
Seharian lelah bermain Alina dan Arkana berjalan menuju mobil untuk pulang. Alina terus memainkan ponselnya melihat foto-foto yang ia ambil. Salah satunya yaitu foto candid Arkana. Tanpa diketahui Arkana, foto itu kini Alina jadikan wallpaper ponselnya.
Arkana memang tampan dari sisi manapun sehingga foto candid pun cocok dijadikan wallpaper. Alina kemudian sengaja berjalan melambat untuk merekam Arkana yang berjalana didepannya. Rekaman itu lalu Alina kirimkan kepada Tari.
"Liat deh lagi sama siapa?" Isi pesan Alina kepada Tari.
Tari lalu membalas dengan emotikon tanda penasaran, "Arkana?"
"100 buat Tari."
Alina sangat bahagia hari ini. Meskipun lelah bermain tetapi senyuman di wajahnya tidak juga menghilang. Didalam mobil Arkana membantu Alina memasang seatbeltnya, dan berhasil membuat Alina salah tingkah.
"Kenapa sih?" tanya Arkana.
Alina hanya menggelengkan kepalanya, "Gapapa ... " ucapnya.
Arkana kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu mereka pun pulang. Sebelumnya Alina meminta Arkana untuk berhenti di sebuah supermarket, ada beberapa bahan masakan yang perlu dibelinya. Makan malam hari ini Alina akan memasak masakan spesial.
Perasaan Arkana campur aduk. Ia senang melihat Alina yang terus tersenyum sepanjang hari, mereka banyak menikmati hari ini. Sepertinya bukan hari ini waktu yang tepat untuk Arkana memberitahukan hal itu kepada Alina. Ia tidak tega merusak hari bahagia Alina.
Karena di lantai dasar apartemen ada sebuah supermarket yang cukup lengkap, Arkana menyarankan Alina untuk kesana saja. Sementara itu Arkana akan langsung kembali ke apartemen, ada yang harus ia kerjakan.
Arkana membuka pintu apartemennya. Langkahnya berat saat masuk kedalam. Pikiran dan hatinya kini sedang berperang satu sama lain. Bahagianya hari ini seperti tertahan beban yang harus ia tanggung seorang diri. Ia berjanji kepada dirinya sendiri akan mengatakan yang sebenarnya kepada Alina besok.
Tidak lama Alina pun kembali lalu mencari-cari Arkana yang ternyata sedang mandi. Ia lalu menyiapkan beberapa bahan untuk dimasak sekaligus merapikan kulkas milik Arkana. Keadaan kulkas Arkana setelah ada Alina jauh berbeda dari sebelumnya.
Kini keadaannya jauh lebih hidup. Tidak seperti sebelumnya, hanya ada beberapa minuman dan sayuran layu. Alina bahkan sudah memasak beberapa masakan yang bisa suatu saat Arkana panaskan sebagai lauk. Layaknya pasangan suami istri.
__ADS_1
Setelah Arkana mandi dan berganti pakaian, kini giliran Alina yang ke kamar mandi. Sembari menunggu Alina, Arkana menyalakan laptopnya dan menyiapkan materi untuk rapat besok di kantor. Hingga tiba-tiba muncul sebuah email.
Email itu dari Satrio yang mengabari perkembangan pencarian makam Kai. Arkana sudah menyuruh Satrio untuk menghubunginya lewat email karena tidak mau Alina sampai curiga. Dari isi email Satrio, makam Kai sudah dipindahkan dari tempatnya semula.
Sebelumnya bisa terlacak, namun tempat yang baru ini semakin sulit diketahui. Terlebih lagi kemungkinan Kai menggunakan nama lain atau bahkan tanpa nama, hal itu yang menyulitkan Satrio dan beberapa rekannya kesulitan melacak nya.
"Seharian ini aku kok ngerasanya ada yang aneh dari Mas Arkana?" tanya Alina.
"Aneh gimana? Arkana mencoba menghindari tatapan mata Alina.
"Tuh ... sekarang aja ga liat aku ngomongnya," ucap Alina dengan raut wajah cemberut.
Alina kemudian meraih wajah Arkana lalu memegang kedua pipinya, "Kalo ngomong sambil liat orangnya."
Merasa tidak bisa mengendalikan perasaannya, Arkana pun pergi malam itu. Ia beralasan ada sesuatu yang harus ia obrolan dengan Satrio tentang rapat besok, "Kayaknya nginep di Satrio, gausah nunggu ya." Arkana kemudian pergi tanpa sedikit pun menoleh ke arah Alina.
Beberapa saat diam, Arkana akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan pergi menuju kantor. Malam ini sepertinya ia akan bermalam di kantor. Kebetulan disana ada kamar yang sengaja disediakan untuk ruangan cek kesehatan, tetapi juga bisa untuk bermalam bagi siapapun yang lembur.
Ruangan itu lebih sering diisi oleh Arkana ataupun Satrio. Karena hanya mereka berdua yang lebih sering lembur dibanding karyawan yang lain.
"Sat, lo di rumah?" tanya Arkana lewat telepon.
"Iya lah ... kenapa? ada yang perlu gue kerjain lagi?"
"Engga ... besok gue pinjem kemeja yang agak rapih, malem ini gue nginep di kantor." Hal itu tentu mengejutkan Satrio.
Baru saja Arkana menceritakan bagaimana ia dan Alina menghabiskan waktu bersama. Sekarang Arkana justru menginap di kantor. Sepertinya ini ada kaitannya dengan Kai. Arkana berarti belum mengatakan apa-apa kepada Alina.
__ADS_1
"Masih belum lo kasih tau ya?"
"Belum berani gue."
"Belum siap sama respon dia," lanjut Arkana.
Satrio bisa mengerti apa yang dirasakan Arkana. Awalnya mereka berdua menjalankan berbagai misi bersama untuk mencari informasi keberadaan Kai. Kini setelah tau yang sebenarnya terjadi, Arkana bahkan tidak siap untuk mengatakannya kepada Alina.
"Orang yang selalu khawatir kalo aku sendirian disini malah ninggalin."
"Sebel banget sih ... baru aja hari ini seneng-seneng, dia kenapa sih sebenernya?" gumam Alina mengungkapkan kekesalannya.
Alina mencoba mengalihkan kekesalannya dengan menonton film di televisi sembari memakan cemilan. Meskipun berhasil teralihkan sejenak, perasaan kesal itu kembali datang. Alina sudah menelepon Tari, tetapi tidak kunjung dijawab.
Tidak hanya Alina, Arkana sendiri kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol perasaannya sehingga harus meninggalkan Alina di apartemennya seorang diri. Ternyata Arkana juga sudah menelepon Tari, dan sama saja Tari tidak mengangkat teleponnya.
Kebetulan satpam yang bekerja di LifeCare bekerja secara bergantian selama 24 jam. Karenanya saat Arkana masuk ke kantor masih ada beberapa satpam yang berjaga di luar maupun dibagikan dalam. Sejujurnya itu membuatnya lebih nyaman karena ia merasa lebih aman.
Di dalam ruangannya Arkana hanya tidur-tiduran di sofa nya sembari mendengarkan musik. Situasi di kantor sangat sepi, apalagi di sebuah kantor sebesar LifeCare. Namun, Arkana sudah menganggap LifeCare sebagai rumah keduanya, sehingga meskipun sepi ia justru merasa nyaman.
Pekerjaan yang ia maksud hanya sebagai alasan Arkana kepada Alina. Arkana sekarang sedang menyiapkan hatinya untuk mengatakan kebenaran keberadaan Kai kepada Alina. Ia jug harus bersiap jika Alina akan pergi dari hidupnya karena rasa kecewa.
Jika itu terjadi pada dirinya, Arkana pun akan merasa kecewa dan marah kepada orang-orang yang menyebabkan keluargamu pergi selamanya. Kai harus merasakan semuanya sendiri tanpa ada keluarga disisinya. Bahkan Arkana sahabatnya sendiri tidak bisa ada disana untuk melindunginya.
"Gue yakin Papa pasti pindahin lagi makam nya belum lama ini."
"Tindakannya ilegal, bahkan menyebabkan kematian ... mungkin karena itu selalu dia sembunyiin gimana pun caranya," ucap Arkana seorang diri.
__ADS_1
Arkana merasa menemui ayahnya dalam waktu dekat ini bukanlah keputusan yang baik. Keduanya masih emosi, Arkana saja tidak yakin bisa menahan emosinya jika bertemu dengan ayahnya. Sehingga pulang menjadi kemungkinan paling mustahil dilakukannya saat ini.