Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
66. PANTAI


__ADS_3

Setelah mendengar semua perkataan dokter Arifin tadi Arkana dan Alina tampak saling diam didalam mobil. Alina sesekali melihat ke arah Arkana yang terlihat berpikir serius. Sejak keluar dari ruangan dokter Arifin tadi, ia sama sekali tidak mengatakan apapun.


Kini Arkana sedang berperang dengan pemikirannya sendiri. Ia ingin mengelak dengan semua firasat nya, tetapi semakin jauh mereka mencari tahu semakin terlihat jelas semuanya. Hingga tiba-tiba ia pun melihat kearah Alina yang juga sedang memperhatikannya.


Arkana menarik tangan Alina lalu menggenggam nya erat. Arkana ingin mendapat kekuatan dari Alina, tetapi disaat yang sama jika firasat nya benar ia akan sangat merasa bersalah kepada Alina.


"Gapapa kan?" tanya Alina merasa cemas dengan Arkana yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Arkana kemudian mengangguk, dan berkata, "Rumit ya Al."


Alina tersenyum mencoba menguatkan Arkana yang saat ini merasa terbebani dengan semuanya.


Beberapa saat menenangkan diri, Arkana akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari sana. Alina yang sejak pagi tadi bersemangat ke pantai pun akhirnya mendapatkan yang diinginkannya. Arkana membawa Alina ke pantai yang tidak jauh dari rumah sakit.


Alina melihat ke arah Arkana dengan tatapan bahagia, ia tidak percaya Arkana benar membawanya ke pantai. Pagi tadi Alina sempat kesal dengan Arkana yang terlalu serius pergi ke rumah sakit. Alina tidak sabar untuk segera menginjakan kakinya di atas pasir pantai.


Deburan ombak semakin jelas terdengar seiring dekat semakin mendekat nya mobil Arkana. Pantai disana bisa dibilang cukup sepi. Sepertinya banyak yang tidak menyadari keindahan pantai ini. Pemandangan nya masih indah dan original tanpa tersentuh banyak tangan manusia.


Tanpa menunggu Arkana, Alina segera turun dan berlari mendekat ke arah pantai. Arkana melihat wajah bahagia Alina disana. Alina memainkan kakinya mengikuti ombak yang bergerak maju dan mundur.


"Mas Arka ... sini ayo," ucap Alina melambaikan tangan memanggil Arkana untuk ikut bermain dengannya.


Arkana hanya tertawa melihat tingkah Alina yang seperti anak kecil. Untuk sejenak mereka melupakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Arkana juga mencoba menenangkan pikirannya disana. Hembusan angin yang mengenai rambut panjang Alina membuat Arkana terdiam.


Wajahnya yang dihiasi oleh senyuman indah, bersama dengan tangannya yang memainkan rambutnya yang menghalangi pandangannya karena angin. Arkana memandang Alina dengan banyak perasaan yang dirasakan nya.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Arkana merasakan perasaan itu. Semakin lama mereka menghabiskan waktu bersama, perasaannya kepada Alina semakin dalam. Tanpa Arkana sadari, Alina sudah menghiasi seluruh pikiran dan hatinya.


Alina melambaikan tangannya kepada Arkana. Arkana pun memutuskan untuk mengikuti Alina mendekat ke arah pantai dan bermain dengan ombak. Arkana berjalan mendekat kepada Alina, lalu Alina tiba-tiba tersandung dan hampir terjatuh.


Arkana dengan cepat meraih tangannya menahan Alina agar tidak terjatuh dan membasahi seluruh pakaiannya. Alina tertawa dengan kencang, seperti mengeluarkan semua perasaannya. Memandang Arkana dengan dalam kemudian menyiramkan air laut kepadanya.


Tidak terima Arkana pun membalas Alina dengan menyiramkan lebih banyak air. Keduanya sangat menikmati momen itu. Sesaat mengesampingkan maksud awal mereka kesana, melupakan permasalahan yang sedang mereka selesaikan.


Mereka tertawa bersama sampai tidak terasa seluruh pakaian mereka sudah basah kuyup. "Seneng banget deh hari ini," ucap Alina. Alina menatap pemandangan sepanjang pantai sembari beristirahat di pinggiran pantai.


"Makasih, Mas Arkana udah ajakin aku kesini."


"Rasanya kayak ga punya masalah apa-apa," tutur Alina.


"Iya ... sama-sama," ucap Arkana.


"Nih Al, ganti dulu basah kuyup baju kamu." Arkana memberikan hoodie itu kepada Alina. Padahal dirinya sendiri pun basah kuyup.


"Terus Mas Arkana gimana? bajunya kan basah kuyup semua," ucap Alina cemas.


"Gampang ... saya ada baju ganti."


"Kamu ganti di mobil aja, ga akan keliatan dari luar," ucap Arkana.


Sedang menunggu Alina tiba-tiba ibunya menelepon nya dan meminta Arkana untuk pulang. "Kok tumben banget nyuruh pulang?" tanya Arkana merasa tidak biasa dengan ibunya yang seperti ini. Rose sudah lama tidak melihat wajah anak bungsunya itu.

__ADS_1


Ditambah setelah kejadian Alina diusir dari rumah mereka, Arkana sama sekali tidak berkomentar atau melakukan apapun. Rose khawatir dengan bagaimana Arkana akan merespon hal ini. Ia takut jika Arkana akan melakukan sesuatu karena marah terhadap ayahnya.


"Aku kebetulan lagi ada yang dikerjain, Ma."


"Beneran? tapi kamu juga ga ada ngabarin Mama," ucap Rose sedih karena Arkana terkesan melupakannya dan lebih mementingkan pekerjaan.


"Maaf ya ... ini karena belum sempet aja, kalo masalah Alina Mama ga usah khawatir aku ga akan ngelakuin apa-apa."


Tidak mau ibunya khawatir, Arkana juga menjelaskan jika Alina kini tinggal bersamanya di apartemen. Alina akan aman dari sang ayah selama ia bersamanya. Mendengar itu Rose merasa lebih tenang, awalnya ia sempat khawatir karena Alina terus mengabaikan teleponnya.


Alina telah selesai mengganti bajunya lalu melihat Arkana baru saja menutup teleponnya. "Siapa?" tanya Alina.


"Mama ... saya ga kasih kabar beberapa hari ini."


"Kenapa ga kasih kabar?" Alina kembali bertanya.


"Belum sempat .... " Melihat Alina merubah ekspresinya, Arkana pun menenangkannya, "Bukan karena kamu kok, tenang aja."


Suara deburan ombak dan hembusan angin seakan-akan menahan Alina untuk pulang. Mereka pun memutuskan untuk tinggal lebih lama. Lagi pula sinar matahari tidak terlalu terik, sehingga mereka bisa duduk-duduk santai di dekat mobil.


Arkana memang sengaja memarkirkan mobilnya tidak terlalu jauh dari pinggir pantai, membuat mereka masih bisa menikmati keindahan pantai dari sana. Hubungan keduanya memang selalu nyaman bahkan sejak pertama kali bertemu.


Keduanya bisa menghabiskan banyak waktu bersama tanpa saling mengobrol satu sama lain. Alina merasa aman jika berada disamping Arkana. Entah apa yang akan terjadi nantinya, Alina akan terus merasa begitu. Alina meraih tangan Arkana dan menggenggam nya.


Seperti itu lah cara mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Alina lalu mengistirahatkan kepalanya di pundak Arkana. Keduanya memperhatikan ombak di lautan dengan posisi seperti itu untuk beberapa saat.

__ADS_1


Tidak terasa mereka sudah cukup lama berada disana. Lagipula malam ini Arkana sudah berjanji untuk pulang, Tari juga akan mempir ke apartemennya dan menemani Alina.


Alina dengan kebiasaannya selalu tertidur di dalam mobil Arkana. Dan Arkana dengan sigap memundurkan kursi penumpang agar Alina lebih nyaman. Tidak lupa ia juga menyalakan heater, karena diluar sedang turun hujan. Begitulah sigap nya Arkana memastikan perjalanan mereka nyaman untuk Alina.


__ADS_2