
Alina akhirnya mendengar perkataan Rose dan memutuskan pulang dengan ayahnya. Alina pun dituntut oleh sang ayah dengan perlahan menuju mobil. Seluruh tubuhnya masih lemas efek kejadian tadi.
Didalam mobil Alina pun hanya diam saja. Kejadian tadi sangat cepat, jika saja Arkana tidak melindunginya entah apa yang akan terjadi padanya. "Lagi-lagi Mas Arkana lindungi aku," gumam Alina memandang lampu kota dimalam hari dari jendela mobil ayahnya.
Sesampainya dirumah, Adi menyiapkan air hangat untuk Alina mandi. Dengan perlahan ia membantu Alina menaruh barang-barangnya. Didalam kamar mandi Alina memandang ke kaca dengan cukup lama. Ia melihat seluruh pakaiannya yang penuh dengan darah Arkana.
Kedua pipinya yang juga dipenuhi darah tadi sudah dibersihkan oleh Rose. Alina sudah terlalu lelah untuk menangis, kini yang tertinggal hanyalah rasa sepi dan ketakutan. Alina takut Arkana akan meninggalkannya. Alina belum siap jika hal itu terjadi.
Dengan perlahan ia melepas bajunya dan membasahi tubuhnya dengan air hangat. Tiba-tiba rasa perih terasa di lututnya. Luka yang dihasilkan saat ia menahan tubuh Arkana yang jatuh karena lemas kehilangan banyak darah. Alina kembali menangis.
Ia membayangkan rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan apa yang Arkana rasakan. Alina teringat saat Arkana merelakan punggungnya terkena lemparan Baskara sehingga perlu dijahit. Saat ini Arkana juga merelakan tubuhnya lagi untuk melindungi Alina.
Adi mendengar tangis Alina dari luar kamar mandi. Ia merasa tidak tega mendengar anak kesayangannya seperti ini. Saat itu juga Adi bisa mengetahui seberapa besar rasa cinta Alina kepada Arkana. Dan seberapa besar rasa cinta Arkana kepada Alina.
Sedangkan dirumah sakit Rose dengan setia menunggu Arkana diluar ruang ICU. Hingga salah satu suster mengizinkan satu orang saja untuk masuk kedalam dan melihat kondisi pasien. Jelas Rose lah yang pertama kali masuk.
Baskara mengantar ibunya yang berjalan dengan sangat lemas menuju pintu ruang ICU. Awalnya Rose tidak berani masuk kesana. Ia tidak memang terbiasa melihat Baskara diatas ranjang rumah sakit. Tetapi ia tidak pernah terbiasa melihat Arkana yang berada disana.
Namun, Rose merasa Arkana juga pasti membutuhkan ibunya disampingnya. Karena itu Rose menguatkan dirinya dan masuk kedalam untuk menemui Arkana.
"Hai sayang ... ini Mama, Nak."
Rose mendekat dan menggenggam tangan Arkana, "Disini dingin ya? kok tangan kamu dingin banget."
"Muka anak Mama yang biasanya pucet hari ini lebih pucet, ga tega Mama Nak," ucap Rose dengan suaranya yang bergetar.
__ADS_1
Sebenarnya ia tidak kuat melihat anaknya seperti ini. Tetapi ia harus memaksakan diri untuk kuat, Arkana selalu tidak mau melihat orang-orang mengasihaninya. Saat dirinya harus keluar masuk rumah sakit karena menolong Baskara, Arkana selalu marah jika ada orang lain mengasihaninya.
Disana Rose juga bercerita jika Arkana sangat beruntung memiliki Alina disampingnya. Bukan hanya cantik dan baik, Alina juga selalu bisa membawa kehangatan dimana pun dia berada. Alina bahkan bisa mencairkan seorang Arkana yang dingin dan acuh.
Diluar Satrio sibuk melakukan koordinasi dengan anak buahnya untuk mencari pelaku penusukan Arkana. Baskara juga meminta pengawalnya untuk membantu Satrio dan anak buahnya.
Berpegang keterangan dari Tari yang kebetulan berpapasan dengan pelaku mereka mulai mencari pelaku itu. Sementara ditempat lain Tama terlihat sedang menerima telepon dari seseorang. Orang itu melaporkan jika ia berhasil melukai Arkana.
Meskipun hampir gagal, tetapi ia berhasil mengenai Arkana secara langsung. Ternyata orang itu adalah orang suruhan Tama yang tidak terima semua rencananya selalu digagalkan oleh Arkana. Bahkan rencananya yang terakhir berhasil dilumpuhkan oleh Arkana dan anak buahnya.
Tama tertawa puas karena rencananya kali iniĀ bisa berlangsung dengan sukses. Disana juga ada Mirna yang sedang mengantarkan minuman kepada Tama. Tama memang pelanggan VIP di bar tempat Mirna bekerja. Disana lah awal utamanya mereka bisa saling bekerjasama.
Jam besuk sudah berakhir, Rose pun keluar dan masih menangis. "Mama, udah dong jangan nangis terus ... nanti aku yang diomelin Arkana kalo Mamanya dibiarin nangis terus kayak gini."
"Lagian salah dia sendiri yang bikin Mama nangis," ucap Rose.
Sesampainya dirumah, Rose menemui John Miller suaminya. Rose penasaran kenapa suaminya itu bahkan sama sekali tidak terlihat peduli kepada Arkana. Bahkan setelah kondisinya seperti itu.
"Papa tau ga, Arkana itu gagal jantung dua kali di meja operasi ... kamu kok ga ada khawatir-khawatir nya sama anak sendiri."
"Sebenci itu kamu sama dia?" tanya Rose mulai emosional. Ia merasa yang menganggap Arkana anak mereka hanya dia sendiri.
John Miller hanya terdiam. Tidak biasanya seorang John Miller diam saat Rose banyak bicara seperti itu. Hal itu saja sebenarnya sudah bisa menunjukan seberapa khawatir nya ia kepada Arkana.
Bahkan mendengar Arkana gagal jantung saja membuat dirinya lemas. John Miller semakin marah terhadap siapapun yang menyebabkan anaknya seperti ini. Ia tidak akan terima dan siap membalaskan dendamnya.
__ADS_1
Keesokan paginya, Rose sudah sibuk didapur menyiapkan banyak bekal makanan. Hari ini dirinya dan Alina akan berjaga di rumah sakit untuk Arkana karena Satrio harus mewakili akan mengerjakan tugas-tugasnya. Satrio dan Baskara juga harus ke kantor polisi untuk menanyakan kelanjutan kasus ini.
Satrio dan anak buah nya sudah berhasil mendapatkan petunjuk dan siap dibagikan kepada pihak polisi untuk dilakukan penyelidikan. Namun sesuai dengan kebiasaan Arkana, Satrio akan melakukan penyelidikan sendiri tanpa bantuan polisi.
Hal ini yang selalu dilakukan Arkana selama ini. Bukan tidak percaya kepada polisi, hanya saja Arkana lebih suka turun tangan langsung menyelesaikan kasus ini. Lagipula Satrio sudah punya seseorang dikepalanya yang memiliki kemungkinan besar melakukan hal ini kepada Arkana.
Sama halnya dengan Satrio, John Miller juga sudah mulai bergerak dengan sebuah nama yang dirinya curigai. Keduanya merujuk kepada Tama. Sejak awal pergerakannya memang selalu mencurigakan. Kali ini John tidak akan membiarkan Tama lolos bahkan setelah melakukan hal itu kepada anaknya.
Alina datang lebih dulu dari pada Rose. Alina sudah duduk menunggu jam besuk dimulai. Dengan setia Alina menatap ruangan ICU dan tidak sabar untuk bertemu dengan Arkana. Hari ini Alina berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia tidak akan menangis.
Ia tidak akan menangis terutama dihadapan Arkana. Meskipun Arkana tidak bisa melihatnya, tetapi Alina tahu Arkana pasti bisa merasakan kehadirannya. Alina hari ini memakai pakaian dengan warna kesukaan Arkana. Ia selalu memuji Alina saat menggunakan pakaian dengan warna itu.
Tidak lama Rose datang dan dengan hangat Alina menyambutnya. Ternyata keduanya sudah menyiapkan banyak makanan. Sama-sama melihat barang bawaan masing-masing membuat mereka saling tersenyum. Alina dan Rose terlihat seperti piknik daripada menjaga orang sakit.
Sedangkan dirumah, John Miller memanggil beberapa anak buahnya termasuk Juan untuk mencari Tama. John Miller bahkan mengancam semua orang untuk bagaimana pun menemukan Tama. Ia tidak bisa lagi tinggal diam.
Tama sudah melewati batas, John Miller tidak terima dengan tindakan berani Tama kepada anaknya. Arkana sudah John Miller siapkan untuk melanjutkan bisnisnya di bidang yang lain. Dan bidang itu lah yang selalu diincar Tama.
Karena itu Tama selalu mengincar Arkana. Tama selalu mengganggu Arkana dan memancingnya untuk melawan ayahnya sendiri dan membuat terjadinya perpecahan didalam keluarga Miller.
Tetapi John Miller sangat mengenal anaknya. Arkana bukanlah orang yang mudah dipengaruhi oleh orang lain apalagi orang seperti Tama. Sehingga Tama terus saja berusaha untuk mengganggu mereka dengan cara yang lain, salah satunya adalah memanfaatkan konfliknya terkait Kai.
Tama sengaja memberi Mirna imbalan jika ia berhasil membuat Alina membenci Arkana. Tama berhasil mendapatkan titik kelemahan Arkana yaitu Alina. Dan ia juga berhasil mendapatkan titik lemah Alina yaitu Mirna.
Mirna yang cinta uang sangat mudah dimanipulasi hanya dengan iming-iming uang. Hal yang sama seperti John Miller lakukan saat itu. Iming-iming semua hutang lunas, membuat Mirna menyerahkan Kai sepenuhnya kepada mereka.
__ADS_1
Mirna sendiri yang memberi izin John Miller melakukan apa yang ia mau kepada Kai. Termasuk meminta Kai menjadi pendonor untuk Baskara saat itu. Bahkan saat Kai meninggal, Mirna dengan sengaja menghilang dan lepas dari tanggung jawabnya.