Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
40. SUASANA BERBEDA


__ADS_3

Terdengar suara ramai yang berasal dari dapur. Alina pun menghampiri sumber suara itu penasaran. Rose dan Bi Iyah menyambut Alina dengan senyuman. Terutama Bi Iyah yang kemudian langsung memeluk Alina. "Selamat lulus ya ... ikut seneng nih Bi Iyah," ucap Bi Iyah semangat.


"Ini bawa kemana ... " ucap salah satu pelayan sedang membawa kue yang kaget Alina telah sampai.


Mereka semua saling melihat satu sama lain, dan tertawa bersama-sama. Rose yang memberi ide untuk memberi Alina kejutan. Namun, sayangnya kejutan itu gagal dan berakhir dengan tawa.


Setelah Bi Iyah, kini Rose yang memberikan Alina pelukan hangat. Membisikan ucapan selamat dan kata-kata penyemangat terbaik untuk Alina. Mereka pun memotong kue yang telah disiapkan Bi Iyah sejak siang tadi. Suasanya begitu hangat, sangat berbeda dengan suasana di rumah Alina saat itu.


Mengingat itu Alina kembali bersedih. Sesekali mengedipkan matanya menahan air mata kembali membasahi pipinya. Tiba-tiba pundaknya di senggol oleh seseorang, yang ternyata Arkana yang masih menenteng helm nya. Arkana sengaja melakukan itu agar Alina bisa menahan tangisnya.


"Hai, Nak." Rose menyapa hangat Arkana.


Rose memberikan sepotong kuenya untuk Arkana, sebelum ia pergi ke kamarnya, "Oke ... thanks." Arkana melirik kepada Alina seakan-akan ucapan terima kasihnya itu untuk Alina. Kemudian berjalan menuju kamarnya.


Tidak lupa Rose juga meminta salah satu pelayan nya untuk memberikan potongan kue yang lain untuk dibawakan ke paviliun Baskara. Membahas Baskara, Alina tiba-tiba ingat dengan kelanjutan pekerjaan dengannya.


"Aku aja yang bawain, mau sekalian ngobrolin sesuatu," ucap Alina mengambil piring berisi kue itu.


"Oh iya udah kalo gitu, sama Alina aja." Tangan Rose masih sibuk memotong sisa kue untuk diberikan kepada yang lain.


Alina memberanikan diri setelah kejadian lemparan piala waktu itu. Tumben sekali tidak ada pengawal di luar paviliun, "Mas Baskara lagi keluar apa ya?" gumam Alina. Ia pun mendekat ke arah pintu dan mencoba mengetuk nya beberapa kali.


Terus mencoba tapi Baskara tidak kunjung memberikan respon. Kini Alina benar-benar yakin jika Baskara tidak ada di paviliunnya. Alina pun kembali dengan tetap membawa kuenya. Hingga tiba-tiba pintu paviliun dibuka oleh Baskara.


"Masuk, Al."


Alina berjalan cepat menuju pintu paviliun, "Aku ketuk pintunya beberapa kali ga jawab." Baskara tertawa kemudian mengatakan jika ia sedang di kamar mandi tadi, "Ada apa emangnya?" tanya Baskara serius.

__ADS_1


Alina memberikan piring berisi potongan kue yang dibawanya sembari berkata, "Ada yang perlu aku pastiin, Mas." Tujuan Alina kesana jelas memastikan masa kerjanya. Setelah lulus, ia tidak mungkin masih dianggap bekerja sukarela disini.


"Kalo kata Mama gimana?" tanya Baskara juga turut memastikan keputusan ibunya.


"Bu Rose sih masih mempekerjakan aku di kebun bunga sih," jawab Alina.


"Saya juga sama deh."


"Tapi kita balik, pekerjaan inti kamu sekarang sama Mama ... sesekali bantu saya disini, gimana?" Baskara juga merasa kalau tidak banyak yang bisa dikerjakan Alina saat bersamanya.


Alina pun kembali ke kamarnya dan memasukan pakaian yang dibawanya kedalam lemari. Hingga saat ini ayahnya sama sekali belum menghubunginya. Jujur Alina kecewa dengan sikap ayahnya. Kini Alina sudah tidak peduli Mirna akan datang lagi kerumahnya atau tidak.


Saat ini yang ingin ia fokuskan yaitu mencari keberadaan Kai. Petunjuk yang ia dan Arkana temukan berupa kartu nama asisten pribadi Tuan Miller. Setelah itu mereka belum melakukan pencarian lagi.


Makan malam hari ini cukup tenang. Tuan Miller pergi ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis selama dua minggu. Alina cukup senang, karena setidaknya dirinya bisa lebih leluasa mencari informasi tentang kakaknya di rumah ini tanpa dicurigai Tuan Miller.


Namun kali ini Arkana akan lebih berhati-hati. Karena jika yang dilakukannya ini cukup berbahaya, maka ia tidak bisa membawa Alina kedalam urusan ini. Tapi bagaimana mengatakannya, padahal Alina lah yang paling  bersemangat mencari keberadaan kakaknya.


Di kamarnya Arkana mendapat telepon dari Tama. Tama mengajaknya bertemu di cafe yang tidak jauh dari kantor LifeCare. Ia berkata jika sore tadi dirinya sempat kesana, tetapi sayang Arkana sudah pulang.


Arkana menerima ajakan itu dengan senang hati. Dalam hatinya Arkana juga cukup penasaran dengan lelaki itu. Apa alasan sebenarnya Tama terus menghubunginya, meskipun ia jelas memiliki hubungan dekat dengan ayahnya.


Bagaimana kebenaran hubungan mereka tidak dipedulikan Arkana, ia hanya penasaran sampai dimana lelaki ini akan terus membantunya. Terutama setelah Baskara memperingatinya, Arkana justru semakin bersemangat.


Rose kebetulan melihat anaknya sudah memakai jaket kulit lengkap dengan helm yang ia tenteng berjalan menuju parkiran belakang. Rose pun memanggil anaknya itu.


"Mau kemana malem-malem?" tanya Rose serius.

__ADS_1


"Kantor. Ada yang tertinggal," jawab Arkana terlihat buru-buru.


"Kan bisa besok ... besok juga kamu ke kantor."


"Gabisa Ma, harus hari ini ... bye." Arkana mencium kening ibunya dan berpamitan dengan terburu-buru.


Baskara yang berada didepan paviliunnya melihat Arkana pergi mengendarai motornya dengan cepat. Kelihatannya Baskara tahu kemana adiknya itu akan pergi. Baskara pun mencari Alina kedalam rumah, ada sesuatu yang harus disampaikannya.


Kebetulan Alina baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Arkana. Tiba-tiba Baskara datang dan menghentikan Alina. "Alina ... " panggil Baskara dari kejauhan.


"Ada yang mau saya kasih tahu ke kamu."


"Kelihatannya kamu sama Arkana sekarang cukup dekat, saya pikir dia bakal denger kamu daripada saya." lanjutnya.


"Kasih tahu apa Mas?" tanya Alina dibuat bingung.


Baskara pun bercerita kalau dia sempat mendengar percakapan ayah mereka dengan temannya yang bernama Tama di ruangan ayahnya. Disana ayahnya seperti mendapat laporan dari seseorang yang disuruh mengikuti Arkana.


Tidak tahu apa yang akan direncanakan ayah mereka nantinya, tetapi yang pasti John Miller akan melakukan apapun untuk menutupi perbuatannya. Apalagi jika perbuatannya itu berpengaruh terhadap semua pencapainnya selama ini.


Dalam hatinya Alina yakin, jika ini berhubungan dengan Kai. Tuan Miller pasti tahu sesuatu, bahkan bisa jadi tahu dimana Kai. Namun, mendengar yang dikatakan Baskara, Alina takut jika hal ini akan menyakiti Arkana.


"Terus kalo gitu kit harus kasih tahu Mas Arkana sekarang."


Baskara menghentikan langkah Alina, "Arkana pergi dari tadi, kayaknya ketemu om Tama."


Mereka tidak tahu tujuan Arkana kemana. Jadi akan sia-sia jika mereka menyusulnya sekarang. Karena itu Alina pun mencoba menghubungi Arkana. Namun, Arkana tidak kunjung menjawab teleponnya.

__ADS_1


Please, kamu kemana sih Mas Arkana. 


__ADS_2