Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
89. PAHLAWANKU


__ADS_3

Akhirnya datang juga wakru bagi Alina untuk bertemu Arkana. Kali ini Rose sengaja memberikan Alina kesempatan lebih dulu untuk bertemu pahlawannya. Arkana memang selalu menjadi pahlawan bagi Alina. Sejak pertama kali mereka bertemu, Arkana sudah menempatkan dirinya seperti di hati Alina.


Dengan perlahan, selangkah demi langkah Alina dengan baju khusus pengunjung ICU berjalan mendekati Arkana yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Tiga hari berlalu dan Arkana belum juga sadarkan diri. Menurut Satrio Arkana sedang membalaskan dendamnya karena beberapa hari sebelum kejadian dirinya kurang tidur.


Alina melihat Arkana yang sangat pucat. Warna kulitnya yang pucat kini terlihat lebih pucat di mata Alina. Seluruh ingatan tentang kejadian hari itu masih sangat jelas bagi Alina. Alina menggenggam tangan Arkana. Ia sudah berjanji tidak akan menunjukan tangisannya di depan Arkana.


Karena itu Alina mencoba tersenyum meskipun Arkana sama sekali tidak bisa melihatnya. Tetapi Alina yakin jika Arkana bisa merasakan kehadirannya. Dengan perlahan Alina mengelus kepala Arkana, berharap pahlawannya itu akan segera sadar.


Waktu yang diberikan tidak banyak, Alina pun terpaksa berpamitan kepada Arkana dan berjanji datang lagi lain kali. Alina bahkan berharap senyuman dan genggaman tangannya akan dibalas Arkana di pertemuan mereka selanjutnya.


Setelah sekuat tenaga menahan tangisnya, diluar Alina terduduk di lantai dan kembali menangis. Rose yang melihat itu menghampiri dan menguatkan Alina.


"Maaf ya Bu, lagi-lagi Alina nangis ... Alina udah berusaha tahan tadi."


"Gapapa, Al ... saya bisa ngerti, ga ada yang larang kamu sedih kok." Rose memeluk Alina erat.


Kedua wanita yang dicintai Arkana saling menguatkan satu sama lain. Keduanya lemah tetapi dipaksa kuat demi Arkana. Mereka tidak mau saat Arkana sadar nanti, ia melihat keduanya menangis.


Sementara Baskara secara pribadi bertemu dengan John Miller, ayahnya. Baskara berniat menyampaikan siapa yang berada dibalik ini semua. Namun, sebelum mulai mengatakannya John Miller sudah tahu siapa orang yang Baskara maksud.


John bahkan mengatakan pada Baskara kalau dirinya sudah meminta orang-orangnya untuk membawa Tama kehadapannya. Dengan raut wajah serius John berkata jika Tama sudah melewati batas, dan dia akan membayar semuanya.


Pertama kalinya Baskara melihat raut wajah ayahnya seperti itu. Disaat itu juga ia yakin jika sebenarnya ayahnya tidak membenci Arkana. John bahkan rela menggunakan cara kekerasan jika Tama tetap mengganggu keluarganya.


Meskipun begitu, John menjadi satu-satunya orang yang sama sekali belum menjenguk Arkana di rumah sakit. John selalu menghindar saat Rose berangkat ke rumah sakit.


Jika dipikir lagi, saat Arkana terluka parah dan gagal mendonorkan hatinya pada Baskara. John Miller hanya melihat anaknya sekali, memarahinya lalu segera pergi dan tidak pernah kembali sampai Arkana keluar dari rumah sakit.


Arkana memang jarang masuk ke rumah sakit, tidak seperti Baskara sehingga keadaannya yang seperti itu terasa asing bagi kedua orang tuanya. Rose bahkan akan menangis lebih keras jika Arkana yang terluka dan ia mengetahuinya.

__ADS_1


Malam itu Juan datang ke rumah keluarga Miller bersama kedua temannya. Juan melaporkan jika ada pergerakan ilegal di sekitar pelabuhan, kemungkinan Tama akan kabur melalui jalur itu saat terpojok. Sampai saat ini mereka juga sulit menemukan Tama.


Di saat yang sama Satrio dan beberapa anak buahnya sedang melakukan pertemuan penting. Alih-alih mencari Tama, Baskara meminta Satrio mencari orang yang menusuk Arkana.


Baskara yakin jika orang itu hanyalah orang suruhan Tama. Tama bukan orang yang memiliki anak buah khusus yang bisa melakukan hal seperti itu.


"Terus kalo kayak gitu, saya ngapain cari orang yang tusuk Arkana?" tanya Satrio kepada Bas.


"Saya mau tonjok dia dulu sekali, beraninya ngelakuin hal itu ke Arkana."


"Selain itu juga untuk memancing Tama atau setidaknya anak buah Tama yang menyuruh orang itu keluar," lanjutnya.


Menurut Baskara, pencarian Tama sudah dilakukan oleh ayahnya yang jelas-jelas memiliki tim lebih besar. Jadi mereka akan mencari dari sisi-sisi yang tidak Tama prediksi. "Kita sepertinya juga perlu mencari keberadaan Bu Mirna, ibunya Alina," tutur Satrio.


"Bu Mirna yang memiliki akses terhadap Tama," lanjut Satrio.


"Oke nanti saya tanya Alina apakah kita bisa menggunakan rencana itu."


Selama ini Arkana selalu berjuang sendiri. Ia selalu memastikan semua hal aman baru mengizinkan orang lain ikut didalam rencananya. Dengan cara itu Arkana melindungi semua orang yang disayanginya.


"Gabisa bayangin akan seperti apa reaksi Arkana kalau kamu yang ada diposisinya sekarang, Al."


"Seberapa besar rasa penyesalannya karena gagal lindungi kamu," lanjut Rose.


Diluar, Alina menghampiri Satrio yang sedang duduk seorang diri. Satrio lalu tersenyum menyambut Alina dan membiarkan Alina duduk disampingnya. "Akhir-akhir ini dia makan lebih banyak almond dari biasanya." Satrio berkata kepada Alina, "Dia emang rutin konsumsi itu, tapi akhir-akhir ini semakin sering."


Satrio tahu betul Arkana tidak mau orang lain sampai tahu kondisinya yang sebenarnya. Tetapi sebagai temannya, sahabat baiknya Satrio bisa merasakan jika tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Sehingga dengan kejadian kemarin, kondisinya memperparah semuanya.


"Maaf ya Al, saya ga kasih tau kamu tentang kondisi Arkana."

__ADS_1


"Kalau saya kasih tau kamu, kamu pasti bisa berhentiin dia dan paksa Arkana istirahat," lanjut Satrio.


"Saat itu hubungan kita juga lagi ga baik-baik aja ... Alina juga ikut bertanggung jawab."


Tiba-tiba salah satu pengawal yang datang bersama Rose memanggil keduanya. Suster yang sedang masuk memeriksa Arkana melihat Arkana mulai membuka matanya. Alina dan Satrio kemudian berlari dengan cepat menuju ruang ICU.


Hampir sampai Alina melihat Arkana dibawa keluar dari ruang ICU. Tangannya meraih kemeja Satrio dan menggenggam nya keras. Alina takut kondisi Arkana justru lebih buruk. "Mas Arkana mau dibawa kemana?" gumam Alina.


"Tante." Satrio memanggil Rose yang sedang berjalan dibelakang dokter.


"Sat, Alina ... Arkana udah buka matanya, tadi dipindah ke ruang rawat."


"Kondisinya sudah mulai stabil meskipun masih lemah, jadi akan terus dipantau," tutur Rose.


Alina lega mendengar Arkana sudah bisa dipindah ke ruang rawat. Tandanya meskipun masih lemah, Arkana sudah mengalami kemajuan. Kini dirinya pun bisa menjaga Arkana lebih lama disampingnya. Karena sebelumnya mereka memiliki waktu yang terbatas.


Mereka semua lalu pergi menyusul Arkana ke ruang rawat. Rose berjalan mendekati anak bungsunya dan mengelus pelan kepalanya.  Meskipun tadi sempat membuka mata, Arkana kembali tidur. Namun, menurut dokter kesadarannya sudah membaik.


Alina juga berjalan canggung mendekati Arkana diikuti Satrio dibelakangnya. "Ar, besok pagi bangun yuk ... biar bisa ngobrol sama Alina," ucap Rose menatap Alina dan memberinya isyarat, "Iya, Mas besok kita ngobrol-ngobrol." Alina semakin mendekatkan dirinya ke Arkana agar suaranya terdengar.


Malam ini giliran Alina dan Satrio yang menjaga Arkana. Rose pun pamit dan menitipkan anaknya kepada mereka. Satrio pergi mengantar Rose sampai loby rumah sakit. Kini meninggalkan Alina seorang diri duduk disamping Arkana.


Sebelum pergi, dokter yang menangani Arkana sempat berkata jika mereka harus lebih sering mengobrol dengannya. Meskipun tidak bisa dijawab, setidaknya Arkana bisa mendengarnya dan lama-lama akan memberikan respon nya.


Karena itu Alina terus mengajak Arkana berbicara. Alina menceritakan kegiatannya di sekolah. Juga titipan salam dari kepala sekolahnya, katanya dulu ia adalah wali kelas Arkana. Ibu itu merasa sedih dengan kejadian ini, dan mengizinkan Alina untuk sering-sering menjenguk Arkana.


"Aku didukung tau buat sering-sering kesini." Senyum Alina.


Tidak kunjung kembali, Alina sampai tertidur disamping Arkana karena terlalu lama menunggu Satrio. Tidak lama saat kembali, Satrio melihat Alina yang seperti itu pun memutuskan untuk menunggu diluar. Ia tidak mau mengganggu keduanya.

__ADS_1


Hingga pagi tiba, Alina yang terbangun kaget karena tiba-tiba posisi tangannya digenggam oleh Arkana. Hal ini berarti semalam Arkana sempat sadar dan melihat Alina disampingnya. Arkana kemudian memegang tangan wanita yang dicintainya ini lalu kembali tidur.


__ADS_2