
Arkana bisa melihat jelas wajah khawatir Alina. Arkana tahu betul apa yang dirasakan Alina, disisi lain ia pasti sangat ingin menemukan dimana kakaknya berada, tetapi seseorang yang memiliki powder lebih menghalangi nya. Rasanya pasti sulit.
"Tenang aja Al, saya ga akan biarin kamu melalui ini sendirian ... kita sama-sama terus."
Perkataan Arkana terdengar hangat dan menenangkan di telinga Alina. Jujur dalam hatinya ini semua terasa sulit. Jika ada Kai dihadapan nya sekarang ini, Alina pasti sudah berlari dan memeluknya. Namun kini disampingnya hanya ada Arkana.
Seseorang yang baru Alina kenal, tetapi Alina percaya sepenuhnya. Alina yakin jika Arkana tidak akan mengingkari perkataannya. Semua pasti akan baik-baik saja selama ada Arkana disisinya.
Ada yang tidak biasa dari pagi hari di rumah keluarga Miller. Tuan Miller sudah memakai setelah tenis nya bersama dengan Rose. Mereka dan beberapa kolega akan bermain tenis bersama dan tidak sarapan dirumah. Baskara juga terlihat memakai setelan yang serupa dengan Sang Ayah.
Alina yang baru bangun kebingungan dengan keramaian yang terjadi pagi ini. Beberapa kolega Tuan Miller sudah berkumpul di taman depan rumah, hanya menunggu beberapa orang lagi datang. Lapangan tenisnya tidak jauh dari rumah keluarga Miller. Mungkin hanya sekitar 15 menit dengan mobil.
Tiba-tiba datanglah sebuah mobil hitam yang kemudian berhenti ditempat yang sama dengan yang lain. Dari sana keluarlah seseorang yang familiar di mata Arkana.
Tama keluar dari dalam mobil bersama kekasihnya yang sama-sama sudah siap mengikuti pertandingan tenis. Tepat saat Tama keluar, Arkana juga keluar dari rumah. Melihat Arkana, dengan santai nya Tama melambaikan tangan dan menyapa Arkana.
"Arkana ... " ucap Tama sembari melambaikan tangan kepada Arkana yang masih berdiri didepan pintu.
"Ikut tenis kan?"
Melihat yang dilakukan Tama kepada adiknya, jelas membuat Baskara tidak nyaman. Baskara sudah menaruh rasa curiga kepada Tama. Terlebih dia terlihat terus menerus mendekati Arkana. Ada maksud dibalik itu yang belum diketahui oleh Baskara maupun Arkana sendiri.
Arkana tampak tidak menanggapi perkataan Tama, melainkan hanya kembali masuk kedalam rumah. Melihat Arkana yang acuh padanya, Tama tidak tinggal diam, "Ayolah ... disana nanti kita bisa lanjutkan obrolan kita tentang anak itu."
Tama memang orang yang tidak bisa ditebak. Perkataannya barusan bukan hanya mengenai Arkana, tetapi juga mengenai Alina terlebih lagi membuat kaget John Miller. Namun Tama tidak peduli, yang dia pedulikan yaitu melihat respon dari Arkana yang masih membalikkan tubuhnya.
Sayangnya Arkana tetaplah Arkana, tidak seperti yang diharapkan Tama. Arkana memilih tetap berjalan kedalam meskipun sempat berhenti tadi. Baskara yang melihat respon dari adiknya tentu senang, adiknya bukanlah orang yang mudah dipancing.
Alina kemudian mengikuti Arkana kedalam meninggalkan keramaian orang-orang diluar. Ternyata Arkana sudah tidak terlihat dimana pun. Mencoba mencari kemana-mana, ternyata Arkana berjalan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Mas ... " panggil Alina.
Arkana kemudian membalikkan badannya mendengar panggilan dari Alina, "Kenapa?"
"Ga ikut tenis sama yang lain? Ini kan minggu," ucap Alina berjalan menghampiri Arkana.
"Ada urusan lebih penting."
Alina terdiam mencoba memperhatikan Arkana lebih dekat. Meskipun tipis, tetapi Alina bisa melihat kekesalan Arkana karena ucapan Tama tadi. Arkana memang pandai menyembunyikan emosinya.
"Bagus, Mas Arkana."
"Kalo kepancing dia malah seneng, jangan biarin orang macem kayak gitu mempermainkan emosi kita," lanjut Alina.
Arkana tersenyum tipis mengetahui Alina bisa membaca mikro ekspresinya. Alina bisa tahu perasaannya yang sebenarnya meskipun sudah mencoba ditutupi. "Kok tahu saya kesel denger Om Tama tadi?" tanya Arkana.
"Gampang ... tatapan matanya beda." Alina dengan yakin menjawab pertanyaan Arkana.
Tinggi badan mereka selalu bisa mendukung saat seperti ini. Arkana sedikit menundukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kepada Alina, "Tatapan yang kayak gimana? gini?" ucapnya. Arkana menyudutkan tubuh Alina di tembok.
Alina yang salah tingkah tidak bisa menatap Arkana secara langsung. Matanya terus menghindar dan memilih melihat objek yang lain. Hingga tiba-tiba Alina pasrah dan membalas tatapan Arkana. Disaat itu untuk pertama kalinya Arkana menyadari mata indah yang dimiliki Alina.
Matanya yang berwarna kecoklatan dan besar kini membalas tatapannya bahkan lebih dalam. Niat awal membuat Alina salah tingkah, kini malah Arkana sendiri yang menyudahi momen itu. Arkana berdiri menjauh, lalu menyuruh Alina jangan mengikutinya lagi.
Hari ini Arkana berencana mencari petunjuk tentang keberadaan asisten pribadi John Miller. Semalam ia sudah mengatur rencana dengan Satrio. Mereka berhasil mendapatkan alamat tempat tinggal terakhirnya termasuk tempat tinggal keluarganya di kampung.
Arkana sudah siap untuk pergi dan sedang berjalan menuju parkiran hingga tiba-tiba bertemu Alina yang juga sudah rapih. Tampaknya Alina sempat mendengar percakapan antara Arkana dan Satrio tadi pagi tentang rencana mereka hari ini.
"Aku ikut ya Mas?" Senyum memelas Alina.
__ADS_1
"Jangan ... bahaya, daerah asing."
"Udah janji bakal lakuin sama-sama kan ... jadi hari ini juga harus sama-sama, oke?"
Tanpa menunggu jawab Arkana, Alina sudah buru-buru berjalan menuju mobil Arkana.
Tidak punya pilihan lain, Arkana pun mengizinkan Alina ikut dengannya. Lagipula hari ini mereka juga pergi bersama Satrio. Setidaknya ada dua orang yang bisa menjaga Alina jika terjadi sesuatu diluar rencana.
"Pokoknya kamu jangan jauh-jauh dari saya atau Satrio."
"Ngerti kan?"
Alina hanya mengangguk sembari memasang seatbeltnya. Arkana masih tidak puas dengan jawaban Alina, "Al ... jawab? ngerti kan jangan jauh-jauh." Tangan Arkana membantu Alina memasang seatbeltnya.
"Oke, ngerti," jawab Alina.
Arkana pun menyalakan mobilnya dan mengendarai nya keluar dari rumah. Arkana dan Satrio akan bertemu tepat di daerah tempat tinggal asisten pribadi ayahnya itu. Sebelum kesana, ada yang harus mereka bicarakan terlebih dahulu.
Perjalanan mereka semakin jauh masuk kedalam lingkungan yang sama sekali tidak dikenal Arkana maupun Alina. Lingkungan yang benar-benar asing dengan suasana yang tidak biasa. Mata mereka terus melihat ke sekeliling. Tidak banyak orang yang tinggal disana.
Hingga mereka melihat mobil Satrio yang sudah terparkir didepan sebuah minimarket. Satrio kemudian menghampiri Arkana yang masih didalam mobilnya, "Kayaknya ga ada orang dirumahnya deh." Setelah mengatakan itu, Satrio kaget melihat Alina.
Ini pertama kalinya mereka saling bertemu satu sama lain secara langsung. Satrio menyapa Alina canggung, sama halnya dengan Alina. Mereka pun akhirnya memutuskan mendatangi rumah asisten pribadi John Miller bersama-sama.
Dari luar memang tidak terlihat seperti rumah yang ditinggal oleh seseorang. Rumput yang sudah meninggi juga beberapa daun kering yang menutupi pintu utama, membuat mereka semakin yakin bahwa tidak ada orang disana.
Namun, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki yang tidak sengaja menginjak ranting dari pinggir rumah. Satrio pun berlari menghampiri sumber suara, Arkana tidak melupakan Alina kemudian menggenggam tangannya dan sama-sama berlari mengejar Satrio.
Genggaman Alina begitu erat. Secara tidak langsung disana lah Alina akan mempercayai dirinya kepada Arkana. Alina semakin yakin jika Arkana tidak akan meninggalkannya seorang diri mencari Kai.
__ADS_1
Ternyata benar saja ada seseorang yang tadi memperhatikan mereka. Satrio berlari semakin dekat dengan lelaki itu. Umurnya terlihat muda, apakah dia anak dari asisten pribadi Tuan Miller?
Tapi kenapa sembunyi? apa sebenarnya yang terjadi?