
Pagi ini Arkana tidak ikut sarapan dengan anggota keluarganya yang lain. Sejak pagi Arkana sudah pergi bersama Alina untuk memastikan lagi rencana mereka. Satrio juga sudah menunggu mereka di area dekat rumah penampungan lama.
Sebelumnya Alina sudah meminta izin kepada Rose jika anak-anak Pak Agus akan bertemu dengan ayahnya hari ini. Salah satu dari mereka sempat berkata kepada Alina jika ayah mereka sakit parah dan tidak punya banyak waktu lagi. Hal itu yang membuat Rose terenyuh dan menyetujui itu.
Satrio juga sudah berhasil bekerjasama dengan salah satu pegawai di rumah penampungan lama itu untuk melakukan apa yang ia minta nantinya. Semuanya akan mudah jika ada uang dibelakangnya. Ini termasuk power yang Arkana sebutkan dirinya miliki sekarang tidak seperti dulu.
Alina membuatkan mereka semua sarapan untuk memulai rencana hari ini. Satrio sangat berterima kasih, karena sebagai orang yang tinggal seorang diri sarapan selalu menjadi bagian yang terlewati dalam hari-harinya. Arkana hanya melirik tajam ke arah Satrio saat ia mengatakan itu kepada Alina.
Sekarang tinggal menunggu waktu yang telah mereka atur dengan tepat. Jika sesuai dengan rutin yang selalu dilakukan Agus, hari ini ia akan datang kembali kemari. Dan saat itu tiba, orang suruhan Satrio akan melakukan tugasnya.
Di rumah penampungan salah satu anak Agus yang dekat dengan Alina sudah diminta bersiap. Alina sudah memberitahukan jika hari ini mereka akan bertemu ayah mereka, namun karena semuanya harus dilakukan diam-diam Alina mempercayakannya kepada anak itu.
"Gue sih berharap ini kita bisa dapet jawaban yang kita mau tanpa pemaksaan ke Pak Agus ya Sat."
Ada hal yang Arkana sukup khawatirkan, jika mereka sudah berhasil bertemu dengan Agus tetapi Agus tetap tidak mau cerita meskipun anak-anaknya sebagai jaminannya.
"Kita tetep harus mikirin kemungkinan buruknya sih Ar ... Agus salah satu orangnya John Miller, akan aneh kalo dia bisa semudah itu lepas kendali." Satrio meminta Arkana tetap waspada dengan semua rencana ini.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Arkana, Alina dan Satrio sudah berada di posisinya masing-masing. Arkana dan Alina sudah siap bergerak menuju rumah penampungan yayasan Rose saat Agus bergerak nanti. Sedangkan Satrio akan menyiapkan semuanya di tempat pertemuan.
Setelah menunggu beberapa saat, Agus datang juga. Kali ini sesuai dugaan Arkana, Agus menaiki mobilnya sendirian. Persis dengan kebiasaannya setiap kesana Agus akan berdiam beberapa saat di gerbang lalu kemudian pergi.
Namun kali ini akan sedikit berbeda. Agus yang berjalan mendekati gerbang, disana lah muncul seorang wanita suruhan Satrio terlihat berlarian panik mencoba mencari bantuan. Agus yang melihat itu akhirnya mendekati wanita itu dan bertanya apa yang terjadi didalam sana.
"Ada perampokan Pak, ada anak-anak yang dibawa pergi dijadikan sandera ... tolong bagaimana ini?" tutur wanita itu panik dan hampir menangis.
Agus masih mencoba tenang dan memilih mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Saat ini Arkana sangat berharap ia akan menelepon anaknya alih-alih rekannya yang lain. Alina terus memastikan kepada salah satu anak Pak Agus disana.
Tiba-tiba Agus masuk kedalam mobilnya. Sehingga mereka tidak bisa lagi memantau apa yang akan dilakukan Agus selanjutnya. Arkana yang gelisah mencoba tenang dan tidak memperlihatkannya kepada Alina.
Akhirnya sebuah notifikasi masuk kedalam ponsel Alina , dari salah satu anak Pak Agus. Pesan itu berisi jika ayah mereka sekarang sudah tahu jika mereka pindah dan sudah tidak ada di rumah penampungan lama. Nomor yang menghubungi mereka pun ikut dikirim bersama pesan singkat itu.
Dengan cepat Arkana meminta Satrio untuk melacak nomor itu. Mereka harus bergerak cepat sebelum Agus mengganti nomornya kembali. Kini Arkana mengendarai mobilnya dengan cepat, jangan sampai mereka berpapasan dengan Agus.
__ADS_1
Sementara Alina memastikan kepada anak-anak jika semuanya akan baik-baik saja dan mereka akan bisa segera bertemu dengan sang ayah. Alina terus menenangkan mereka. Sesekali Arkana akan melirik ke arah Alina memastikan semuanya baik.
Satrio kini hanya perlu mengirimkan pesan yang berisi tempat dan waktu Agus bisa bertemu dengan anaknya. Arkana akan menggunakan anak-anak Pak Agus untuk mengancamnya menceritakan apa yang ia tahu. Namun jika itu gagal, satu-satunya cara yaitu mengancam lebih keras.
Alina terlihat khawatir dan terus gelisah. Arkana kemudian menggenggam tangan Alina untuk menenangkannya. Tanpa Alina ketahui, Arkana sudah menyiapkan beberapa orangnya untuk berjaga jika mereka harus mengancam lebih keras.
Arkana sudah berjanji kepada Alina akan melakukan apapun selama itu diperlukan untuk menemukan Kai. Meskipun Arkana berharap tidak perlu melakukan sampai sana, karena jika sampai terjadi tidak menutup kemungkinan ayahnya akan ikut turun.
Satrio telah sampai di tempat pertemuan, sedangkan Arkana dan Alina juga sudah sampai didepan rumah penampungan yayasan Rose. Alina lebih dulu turun untuk menjemput anak-anak selagi Arkana menunggu di dalam mobil.
"Kalian udah siap ketemu ayah kan ya?"
"Ayo ... pelan-pelan ya keluarnya." Alina membawa anak-anak itu dengan aman.
Arkana lalu membunyikan klakson nya untuk memberikan sinyal kepada Alina. Mereka pun berlari menuju mobil Arkana. Akhirnya sekarang anak-anak Agus sudah aman bersama dengan Arkana dan Alina.
Meskipun sempat ketakutan kehadiran Alina jelas membuat mereka terlihat lebih tenang. Setelah semuanya aman, Arkana pun menyalakan mobilnya dan pergi menuju tempat pertemuannya. Tempat pertemuan sudah diatur tidak terlalu jauh dari rumah penampungan.
Setelah berkendara kurang lebih sepuluh menit mereka pun sampai. Sayangnya Agus sudah lebih dulu sampai, tetapi Arkana tetap tenang dan memilih pintu belakang untuk masuk kesana. Sampai saat ini semua berjalan dengan lancar.
Sebenarnya ini juga kali pertamanya bertemu dengan Agus, karena selama bekerja dengan ayahnya Arkana belum pernah melihat keberadaan Agus. Namun bisa jadi Agus pernah melihatnya.
Agus cukup kaget ketika melihat kehadiran Arkana disana. Ia kemudian berdiri dari kursinya, "Arkana?" tanya Agus tidak percaya dengan seseorang dihadapannya. Benar saja, Arkana mungkin belum pernah bertemu dengan Agus tetapi Agus jelas mengenalnya.
Bisa dilihat dari wajahnya Agus tidak seperti orang-orang dibawah ayahnya. Agus memiliki aura wajah yang baik dan bisa dipercaya. Arkana pun meminta Agus duduk selagi mereka membicarakan sesuatu hal penting.
"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Agus serius.
"Menurut Pak Agus kenapa?"
"Ada sesuatu yang perlu saya tanyakan kepada anda," lanjut Arkana.
"Tentang apa? jangan bilang anak-anak .... "
__ADS_1
Arkana meyakinkan Agus jika anak-anaknya aman bersamanya. Yang perlu dilakukan Agus kini adalah menjawab pertanyaan yang diajukan Arkana kepadanya. Pertanyaan yang berkaitan dengan Kai. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Agus.
"Ingat Kai?"
"Tidak pernah sehari pun saya melupakan nama itu." Arkana tidak menduga jawaban ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arkana tenang.
"Anak yang malang ... menutupi hutang ibunya dengan jaminan dirinya sendiri."
"Maksud anda?" Arkana kembali bertanya mulai tidak sabar.
Agus meminta agar Arkana mempertemukan dirinya dengan anaknya dulu, setelah itu ia akan lanjutkan pernyataannya tadi. Arkana akhirnya menyetujui dengan mengeluarkan salah satu anak Pak Agus.
"Ayah ... " panggil sang anak menghampiri Agus dan langsung memeluknya.
Saat itu Arakan kembali memastikan keadaan diluar tetap aman. Satrio juga tetap berjaga jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
"Sekarang bisa kita lanjutkan?" tanya Arkana.
"Saya hanya bekerja sebagai penagih hutang ibunya saja, namun setelah anak itu dengan sukarela menggantikan posisi ibunya saya bawa dia bertemu ayahmu."
"Hutangnya terlalu besar untuk bisa dilunasi seorang anak sekolah seperti dia," lanjut Agus terus bercerita.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari luar. Satrio kemudian menelepon Arkana dengan terburu-buru, "Ar ... gawat Ar kayaknya Agus sempet ngehubungin temen-temennya yang lain tadi," ucap Satrio. Mendengar itu Arkana hanya tersenyum tipis.
Terlihat olehnya Agus berpamitan dengan anaknya kemudian berlari dengan cepat. Arkana yang tidak jauh darinya segera berlari menyusul Agus sembari memberi komando kepada orang-orang diluar untuk menghalangi anak buah ayahnya membawa Agus pergi.
Alina dengan cepat membawa anak Agus pergi ke tempat yang lebih aman sembari mengkhawatirkan Arkana. Namun apa boleh buat, memastikan keamanan anak-anak Pak Agus adalah tugasnya.
Begitu sampai diluar ternyata Juan sudah menahan Agus dan mengancamnya dengan pisau dilehernya. Juan adalah salah satu pengawal kepercayaan John Miller. Hal itu membuat Arkana menghentikan pergerakan orang-orangnya.
Arkana harus berhati-hati. Tepat dibelakangnya ada Alina yang membawa anak-anak Agus terpaksa harus melihat keadaan ayahnya seperti itu.
__ADS_1
Agus pun akhirnya dibawa masuk kedalam mobil mereka, namun sebelum itu ia meneriakan sesuatu kepada Arkana, "Maaf Arkana ... Kai tidak aman bersama John Miller dan saya penyebabnya."