
Siang itu Alina dengan terburu-buru memanggil taksi dari depan sekolah untuk segera menuju rumah sakit. Satrio mengabari Alina jika Arkana mencarinya. Pagi tadi begitu bangun, Alina mendapat telepon dari sekolah. Ia diberitahu jika hari ini Alina harus hadir disekolah, karena itu Alina pun segera bersiap dan pergi.
Sebelum pergi Alina sempat memperhatikan Arkana yang masih tertidur. Dengan malu-malu bahkan ia sempat mengecup kening Arkana.
"Dah ... berangkat dulu ya."
Didalam taksi Alina tidak bisa diam. Dirinya terus bergerak dan tampak gelisah, bahkan membuat sopir taksi yang dinaiki nya terus memperhatikan Alina dari spion tengah mobilnya.
"Mba, ga papa?" tanya pak supir.
"Saya buru-buru Pak, bisa lebih cepet ga ya?"
Setelah mendengar itu taksi yang dinaiki Alina berjalan lebih cepat, dan tidak terasa sampai juga di loby rumah sakit. Alina pun membayar bahkan memberinya lebih, sebagai ucapan terima kasih sudah mengantar nya dengan cepat dan aman sampai di tujuan.
Begitu masuk Alina sedikit berlari menuju ruang rawat Arkana. Didepan ruangannya sudah ada Satrio dan beberapa orang yang tidak Alina kenal. Satrio lalu menyapa Alina yang baru datang dan mempersilahkannya masuk kedalam.
__ADS_1
Alina masuk dengan jantung yang berdebar. Entah kenapa, Alina pun tidak mengerti dengan dirinya saat itu. Alina melihat Arkana sudah sadar dan sedang menatap ponselnya. Sebelum mendekat ia menguatkan dirinya dan berusaha tidak menangis.
"Mas Arkana .... " Alina berjalan menghampiri Arkana yang menyambutnya dengan senyuman.
Alina kemudian memeluk Arkana. Semua perasaan takut dan gelisahnya hilang seketika. Sudah beberapa hari ini Alina selalu tidak tenang. Ingatan tentang hari itu masih jelas di kepalanya. Bahkan ingatan saat Arkana hampir saja kehilangan nyawanya.
Arkana mengelus lembut kepala Alina. Ia pun meraih wajah Alina agar bisa melihat wajah wanita yang dicintainya dengan jelas. Terlihat jelas dari mata Alina, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun, tatapan Arkana berhasil membuat ai mata itu jatuh juga.
Dengan pelan Arkana menghapus air mata itu dengan tangannya, "Ga usah nangis dong." Arkana meledek Alina. Wajah Arkana terlihat khawatir. Raut wajah dan mata Alina jelas lelah karena terlalu banyak menangis.
"Setelah ini gamau tau jangan bikin aku khawatir dan nangis lagi," ucap Alina.
"Oke, janji." Arkana mengaitkan kelingkingnya dan Alina.
Setelah cukup lama mereka mengobrol berdua, tidak lama datang Rose dan Baskara. Persis sama dengan Alina, Rose yang baru saja datang memeluk anak bungsunya itu. Melepas semua ke khawatirannya Rose tidak menangis, justru memukul pelan anaknya itu.
__ADS_1
"Ga bikin Mama khawatir sekali aja gabisa ya." Rose kesal karena Arkana selalu saja membuatnya khawatir.
"Aduh ... sakit Ma." Arkana meringis kesakitan, "Iya Ma, udah ini yang terakhir," ucap Arkana.
Baskara cukup lega melihat adiknya akhirnya sadar juga. Terutama melihat bagaimana kondisinya bisa pulih dengan cepat membuatnya bahagia. Arkana melihat Baskara hanya berdiri dari jauh lalu tersenyum saat Baskara melihat kearahnya.
Sedangkan di luar, Satrio sedang mendapat laporan dari salah satu anak buahnya kalau posisi Mirna sudah bisa dipastikan. Semalam Satrio sempat meminta izin kepada Alina untuk menemui ibunya, dalam rangka mencari keberadaan Tama.
Alina kini bahkan sudah tahu jika Tama lah dalang dibalik ini semua, termasuk kejadian penusukan Arkana. Tidak hanya mengizinkan, Alina bahkan berkata jika ia dan ibunya sudah tidak ada hubungan lagi. "Yang penting Tama bisa ditangkap, kalian boleh lakuin apa aja kok," ucap Alina.
Alina sudah lelah dan tidak bisa lagi bersabar terhadap Mirna. Meskipun Mirna adalah ibunya, tindakan Mirna itu sudah melewati batas. Alina merasa dengan ditangkapnya Mirna karena bersekongkol dengan Tama bisa memberikan efek jera bagi ibunya.
Menurut salah satu anak buahnya, Mirna masih bekerja di bar tempat ia bekerja dan belum ada pergerakan mencurigakan lainnya. Satrio kemudian meminta mereka terus mengawasi Mirna. Satrio dan Baskara akan secepatnya menemui Mirna.
Malam ini Alina meminta izin kepada Rose untuk kembali menemani Arkana. Namun sebelumnya Alina harus pulang untuk membawa beberapa pakaian ganti untuknya. Y
__ADS_1