
Malam itu juga Tuan Miller beserta pengawalnya dan staff ahli nya yang lain sama-sama berangkat menuju rumah keluarga Miller. Mereka akan membahas tentang berita yang saat ini sedang terjadi. Sebelumnya Baskara juga sudah memberitahu ayahnya jika Arkana sedang mencoba menghalangi semua beritanya.
Sampai saat ini Arkana cukup berhasil menghalau berita itu semakin menyebar. Karena itu untuk sementara Tuan Miller akan mempercayakan itu padanya. Sepertinya ada sisi positif dari terjadinya kejadian ini, pertama kalinya John Miller percaya dengan Arkana.
Meskipun begitu Rose tetap khawatir dengan keselamatan Arkana. Mereka memang menduga ada pihak lain yang membantu ini semua. Rose yang mendengar itu, hatinya semakin tidak karuan. Anak bungsunya masih di luar sana.
Hal yang menguntungkan Arkana saat ini yaitu tidak banyak yang tahu tentang identitasnya terhubung dengan John Miller. Banyak dari mereka bahkan tidak tahu ada nama Miller di nama Arkana. Saat ini Arkana bisa aman.
Di pihak Tama, mereka yang awalnya diam saja dan menyerahkan semuanya kepada Pak Adi yang sedang emosional kali ini harus bergerak. Salah satu staff nya mengatakan jika pemberitaan mereka berhasil dihalau. "Jika terus seperti ini, besok pagi semuanya bisa benar-benar terhalau, Pak," ucap staff Tama.
Tama tertawa dengan sangat keras. Mulanya ia tidak mau sampai membuat Arkana berada didalam masalah ini, karena jujur Tama sangat menyukai kepribadian Arkana. Tetapi kini ia cukup kesal karena Arkana terlihat membantu ayahnya.
"Kamu harusnya yang menghancurkan ayahmu Arkana ... bukan malah membantunya." Tama membanting gelas yang sedang dibawanya. Sekarang Tama tidak punya pilihan lain selain menggertak Arkana. Tama juga tetapi tidak mau mengambil resiko.
Salah satu anak perusahaannya memiliki bentuk kerjasama dengan LifeCare, sehingga ia tidak bisa gegabah untuk menyerang LifeCare. Yang bisa dirinya lakukan yaitu secara langsung menyerang Arkana melalui orang yang dicintainya, Alina.
Sampai dirumah, Alina mengajak ayahnya berbicara serius. Alina meminta maaf pada ayahnya karena tidak mengatakan hal itu dari awal. Sehingga ayahnya harus mendengar semua kebenarannya dari orang lain. Ditambah lagi orang lain itu adalah Mirna.
"Alina tau Ayah pasti marah, Alina juga marah Yah ... tapi cara balesnya bukan kayak gini."
"Ini bisa jadi bumerang buat Ayah," ucap Alina sedih.
"Hanya ini yang Ayah bisa lakukan untuk Kai, Al."
Alina memeluk ayahnya erat, mereka saling berbagi kesedihan bersama. Tidak ada satu orang pun yang mau kehilangan anggota keluarganya dengan cara seperti itu. Alina yakin, mereka akan mendapat balasannya kelak. Alina hanya khawatir dengan keselamatan ayahnya.
__ADS_1
"Udah ya Yah ... jangan dilanjutin, cukup."
"Maafin Ayah Al, tapi Ayah gabisa ... kamu mungkin bisa berhati besar memaafkan mereka, tapi Ayah engga," tegas Adi kepada Alina. Adi pun kemudian memilih pergi ke kamarnya meninggalkan Alina sendirian di ruang tamu.
Di kamarnya Alina yang sudah siap tidur, tiba-tiba teringat Arkana. Alina yakin jika saat ini Arkana pasti masih sibuk menyelesaikan semua kekacauan yang disebabkan oleh ayahnya. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Alina sendiri belum bisa memaafkan John Miller.
Tetapi menurutnya bukan seperti ini cara membalaskan dendamnya. Cara seperti ini akan melukai orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal yang dilakukan John Miller pada kakaknya.
Alina pun menelepon Arkana untuk mengetahui kabar semua orang disana. Kali pertama Arkana tidak mengangkat nya, tetapi dikali kedua Arkana langsung mengangkat telepon dari Alina.
"Halo, Al."
"Halo ... dirumah?"
"Kantor ... kenapa Al? kamu dimana?" Nasa suara Arkana terdengar tidak seperti biasanya.
Arkana berkata jika keadaan keduanya baik-baik saja. Sekarang Arkana sedang mencoba semaksimal mungkin menghalau semua berita yang tersebar, dan mencegah munculnya berita yang sama. Karena itu dirinya masih di kantor.
"Ayah ga akan berhenti ... besok kayaknya bakal muncul lagi berita yang sama, aku cuma mau kasih tau itu."
"Oke Al, thanks ya." Alina dan Arkana pun menutup telepon mereka. Hubungan keduanya menjadi sangat canggung sekarang. Namun dibalik itu mereka masih saling peduli satu sama lain.
Arkana dan Satrio sama sekali tidak pulang sampai pagi. Mereka bahkan tertidur di ruangan masing-masing. Saat beberapa karyawan yang lain mulai berdatangan, Satrio pun terbangun. Melihat Satrio yang lusuh sampai tertidur di kantor membuat karyawan yang lain merasa kasihan.
"Pak, semaleman tidur di kantor? sendiri?"
__ADS_1
"Engga ... Saya sama Arkana di kantor, yaudah sana mulai kerjanya ga usah liatin Saya."
Satrio berjalan menuju ruangan Arkana, berniat membangunkannya. Begitu membuka pintu Satrio sangat kaget, karena Arkana bahkan sama sekali tidak tidur. Semalaman ia menunggu hasil uji sistem yang dibuatnya. Jika yang dikatakan Alina benar, maka seharusnya mulai pagi ini sistemnya akan aktif.
"Ar ... ga tidur lo?" tanya Satrio khawatir.
"Gue nunggu hasil uji sistem penghalang gue, udah ini tidur."
"Udah itu lo ga bisa tidur, hari ini kan ada rapat lanjutan yang kemaren Ar." Wajah Satrio sangat mengkhawatirkan Arkana.
Arkana hampir saja lupa dengan rapat lanjutnya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melemparkan ini kepada anak buahnya, dan meminta mereka melakukan update terus kepadanya selagi ia rapat. Arkana juga memberitahu Baskara untuk ikut memantau platform berita.
Di saat yang sama Adi dan karyawannya yang lain sudah siap meluncurkan berita yang lain. Pihak Tama juga sudah menunggu sejak semalam dan siap untuk menaikkan berita itu semaksimal dan se banyak mungkin. Tama berhasil membayar beberapa orang yang memiliki pekerjaan untuk menaikkan sebuah berita.
Mereka siap kapan saja Adi menaikkan beritanya. Kini keputusan itu semuanya ada di tangan Adi. Alina tidak tinggal diam, ia kembali ke kantor ayahnya untuk memohon agar sang ayah menghentikan ini semua. Alina mengambil izin cuti kepada pihak sekolah hari ini.
Sejak pagi Baskara terus memperhatikan telepon yang ada diatas mejanya. Ia menunggu telepon yang masuk tentang berita yang kemungkinan naik kembali. Sangat berbeda dengan John Miller yang tampak tenang dengan semua keadaan ini.
John sudah pasti memiliki rencana lain untuk menghentikan ini. Pertemuan rahasianya semalam membuahkan hasil yang ia harap bisa efektif.
"Kalau Arkana berusaha menghalau beritanya ... saya akan hadang langsung dari pusat nya."
"Cepat cari siapa yang pertama kali menaikkan berita ini." Semua orang sudah siap di posisi masing-masing.
"Saya tidak peduli dia siapa, bawa orang itu kemari segera," tegas John.
__ADS_1
Hal yang dikhawatirkan Alina bisa saja segera terjadi. Selain itu, kini keselamatan Alina juga dalam bahaya setelah Tama mulai mengincar Alina untuk menghentikan Arkana membantu ayahnya sendiri. Saat ini sayangnya Arkana tidak tau jika Alina diincar karenanya.