Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
11. HEATER


__ADS_3

Alina terdiam sendirian di depan kamarnya. Kemudian salah satu pelayan senior disana menghampirinya. Ia menepuk pundak Alina yang mulanya tidak menyadari kehadirannya.


"Al ... bengong aja nanti kesambet, disini harus hati-hati."


"Eh, iya Bu," jawab Alina lalu kembali terdiam.


"Sebenernya ada apa sih Bu? kok Mas Baskara ga enak badan aja semua orang panik," lanjutnya.


Bi Iyah, begitulah semua orang memanggilnya. Ia sudah bekerja dengan keluarga Miller bahkan sebelum Baskara lahir. Jika ingin tahu tentang mereka, Bi Iyah lah yang paling tahu. Bi Iyah mengajak Alina duduk dan mengobrol sebentar.


"Mas Baskara itu dari kecil sakit Al."


"Parah ... jadi semua orang panik kalo sekarang kondisinya drop sedikit," jelasnya.


"Mas Arka juga tapi sampe disuruh ikut juga ke rumah sakit," bingung Alina, menghadapkan tubuhnya kepada Bi Iyah.


"Mas Arka ... Mas Arka itu kotak P3K nya Mas Baskara."


Alina bingung dengan apa yang dimaksud oleh Bi Iyah, hampir saja dirinya ingin kembali bertanya tetapi harus berhenti karena salah satu pengawal memanggilnya. Sepertinya ada yang harus dilakukan Alina. Suara panggilan itu terdengar serius.


Alina kemudian pamit dan pergi bersama dengan pengawal yang memanggilnya. Mereka berjalan cukup terburu-buru menuju paviliun. Alina dengan langkah kecilnya harus berjalan lebih cepat untuk mengimbangi langkah kaki pengawal Baskara.


Rupanya Baskara harus dirawat di rumah sakit karena kelelahan. Sementara Baskara harus menyelesaikan lukisan yang dipesan salah satu teman dekat ayahnya. Karena sudah berjanji, Baskara mau tidak mau harus tetap melanjutkannya di rumah sakit.


Alina akhirnya diminta membawa peralatannya itu ke rumah sakit. Seorang diri Alina membereskan beberapa kuas dan cat warna yang sudah dipesan Baskara. "Udah malem gini harus ke rumah sakit, orang stres apa ya, kalo sakit ya istirahat aja pake segala mau ngelukis," gerutu Alina seorang diri.


"Sudah belum?" tanya pengawal Baskara tegas.


Alina buru-buru keluar, terlihat sengaja menunjukan betapa beratnya barang bawaannya kepada pengawal itu, "Aduh iya ... ini be-" ucapannya terhenti.

__ADS_1


"Kalo udah ayo."


Ni orang ga punya pacar deh pasti, ga peka banget udah dikodein berat juga. 


Alina diantar Pak Anton ke rumah sakit. Ini adalah kali pertamanya mereka saling bertemu. Pak Anton yang ramah dan penuh senyum membantu Alina memasukan barang-barang kedalam mobil. Dengan sedikit tersenyum Alina berterima kasih kepada Pak Anton, lalu duduk dikursi depan.


Malam sudah sangat larut untuk seseorang datang berkunjung ke rumah sakit. Namun, hal ini bukan halangan jika kalian adalah keluarga dari pemegang saham utama rumah sakit tersebut. Sayangnya karena anaknya sakit, Pak Anton tidak bisa menunggu Alina.


Alina kemudian masuk seorang diri, dan tidak jauh dari lobby sudah ada asisten pribadi Tuan Miller. Ia mengambil tas berisi peralatan lukis milik Baskara yang dibawa Alina. Setelah itu, ia pun meminta Alina kembali pulang.


Gila apa ya, pulang pake apa aku udah malem gini. Duh gimana nih? 


Alina terdiam beberapa saat dikursi tunggu halte bus depan rumah sakit. Halte bus itu masih ada di wilayah rumah sakit, sehingga Alina masih dibilang cukup aman karena tidak berada tepat dipinggir jalan. Sembari memainkan ponselnya, Alina mencoba mencari ojek online yang bisa mengantarnya kembali.


Tiba-tiba turun hujan yang cukup lebat. Cipratan airnya banyak mengenai sepatu Alina, dan sedikit membasahi bagian bawah celananya. Alina terlihat kedinginan, tetapi tidak bisa melakukan apapun. Posisinya tidak bisa kembali kedalam karena nanti tubuhnya akan basah kuyup jika berjalan kesana.


Didalam ruangan Dokter Indra, terlihat Arkana yang sedang diberi beberapa plester luka di pundak hingga lenganya. Alasan kenapa Dokter Indra meminta Arka ikut tadi karena sebelumnya ia mendengar Arka mengalami kecelakaan belum lama ini.


"Mama gatau?" tanya Dokter Indra hampir selesai menempelkan plester luka kepada Arkana.


"Ga usah tau deh."


"Ini ada yang cukup dalem lukanya, ada memar juga ... ga kerasa sakitnya emang kamu?" heran Dokter Indra.


"Udah biasa," jawab Arka singkat.


Setelah selesai Arkana kemudian buru-buru keluar dan mencari ibunya untuk berpamitan. Mengintip kedalam ruang inap, Arka mengisyaratkan sesuatu ke ibunya.


"Arkana pulang ya, urusan sama Dokter Indra udah selesai," ucapnya berpamitan.

__ADS_1


Arkana sedikit mengintip kedalam dan melihat Baskara sudah tidur lalu kembali menyalami ibunya dan pergi.


"Hati-hati dijalan." Rose mengelus pundak Arka pelan membuat dirinya meringis kesakitan.


Tidak mau ibunya menyadari itu, Arka buru-buru pergi. Arkana berjalan menuju lobby depan sembari memainkan ponselnya. Sampai tidak menyadari hujan deras diluar. Hampir saja dirinya basah kuyup. Arkana yang kaget lalu mundur kembali dan berdiri didepan pintu rumah sakit.


Dari kejauhan terlihat seorang gadis yang duduk seorang diri di halte bus. Arkana sampai menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas gadis itu, "Orang apa hantu ya?" gumamnya sendiri. Lebih memastikan Arkana lalu melihat kearah kaki gadis itu, yang ternyata masih menapak di tanah.


Orang ternyata. 


Sampai gadis itu sedikit berbalik dan terlihat wajahnya oleh Arkana. "Alina?" kagetnya Arkana karena tidak menyangka akan melihat Alina disini. Sesekali Alina menggosokan kedua tangannya ke lengannya karena kedinginan.


Arkana memperhatikan dari kejauhan gerak-gerik gadis itu. Sesekali membenarkan cepolan rambutnya yang sudah mulai lembab karena cipratan air. Arkana tampak serius melihat tingkah laku Alina disana. Dari berbicara sendiri, menundukkan kepalanya sedih, namun sesekali mengepalkan tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.


Arkana sampai tertawa dengan memperhatikan Alina. Kini tangan Alina terlihat menengadah menampung air hujan dikedua tangannya. Pandangan matanya berbinar namun penuh arti. Arkana sempat terpaku memandang Alina.


Hujan akhirnya berhenti. Arkana menaiki mobilnya bersiap untuk pulang. Tanpa disadarinya Arkana menjalankan mobilnya menuju halte bis dan berhenti tepat didepan Alina. Arkana sengaja tidak langsung menurunkan kaca jendelanya. Berniat melihat reaksi Alina.


Sayangnya Alina sama sekali tidak melihat ke arah mobil Arkana. Alina mengalihkan pandangannya pada ponselnya. "Perasaan dari tadi ga ada yang ngambil pesenan ojek online ku deh," gumamnya sendiri mengecek aplikasi ojek online pada ponselnya.


Arkana yang kehabisan kesabaran akhirnya menurunkan kaca jendela mobilnya, "Oy .... " Arkana memanggil Alina. Gadis itu langsung kaget melihat Arkana didepannya. Raut wajah kagetnya yang lucu membuat Arkana sedikit tersenyum, namun berhasil ditutupinya.


"Naik." ajak Arkana.


"Eh ... boleh emang?" tanya Alina kebingungan.


"Kalo gamau gapapa." Arkana kembali menutup kaca mobilnya.


Namun, dengan cepat Alina meraih gagang pintu dan masuk kedalam mobil Arkana.

__ADS_1


Dengan tersenyum lebar Alina mengucapkan terimakasih dan berusaha memasang seatbeltnya. Namun karena kedua tangannya membeku kedinginan diluar, cukup sulit untuknya meraih seatbelt itu. Melihat itu Arkana dengan cekatan memasangkan seatbelt untuk Alina, kemudian menjalankan mobilnya.


Pipi Alina ini memerah, bukan karena heater yang dinyalakan Arkana tetapi karena pergerakan tidak terduga dari seorang Arkana untuk Alina.


__ADS_2