Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
12. KODE ISYARAT


__ADS_3

Rintik hujan membasahi kaca depan mobil Arkana. Alina yang canggung hanya memainkan ujung rambutnya yang basah tanpa mengatakan apapun. Kedua tangan Arkana fokus memegang stir mobil tetapi matanya sesekali melirik ke arah Alina.


Saat di lampu merah, Arka memberikan kotak tisu kepada Alina. Arkana menyadari jika rambut Alina basah karena cipratan hujan tadi. Alina dengan tersenyum menerima kotak tisu itu dan mencoba mengerikan ujung rambutnya.


"Oh iya, makasih ya Mas udah bolehin aku nebeng sampe rumah," ucap Alina malu-malu.


"Iya ... lagian tujuannya kan sama."


Arkana kembali fokus menyetir mobilnya melalui jalanan malam yang sepi. Tidak banyak kendaraan yang lewat di daerah sana, terlebih tengah malam seperti ini.


Sekuat tenaga Alina menahan kantuknya. Selain sudah lewat jam tidurnya, suasana hujan diluar semakin mendukung rasa kantuknya. Sesekali mencubiti tangannya atau hanya sekedar membuka sosial medianya di ponsel.


Arkana berdehem dan sedikit tersenyum melihat usaha keras Alina agar tidak tertidur dimobilnya. Sayang usahanya gagal. Alina tertidur di mobil Arkana. Padahal perjalanan sudah tidak lama lagi.


Tiba-tiba Alina dikagetkan oleh suara ketukan dari luar jendela mobil. Ternyata orang itu adalah pengawal Baskara yang tugasnya menjaga paviliun. Pengawal itu cukup aneh karena mobil Arkana di parkir dengan sembarang didepan rumah.


Terlebih lagi mesin mobil masih menyala. Mulanya ia mengira Arkana masih didalam, tetapi pengawal itu baru saja bertemu Arkana berjalan menuju kamarnya. Benar saja, ada seseorang didalam mobil dan itu Alina.


"Ngapain didalam? keluar mba," ucap pengawal itu.


Aku ditinggal dong didalem mobil


"Iya ini keluar." Alina merapikan barangnya dan keluar.


"Liat Mas Arkana ga?" tanyanya.


"Kayaknya udah ke kamarnya." Pengawal itu masuk kedalam dan mematikan mesin mobil.

__ADS_1


Alina tidak habis pikir, kenapa bisa-bisanya Arkana meninggalkan dirinya didalam mobil seorang diri. Sepanjang jalan menuju kamarnya Alina dibuat kehabisan kata dengan tindakan Arkana. Sesampainya di kamar, Alina langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Alina kehabisan energi bahkan untuk mandi dan ganti baju.


Alina pun kembali melanjutkan tidurnya. Sama hal nya dengan Arkana yang sudah mengganti bajunya kini bersiap untuk tidur. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Arkana. Banyak kejadian yang mengingatkannya dengan masa lalunya.


Arkana melihat plester luka yang terpasang di pundak dan lengannya, bersama dengan memar bekas suntikan di lengannya. Luka yang tidak akan bisa hilang, sama halnya dengan luka yang ada didalam dirinya. Cukup lama dirinya memandang pantulan tubuhnya di kaca.


Dengan bermunculannya ingatan Arkana kecil, membuat Arkana dewasa tidak nyaman sehingga Arka lalu melemparkan handuknya ke arah kaca dan menutupi kaca itu sepenuhnya. Mematikan seluruh lampu kamarnya, Arkana pun tidur.


Pagi ini hanya ada Arkana sebagai anggota keluarga Miller yang ada dirumah. Kedua orangtuanya menginap di rumah sakit untuk menemani Baskara. Karena itu Arka bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapannya sendiri. Terlebih hari ini ada rapat penting di kantornya, membuat ia harus datang tepat waktu.


Alarm ponsel Alina berbunyi. Alina pun bangun dan sempat berniat mematikan alarmnya lalu kembali tidur. Tetapi tiba-tiba dirinya diingatkan dengan niatnya dari semalam. Alina ingin melabrak Arkana, menanyai alasannya meninggalkannya didalam mobil.


"Al ... kalo sudah bangun ayo sarapan sama-sama," panggil Bi Iyah dari luar.


Bi Iyah mengajak Alina sarapan bersama dengan yang lainnya diruangan belakang. Hari ini keluarga Miller tidak ada dirumah, sehingga para pelayan bisa beristirahat pagi ini. Mendengar itu Alina sedikit aneh, karena jelas-jelas dirinya pulang bersama Arkana semalam.


"Ga ada yang siapin sarapannya?" tanya pelayan yang lain khawatir.


"Ooh ... kalo cuma ada Mas Arka sih biasanya nyiapin makanannya sendiri," jawab Bi Iyah.


Obrolan mereka berlanjut hingga siang hari. Alina yang sudah mondar-mandir, sesekali ikut mengobrol lalu pergi lagi. Sebenarnya hari ini Alina juga tidak ada pekerjaan khusus. Baskara dan Rose kedua atasannya berada dirumah sakit. Sehingga tidak banyak yang harus dirinya kerjakan.


Sementara di kantornya Arkana menatap dingin salah satu staff nya yang sedang memberikan laporan kerja lewat power point. Jelas sekali dari raut wajahnya jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Satrio yang sudah sangat memahami hal itu lalu menyuruh staff nya itu mengakhiri presentasinya dan duduk.


"Setelah ini ke ruangan saya." Arkana lalu melanjutkan rapatnya membahas hal yang lain.


Arkana yang perfeksionis tidak mau jika salah satu karyawannya memiliki performa kerja yang buruk. Karena menurutnya karyawan bisa mencerminkan image suatu perusahaan itu sendiri.

__ADS_1


Alina berkeliling rumah keluarga Miller yang kosong hari ini. Merasa ini adalah saat yang tepat, Alina mulai mencari sesuatu. Dimulai dari foto keluarga Miller. Disana Alina terlihat mencari seseorang. Foto yang tidak ter update membuat Alina cukup bingung.


Sudah berkeliling seharian, tetapi Alina masih belum juga mendapatkan sesuatu yang ia cari. Alina pun kembali ke kamarnya dengan lesu. Sembari menidurkan tubuhnya keatas kasur, Alina mengeluarkan sebuah foto keluarga. Keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, anak lelaki, dan perempuan.


"Tunggu ya, pasti bakal aku temuin." Alina mengelus foto itu.


Alina memeluk erat foto itu, dan tertidur.


Satrio masuk dengan membawa sekantung besar kacang almond. Meletakannya diatas meja Arkana yang sibuk mengerjakan pekerjaannya. "Ini udah dateng pesenan lo." Satrio kembali ke ruangannya setelah mengantarkan pesanan sahabatnya.


Saatnya isi ulang. 


Arkana mengeluarkan beberapa tempat-tempat kecil dari dalam lacinya. Tempat-tempat itu yang selalu Arkana bawa kemanapun. Memiliki kebiasaan bahkan keharusan untuk selalu menjaga tekanan darahnya, membuat Arkana rutin mengkonsumsi almond.


Tidak terasa Alina tertidur dengan posisi memeluk foto keluarganya sejak siang tadi hingga sore. "Sepi banget deh ga ada orang gini," gumam Alina. Alina mencoba menelepon Tari, tetapi tidak diangkat sama halnya dengan ayahnya. "Ini orang-orang semua pada sibuk apa sih."


Alina yang bosan dikamar akhirnya memutuskan ke kebun bunga. Selain berniat menyiraminya, seperti biasa Alina berniat duduk-duduk disana. Sepertinya dari semua sisi rumah keluarga Miller, satu-satunya tempat yang membuatnya nyaman dan damai adalah tempat ini.


Malam pun datang. Kini Alina sudah berada di ruangan belakang bersama pelayan yang lain menyiapkan makan malam. Rencananya Rose akan pulang sebentar kerumah untuk beristirahat. Jadi malam ini meja makan keluarga Miller bisa dipergunakan.


Seiring dengan telah sikapnya semua makan malam, Rose memanggil Arkana untuk bergabung dengannya. Tidak lupa Rose pun mengajak beberapa pelayan yang lain untuk makan bersama. Suasana makan malam cukup hangat saat tidak ada Tuan Miller dirumah.


Berjalan pelan dan muncul dari balik lorong-lorong besar, Arkana membawa kotak almond bersamanya. Akhir-akhir ini tubuhnya terasa aneh karena itu Arka membutuhkan almond ekstra. Alina yang melihat Arkana hanya bisa memandangnya dalam diam.


Arkana melihat sorot mata bagai laser milik Alina mengarah padanya. Ia lalu memberikan isyarat 'apa?' dari gerak tubuhnya. Alina pun membalas dengan hal yang sama 'udah ini ke kebun belakang'.


Setelah makan malam, Alina menunggu Arkana di kursi tempat mereka biasa duduk. Lima menit berlalu, 15 menit hingga setelah jam menunggu tetapi Arkana tidak kunjung datang. "Dia ga nangkep kode gue kah?" gumam Alina sendirian.

__ADS_1


Sementara di tempat yang lain, ada Arkana berada dikamarnya mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda tadi.


__ADS_2