Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
14. FOTO


__ADS_3

Tumpukan peralatan melukis milik Baskara yang menggunung menutupi sebagian tubuh Alina. Tepatnya kemarin malam Baskara diperbolehkan pulang. Salah satu alasan sarapan bersama hari ini pun untuk menyambut kepulangan Baskara.


Selama dirumah sakit Bas panggilan akrabnya berhasil menyelesaikan dua karya. Salah satunya rencananya akan dipajang di kantor Arkana akhir minggu ini. Bas sangat senang ketika mendengar Arka membutuhkan salah satu karya lukisannya untuk menghiasi ruangan rapat.


"Saya belum sempet liatin hasil ini ke Arka." Baskara tiba-tiba mengajak Alina berbicara.


"Pesenan Mas Arka?" tanya Alina.


Bas menganggur dan kembali menyusun kuas-kuasnya.


Terlihat sedikit kekecewaan di wajah Baskara. Awalnya setelah sarapan Bas akan menunjukan lukisannya, tetapi karena Arka bahkan tidak ikut sarapan Baskara mengurungkan niatnya.


Sesampainya di kantor, Arkana langsung memakan bekal sarapannya. Sembari tersenyum tipis Arkana sepertinya mengingat sesuatu. Tiba-tiba Satrio mengetuk pintu. Ada hal penting yang perlu Satrio sampaikan padanya.


"Pengembangan produk kita yang baru cukup berhasil di maret, tetapi ada sebuah kendala."


"Ada salah satu rumah sakit yang berniat membatalkan kontrak jika kita tidak menemui mereka," ucap Satrio serius.


Arkana sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi. Melihat bisnisnya dibidang pelayanan jasa rumah sakit dan penyediaan perangkatnya bersinggungan dengan bisnis ayahnya yang juga di rumah sakit.


Tuan Miller menjadi pemegang saham terbesar di salah satu rumah sakit terbesar tentu memiliki pengaruh besar. Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar, sampai saat terakhir ayahnya marah besar padanya beberapa hari yang lalu.


"Nanti saya yang akan temui mereka, tolong aturkan jadwalnya."


"Baik." Satrio kemudian keluar dari ruangan Arkana.


Suara berisik seperti barang yang jatuh terdengar diluar paviliun. Ternyata Alina tidak sengaja menjatuhkan tumpukan dus yang dibawanya dari dalam. Dari tumpukan itu terlihat sebuah kartu ucapan kecil yang cukup menarik perhatian Alina.


Tertulis disana :

__ADS_1


Cepat sembuh. 


Arkana,


Alina tertawa melihat perhatian super diam-diam dari Arkana. Meskipun begitu, Arkana sosok yang hangat dan perhatian kepada orang terdekatnya. Tidak tahu apa yang dihadiahi Arkana untuk kakaknya itu, tetapi membuat Alina penasaran bagaimana reaksi Bas saat menerimanya.


"Al ... lama amat, sini bantuin lagi kerjaannya masih banyak." Baskara sangat berisik jika masalah peralatan lukisnya.


"Iya, sabar kali ... " jawab Alina bernada kesal.


Hubungan keduanya kini mulai akrab, semenjak Baskara tiba-tiba mulai bercerita tentang dia dan keluarganya. Kehidupannya terlihat sepi karena banyak menghabiskan waktu di paviliunnya. Alina yang bosan juga lama-lama menikmati obrolan tiba-tiba dari Baskara.


Waktu makan siang tiba. Biasanya saat seperti ini Baskara akan makan seorang diri di paviliunnya, sedangkan Alina di dapur belakang  bersama yang lain atau di kebun bunga. Karena setelah jam makan siang giliran Alina mengurus bunga-bunga milik Rose disana.


Kali ini Alina memilih makan di kebun bunga. Sembari membawa ponselnya adan bercerita banyak kepada Tari. Sudah lama Alina tidak curhat kepada sahabatnya itu. Rencananya lusa Alina diperbolehkan pulang dan akan kembali setelah dua minggu.


Alina yang masih harus kuliah diizinkan oleh Rose untuk mengambil libur lebih lama. Saat dirinya pulang lusa, Rose juga sudah berjanji akan membayar Alina sesuai masa kerjanya. Nantinya uang itu akan ia pakai untuk mengurus tugas akhirnya.


Malam ini sepertinya akan terjadi keributan lagi oleh para pelayan. Tuan Miller membawa banyak rekan kerjanya datang kerumah ini. Dan sepertinya lagi-lagi Alina tidak bisa melihat Arkana di meja makan. Arka kurang nyaman jika banyak orang di meja makannya, terutama jika itu adalah kerabat atau rekan kerja ayahnya.


Alina kemudian buru-buru masuk kedalam dan bersiap-siap. Bi Iyah tertawa dengan puas melihat Alina sudah berdiri siap di dapur, "Kamu ... tau aja kita bakal repot lagi, ayo ah mulai."


Kali ini Rose juga berada didapur membantu pelayannya yang lain. Rose memastikan semua makanan tesaji sempurna. Rekan bisnis suaminya ini bukanlah orang main-main, mereka terdiri dari pada pejabat pemerintahan dan pebisnis hebat yang lain.


Alina mulai gugup mendengar itu. Rose hanya menyenggol pundak Alina dan tersenyum. Rasanya seperti ingin memberitahu jika semua akan baik-baik saja tidak perlu gugup.


Di saat yang bersamaan, dapur belakang kedatangan orang yang tidak terduga. Membuat beberapa pelayan muda hanya bisa terdiam. Dari belakang Arkana meraih tangan ibunya, "Aku pulang."


"Eh ... mau makan dulu?" tanya Rose tersenyum sumringah melihat ana bungsunya itu.

__ADS_1


"Engga Ma, nanti aja sama-sama."


Rose menggenggam tangan anaknya erat, "Kamu yakin?"


Arkana hanya mengangguk, kemudian berlalu ke kamarnya.


Alasan Rose bertanya kepada Arkana untuk makan dulu yaitu karena ia tahu jika anak bungsunya itu tidak akan mau makan bersama jika keadaan ramai seperti itu. Kini Rose sedikit khawatir. Ia tidak mau memaksakan anak-anaknya jika merek tidak merasa nyaman akan sesuatu.


Alina yang akan kembali ke kamarnya, tidak sengaja melihat Arkana yang sedang memandang foto keluarganya. Alina merasa aneh, karena terakhir kali yang melihat foto keluarga itu dengan serius hanya dirinya. Ia pun memutuskan menghampiri Arkana.


"Tuh kan emang ada yang aneh sama foto ini," ucap Alina yang tiba-tiba datang dan berdiri disamping Arkana.


Arkana hanya melirik cepat ke arah Alina dan kembali memandangi foto itu.


Dih dia kenapa sih, dingin banget hari ini. Kesambet apa ya? 


Dari kejauhan terdengar suara banyak orang yang saling mengobrol berjalan mendekat ke arah Arkana dan Alina. Arkana yang mendengar itu langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Alina yang panik mendadak buta arah dan memilih mengikuti Arkana.


Setelah berjalan beberapa saat tanpa menengok, Arkana dikejutkan oleh Alina yang mengikutinya sejak tadi. "Eh ... ngikutin saya?" tanya Arkana kaget Alina berada dibelakangnya. Tanpa mendengar jawaban Alina, Arka kembali melanjutkan jalannya menuju kamar namun dengan langkah lebih cepat.


Tidak disangka Alina tetap mengikuti Arkana dan ikut mempercepat langkahnya. Arkana akhirnya sampai didepan pintu kamarnya. Saat hendak masuk tangannya ditarik oleh Alina.


"Aku gatau balik laginya kesana gimana, takut ... " ucap Alina dengan raut wajah memelas.


Suasana malam sepanjang lorong menuju kamar Arkana memang cukup seram. Tidak banyak lampu yang menyala ditambah ada beberapa ruangan yang tertutup rapat disepanjang lorong.


Karena tidak mau terlambat acara makan malam, Arkana pun mau tidak mau menyuruh Alina ke kamarnya dan menunggunya bersiap-siap. Lagipula keduanya nanti harus turun ke ruang makan. Sehingga Arkana memutuskan nanti saja sekalian mereka kesana bersama.


Alina cukup canggung berada di kamar lelaki. Suasananya sangat berbeda dengan kamarnya. Kamar Arkana memiliki gaya minimalis yang didominasi warna gelap, seperti hitam dan navy. "Tunggu situ bentar, saya mau mandi dulu," ucap Arkana.

__ADS_1


Bosan menunggu, Alina berjalan melihat barang-barang yang ada disana. Alina tersenyum melihat foto masa kecil Arkana dan kakaknya Baskara. Saat kecil mereka sangat akrab layaknya kakak dan adiknya. Hingga ada sebuah foto yang mengejutkan Alina.


Kakak ... sama Mas Arkana? Mereka saling kenal? 


__ADS_2