Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
79. EKSTRAKULIKULER


__ADS_3

Sesampainya di apartemen ternyata sudah ada Rose yang menunggu di loby. Ibunya itu sengaja tidak memberitahu Arkana kalau ia akan datang berkunjung. Arkana yang kaget kemudian segera mengajak ibunya pergi ke unit apartemennya.


"Kok ga kasih tau mau kesini?"


"Sengaja, tadi ada acara ketemu sama teman-teman ga jauh dari sini ... jadi sekalian mampir aja," ucap Rose tersenyum kepada anak bungsunya.


"Kita makan malam bersama ya," lanjutnya.


Sesampainya di unit apartemennya, Rose terlihat menelepon seseorang. Rose sempat berkata padanya akan menginap malam ini, ibunya itu bosan dengan keadaan rumah yang begitu-begitu saja. Namun, tidak lama terdengar suara bel.


Saat Arkana membukanya ternyata itu Baskara sudah membawa banyak makanan untuk makan malam mereka. Tanpa Arkana persilahkan masuk, Baskara langsung masuk dan menghampiri Rose untuk memeluknya. Arkana sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi.


"Lo kok bisa kesini? janjian sama Mama?" tanya Arkana kebingungan.


"Lah, Mama ga kasih tau lo? gue sengaja kesini sama Mama mau nginep."


Kedua mata Arkana melotot tidak percaya dengan apa yang didengarnya, "Lo juga nginep?" ucapnya.


"Iya ... besok kan Minggu jadi gue ga kerja, lo juga kan ... santai lah."


Rose hanya tersenyum melihat percakapan kedua anaknya. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak mengobrol seperti itu. Keadaan dirumah mereka yang selalu formal terutama setiap ada John Miller, membuat pergerakan mereka terbatas.


Rose bahkan lebih suka di apartemen Arkana. Bebas dari segala aturan John. Sejak kejadian malam itu, John Miller belum juga kembali ke rumah. Entah mungkin disengaja atau hal lainnya, tetapi hal itu justru membuat Rose bisa bebas mengunjungi Arkana.


"Udah ayo makan nanti keburu dingin."


Mereka bertiga pun mulai makan malam bersama, sesekali mengobrol santai tentang banyak hal di kantor mereka masing-masing. Karena terbiasa tinggal sendiri, Arkana hanya mempunyai meja makan kecil. Sehingga ketiganya harus makan di meja depan televisi.

__ADS_1


Sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah ditemui ketika mereka dirumah. Semua aturan dirumah terkesan mengekang mereka. Diantara pembicaraan mereka Baskara sempat menceritakan pengalamannya berhadapan langsung dengan salah satu klien ayah mereka.


"Gue bener-bener ga bisa ngomong apa-apa sih ... kagum gue sama lo Ar."


"Lo ga terbiasa aja Bas, entar juga terbiasa," ucap Arkana santai.


"Angkuh ya lo." Keduanya lalu tertawa mendengar perkataan Baskara tadi.


Arkana mengantar Rose ke kamarnya. Malam ini ia dan Baskara akan tidur di ruang tv sementara ibunya di kamarnya. Sebelum pergi, Rose menahan tangan Arkana, "Mama seneng kamu bisa ketawa-ketawa hari ini." Arkana kemudian duduk disamping Rose.


"Makasih ya Ma, akhir-akhir ini sering temenin disini."


"Rasanya kosong semenjak Alina pergi," ucap Arkana.


Rose menggenggam tangan Arkana, "Kamu tau kan, Mama pasti akan selalu ada disamping kamu kapanpun kamu butuh," ucapnya. Rose mengelus pipi Arkana sebelum ia pergi keluar.


Diluar Baskara sudah terlihat tertidur. Arkana yang tidak mau mengganggu kakaknya itu memilih untuk membuat laporan kepolisian di meja makan. Satrio sedang tidak bisa membantunya, sehingga Arkana harus turun tangan sendiri menyelesaikan laporan bukti yang mereka temukan ke kepolisian.


Ketika Arkana sedang fokus, tiba-tiba Baskara terbangun dan berjalan menghampirinya. "Masih ngerjain kerjaan?" tanya Baskara. Arkana yang kaget kemudian menoleh ke arah Baskara.


"Engga ... ini laporan buat polisi, gue sama Satrio berhasil nemuin pelaku penabrakan ayahnya Alina."


"Terus ternyata bukan orang-orangnya papa kan?" tanya Baskara penasaran.


"Bukan ... ini cuma orang yang dendam sama ayahnya Alina."


"Lo mau kasih tau Alina kalo lo yang nemuin?"

__ADS_1


"Biar deh, gue sih yang penting lega ke diri sendiri aja, ga berharap Alina tau dan merasa hutang budi ke gue."


Keesokan paginya Alina menyiapkan bekal makan siang untuk Adi. Hari ini Adi sudah diizinkan untuk kembali bekerja secara normal, tetapi Alina tetap melarang ayahnya banyak bergerak saat terjun ke lapangan. Adi sempat mendapat kabar jika ada seseorang yang membantu pencarian pelaku.


Namun, ia sengaja tidak memberitahu Alina. Ia tidak mau menambah beban pikiran anak kesayangannya itu. Adi sengaja akan mengurusnya sendiri sampai pelaku yang sebenarnya tertangkap.


Keduanya pun keluar dari rumah bersamaan. Ayahnya dijemput oleh salah satu rekan kerjanya, sedangkan Alina berjalan ke halte bis yang tidak jauh dari rumah mereka. Pagi ini ada acara di sekolah, sehingga Alina harus tiba lebih cepat untuk membantu persiapannya.


Pagi-pagi Arkana sudah di kantor polisi menunggu pengacaranya datang. Baru saja Arkana sempat mengobrol dengan salah satu polisi disana tentang masalah ini. Menurutnya dengan bukti seperti ini pelaku bisa dengan mudah ditangkap.


Setelah pengacaranya datang, mereka pun segera masuk ke ruang pelaporan. Arkana berhasil memberikan laporannya kemudian segera dikerjakan oleh mereka. Arkana berharap mereka bisa menangkap pelakunya secepat mungkin, ia juga meminta pihak polisi untuk tidak memberitahu Adi ataupun Alina tentang dirinya.


"Ar ... kamu bener ga mau mereka tahu kamu yang berhasil temuin pelakunya?"


"Ga usah tau Pak, saya lakuin itu bukan untuk mendapat pengakuan mereka," ucap Arkana.


"Sudah ya Pak, saya duluan ke kantor ... terima kasih hari ini."


Arkana melihat ke angkasa, "Kai ... kalo lo liat ini semoga lo ga marah sama gue ya, gue ga bisa jagain adek lo." Arkana menghirup dan menghembuskan nafasnya berat. Jauh dari Alina sangat berat baginya, tetapi akan sangat egois jika ia memaksa Alina untuk tetap bersamanya setelah apa yang terjadi.


Diwaktu yang bersamaan Alina juga melihat ke arah langit cerah pagi ini. Saat Arkana memikirkan Kai, Alina justru memikirkan Arkana. Alina merasa tindakannya itu kekanak-kanakan, ia bahkan tidak membiarkan Arkana memberikan penjelasannya.


"Mas Arkana pasti punya alasannya sendiri kan ga langsung kasih tahu aku ... dia juga punya alasan kan kenapa ini semua terjadi."


"Tapi aku tetap ga bisa terima Kak Kai diperlakukan seperti itu, seperti orang yang tidak punya keluarga," ucapnya.


Alina kemudian dipanggil kepala sekolah untuk membantunya melakukan persiapan acara siang nanti. Acara ini diadakan oleh seluruh tim ekstrakulikuler untuk menunjukan para perwakilan tim kepada anak baru angkatan 2023.

__ADS_1


Pihak sekolah memfasilitasi tempat dan membantu anak-anak mendekor ruangan aula. Alina termasuk yang mengerjakan dekor didalam aula bersama rekan kerjanya yang lain. Beberapa anak memang belum mengenalnya, karena itu Alina memanfaatkan momen itu untuk mengenalkan dirinya.


"Dulu Kak Kai pernah cerita waktunya akan sibuk untk main basket, apa mungkin dulu dia termasuk tim basket yang di ketuai Mas Arkana ya?" gumamnya sendiri.


__ADS_2