
"Makasih ya hari ini, aku seneng banget."
"Iya, sama-sama," tutur Arkana berjalan menuju kamarnya.
Alina pun kembali ke kamarnya. Hari ini ia melihat banyak sisi dari Arkana yang belum pernah dilihat sebelumnya. Alina senang karena kakaknya memiliki teman seperti Arkana. Alina tidak sabar untuk memamerkan kedekatan nya dengan Arkana kepada Kai.
Pagi harinya Alina pergi menuju paviliun Baskara untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa. Alina cukup kaget melihat banyaknya tumpukan kardus didepan paviliun. Ia pun buru-buru masuk takut terjadi sesuatu.
Namun, Alina semakin kaget melihat adanya rak buku dan meja kerja didalam sana. Tempat yang biasanya hanya dipenuhi kanvas dan berbagai jenis cat warna beserta alat lukisnya. Sekarang bahkan tampak terlihat seperti kantor.
"Bahkan kamar Mas Arkana aja ga segininya." Alina kaget melihat perubahan yang terjadi dalam sekejap ini.
Dari arah kamarnya Baskara menyapa Alina, "Al ... bisa tolong bantu beresin buku-buku di rak."
"Ini ada apa sih Mas Baskara, kok tiba-tiba banget? berenti ngelukis?" tanya Alina jujur.
"Berhenti? engga berhenti ... cuma mau lebih fokus sama hal yang seharusnya aja," ucap Baskara yang tidak dimengerti Alina.
Jika Arkana tahu kakaknya tiba-tiba seperti ini, dia pasti akan biasa saja. Bahkan sebelum Arkana melihat ini, semua sudah bisa menebak bagaimana reaksinya.
Alina terus saja menggelengkan kepalanya. Buku-buku yang ia tata ini merupakan buku yang tidak pernah dirinya bayangkan seorang Baskara baca. Imej nya sangat jauh dari buku ini.
Kebingungan yang sama terjadi pada Rose yang ternyata sedang mengadukan hal ini kepada Arkana di meja makan. Seperti yang sudah bisa ditebak, Arkana sama sekali tidak bergeming mendengar hal itu.
"Kamu kok ga ada reaksi apa-apanya sih, Ar." Rose jengkel dengan respon anaknya yang biasa saja.
"Baskara menghabiskan masa kecil, remaja bahkan sampai sekarang di dunia lukis ... kok sekarang tiba-tiba mau belajar bisnis lah apa lah," ucap Rose mengadu kepada anak bungsunya.
__ADS_1
"Biarin aja Ma ... dari dulu malah harusnya gitu kan, emang udah tanggung jawab dia." Respon santai dari Arkana sama sekali tidak meredakan kebingungan ibunya.
Sejak pulang bermain golf bersama ayahnya dan beberapa kolega Tuan Miller termasuk Tama, Baskara tiba-tiba berubah. Padahal John Miller selalu saja membujuk nya untuk mulai mempelajari bisnis sepertinya, tetapi Bas selalu menolaknya.
Hanya saja kali ini berbeda, Baskara secara sukarela melakukan apa yang disuruh sang ayah padanya. Sesuatu yang sudah dipelajari sejak masa kuliah Arkana.
"Udah deh Ma, selama dia ga ngelakuin yang aneh-aneh biar aja ... aku berangkat ya." Arkana pamit berangkat ke kantor kepada ibunya.
Hati seorang ibu pasti peka terutama menyangkut anak-anaknya. Rose merasa ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat pemikiran kuat Baskara berubah seperti ini. Pasti bukan karena menjadi penerus ayahnya saja, justru ada hal lain yang mendasarinya.
"Kamu kuliah ambil apa Al?" tanya Baskara kepada Alina yang masih berkutat dengan buku-buku.
"Oh ... aku ambil psikologi Mas," jawab Alina.
"Kirain ambil bisnis, saya mau minta tolong ajarin sesuatu."
Di parkiran Baskara kebetulan melihat Arkana yang sedang memanaskan motornya dari kejauhan. Hari ini Baskara pergi tanpa ditemani oleh pengawalnya. Baskara pun berjalan mendekati adiknya, "Hari ini pake motor?" tanya Baskara mengangetkan Arkana.
"Iya ... lo mau kemana?"
"Keluar bentar." Obrolan kedua saudara ini sangat canggung, semakin canggung Baskara hingga tidak sengaja menyenggol helm Arkana yang ditaruhnya diatas mobil Arkana.
"Oh ... sorry."
Arkana tidak bereaksi apa-apa selain mengambil helmnya yang jatuh dan berkata, "Mama kepikiran banget lo berubah, kasih penjelasan yang bener biar dia ga kepikiran."
Arkana kemudian memakai helmnya dan segera pergi ke kantor menggunakan motornya. Baskara hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan Arkana barusan. Baskara tahu betul yang mendadak yang dilakukannya ini pasti membuat semua orang berfikir aneh.
__ADS_1
Kalo gue ga gini ... gue gabisa lakuin apa-apa nanti buat jadi seorang kakak yang baik.
Memang ada sesuatu yang berkaitan antara ayahnya dan Arkana sehingga harus Baskara yang melakukan ini. Kalau saja ia mau bercerita dengan siapapun tentang ini, akan lebih mudah nanti kedepannya.
Baru saja sampai di kantor Arkana sudah disambut oleh tumpukan berkas diatas mejanya. Arkana hanya bisa menghela nafas panjang melihat masa depannya yang suram seharian kedepan. Satrio memperhatikan Arkana dari ruangannya dan hanya bisa tersenyum meledek.
Tiba-tiba notifikasi emailnya berbunyi. Arkana lalu buru-buru melihat isi email yang ternyata dari Satrio. Disana tertulis 'Selamat menikmati' Arkana lalu melirik curiga ke arah Satrio yang masih memperhatikannya.
Email itu berisi data pergerakan Pak Agus yang selama ini dicari Arkana. Setelah melihat isinya, Arkana memutuskan kalau hari ini dirinya akan menginap di kantor. Terlalu banyak yang harus dikerjakan nya hari ini. Arkana tidak mau mengambil resiko dengan data ini, ia akan menyimpannya di tempat yang aman.
Sementara di rumah, Alina sudah selesai merapihkan buku-buku milik Baskara di raknya. Merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukannya, Alina sedikit melihat-lihat perubahan apa saja yang sudah dilakukan Baskara kepad paviliunnya.
Muncul senyuman di wajah Alina saat melihat foto kakak beradik Baskara dan Arkana di meja kerja Baskara. Foto itu diambil saat keduanya masih kecil, "Kalo sekarang kok kayak canggung gitu sih mereka berdua." Keduanya kini hanya bisa saling perhatian secara diam-diam dan menjaga jarak masing-masing.
Namun tiba-tiba ada sebuah kartu nama yang membuat Alina penasaran. Dari tumpukan kartu nama yang ada diatas meja Baskara ada milik Tama, seseorang yang cukup sering bertemu dengan Arkana. Berjaga-jaga jika dibutuhkan nantinya, Alina pun memfoto kartu nama itu.
Selain memfoto kartu nama milik Tama, Alina juga memfoto foto bersama yang diambil saat acara golf kemarin. Ada banyak wajah yang tidak diketahui Alina, tetapi ia yakin beberapa orang disana ada yang dikenal Arkana dan bisa menjadi petunjuk.
"Bagaimana Tuan Miller memperingatkan kamu tentang pencarian yang kamu lakukan, jelas ada sesuatu dibelakangnya," gumam Alina seorang diri.
Alina berjalan keluar dari paviliun Baskara dan tidak sengaja melihat Rose berjalan seorang diri. Pelan-pelan Alina mengikuti Rose dari belakang. Dilihat dari arahnya, sepertinya Rose akan ke kebun bunga. Kebetulan Alina juga berencana kesana.
Di kebun bunga ternyata sudah ada Bi Iyah yang mulai memetik beberapa bunga yang sudah tumbuh sempurna. Umur Bi Iyah dan Rose yang dekat membuat hubungan mereka terlihat seperti teman daripada majikan dan pelayan.
"Pilih yang bagus-bagus ya, nanti kita harus ke makam anak itu ... udah lama saya ga kesana." Terdengar suara Rose mengatakan itu kepada Bi Iyah yang tidak sengaja Alina dengar.
Bu Rose punya anak lagi selain Mas Baskara sama Mas Arkana kah? anak itu ... makam siapa yang dimaksud Bu Rose ya?
__ADS_1