Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
34. BEKERJA SAMA


__ADS_3

Kini satu-satunya harapan Alina yaitu Arkana. Hari itu pertama kalinya Alina mengatakan prioritas utamanya adalah mencari Kai kepada Arkana. Sejak saat itu Arkana berjanji akan membantunya. Entah bagaimana Alina bisa mempercayai Arkana, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain bekerja sama dengan Arka.


Arkana sendiri mempunyai misi mencari siapa sebenarnya yang menjadi donor untuk Baskara. Ada hal yang membuatnya curiga terhadap semua orang.


"Terus kamu mau mulai dari mana?" tanya Arkana serius.


"Keluarga Miller." Jawaban Alina jujur membuat Arkana kaget. Ia sama sekali tidak menyangka Alina akan menjawab seperti itu. Arkana berpikir sebentar, mencoba menyocokan semua hal yang terjadi. Kemudian menatap Alina dengan penuh makna.


"Jadi kamu .... "


"Iya ... aku masuk ke rumah Mas Arkana karena alasan ini."


"Tapi aku sama sekali ga nyangka caranya akan seperti ini," jelas Alina.


"Jadi acara pameran? tentang kamu yang ngerusakin lukisan Baskara?" tanya Arkana.


Alina merespon dengan anggukan, "Tapi masalah ngerusakin lukisan Mas Baskara itu ga disengaja, saat itu perutku emang sakit dan lukisannya ga sengaja jatoh." Arkana yang mendengar itu tertawa puas. Dia tidak menyangka kalau Alina bisa membuat rencana seperti ini.


Alina cukup berani membuat dirinya masuk kedalam keluarga Miller. Diluar dari caranya yang ia sendiri pun tidak menyangka akan seperti itu. Arkana masih tidak berhenti tertawa. Wanita didepannya ini punya nyali juga.


"Terus ... berhasil mendapatkan sesuatu selama kamu ada dirumah kami?" tanya Arkana.


"Sayangnya belum."


"Oke ... saya bantu kamu, gimana?" Arkana mengajak Alina bekerja sama. Ia pun mengulurkan tangannya kepada Alina. Setelah berpikir sebentar, Alina pun menyambut uluran tangan itu. Sejak hari itu keduanya sepakat untuk saling bantu satu sama lain mencapai tujuan mereka.

__ADS_1


Kebun bunga resmi mereka jadikan tempat bertukar informasi. Tidak boleh ada yang tahu mengenai rencana mereka, bahkan Rose sekalipun. Menurut Arkana tidak ada yang bisa ia percayai tentang masalah ini bahkan ibunya sendiri.


Hari dimana ia dikejar banyak orang suruhan John Miller, hari yang sama saat ia berpisah dengan Kai. Hari itu juga Arkana masuk rumah sakit yang sama dengan Baskara dirawat dan mendapat donornya. Dimana ayahnya marah besar kepadanya.


Banyak yang keluarganya sembunyikan dari dirinya. Alasan itu yang membuat ia tidak percaya dengan keluarganya sendiri dan memutuskan kuliah dan tinggal jauh dari keluarganya.


Pagi ini Alina izin kepada Rose untuk pulang kerumahnya. Sudah lama Alina tidak melihat keadaan ayahnya. Terakhir kali Alina pulang kerumah yaitu saat Mirna juga datang kerumahnya. Alina penasaran apakah Mirna akan datang kembali dan mengganggu mereka.


Di gerbang depan Alina bertemu dengan Baskara. Baskara kemudian menawarkan tumpangan kepada Alina. Alina tidak mau merepotkan Baskara sehingga dengan cepat Alina menolaknya sopan. Lagipula akan canggung rasanya berada satu mobil dengan Baskara.


Tiba-tiba dari belakang mobilnya muncul Arkana menaiki motor sport nya. Arkana melemparkan helm yang ia bawa kepada Alina. "Pake. Naik." Tanpa basa-basi Arkana menyuruh Alina pergi bersamanya. "Al ... " ucap Arkana kepada Alina yang tidak tahu harus melakukan apa.


Alina pun akhirnya menerima ajakan Arkana dan menaiki motornya. Arkana pun langsung menancap gasnya dan pergi mendahului mobil Baskara. Baskara yang melihat itu hanya tersenyum sinis. Ini pertama kalinya Arkana bertindak seperti itu didepannya.


Sepanjang jalan Alina hanya diam, tidak mengatakan apa-apa. Sesekali Arkana melihat Alina dari kaca spionnya. "Kasih tau alamatnya Al ... " ucap Arkana.


Arkana pun berhenti di halte bis sesuai arahan Alina, "Oke kalo gitu ... saya lanjut, helmnya kamu bawa aja." Namun sebelum pergi Arkana berkata, "Nanti kalo balik kerumah kasih tau, saya jemput disini."


Arkana tahu betul perjalanan dari jalan besar menuju rumahnya yang berada diatas bukit, cukup sulit dicapai menggunakan kendaraan umum. Ojol yang menjadi langganan para pelayan dirumahnya juga tidak selalu bersedia di waktu yang mereka inginkan.


Setelah mengatakan itu Arkana pun pergi menuju kantornya. Tanpa disadari Alina jantungnya berdegup sangat kencang. Akhir-akhir ini semua bentuk perlakuan Arkana selalu membuat jantungnya berdegup tidak karuan.


Tiba di kantornya Arkana tidak menyangka lelaki misterius yang ia temui beberapa waktu lalu ada di ruangannya. Melihat Arkana datang, lelaki itu menyambutnya dengan wajah penuh senyuman, "Arkana Benjamin Miller ... CEO of LifeCare, anak bungsu dari John Miller ... namun sayang semua pencapaiannya tidak di hargai oleh ayahnya, John Miller lebih memilih anak sulungnya untuk menjadi penerusnya."


"Ada apa anda kemari?" tanya Arkana sinis.

__ADS_1


"Hei ... hei ... gitu banget responnya."


"Belum lama ini saya bertemu dengan ayah dan kakak kamu ... dia terlihat sehat, meskipun tidak mengerti apa yang harus dilakukannya saat itu." Lelaki ini terus saja berbicara tanpa henti.


"Maksud anda bagaimana?" Arkana mencoba bersabar.


Lelaki itu kemudian berdiri menghampiri Arkana, dan membisikannya sesuatu, "Kamu lebih pantas berada di posisinya, lagipula dia terlalu lemah mewarisi semua perusahaan ayahmu." Lelaki itu lalu pergi, "Nanti kita bertemu lagi, Arkana," ucap lelaki itu berjalan semakin menjauh.


Arkana tersenyum sinis, tidak menyangka kalau ia harus berurusan dengan orang seperti itu. Jika keinginan lelaki itu untuk membuat Arkana terpancing, maka perkiraannya salah. Arkana tidak pernah merasa perlu untuk bersaing dengan Baskara.


Tujuannya yaitu John Miller. Ia ingin suatu saat nanti ayahnya menyadari jika anak yang tidak diharapkannya ini bisa melebihinya dengan kemampuannya sendiri, bukan karena dirinya.


Sesampainya dirumah, Alina cukup kaget karena ayahnya sudah ada dirumah. Ketika masuk, Alina melihat ada dua gelas diatas meja. Alina pun pergi menghampiri ayahnya yang ada di dapur.


"Eh Al ... kok ga kasih tau ayah mau pulang?" sambut ayahnya.


"Gelas itu satu lagi punya siapa Yah?" tanya Alina to the point.


"Oh ... tadi ada ibumu mampir." Ayahnya menjawab dengan hati-hati, tau betul jika Alina sangat membenci ibunya. Meskipun begitu ayahnya tidak bisa begitu saja mengusir Mirna.


Alina sungguh tidak habis pikir dengan ayahnya. Sudah jelas kalau ibunya yang menjadi penyebab mereka berpisah, tetapi ayahnya masih saja menerimanya. Ditambah lagi Mirna lah yang sangat bertanggung jawab dari menghilangnya Kai.


Jika saja ayahnya tahu apa yang dikatakan Mirna saat itu. Apakah ia masih mau menerima Mirna kembali?


Alina yang marah terhadap ayahnya langsung pergi menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat. Didalam kamar Alina menyobek foto ibunya dari foto keluarga mereka. "Ga cukup kamu merusak semuanya." Dengan kasar Alina membuang foto Mirna ke tong sampah.

__ADS_1


Kamu pikir saya ga tahu apa maksud kamu datang kembali ke kehidupan kami. 


__ADS_2