Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
68. TERUNGKAP


__ADS_3

Baskara masih ada didalam kamar Arkana. Ia masih merasa ragu-ragu dengan apa yang ingin dia katakan. Arkana kini sedang mengerjakan pekerjaannya di meja kerjanya, dan sesekali melirik Baskara yang masih terdiam disana.


"Lo jadi ngomong ga sih Bas?" tanya Arkana.


"Pencarian lo udah sampe mana?" Baskara justru balik bertanya kepada Arkana, memastikan Arkana sudah mendapat petunjuk yang mengarah kepada seharusnya.


Meskipun sedikit ragu untuk mengatakannya, Arkana memutuskan untuk memberitahu Baskara beberapa, "Gue tau Kai diminta Papa buat tes kecocokan donor organ."


Baskara sedikit tersentak karena adiknya ternyata sudah mendapat informasi sejauh itu. Kini tinggal beberapa informasi yang menguatkan maka terungkap sudah semuanya. Namun kemudian Arkana mengatakan sesuatu,"Ada yang lo tahu Bas?"


Arkana kemudian mengatakan kepada Baskara jika informasi sekecil apapun yang diketahui Baskara itu penting untuknya dan Alina.


Benar ... ada Alina yang sangat berhak tau tentang ini. Tapi ... ini terlalu sulit untuk mereka. 


"Kesel gue Bas nungguin lo, udah deh ... kalo-" Perkataan Arkana tiba-tiba terhenti.


"Gue tahu siapa pendonor gue."


Mendengar itu Arkana memfokuskan pandangannya kepada Baskara menunggu kelanjutan perkataannya. Meskipun berat Baskara memutuskan untuk mengatakan ini, karena cepat atau lambat kebenaran ini akan terungkap juga.


"Kai."


Arkana tidak percaya dengan apa yang didengarnya, kemudian membuat Baskara mengulang perkataannya yang tadi, "Siapa tadi kata lo?"


"Kai, Ar."


"Kai pendonor gue, hari dimana lo gabisa donorin hati lo buat gue ... Kai yang gantiin lo," ungkap Baskara.


Arkana hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Baskara. Kedua bola matanya terus bergerak seiring dengan isi kepalanya yang tidak ingin mempercayai apa yang Baskara katakan. Ternyata firasat nya benar, perasaan yang selama ini selalu ia bantah.


Tiba-tiba Arkana teringat keadaan mereka saat itu. Sudah jelas kalau keadaannya dan Kai tidak terlalu jauh beda. Keduanya sama-sama babak belur dan berada di kondisi yang tidak diizinkan untuk dilakukan operasi. Hal itu sangat jelas, karenanya Arkana tidak bisa mendonorkan hatinya pada Baskara.


"Papa pasti tau."


Baskara menahan Arkana dengan sekuat tenaganya, "Ga sekarang Ar, please ... lo tau kan tadi kayak gimana."

__ADS_1


"Sorry Bas gabisa gue." Arkana melepas paksa tangan Baskara yang memegangnya erat, berjalan menuju ruangan sang ayah.


Rose kebetulan melihat Arkana berjalan dengan sangat cepat. Raut wajahnya juga terlihat tidak seperti Arkana yang biasanya. Arkana yang biasanya menahan emosinya, Arkana yang biasanya tenang kini tidak terlihat seperti itu.


Hal yang dilakukan ayahnya sudah melewati batas. Kenyataan bahwa ayahnya selalu menghalangi nya untuk mengetahui kebenaran ini itu sangat tidak masuk akal bagi Arkana. Melihat Arkana yang seperti itu, Rose cepat-cepat mengikutinya.


Arkana akhirnya sampai di depan ruangan John Miller. Saat tangannya akan meraih gagang pintu ada tangan Rose yang memegangnya duluan. Sebisa mungkin Rose menahan Arkana yang saat ini benar-benar emosi. Rose tidak tau alasannya apa, tetapi ia tidak ingin ada keributan dirumah ini.


"Ma, minggir sebentar Ma."


"Engga, Ar jangan ya ... apapun itu bicarain dulu sama Mama, kita cari solusinya baru ke Papa."


"Jangan langsung pas kamu masih emosi," lanjut Rose matanya memerah menahan tangis.


Arkana merasa jika masalah yang lain mungkin ia bisa menahan emosinya dan berbicara dengan kepala dingin. Tetapi saat ini, ia pikir sekarang atau nanti emosinya akan tetap sama. Jadi lebih baik dipastikan secepatnya.


"Maaf Ma, Arkana gabisa nunda lagi." Arkana memindahkan tangan ibunya lalu masuk kedalam dan menutup pintunya.


Baskara baru saja sampai dan terlambat menghalangi Arkana untuk masuk. Disana dia melihat Rose sudah menangis tepat didepan pintu. Baskara pun menghampiri ibunya untuk menenangkannya.


"Kai ... dia dimana sekarang?" tanya Arkana tanpa basa-basi.


Tuan Miller tiba-tiba tertawa mendengar Arkana mengungkit nama itu, "Kenapa memang dengan dia?"


"Kai dimana sekarang?" Arkana kembali mengulang pertanyaannya.


Tuan Miller masih terlihat santai dan tidak terpancing Arkana. Ia justru meminta Arkana untuk duduk dan membiarkan nya dengan baik-baik. Arkana tersenyum sinis mendengar kata berbicara baik-baik keluar dari mulut ayahnya.


"Sejak kapan Papa bisa berbicara baik-baik."


"Kondisi kami sama-sama buruk, tapi kenapa Kai yang maju mendonorkan organ itu?" tanya Arkana mencoba mengatur emosinya.


"Hei ... kondisi kalian akan sama jika kamu tidak jatuh dari motor butut mu itu Arkana Benjamin Miller."


Arkana masih mengatur emosinya, tetapi kini nafasnya berat rasanya berat sekali untuk mengaturnya kali ini. Arkana harus menerima bahwa jatuhnya ia dari motor memperparah kondisinya, sedangkan Kai tidak. Arkana kemudian untuk kesekian kalinya menanyakan keberadaan Kai saat ini kepada ayahnya.

__ADS_1


Alih-alih menjawab Tuan Miller memilih kembali ke tempat duduknya dan meminta Arkana keluar dari ruangannya selama ia masih bersabar. Arkana jelas menolak sebelum ia mendapatkan jawaban yang dirinya mau.


"Dimana Kai?"


"Ga bisa dikasih tau ya kamu!" teriak John Miller yang mengangetkan Baskara dan Rose yang masih berdiri dibalik pintu.


"Dimana Kai, Pa!" Arkana membalas John Miller juga dengan teriakan.


"Meninggal ... oke, Kai ga bisa bertahan karena kondisinya sangat buruk ... puas kamu."


Seketika semuanya runtuh. Rasanya seisi ruangan runtuh dan hancur, oksigen menipis membuat Arkana kesulitan mengatur nafasnya. Bukan karena sesak, tetapi semakin berat untuk mengatur emosinya agar tidak meluap kepada ayahnya.


Saat ini rasanya Arkana ingin memukul ayahnya sekuat tenaga. Tetapi tidak bisa, seluruh tubuhnya membeku mendengar perkataan John Miller tadi. Sekilas terbersit pemikiran jika ia lebih kuat atau tidak terjatuh maka Kai tidak perlu menggantikan posisinya.


Baskara yang mendengar dari luar hanya bisa menundukkan kepalanya, sedangkan Rose juga terdiam tidak percaya. Anak yang selama ini kerap dicarinya ternyata harus meninggal karena ulah keluarganya.


"Kenapa ... tapi kenapa Pa? kenapa dipaksain kondisinya kan ga bagus."


"Lalu kakak kamu gimana? kamu juga gabisa kasih kan ke dia," lanjut John Miller.


"Anda memang hanya memikirkan Baskara dan Baskara, yakan?"


"Kalau Papa bisa paksain kondisinya Kai, kenapa ga lakuin yang sama ke saya!" Arkana sangat marah sekarang.


John Miller akhirnya terpancing dan meraih kerah baju Arkana. Ia berkata mau bagaimana pun ia tidak bisa mengorbankan anaknya untuk anaknya yang lain. Seberapa kerasnya John Miller kepada Arkana, ia tetap tidak bisa melakukan itu kepada Arkana.


Seandainya kamu lihat kondisi kamu saat itu bagaimana ... orang akan mengira yang sakit parah itu kamu bukan Baskara. 


Rose tidak tahan lagi, akhirnya ia pun memutuskan untuk langsung masuk menyusul Arkana kedalam. Rose masuk dan disusul Baskara dibelakangnya. Disana Arkana hanya berdiri terdiam mencoba mencerna semuanya. Rose tidak sampai hati melihat Arkana yang seperti itu.


Rose melirik tajam kepada John Miller lalu memeluk Arkana dari belakang. Sayangnya ia hanya bisa memeluk Arkana beberapa saat saja, sampai akhirnya ia pergi. Rose yang panik pun menyusul Arkana yang pergi dengan emosi.


Rose terlambat, Arkana sudah melaju kencang dengan motornya menuju gerbang depan dan pergi. Arkana terus menambah kecepatan motornya menuju tujuan yang entah kemana. Selama beberapa tahun ia mencari dan terus mencari, sama sekali tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.


Yang ada dibenaknya adalah bagaimana ia mengatakan ini kepada Alina. Mengatakan jika alasan Kai meninggal yaitu karena dirinya yang tidak bisa mendonorkan hatinya untuk Baskara. Orang yang selama ini membantunya justru penyebab meninggalnya Kai.

__ADS_1


Disaat yang sama, ponsel Arkana terus berdering. Bukan Rose, maupun Baskara melainkan Alina.


__ADS_2