Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
16. HEMBUSAN NAFAS


__ADS_3

Arkana mengatur nafasnya sembari memegang gelas berisi minuman soda di jendela apartemennya. Mengatur emosinya, Arkana hanya memandangi keadaan kota yang penuh dengan kilap lampu menghiasi malam. Apartemen Arkana memiliki posisi tepat di tengah kota dan tidak jauh dari kantornya.


Setelah pulang dari boston, Arkana tidak langsung pulang ke rumah. Banyak waktu ia habiskan di apartemennya. Jatuh bangunnya membangun bisnisnya sendiri. Hanya ada dirinya dan Satrio saat itu. Arkana pulang kurang lebih hampir bersamaan dengan Alina masuk ke rumah keluarga Miller.


Ibunya, Bu Rose setiap hari selalu datang ke apartemennya untuk membujuknya pulang. Tidak untuk seterusnya, tetapi setidaknya habiskan banyak waktu dengan keluarganya. Karena semenjak lulus SMA, Arkana melanjutkan kuliahnya di luar kota dan terus berkelana tanpa sekali pun pulang.


Arkana membuka ponselnya dan  melihat banyak missed call dari ibunya. Namun, diantara banyaknya telepon dari Rose ada sebuah nomor yang tidak dikenalnya turut menerornya. Nomor itu terus saja meneleponnya, bahkan saat ini.


"Siapa?" angkat Arkana dingin.


"Ah ... Mas Arka gapapa kan? ini dimana?" Suara dari seseorang yang sering menggangunya.


"Mas? Halo? Bu Rose teleponin terus tapi ga diangkat ... " Alina tampak lebih cerewet dari biasanya.


"Saya gapapa, bilang Bu Rose ga perlu khawatir." Arkana menutup teleponnya begitu saja.


Meskipun tidak disambut dengan hangat, Alina cukup lega karena Arkana tidak apa-apa. Secepat mungkin Alina mencari Bu Rose dan memberitahukan kalau Arkana baik-baik saja. Tiba-tiba Alina melihat pertengkaran antara Tuan Miller dan istrinya di kebun belakang.


Terdengar sayup-sayup Bu Rose tampak tidak setuju dengan keputusan suaminya itu. Entah keputusan apa yang tidak disetujuinya, tetapi Alina hanya bersembunyi disana agar tidak ketahuan.


"Pokoknya aku ga setuju kalau Arkana balik lagi ke Boston."


"Dia baru pulang, baru kumpul sama kita kenapa kamu usir lagi sih?" Rose mempertanyakan keputusan suaminya sembari menangis.


Boston? Mas Arkana mau balik ke Boston? 


Alina kini mengerti alasan kepergian Arkana dengan penuh emosi tadi. Sepertinya karena ini. Keluarga ini sungguh rumit, hubungan mereka yang tidak saling dekat membuat mereka terus menerus melukai satu sama lain. Dan disini yang paling terluka adalah Arkana.


Keesokan paginya, keadaan ruang makan sangat sunyi meskipun Tuan Miller ada dirumah. Rose sejak pagi ada di kebun bunganya, sedangkan Baskara fokus melanjutkan lukisan yang diminta Arkana di paviliunnya. Alina yang menyaksikan semuanya semalam bingung harus berbuat apa dan hanya berdiam diri di dapur.

__ADS_1


Bi Iyah yang melihat Alina tidak seperti biasanya mendekati Alina. "Eh, Bi Iyah ... ada yang perlu Alina bantu?" tanya Alina kepada Bi Iyah yang tiba-tiba mendekatinya.


"Kenapa? mau cerita?" tanya Bi Iyah.


"Keluarga ini kenapa sih Bi?" Alina tidak tahu harus bagaimana disana.


Alina yang harusnya pulang, memutuskan untuk menetap beberapa hari karena rasanya kurang sopan jika ia pamit pulang saat ini. "Dulu, waktu masih pada kecil-kecil keluarga mereka cukup bahagia kok."


"Mas Baskara yang sejak kecil sakit, jadi banyak bergantung ke Mas Arkana," jelas Bi Iyah mulai bercerita.


"Semua berubah mungkin setelah sakitnya Mas Bas semakin parah, semua perhatian tertuju kesana semua."


"Sejak saat itu Mas Arkana diabaikan Bi?" tanya Alina.


Bi Iyah mengangguk pelan. Ia yang sejak awal mengabdi kepada mereka menyaksikan semuanya. Jujur akibat dari ini semua yang paling terluka adalah anak-anak. Terlebih lagi Arkana.


Alina berhasil mendapatkan alamat apartemen Arkana. Mumpung hari ini hari libur, Alina berencana mampir kesana sekalian perjalanannya pulang ke rumah. Setelah mendapatkan persetujuan dari Rose, Alina pun pergi.


Tanpa banyak bertanya Tari menyalakan mobilnya dan segera menuju ke alamat itu. Sepanjang perjalanan Alina mencoba menghubungi Arkana, tetapi tidak juga diangkat. "Kemana sih ni orang." Alina kesal dan mengomel sendiri.


Tari dan Alina yang sudah sampai didepan apartemen Arkana diam mematung. Keduanya mengangkat kepala mereka, takjub dengan tinggi dan megahnya apartemen yang ditinggal Arkana. "Yakin kamu mau masuk sana? Yakin ga akan diusir Al?" tanya Tari takut temannya akan diusir satpam.


"Yakin."


"Baju aku hari ini gimana Tar? Ga keliatan kampungan kan?" Alina tersenyum sumringah menunggu jawaban dari sahabatnya.


"Aneh sedikit. Tapi gapapa kamu cantik, jadi pasti aman."


Dengan yakin dan percaya diri Alina masuk kedalam seorang diri. Tari menolak menemaninya dan memilih menunggu Alina didalam mobil. Menarik nafasnya dalam Alina memberanikan diri bertanya kepada resepsionis.

__ADS_1


"Saya mau bertemu dengan Mas Arkana, yang ada di unit 505."


"Sudah buat janji?" tanya resepsionis itu.


"Perlu janji ya? saya belum janjian sih ... tapi saya ini utusan dari mama nya buat menemui Mas Arkana."


"Maaf tapi kalau tidak ada janji tidak diizinkan langsung masuk ya," ucap resepsionis yang tetap tersenyum, meskipun secara tidak langsung mengusir Alina.


Alina akhirnya mencoba menelepon Arkana sekali lagi. Namun, sekali lagi telepon darinya diabaikan Arkana. Alina lalu memutuskan duduk di loby apartemen dan menunggu Arkana merespon teleponnya. Bu Rose sudah menitipkan amanah, jadi Alina tidak boleh mengecewakannya.


Alina sampai tertidur di sofa loby. Hari sudah sore menjelang malam, Tari pun sudah Alina suruh untuk pulang lebih dulu. Arkana yang baru datang dari luar melihat Alina yang tertidur disana. Diam-diam Arkana mendekatinya dan duduk disamping Alina yang masih tertidur pulas.


Merasa jika tidurnya Alina disana membuat penyewa yang lain tidak nyaman, resepsionis tadi bersama dengan satpam berjalan mendekati Alina dan berencana mengusirnya. Namun langka mereka terhenti ketika melihat Arkana sudah duduk disana.


Arkana memberikan isyarat kepada mereka untuk pergi dan membiarkan ia yang mengurus ini. Bunyi lift terdengar bersamaan dengan pintunya yang terbuka. Arkana yang sedang menggendong Alina keluar dari sana. Arkana berjalan menuju unitnya dan perlahan memencet password kamarnya dengan perlahan agar tidak membangunkan Alina.


Arkana dengan santai meminum kopi di bar nya, melihat Alina yang masih tertidur di sofanya. Kebetulan disaat yang sama Arkana mendapat pesan dari ibunya. Pesan itu berisikan jika ibunya mengutus Alina untuk membujuk nya pulang.


Setelah beberapa menit berlalu, dan langit kota sudah berganti dari langit biru menjadi langit gelap yang disinari cahaya bulan, Alina terbangun. Alangkah kagetnya ia berada di suatu tempat yang asing. Alina melihat ke sekeliling mencari tahu dimana dia berada.


Hingga Arkana dengan keluar dari kamarnya. Menatap Alina yang sudah terbangun dengan tatapan tajam. Menyadari apa yang dilakukannya membuat Alina menjadi sangat malu dan menutupi wajahnya. "Ngapain ditutupi, ga ada ngaruhnya." Arkana berjalan mendekati Alina.


"Malu banget ketiduran," ucap Alina setengah berisik.


"Kalo nyawanya udah kekumpul semua, pulang."


"Ga bisa, aku harus berhasil ngebujuk Mas Arka buat pulang kerumah," ucap Alina serius.


"Ga mau."

__ADS_1


Alina tetap gigih dan terus memaksa Arkana untuk pulang karena Bu Rose mengkhawatirkannya. "Pokoknya ayo pulang."


"Maksa banget sih." Arkana mendekatkan tubuh dan wajahnya kepada Alina. Membuat gadis itu berhenti bicara. "Kalo kayak gini mau tetep maksa?" Kini jarak antara wajah Arkana dan Alina sangat dekat sampai Alina bisa merasakan hembusan nafas Arkana pada wajahnya.


__ADS_2