Namun, Arkana tidak bisa membohongi hatinya. Ia merasa khawatir jika Alina masih menunggunya.


Arkana pun turun menuju loby untuk menemui Alina. Dengan terburu-buru Arkana pergi kesana dan melihat Alina sudah tidak ada disana. "Kan ... dia ga akan sekuat itu nunggu disini, lagian ga ada kerjaan amat." Arkana yakin jika Alina menyerah dan pulang.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah belakangnya terdengar suara Alina, "Emang aku ga ada kerjaan jadi nunggu disini." Alina baru saja kembali dari kamar mandi. Perutnya sakit entah karena apa. "Jadi kita makan sekarang?" tanya Alina dengan semangat.


Arkana tersenyum tipis. Mental anak ini kuat juga, sepertinya itulah yang ada dipikiran Arkana saat ini. Arkana pun akhirnya mengajak Alina makan bersama di kantin kantornya. Kantin yang terkenal di kalangan penggemar makanan sehat.


Alina sedikit kecewa, dipikirnya mereka akan makan di sebuah restoran mahal dan romantis. Namun, perutnya juga sudah tidak bisa menunggu lebih lama untuk itu. Arkana mencarikan mereka duduk, sementara Alina sudah berada dia antrian untuk mengambil makanan.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga. Alina sudah menahan laparnya sejak tadi. Ia sengaja menunggu Arkana agar bisa makan bersama. Ada sesuatu yang ingin ditanyakan oleh Alina dan tidak bisa menunggu sampai Arkana pulang nanti.


"Aku boleh tanya sesuatu engga?" tanya Alina memecah keheningan mereka.


"Tanya apa?"


"Mas Arkana dulu sedekat apa sama Kak Kai?"


"Meskipun dia ga banyak bicara, tapi dia teman yang bisa saya ajak bicara banyak hal."


Alina pun bercerita jika Kai adalah pelindungnya. Dia akan selalu berada didepannya jika terjadi sesuatu di keluarga mereka. Kai juga rela mengalah untuk tinggal dengan ibu mereka demi Alina. Padahal mereka jelas tahu memilih tinggal dengan ibu mereka tidak ada bedanya dengan tinggal seorang diri.


"Mama ga pernah peduli dengan kami. Karena itu setelah tau Kak Kai yang memilih tinggal sama Mama, dia juga sekaligus memilih untuk hidup tidak bahagia."


Cukup masuk akal, pantas saja Kai tidak pernah menceritakan hal pribadinya. Mungkin itu cerita yang paling Kai hindari. Arkana tahu betul bagaimana rasanya memiliki keluarga yang tidak seperti orang lain pada umumnya. Hal itu yang membuat Arkana dan Kai bisa berteman saat itu.


"Terus kamu ga coba cari dia?" tanya Arkana kepada Alina.


"Menemukan Kak Kai itu prioritas aku sekarang."

__ADS_1


"Gimana pun caranya, aku harus nemuin Kak Kai," jelas Alina.


__ADS_2