Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
21. KEMBALI


__ADS_3

"Arkana Benjamin Miller .... "


Terdengar dari kejauhan suara seseorang memanggil namanya. Arkana yang sedang memperhatikan ponselnya, mengangkat kepalanya mencari siapa yang memanggilnya. Seseorang keluar dari sebuah mobil yang sedari tadi ternyata sudah ter parkir disana.


Arkana sama sekali tidak mengenal lelaki misterius itu. "Anda siapa ya?" tanya Arkana menaikkan kewaspadaannya. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Arkana ia justru mengajak Arka mengikutinya memasuki sebuah kedai mie tepat tidak jauh dari sana.


"Ayo ... saya akan jawab semua pertanyaan anda." Lelaki itu berjalan lebih dulu.


Arkana tidak yakin dengan lelaki ini, tetapi karena ia tidak punya pilihan lain Arkana pun mengikuti lelaki ini. Ketika memasuki kedai itu, terlihat jika pemiliknya sudah mengenal lelaki itu. Terlihat dari interaksi antara keduanya.


"Kita duduk disini aja, Ar."


"Boleh kan saya panggil begitu?" tanya lelaki misterius.


"Langsung ke intinya saja." Arkana memotong basa-basi lelaki itu.


Sedikit tertawa lelaki itu kemudian menyebutkan nama John Miller dihadapan Arkana. Ia berkata jika Arka sangat mirip dengan ayahnya saat muda dulu. Serius dan tidak suka berbasa-basi.


Arkana semakin bingung karena lelaki ini terlihat mengenal ayahnya. Kecurigaan Arka yaitu lelaki ini sebagai utusan ayahnya yang lagi-lagi berniat menghalanginya. Arkana hanya memandang lelaki itu penuh curiga.


"Persis. Tatapan itu persis seperti John," tawanya.


"Jadi, apa maksud Anda menghubungi saya dan berkata akan menjawab semua pertanyaan saya?" tanya Arkana penasaran dengan motif lelaki ini padanya.


Akhirnya lelaki itu pun bersikap serius. Ia duduk dengan lebih tegap, kedua tangannya ia silangkan, wajahnya pun lebih serius. Namun siapa sangka perubahan sikapnya itu karena mie pesanannya yang datang. Bukan karena bersiap memulai pembicaraannya dengan Arkana.


"Setelah ini kita bicara serius .... "


Lelah menghadapi lelaki ini, Arkana akhirnya memilih mengikuti alurnya. Mereka berdua pun memakan mie pesanan masing-masing. Kedai mie ini mulanya ramai, tetapi saat mereka datang pemiliknya pun sengaja mengosongkan kedainya.


Di tempat lain, Alina masih kaget dan tidak mengatakan apapun setelah melihat nama John Miller ada di surat hutang milik kakaknya. Jika dihadapan nya hadir sang kakak, sepertinya Alina akan memukulnya karena berani sekali berurusan dengan John Miller seorang diri.


"Jadi maksud dari ini semua itu apa?" tanya Alina membolak balikan dokumen itu mencari sebuah jawaban.

__ADS_1


"Sebenarnya langkah kamu masuk kesana sudah benar, jawabannya ada disana."


"Maaf saya cuma bisa bantu sampai disini, terlalu riskan jika berurusan dengan keluarga Miller." lanjutnya.


Kedepannya tidak akan mudah, terlebih setelah Alina memastikan semuanya. Potongan informasi yang didapatkannya kini seperti puzzle yang kehilangan satu piece lagi untuk menjadi sempurna. Tugas Alina tinggal mencari potongan puzzle yang tersisa dirumah itu.


Saat itu sepertinya musim panas, pertama kali Alina bertemu dengan kakaknya lagi setelah sekian lamanya. Kai kini terlihat lebih kurus setelah memilih tinggal bersama ibu mereka. Namun, beberapa kali ia meyakinkan Alina jika ia baik-baik saja dan hidup dengan bahagia di sekolahnya.


Alina mengeluh tentang bagaimana kakaknya itu tidak pernah punya waktu untuk main kerumah dan bertemu dengannya. Kai selalu menjadi tempat Alina berlindung saat kedua orang tuanya berkelahi. Mereka sangat dekat sebagai saudara.


"Kayaknya kakak bakal sibuk kedepannya."


"Kakak masuk tim basket, jadi banyak latihan." lanjutnya.


Alina menekuk wajahnya dan tidak mengatakan apapun. Kai hanya tertawa melihat tingkah adiknya yang seperti itu. Kai berjanji akan mengajak Alina bertemu dengan teman-temannya jika ada waktu nanti. Sayangnya itu adalah terakhir kalinya mereka saling bertemu.


Arkana meletakkan sumpitnya diatas meja, tanda bahwa ia sudah selesai makan dan siap berbicara serius dengan lelaki didepannya ini. Lelaki ini terlalu santai di saat serius seperti ini.


"Siapa anda?" tanya Arkana lugas.


"Your father old friend."


"Apa yang membuat anda percaya diri bisa menjawab pertanyaan saya?" Arkana membenarkan duduknya.


"Because i know everything."


Arkana tersenyum tipis, merasa bahwa akhirnya ia menemukan seseorang yang tepat. Seseorang yang ia yakin tidak ada campur tangannya dengan sang ayah, dan benar-benar bisa memihak padanya. "Ini akan seru." Arkana menyilangkan kedua tangannya.


Alina berada didalam bis dengan memegang amplop yang diberikan kepadanya. Alina membayangkan perjalanannya kedepan akan seorang diri menghadapi keluarga Miller.


"Ah ... gimana dong?" Suara Alina mengangetkan penumpang lainnya.


"Maaf ... maaf ... hehehe," ucap Alina sembari sedikit tertawa malu.

__ADS_1


Gapapa, demi lo kak ... aku harus tau sekarang lo ada dimana. 


Alina berencana mampir ke bar tempat ia part time dahulu. Ada seorang teman yang ingin dirinya temui. Alina masih belum berani menceritakan ini kepada Tari, ia tidak mau membuat sahabatnya itu khawatir.


Sesampainya di bar, Alina duduk didepan seorang bartender yang ternyata temannya. Memesan minuman yang biasa dirinya pesan, Alina mulai mengobrol dengan bartender itu. Namun tiba-tiba Alina mendengar suara yang cukup familiar baginya.


Arkana duduk tepat disamping Alina. Bahkan duduk lebih dulu darinya, dan Alina tidak menyadari itu. Alina kaget karena lagi-lagi mereka bertemu disana. Tidak cukup bertemu dirumah, diluar pun masih saling bertemu.


"Oh iya ... Mas Arkana minggu depan pulang ke rumah kan?" tanya Alina dengan mata berbinar.


"Urusannya apa sama kamu?" tanya Arkana sinis.


"Aku udah janji sama Bu Rose mau bawa Mas Arkana pulang," ucap Alina menundukkan kepalanya.


"Pulang."


Alina menengok ke arah Arkana, dan tersenyum mendengar jawaban pria itu. Alina bangga karena ia merasa berhasil membawa Arkana kembali pulang. Tanpa Arkana sadari, muncul senyuman di wajahnya melihat Alina tersenyum bangga seperti itu.


Saat minuman pesanannya datang, Alina menawarkan Arkana untuk cheers dengannya. "Buat apa, norak banget." Arkana tetap engga menaikkan gelasnya bersama Alina. Namun, bukan Alina jika tidak bisa membuat Arkana menuruti keinginannya. Alina meraih tangan Arkana dan mengangkatnya keatas.


"Cheers." Alina juga mengangkat gelasnya.


Alina pun pulang lebih dulu karena tidak mau pulang terlambat. Ayahnya akan mencari Alina jika ia pulang larut malam. Arkana pun mengantarnya sampai mendapat taksi. Tidak lama taksinya pun datang, "Sampai ketemu dirumah." Alina pun masuk.


Rasanya aneh bagi Arkana mendengar seseorang yang jelas-jelas asing berkata seperti itu padanya. Alina sepertinya sudah benar-benar menerobos masuk kedalam pertahanan super milik Arkana. Arkana pun kembali masuk dan menghabiskan malamnya di bar itu.


Tidak terasa masa liburnya berakhir hari ini. Pagi ini Alina menyiapkan banyak lauk pauk yang ia masukan ke dalam beberapa kotak untuk ayahnya. Ayahnya sudah berjanji kepada Alina akan sering pulang dan makan malam dirumah.


Tari yang duduk di sofa depan tv memperhatikan sahabatnya itu terus menerus. Lagi-lagi ia harus ditinggal oleh Alina. Seperti biasa, Tari yang mengantar Alina menuju rumah keluarga Miller. Karena itu sejak pagi Tari sudah stand by dirumah Alina.


Berbeda dengan Tari, Alina justru tidak sabar untuk kembali kesana. Terutama setelah tahu dirumah itu lah dirinya bisa mendapat jawaban dari menghilangnya Kai.


Alina bakal lakuin apa aja yang penting bisa nemuin lo Kak. 

__ADS_1


__ADS_2