Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
84. BAR MIRNA


__ADS_3

Adi berhasil meluncurkan berita ter barunya, dengan itu beberapa orang suruhan Tama pun mulai bergerak. Mereka dengan cepat menaikkan berita itu. Sistem Arkana untungnya bisa mencegah mereka, namun akhirnya berhasil di bobol setelah salah satu ahli hacker untuk mengacaukan sistem itu.


Pihak dari Arkana tidak mau kalah lalu menyerang tim hack Tama. Mereka pun saling balas dan membalas, hingga memang ada beberapa berita yang lolo dan mulai disebar pada pembaca yang lain.


Telepon di meja milik Baskara akhirnya berdering dengan keras, disusul telepon yang lain diluar ruangannya. Keadaannya mulai kacau kembali seperti kemarin. Ini semua berkat ulahnya Tama dan Mirna yang licik. Tanpa disangka keduanya memamg saling cocok.


Alina kembali melihat berita yang berbeda namun dengan isi yang kurang lebih sama, muncul dengan tampilan yang berbeda. Mungkin yang cukup melegakan dari berita yang selama ini muncul tidak ada nama Arkana dan LifeCare disana.


Kekhawatiran Alina yang lain itu jika berita yang ayahnya buat bisa turut menyakiti Arkana. Menurut Alina, disini Arkana juga korban. Ia sama sekali tidak tau perbuatan ayahnya, namun hanya bisa menanggung rasa bersalah karena dirinya orang lain harus kehilangan nyawanya.


Selain itu orang-orang suruhan John Miller juga mulai bergerak mencari dalang dibalik ini semua. Jika Tama berpikir dirinya akan aman-aman saja, maka ia salah besar. Baskara sempat berkata kepada ayahnya jika Om Tama cukup mencurigakan.


Sejak awal kehadiran Om Tama selalu mencurigakan. Baskara memang selalu mengatakan itu kepada ayahnya, karena itu Baskara meminta ayahnya juga menyelidiki Tama. Sekarang orang yang paling berbahaya bukanlah John Miller, melainkan Tama.


"Arkana kemana?" tanya Rose kepada Baskara melalui telepon.


Baskara mencoba menenangkan ibunya kalau Arkana baik-baik saja dan dia sekarang ada di kantornya, "Pengawal ku juga masih sama Arkana, Ma ... gausah khawatir ya," ucap Baskara.


Entah kenapa tetapi perasaan Rose sejak kemarin selalu gelisah. Ia terus saja menanyakan Arkana. Meskipun sudah sempat saling komunikasi, tetapi rasanya kurang jika Arkana tidak berada di hadapan Rose. Rose justru lebih mengkhawatirkan Arkana dibandingkan suaminya sendiri.


"Pa, Arkana aman kan?" tanya Rose.


"Kamu lebih khawatir sama anak itu dibanding saya? saya yang jelas-jelas di serang."


"Kamu pasti aman, banyak pengawal kanan kiri ... Arkana mana ada," ucap Rose mengeluh kepada John.


"Ada pengawal Baskara, lagian dia pasti aman ... ga banyak yang tau dia anakku."


Alina merasa tidak berguna. Ia sama sekali tidak bisa membujuk ayahnya, juga tidak bisa membantu Arkana menghalau berita ini semakin menyebar. Tiba-tiba ia mengingat Mirna. Ada suatu hal yang bisa dilakukannya yaitu memaksa Mirna membuka siapa yang membantunya selama ini.

__ADS_1


Alina yakin jika Mirna tidak bekerja sendiri. Pasti ada seseorang yang membantunya. Mirna memang licik, tetapi ia tidak akan mengambil resiko seperti ini jika tidak ada seseorang yang melindunginya.


Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke bar tempat Mirna bekerja. Alina berharap bisa membantu Arkana dengan ini. Dengan mengetahui siapa yang membantu Mirna, Alina berharap Arkana bisa lebih cepat menghentikan ini.


Arkana kini sedang memimpin rapat lanjutan di kantornya. Sementara anak buahnya masih berusaha melawan pihak Tama. Arkana sedikit gelisah karena mereka tidak kunjung memberikan kabar padanya. Sesekali ia akan melihat ke arah Satrio.


Namun, saat itu Satrio hanya memberi isyarat kepada Arkana agar menyerahkan ini kepada anak buahnya. Sangat terlihat dari wajah Arkana yang sangat lelah karena semalaman tidak tidur, ditambah lagi harus memimpin rapat yang cukup panjang hari ini.


Kegaduhan di kantor mulai mereda, kini Baskara bisa menghirup nafasnya lega. Baskara tidak tahu apa ini benar berakhir atau akan ada hal lain lagi. Sebenarnya selama ini pihak yang menelepon nya bukan hanya pihak wartawan yang menanyakan kebenarannya.


Melainkan ada telepon yang kosong atau tidak ada orang yang berbicara dan berlangsung terus menerus. Baskara mencurigai jika benar Tama dalang nya, ia juga membayar orang-orang hanya untuk mengganggu kantor mereka dengan telepon palsu seperti itu.


Akhirnya Arkana berhasil menyelesaikan rapatnya juga. Sebelum itu ia memberikan apresiasi kepada karyawannya yang selalu membantunya. Setelah itu ia pun segera keluar dan pergi ke ruangannya.


Satrio yang khawatir mengikuti Arkana dari belakang. Ia kaget melihat wajah Arkana dari dekat yang terlihat sangat pucat. Satrio kemudian membantu Arkana mencari kotak almond yang selalu ada di ruangan Arkana.


"Lo juga tadi ga sarapan kan?"


"Udah ngomelnya, kalo udah pesen makan siang Sat laper gue."


Di perjalanannya mencari makan siang, Satrio kebetulan bertemu dengan Tari. Karena sering mengobrol dengan Arkana, Satrio kini mengenali Tari.


"Eh Tari," panggil Satrio dari kejauhan kepada Tari.


Tari yang menyadari itu Satrio akhirnya berlari kecil menghampirinya, "Satrio, kenapa? oh iya lo udah baca beritanya juga?" tanya Tari.


"Udah ...  Alina kabarnya gimana?"


"Alina oke, tadi pagi aku ketemu dia di kantor ayahnya."

__ADS_1


Satrio dan Tari mengobrol cukup lama sebelum akhirnya kembali ke tujuan masing-masing. Satrio menanyakan kepada Tari tentang seseorang mencurigakan yang ada disekitar Alina. Namun, menurut Tari orang seperti itu tidak ada.


Karena masih siang, bar tempat Mirna bekerja sudah buka meskipun masih kosong. Alina pun masuk dengan berhati-hati dan melihat ke sekeliling. Tetapi tidak kunjung ada orang disana. Beberapa kali ia memanggil nama Mirna, namun tidak kunjung ada tanggapan.


Alina memutuskan untuk duduk dan menunggu sampai ada orang yang keluar. Beberapa saat Alina menunggu belum juga muncul seseorang disana, "Ini kalo ada yang maling meja kursi bisa aja sih ... ga ada orang sih dari tadi," gumam Alina seorang diri.


Setelah lewat setengah jam menunggu, muncul lah seorang wanita yang kaget melihat Alina disana. Ia tidak menyangka akan ada seseorang duduk disana. Memang cukup aneh, bar jelas-jelas belum buka tetapi ada seseorang yang duduk disana seorang diri.


"Siapa ya? mau cari siapa?" tanya wanita itu.


"Saya mau cari Mirna, ada?"


"Tunggu, saya panggilan."


Tidak lama Mirna pun datang menghampiri Alina. Alina tahu raut wajah Mirna saat ini adalah palsu. Mirna menghampiri Alina dengan ramah dan penuh senyuman. Awalnya Mirna sudah membuka tangannya untuk memeluk Alina, tetapi dengan cepat Alina alihkan dengan duduk lebih dulu.


"Ada apa kamu kemari?"


"Siapa yang bayar Anda?" tanya Alina tajam.


Mirna merasa tersinggung dengan perkataan Alina, "Maksud kamu?" tanyanya.


"Iya siapa yang bayar Anda untuk peduli kepada kami dan memberitahu semuanya kepada ayah saya."


"Alina ... kamu salah kalo mengira saya ga peduli, saya selalu peduli ke kalian," ucap Mirna berpura-pura sedih.


Alina hanya tersenyum sinis melihat akting sang mantan ibunya itu. Mirna terlalu buruk dalam berakting, Alina bisa dengan cepat mengetahui jika Mirna berbohong. Alina berkata jika ia tahu ibunya sengaja memberitahu ayahnya agar ayahnya itu marah besar dan menyerang Tuan Miller.


Hal yang membuat Alina penasaran yaitu siapa yang bisa membuat Mirna se berani ini. "Saya tahu Anda, Anda tidak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan Anda."

__ADS_1


Mendengar Alina mengatakan itu, Mirna kemudian tertawa dengan keras.


__ADS_2