Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
9. BERTEMU MANUSIA YANG LAIN


__ADS_3

Setelah selesai dengan kegiatan liputannya, Baskara yang kelelahan diantar supirnya ke rumah. Berniat mencari udara segar, Baskara pun berjalan berkeliling rumahnya seorang diri. Tidak disangka dirinya melihat Arkana sedang bersama dengan Alina. Meskipun tidak terlihat berbicara akrab, tetapi kebersamaan keduanya membuat raut wajah Baskara berubah.


Tanpa disadari keduanya Baskara diam-diam mengikuti dan mengamati mereka. Baskara tidak suka jika Alina akrab dengan Arkana. Raut wajahnya jelas terlihat begitu.


Sejak kecil kedekatan antara Baskara dan Arkana tidak seperti saudara pada umumnya. Mereka tidak saling membenci, tetapi juga tidak akrab. Ayahnya yang selalu memihak dan menyayanginya lebih dari pada adiknya adalah salah satu penyebabnya.


Segala pencapaian Arkana kecil tidak pernah ada yang diapresiasi oleh ayahnya. Hanya Ibu mereka yang diam-diam merayakannya. Seperti anak kecil, Baskara selalu mencari perhatian Arkana. Dengan begitu dirinya merasa Arka akan mau dekat dan bermain bersamanya.


"Ah ... ga mau Pa, Ma aku cape ... sakit," teriak Baskara kecil di UGD rumah sakit.


"Sabar, Nak."


"Arkana mana? cepat bawa dia kemari," perintah Tuan Miller kepada salah satu asisten pribadinya.


Arkana yang sedang bermain dirumah tiba-tiba dibawa pergi oleh asisten sang ayah menuju rumah sakit. Tanpa berontak Arka hanya terdiam, seperti sudah terbiasa dengan ini.


Salah satu dokter menggulung lengan baju Arkana dan menancapkan jarum suntik besar di lengan kecil anak itu. Arkana berkedip kesakitan, tetapi sayangnya tidak ada seorang pun disana yang menenangkannya. Hari ini lagi-lagi Baskara memerlukan donor darah putih milik Arkana untuk penyakitnya yang tiba-tiba kumat.


Terduduk lemas dengan plester yang terpasang dilengannya, Arkana hanya diam menunggu ibunya datang. Keadaan Baskara yang belum stabil membuat ibunya tidak bisa segera menemani Arkana disana. Arka hanya bisa mengintip kedalam ruang inap kakaknya dan menunggu diluar.


Pagi itu Baskara tidak sengaja bertemu dengan Arkana di dapur. Arkana dengan santai melewati kakaknya itu dan mengambil segelas air kemudian ia minum.


"Hari ini, gue ada acara di Rumah Sakit Papa."


"Terus?" tanya Arkana singkat.


"Lo dateng kan Ar?" tanya Baskara seraya menatap dalam adiknya.


"Liat nanti, gue ada rapat hari ini soalnya." Arkana menaruh gelasnya dan pergi.


Alina dengan sibuk membawa beberapa peralatan lukis milik Baskara yang akan dibawanya ke acara di Rumah Sakit. Sebagai salah satu inti acara, nantinya Bas akan meminta salah satu pasien anak disana untuk menyelesaikan lukisannya.


Rumah sakit itu sebenarnya bukan rumah sakit biasa. Melainkan rumah sakit yang penuh dengan kenangan masa kecilnya. Banyak waktu Baskara habiskan disana, termasuk Arkana.

__ADS_1


Acara dimulai. Dibuka oleh pemilik yayasan bersama pemegang saham terbesar yaitu Tuan Miller. Alina membantu Baskara menyiapkan peralatannya. "Semalem kamu sama Arkana ngapain?" tanya Baskara to the point.


Alina yang kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari Baskara kemudian menjawab, "Diem doang liatin langit, kenapa Mas?"


"Gapapa ... keliatan akrab."


"Hahaha ... keliatan akrab dari mana, orang kita diem-dieman doang," jawab Alina sembari tertawa.


Mereka kemudian keluar setelah dipanggil oleh MC. Alina membawa peralatan lukis Baskara, sedangkan Baskara membawa kanvas berisi lukisannya yang hampir selesai. Melihat ke sekeliling, Baskara kemudian tersenyum melihat seseorang yang ia harapkan datang.


Arkana datang dengan diam-diam dan tidak memberitahu siapa pun. Kebetulan hari ini dirinya berniat berkunjung ke dokter yang selama ini banyak membantunya disana. Dokter yang selalu duduk disampingnya ketika tidak ada siapapun disana untuk menemaninya.


Ternyata Alina juga melihat kehadiran Arkana. Alina kemudian diam-diam menghampiri Arkana. "Saya kira ga dateng ke acara hari ini Mas?" tanya Alina dengan senyum meledek. Arkana menatap Alina sinis, tidak menyangka Alina yang memergokinya.


"Ga ada yang ngelarang saya buat dateng juga."


"Udah sana liatin acaranya ga usah kesini," ucap Arkana risih dengan keberadaan Alina disampingnya.


Seperti tujuan utamanya Arkana lalu pergi mencari dokternya. Melewati beberapa perawat yang berdiri memperhatikan acara di lantai bawah, Arkana sampai juga didepan ruangan dokter yang dicarinya.


Tok ... tok ... tok ...


Masuk.


"Dok, selamat siang ... apa kabar?" ucap Arkana tersenyum dari balik pintu.


"Arkana Benjamin Miller ... " panggil Dokter Indra kepada Arkana.


"Ga usah se lengkap itu dok manggil namanya."


Mereka pun saling mengobrol dengan akrab. Dokter Indra sudah Arka anggap sebagai keluarganya. Karena selain menangani Baskara, Dokter Indra secar tidak langsung juga menangani Arkana. "Oh iya ... bekasnya masih ada Ar?" tanya Dokter Indra memegang lengan Arkana.


"Masih."

__ADS_1


"Kenang-kenangan," ucap Arkana dengan senyum.


"Jadi ada apa kesini?" tanya Dokter Indra, karena sejak tadi Arka sama sekali tidak memberitahu maksudnya datang kemari.


"Sudah pasti bukan karena acara dibawah kan?"


Masih dengan hal yang sama, Arkana masih mencari seseorang yang tidak seharusnya bertemu dengan keluarga mereka. Sehingga harus berakhir dengan tragis. Dokter Indra sebenarnya sudah bisa menebak jika Arka akan menanyakan hal itu padanya. Namun, masih dengan jawaban yang sama dari Dokter Indra "Jangan diungkit."


Diluar ruangan Dokter Indra ternyata sudah ada salah satu pengawal Tuan Miller yang mengikuti Arkana sampai sana. Tampak melaporkan sesuatu memalui ponselnya. Arkana kemudian keluar dan memutuskan kembali ke kantornya.


Alina bersama dengan yang lain sudah bersiap-siap untuk pulang. Kecuali Baskara dan kedua orang tuanya, semua orang diminta pulang dan menyiapkan makan malam dirumah. Alina terlihat mencari keberadaan Arkana, "Pasti udah pergi dari tadi." Alina yang kecewa pun naik kedalam mobil.


Didalam mobilnya Arkana menelepon Satrio untuk memintanya melakukan sesuatu. "Laporin ke saya kalau ada pergerakan mencurigakan dari Ayah." Ternyata Arka sendiri sudah merasa jika dirinya mulai diikuti lagi oleh suruhan ayahnya.


Pencarian ini pernah dilakukan Arkana saat dirinya masih duduk di bangku kuliah. Arka sengaja memilih kuliah yang jauh dari orangtuanya karena hal ini. Ada sesuatu yang ingin dirinya selidiki, tetapi sang ayah selalu saja menghalangi. Arkana mengira jika jauh, maka ayahnya dan orang suruhannya tidak akan bisa menjangkaunya.


Namun salah, tidak ada yang luput dari jangkauan Tuan Miller. Terutama mengenai anaknya. Karena hal itu Arkana harus menyerah dan menunda penyelidikannya. Kini ketika dirinya merasa sudah memiliki power yang dibutuhkannya, Arka kembali melanjutkan penyelidikannya lagi.


Dirumah keluarga Miller, tidak ada yang bisa Alina kerjakan lagi. Setelah membereskan teras paviliun, dan menyiram bunga-bunga di kebun kini Alina hanya memainkan ponselnya diatas kasur. Sejak tadi dirinya sibuk berkirim pesan dengan Tari menceritakan hari-harinya selama disana.


"Rumah segede gini kalo ga ada siapa-siapa rasanya kayak rumah hantu."


"Yang lain juga ga keliatan, pada kemana ya?" tanya Alina dengan dirinya sendiri.


Berjalan-jalan sendiri, Alina mencari seseorang yang bisa dirinya ajak bicara. Menyusui lorong-lorong dan melewati ruangan kosong, Alina tidak menemukan satu pun orang disana. Sampai Alina bertemu dengan salah satu pelayan yang pernah mengajaknya bicara saat itu.


"Hai ... ada yang bisa aku bantu?" tanyanya dengan senyum cerah.


"Yaudah ayo." Mereka kemudian berjalan bersama menuju sisi rumah yang belum pernah Alina datangi.


Sebuah ruangan yang berisi banyak persediaan makanan, disana lah pelayan lainnya berada. Alina tersenyum senang, rasanya lega karena akhirnya bisa bertemu dengan sesama manusia dirumah menyerahkan itu. Ternyata jika tidak berada dengan keluarga Miller, para pelayan yang lain sangat ramah dan hangat.


"Aku boleh ikutan disini kan?" Alina tersenyum lebar menatap semua orang disana.

__ADS_1


__ADS_2