
Setelah makan malam, keduanya masih berada di sofa depan televisi. Alina dan Arkana sama-sama tidak mengatakan apapun mereka hanya terdiam dan sesekali menonton acara di televisi. Arkana masih menunggu Alina siap untuk bercerita.
"Mas Arkana ... " Arkana langsung mengubah posisi duduknya mengarah kepada Alina setelah mendengar itu.
Alina menatap wajah Arkana kemudian memulai ceritanya. Menurut Alina ini semua bermula dari Tuan Miller yang tiba-tiba meminta Rose untuk cepat pulang.
Ia memang tidak mendengarnya dengan jelas tetapi Alina tahu jika Tuan Miller dan Bu Rose sempat saling mengobrol di ruangan Tuan Miller. Setelah itu Alina memilih kembali ke kamarnya. Malamnya kejadian itu pun terjadi.
"Begitu aku buka pintu, disana ada Juan ... cowo yang waktu itu loh," ucap Alina.
"Juan?" kaget Arkana.
"Iya ... dia Yang ngasih perintah ke anak buahnya buat bawa aku keluar dari rumah."
Arkana sendiri pun sebenarnya belum pernah berurusan dengan Juan. Juan memang cukup jarang terlihat bersama dengan ayahnya. Dan disini sudah bisa dipastikan Rose tidak setuju dengan ini semua.
Semakin dalam Alina bercerita, semakin Arkana mendekat padanya. Arkana mencoba memberikan dukungan dan ketenangan untuk Alina. Kejadian itu begitu cepat, sudah pasti Alina akan merasa ketakutan. Ditambah tidak ada yang bisa menolongnya saat itu.
"Oh iya waktu itu Mas Arkana gimana cara temuin aku kan teleponnya keputus," heran Alina.
"Kamu kan ngirim detail-detail nya lewat chat ... dari situ aja coba telusuri."
"Saya kan udah janji mau jaga kamu tetap aman," lanjutnya.
Setelah bercerita dan mengobrol Alina pun tertidur di sofa, sedangkan Arkana masih menikmati film yang tadinya mereka tonton bersama. Arkana hanya tersenyum melihat Alina yang tertidur disampingnya. Ia pun meredupkan lampu agar Alina bisa nyaman tertidur.
Tanpa disadarinya Arkana pun tertidur di sofa yang sama dengan Alina. Saat ini mereka tertidur dengan posisi bersebelahan. Keduanya tertidur dengan pulas.
Pagi harinya Alina yang bangun lebih dulu dikagetkan dengan keberadaan Arkana di sampingnya. Alina langsung buru-buru bangun dan menjauh dari sofa. Wajahnya tiba-tiba memerah seperti direbus. Arkana yang tertidur dengan kaus bolong putih dan celana pendek hitam, kulitnya yang putih pucat dapat Alina lihat dengan jelas.
__ADS_1
Alina kemudian kabur ke kamar mandi, akan gawat jika Arkana melihat wajahnya yang memerah seperti ini. "Nanti dia mikir yang aneh-aneh lagi, ah." Alina menutup pintu kamar mandi.
Tidak lama Arkana dibangunkan oleh telepon dari Satrio. Satrio memberi kabar kepada Arkana jika ia berhasil menemukan dokter yang mereka lihat di rumah sakit pinggiran kota kala itu. Ternyata dokter itu sempat menjadi bagian dari LifeCare.
Namun, setelah dokter itu melepas prakteknya di rumah sakitnya yang lama dan memilih di pinggiran kota dokter itu otomatis tidak terdaftar lagi. Cukup beralasan ternyata Arkana merasa jika dokter itu familiar. Sepertinya mereka sempat bertemu meskipun tidak lama.
"Oke kalo gitu, hari ini gue ke rumah sakit itu ... lo kalo mau nyusul kabarin, nanti gue tunggu."
Kini Arkana akan memanfaatkan sumber info sekecil apapun itu. Ia tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang ada. Dengan Pak Agus, Arkana memang kalah karena itu ia tidak mau mengulangi nya lagi.
Arkana yang terfokus dengan hal itu sampai tidak menyadari jika di apartemennya juga ada Alina. Tanpa berfikir panjang, ia langsung masuk kedalam kamar mandinya. Yang dilihatnya saat itu sungguh diluar bayangannya.
Disana berdiri Alina yang menutupi tubuhnya dengan handuk saja sedang melakukan skin care didepan kaca. Bukan hanya Arkana, tetapi Alina juga kaget melihat pintu kamar mandi yang tiba-tiba dibuka. Dengan cepat Arkana menutup kembali pintu itu.
"Entar lagi di kunci dong, Al!" teriak Arkana panik.
"Lagian kan bisa ketuk dulu," lanjutnya.
"Ga sadar ada kamu disini ... udah ah." Arkana memilih pergi dan sarapan duluan.
Alina cekikikan didalam kamar mandi mendengar suara panik dari Arkana. Dengan cepat Alina pun menyelesaikan ritual skin care nya agar Arkana bisa segera mandi. "Buru-buru gitu kayaknya mau pergi pagi," gumam Alina.
"Hari ini emang berangkat ke kantor lebih awal?" tanya Alina sembari berjalan menuju dapur.
"Ada urusan dulu jadi mau berangkat cepet."
"Itu sarapannya udah sekalian saya siapin," lanjutnya menunjuk piring berisi sandwich.
Rencananya hari ini Alina akan mengajak Tari menginap bersamanya. Karena semalam Arkana sudah memberitahu Alina jika dirinya tidak akan pulang dan mengizinkan Alina membawa Tari kesana.
__ADS_1
Sampai hari ini Alina masih belum berani mengangkat telepon dari Rose. Bukan takut, tetapi mungkin ada sedikit rasa kecewa pada diri Alina. Karena bisa saja Rose mencegah mereka membawa Alina. Namun, Rose tidak melakukannya malam itu.
Meja makan besar milik keluarga Miller yang biasanya hanya berisi empat orang, kini berisi tiga orang saja. Rose masih saja melihat kursi yang biasa di dudukin oleh Arkana. Entah kenapa ia merasa Arkana yang tidak pulang kerumah ada kaitannya dengan Alina yang diusir keluar kemarin.
"Gausah diliatin terus ... kayak anaknya ga pernah ga pulang saja," tegas John Miller.
"Arkana di apartemen Ma, dia ada banyak kerjaan jadi lebih deket kalo dia disana," ucap Baskara menenangkan ibunya.
"Itu anak dibiarin aja lah, jadi manja nanti kamu khawatir terus." Setelah berkata seperti itu Tuan Miller pun pergi bersama beberapa asistennya.
Di apartemennya, Arkana sebenarnya cukup kasihan kepada Alina jika harus berdiam diri terus disana. Ia melihat Alina hanya memindah-mindahkan channel televisi tanpa benar-benar menontonnya.
"Al ... hari ini mau ikut saya?" tanya Arkana.
Mendengar itu kedua mata Alina terbuka dan binar-binar terlihat dari bolah matanya, "Kemana?" tanyanya.
"Rumah sakit pinggiran kota, perjalanannya ga bentar tapi ... "jelaa Arkana.
"Ikut!"
"Bentar aku ganti baju dulu." Alina dengan semangat langsung kembali ke kamarnya.
Mau tidak mau Arkana pun harus menunggu Alina bersiap-siap. Lagi pula tidak ada salahnya mengajak Alina, toh ini juga ada hubungannya dengan kakak kandungnya sendiri. Surat kesehatan Kai yang Arkana miliki juga didapatkan dari Alina.
Sembari menunggu Alina, Arkana mengecek detail info yang berhasil didapatkan Satrio. Bisa dilihat kalau dokter itu sepertinya bisa diajak bekerjasama. Arkana tidak mau ada Agus kedua kali ini.
Arkana tiba-tiba dikagetkan oleh seorang wanita muda yang keluar dari kamarnya. Wanita itu berhasil mengejutkan lelaki didepannya dengan memakai pakaian ala pantai seperti akan pergi berlibur. Mereka memang ada di daerah pantai, namun tidak ada dalam rencana Arkana untuk ke pantai.
Ini anak kurang banget piknik apa gimana sih?
__ADS_1