
"Duh ini Mas Arkana kemana sih?" Alina mulai khawatir.
"Kenapa sih Al?" tanya Tari yang tepat berada disebelahnya.
"Gatau kayak tiba-tiba pengen telepon Mas Arkana."
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Namun tidak membuat Arkana memberhentikan motornya. Ia membiarkan air hujan itu membasahi seluruh tubuhnya. Arkana justru memanfaatkan suara hujan menutupi suara kemarahannya.
Rose terlihat sangat khawatir. Ia terus meminta Baskara untuk menyusul adiknya. Tetapi hujan yang sangat deras ini tidak memungkinkan Baskara untuk pergi. "Adik kamu Bas, Arkana gimana itu dia pergi kemana?" tanya Rose sembari menangis di teras menatap keluar.
Sedangkan didalam ruangannya John Miller tampak tenang. Entah apa yang sekarang ada didalam pikirannya setelah ia mengungkapkan semua kebenaran yang terjadi dengan mulutnya sendiri. Apakah ada rasa menyesal? entahlah, hanya John Miller yang tahu itu.
Alina masih menatap jendela besar di apartemen Arkana. Rasa khawatirnya kini semakin tidak bisa ia tahan. Sejak tadi telepon darinya juga tidak kunjung diangkat oleh Arkana. Akhirnya Alina pun memutuskan untuk menelepon Baskara.
Baskara yang melihat panggilan dari Alina, mengira Alina sudah bersama Arkana sekarang lalu dengan cepat mengangkatnya. "Halo Al, Arkana udah sama kamu?" tanya Baskara yang justru membuat Alina kaget.
"Mas Arkana pergi kemana Mas Baskara?" tanya Alina.
"Jadi Arkana ga sama kamu, Al?"
"Arkana pergi ... kita gatau-" kata-kata Baskara terhenti lalu diganti Rose.
"Kita gatau Arkana pergi kemana Al, dia pergi sambil marah ... saya khawatir Alina."
Sesaat setelah Alina menutup teleponnya, Alina segera bersiap-siap untuk pergi keluar. Ia akan pergi mencari Arkana meskipun dirinya tidak tau pasti dimana Arkana. "Kamu mau kemana Al?" tanya Tari ikut panik. Tari mengikuti Alina ke kamar.
"Kamu mau kemana? mau nyari kemana?"
__ADS_1
"Kamu ga liat diluar hujannya deres banget Al," tutur Tari.
"Gatau ... tapi aku harus cari Mas Arkana, waktu itu aja dia bisa nemuin aku ... sekarang giliran aku."
Dengan berbekal payung Alina berlari keluar apartemen untuk mencari Arkana. Alina hanya menuruti kata hati membawanya melangkah. Alina terus meyakinkan dirinya kalau Arkana pasti baik-baik saja dan ia akan menemukannya.
Alina menyusuri setiap jalanan. Setiap cafe, restoran, minimarket, semua tempat yang memungkinkan Arkana berteduh. Hingga tiba-tiba disebuah persimpangan jalan, samar-samar Alina melihat sebuah motor yang ia kenali.
Lampu lalu lintas saat itu terasa lebih lama dari biasanya. Alina terus memperhatikan motor itu, ia yakin jika itu motor Arkana. Setelah beberapa saat akhirnya Alina berhasil menyeberangi jalanan dan berjalan mendekat ke arah motor Arkana.
Namun sayangnya Alina tidak menemukan Arkana disana. Yang ada hanya motornya yang terparkir di pinggiran pintu masuk taman kota. Meskipun sempat ragu, Alina memutuskan untuk masuk kedalam taman itu untuk mencari Arkana.
Dari kejauhan Alina melihat seseorang yang duduk seorang diri disebuah kursi taman ditengah kegelapan. Yakin jika itu Arkana, Alina pun berlari menghampiri orang itu. Ternyata benar saja itu Arkana.
Arkana terduduk sembari menundukkan kepalanya, seluruh pakaiannya basah kuyup. Ia tidak menyadari kehadiran Alina didepannya. Perlahan Alina pun berjongkok dan meraih wajah Arkana. Mata mereka pun saling bertatapan.
Arkana pun melupakan emosinya dengan menangis dipelukan Alina. Ia membiarkan sisi terlemahnya keluar dihadapan Alina. Alina pun lebih menguatkan pelukannya, dan dengan lembut menyentuh belakang kepala Arkana menenangkannya.
Mereka pun sampai di apartemen. Saat itu Tari sudah pulang setelah mendengar kabar Arkana sudah ditemukan. Alina dengan sigap menyiapkan teh hangat untuk mengangetkan tubuh Arkana yang menggigit kedinginan.
"Saya ganti baju dulu, kamu juga Al ... "
Alina hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatannya didapur. Seperti Arkana yang menunggu Alina untuk bercerita kepadanya, kali ini Alina pun memutuskan untuk menunggu Arkana siap untuk menceritakan tentang apa yang terjadi malam tadi.
Alina menaruh teh hangat diatas meja untuk Arkana minum sementara ia berganti baju di kamar mandi. Setelah berganti baju Arkana sempat meminum teh buatan Alina kemudian menyiapkan bantal dan selimutnya di sofa seperti biasa.
Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Alina yang langsung membawanya kedalam kamar. "Malam ini Mas Arkana tidur di kamar, aku aja yang di sofa," ucap Alina. Arkana mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ga usah aneh-aneh, udah tidur sini." Arkana yang lemas jelas sedang tidak ingin berdebat dengan Alina masalah tempat tidur.
"Oke ... oke kalo gitu."
Alina naik ke atas kasur lalu menarik Arkana untuk tidur bersamanya. Arkana benar-benar tidak memiliki tenaga yang tersisa untuk menolak. Sehingga ia hanya membiarkan tubuhnya berbaring diatas kasur disamping Alina.
Dengan sibuk tangan Alina sigap memindahkan posisi selimut agar lebih condong ke arah Arkana. Arkana yang ikut dibuat lelah melihat Alina yang seperti itu, akhirnya meraih tubuh Alina mendekat kepadanya lalu menyelimuti tubuh mereka bersama.
Alina yang tidak langsung tidur kemudian bertanya kepada Arkana, "Tadi gelap gelapan di taman kota apa ga takut digangguin?" tanya Alina yang disusul pertanyaan lain bahkan sebelum Arkana menjawabnya, "Kok ga nanya sih tadi gimana caranya nemuin Mas Arkana?"
Alina yang berisik mengganggu Arkana yang berusaha untuk tidur. Ia pun menutup mulut Alina dan memeluknya erat agar Alina berhenti berbicara. "Diem kenapa, apa ga cape ngomong terus." Arkana membisikan kata-kata itu tepat ditelinga Alina.
Aku mana bisa tidur posisinya kayak gini.
Bukannya tertidur pipi Alina justru memerah. Posisi mereka saat ini sangat dekat bahkan tidak ada celah diantara mereka. Hal ini membuat Alina salah tingkah. Namun saat melihat wajah tenang Arkana yang berhasil tertidur membuat Alina terus memandanginya hingga ia pun tertidur.
Sedangkan di rumah keluarga Miller, Baskara mengantar Rose ke kamar Arkana. Rose memutuskan untuk tidur di kamar Arkana malam ini. Alina juga sempat mengabari Baskara jika ia telah berhasil menemukan Arkana dan sekarang mereka sudah ada di apartemen dengan aman.
Setelah mendapat kabar dari Alina, Rose menjadi sedikit tenang dan akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Sedangkan Tuan Miller sama sekali tidak keluar dari ruangannya bahkan setelah Baskara mengantar Rose ke kamar Arkana.
Kini Alina dan Arkana bisa tertidur lelap. Keduanya tertidur dengan posisi saling berpelukan didalam satu selimut yang sama. Tidak ada rasa canggung diantara keduanya. Alina dan Arkana berbagi takdir pahit yang saling berikatan satu sama lain. Namun justru dengan bersama, mereka bisa saling menguatkan.
Justru saat ini Baskara yang tidak bisa tidur. Dengan memegang segelas minuman ditangannya, Baskara terlihat berfikir dengan serius. Meskipun ia tahu jika Kai sudah meninggal, masih ada satu misteri yang belum bisa diketahuinya. Yaitu dimana Kai dimakamkan.
Baskara tahu betul hubungan Arkana dan Alina saat ini sedekat apa. Tidak terbayangkan olehnya ketika Alina mengetahui yang sebenarnya. Apakah Alina bisa menerimanya karena Arkana, atau kah Alina justru memilih pergi meninggalkan Arkana.
Takdir antara Arkana dan Alina ternyata harus se pahit, se sakit dan se rumit ini. Arkana akan terus menyalahkan dirinya atas meninggalnya Kai jika Alina tidak memaafkannya. Bahkan meskipun Alina memaafkannya, perasaan bersalah itu akan terus tinggal dibenaknya.
__ADS_1