
Alina meletakkan kepala Arkana dipundaknya. Sebelumnya Alina berhasil menelepon Dokter Indra dan memberitahukan kondisi Arkana sekarang. Arkana yang tetap ngotot tidak mau ke rumah sakit akhirnya dibawa ke rumah Dokter Indra yang kebetulan memiliki sebuah klinik.
Sesekali Pak Anton yang sedang menyetir melihat ke kursi belakang. Ini pertama kalinya Arkana seperti ini sehingga ia menjadi sangat panik. Mungkin jika tidak ada Alina, Pak Anton tidak tahu harus bagaimana.
Sepanjang jalan menuju rumah Dokter Indra, Alina terus mengecek suhu tubuh Arkana dengan menyentuh dahinya. "Duh, masih panas banget lagi," ucap Alina khawatir. Sepertinya tadi pagi ia tidak sempat memakan obatnya, ditambah terburu-buru berangkat ke kantor.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah Dokter Indra. Dengan cepat mereka membawa Arkana ke kliniknya. Alina dan Pak Anton kemudian menunggu diluar. Lagi-lagi keduanya harus mengalami hal yang sama seperti kemarin.
"Kita kayak begini lagi ya Al," ucap Pak Anton, suasana yang mulanya tegang sedikit mencari.
"Iya nih Pak ... Pak Anton ga bosen sama saya kan?" tanya Alina.
"Engga lah."
Setelah seharian kemarin tidak terlihat sama sekali, Baskara akhirnya keluar dari paviliunnya. Baskara meminta Bi Iyah membuatkannya cemilan. Tidak lama Bi Iyah pun mengantarkan cemilan pesanan Baskara ke meja makan. Baskara tampak melihat kesekelilingnya dan menyadari keadaan rumah yang sepi.
"Pada kemana Bi?" tanya Baskara kepada Bi Iyah.
"Ibu saman Tuan kan masih di urusan bisnis, Alina ke kampus katanya," jawab Bi Iyah.
"Arkana?"
"Mas Arkana pagi-pagi udah berangkat ke kantor." Bi Iyah pun segera kembali ke dapur.
Awalnya Baskara mau meminta maaf kepada Arkana atas kejadian kemarin. Semalaman ia memikirkan perkataan Arkana. Tindakannya yang seperti itu memang seperti anak kecil yang mencari perhatian, dan sangat tidak pantas dilakukan pria dewasa seusianya.
__ADS_1
"Luka yang didapatkan Arkana keliatannya cukup parah, darahnya aja sampe masih ada di piala gue ... tapi hari ini udah berangkat ke kantor? gila kali ya dia." Baskara berbicara dengan dirinya sendiri.
Dokter Indra berbicara serius dengan Alina dan Pak Anton. Arkana ini orangnya sangat keras kepala, jadi setelah mendengar cerita Alina mengenai kejadian kemarin Dokter Anton pun sudah mengira hal seperti ini akan terjadi. Dokter Indra lalu menyuruh Alina melakukan apapun agar Arkana bisa istirahat total dirumah.
"Kalo dia sampe ngotot ke kantor lagi, bisa bahaya Al."
"Halangin ... kalo masih sulit minta bantuan mamanya," tegas Dokter Indra.
Dokter Indra sudah mengenal dan sering menangani Arkana sejak ia kecil. Kondisi kesehatan Arkana yang memiliki riwayat anemia menjadi hal yang sangat diperhatikan olehnya.
Mereka pun memutuskan untuk segera pulang karena Arkana harus lanjut istirahat dirumah. Dokter Indra membantu Pak Anton membawa Arkana menuju mobil. Meskipun sudah sadar kondisinya masih sangat lemah, demamnya pun masih ada.
Alina dan Arkana duduk bersebelahan di kursi belakang. Arkana yang masih lemas hanya bersandar sembariĀ melihat ke luar dan sesekali memejamkan matanya. Alina yang kasihan melihat kondisi Arkana yang masih menguatkan dirinya meskipun keadaannya begitu akhirnya meraih kepala Arkana dan meletakannya di pundaknya seperti tadi.
Arkana tidak memiliki cukup tenaga untuk protes, dan memilih pasrah di pundak Alina. Tidak lama Arkana pun tidur selama sisa perjalanan mereka menuju rumah. Saat ini Alina sama sekali melupakan tujuannya keluar rumah hari ini.
"Pak Anton kok pake mobil Mas Arkana?" tanya Bi Iyah sedikit berteriak sembari menghampiri Pak Anton.
Tiba-tiba dari pintu belakang Alina keluar perlahan dan mengejutkan Bi Iyah, "Bi Iyah ... bisa tolong aku bantu Mas Arkana masuk kedalam?"
Kedua mata Bi Iyah melotot, kaget dengan apa yang dikatakan Alina. Mas Arka kenapa? kenapa harus dibantu masuk kedalamnya? Semua hal itu bergantian memenuhi pikiran Bi Iyah.
Bi Iyah dan Alina masuk kedalam rumah memapah Arkana yang kondisinya masih sangat lemah. Beberapa pengawal dirumah yang melihat keduanya cukup kesulitan akhirnya bergantian membawa Arkana ke kamarnya. Alina mengikuti dari belakang, sementara Bi Iyah kembali ke dapur untuk menyiapkan sesuatu yang bisa dimakan Arkana.
Sesampainya di kamar, Arkana langsung tertidur diatas kasurnya. Para pengawal yang tadi membantu Arkana kemudian keluar dan meninggalkan Alina yang masih ada dikamar Arkana. Kedua tangan Alina masih memegang tas milik Arkana.
__ADS_1
Alina terdiam dan terus memperhatikan Arkana yang tertidur lelap. Meletakkan tas Arkana, Alina kemudian mencari handuk kecil untuk mengompres dahi Arkana. Sesekali matanya melirik ke sebuah foto antara Arkana dan kakaknya Kai.
"Sebenernya hubungan Mas Arkana sama Kak Kai itu apa sih?"
"Kalo lagi sakit terus tidur gini keliatan adem banget mukanya, ga kayak biasanya suka ketus."
Alina terus berbicara sendiri, memanfaatkan kesempatan Arkana yang masih tertidur.
Tidak terasa waktu sudah sore dan Alina terlihat masih betah berada di kamar Arkana. Beberapa kali Arkana terbangun, tetapi tidak lama kembali tidur lagi. Sepertinya ia pun tidak menyadari Alina ada di kamarnya sejak tadi.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk kedalam ponsel Alina. Disana tertulis, 'Kalau masih sakit bisa istirahat dulu saja'. Alina yang banyak akalnya tadi sesampainya dirumah sempat memberikan fotonya di klinik yang awalnya untuk mengabari Tari kepada dosen pembimbingnya.
Alina beralasan tidak bisa ke kampus karena sakit, dan memberikan foto itu sebagai bukti kalau ia tidak berbohong. Alina merasa bertanggung jawab atas sakitnya Arkana. Karena itu ia tidak sampai hati jika meninggalkan Arkana begitu saja dan pergi ke kampus.
Bi Iyah akhirnya datang ke kamar Arkana membawakan semangkuk bubur untuk makan malam Arkana. Disana ia melihat Alina yang tertidur disamping Arkana. Terus menunggu Arkana sejak tadi pasti membuat Alina lelah. Karena tidak mau mengganggu keduanya Bi Iyah pun keluar dan meninggalkan buburnya diatas meja.
Rose yang khawatir karena sejak pagi anaknya tidak ada kabar pun menelepon Bi Iyah. Baik Pak Anton maupun Alina keduanya belum ada yang memberitahu Rose tentang keadaan Arkana sekarang. Selain tidak sempat, keduanya juga berpikir Rose akan panik mendengar kabar Arkana seperti ini.
"Halo iya Bu, ini Iyah .... " Bi Iyah menjawab telepon Rose.
"Kok Arkana ga ada kabarnya ya dari pagi, saya khawatir loh Bi Iyah."
"Mas Arka sakit bu, hari ini tadinya mau ke kantor tapi akhirnya pulang ... tadi dijalan ketemu sama Alina dan Pak Anton," jelas Bi Iyah dengan perlahan agar tidak membuat Rose panik.
Rose kaget mendengar kabar dari Bi Iyah. Pantas saja Arkana tidak mengabari nya sejak pagi kalau keadaannya seperti itu. "Sakit gimana tapi, gara-gara lukanya kemaren ya pasti ... secepatnya saya pulang ya Bi." Rose berusaha tenang meskipun suaranya terdengar jelas kepanikannya.
__ADS_1
Di kamarnya, Arkana akhirnya bangun. Tubuhnya sedikit berenergi setelah tidur cukup lama. Merasa ada sesuatu di dahinya, Arkana pun meraih handuk kompresnya dan meletakannya di kasurnya. Namun, tangannya tidak sengaja mengenai kepala seseorang dipinggirnya yang masih terlelap.
"Alina ... dari tadi masih disini."