
Arkana akhirnya sampai di cafe yang dimaksud Tama. Disana sudah ada Tama yang duduk seorang diri sembari meminum kopinya. Didalam tidak diizinkan merokok sehingga Tama hanya memainkan pemantiknya saja. Ia lalu beridiri dan menyambut Arkana.
"Arkana Benjamin Miller ... sini kita duduk."
"Hentikan, hanya anda yang terus menerus memanggil nama lengkap saya," tegas Arkana.
"So ... saya sama sekali tidak menyangka kamu akan benar-benar datang setelah pertemuan terakhir kita."
Pertemuan mereka jelas membuat Arkana kesal dengan perkataan Tama. Namun, rasa penasarannya lebih besar dari kekesalannya itu. "Jadi untuk apa anda ingin bertemu?" tanya Arkana.
"Saya dengar kamu sekarang sedang menyelidiki hal ini dengan adik kandung anak laki-laki itu?"
"Dia punya nama ... Kai."
"Iya oke, tapi kenapa?" tanya Tama tidak mengerti kenapa Arkana bekerjasama dengan Alina.
"Anda tidak berhak atur saya."
Selain karena mereka mencari orang yang sama dengan petunjuk yang saling berkaitan satu sama lain. Arkana setuju untuk membantu Alina.
"Bukan karena kamu menyukai gadis itu?" tanya Tama tersenyum tipis.
"Bisa kita kembali ke pembahasan kita biasanya? jangan bawa-bawa dia disini."
"Well, saya hanya memberitahu jika firasatmu itu benar ... maka kamu lah yang menjadi penyebab kakaknya ... " ucap Tama yang tiba-tiba terhenti.
Arkana yang mendengar perkataan Tama kemudian tertawa terkikih. Jujur Arkana geli mendengar apa yang diucapkan oleh Tama berusan. Kemudian tiba-tiba Arkana menatap Tama dengan mengatakan, "Anda pikir saya percaya begitu saja dengan omong kosong Anda?"
"Oke fine ... disini saya mencoba memperingati kamu kalau John Miller itu berbahaya, ia bisa melakukan apa saja kepada orang-orang yang menghalanginya ... meskipun itu anaknya sendiri," jelas Tama.
"Lucu rasanya ... hari ini sudah dua orang yang memperingati saya akan hal ini. Terlebih lagi, orang-orang ini adalah orang yang berada di pihak Papa saya."
__ADS_1
Di kamarnya Alina berulang kali mencoba menelepon Arkana. Hasilnya tetap sama saja, Arkana tidak juga menjawab teleponnya. Bahkan membalas pesan darinya. Sepertinya Arkana sengaja mematikan ponselnya. Alina khawatir jika karena dirinya Arkana bisa membahayakan dirinya sendiri.
Alina pun memutuskan menunggu Arkana di teras rumah. Tidak lupa berbekal cemilan dan kopi favoritnya, Alina menunggu Arkana sampai pulang di teras rumah. Tiba-tiba terdengar suara khas yang dikeluarkan dari motor sport milik Arkana.
Arkana yang melihat Alina diam di teras rumah seorang diri pun menghentikan motornya tepat didepan Alina. "Ngapain disini?" tanya Arkana membuka kaca helmnya.
"Kenapa telepon aku ga diangkat terus?" tanya Alina.
"Oh ... sengaja dimatiin, berisik."
Alina memasang wajah kesal karena teleponnya dikatakan berisik oleh Arkana, "Aku tuh khawatir tau ga, bukannya berisik."
"Khawatir ngapain, orang saya ga ngapa-ngapain." Arkana kembali menutup kaca helmnya dan menyalakan motornya menuju parkiran belakang.
Alina kesal karena ke khawatirannya sama sekali tidak dianggap serius oleh Arkana. Ia pun memutuskan untuk mendatangi Arkana ke kamarnya. Setelah mengabaikan peringatan dari Baskara, Alina tidak mau Arkana juga mengabaikan dirinya.
Alina mengetuk kamar Arkana beberapa kali, cukup membuat berisik seisi lorong. Untung saja ruangan-ruangan disana tidak berpenghuni, karena jika iya Alina akan diseret pergi dari sana karena berbuat keributan.
"Udah dibilangin dari tadi tuh berisik banget kamu." Tangannya masih menutup mulut Alina.
Kedua bola mata besar Alina menatapnya dalam, seakan meminta agar Arkana melepaskan tangannya. "Oh iya sorry .... "
Setelah melepaskan tangannya Alina pun mulai berbicara, "Lagian kalo dikasih tau ... "ucapannya terhenti karena tiba-tiba ada beberapa pelayan yang lewat didepan kamar Arkana. Kini Alina yang menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.
Arkana lalu keluar untuk memastikan tidak ada siapa-siapa lagi yang lewat. Alina kemudian menjelaskan maksudnya kesana. Alina sempat diberitahu oleh Baskara. Mendengar kata Baskara sepertinya Arkana sudah tahu kemana arah pembicaraan Alina tanpa harus dilanjutkan lagi.
"Dia itu cuma khawatir berlebihan, Al."
"Ga usah dipikirin, saya bakal pastiin kamu aman sampe kita bisa nemuin Kai." lanjut Arkana meyakinkan Alina dengan menatapnya dalam.
Pagi harinya, Rose mengundang beberapa pelayan yang sempat untuk sarapan bersama mereka. Meja makan yang besar ini akan aneh rasanya jika hanya diisi tiga orang saja. Rose lalu meminta Alina mendului yang lain untuk ikut sarapan bersama, lalu diikuti Bi Iyah, Pak Anton, dan yang lainnya.
__ADS_1
Alina duduk disebelah Baskara dan berhadapan dengan Arkana. Ada rasa canggung yang tiba-tiba hadir diantara Alina dan Arkana karena semalam. Alina terpaksa melewati ruangan-ruangan tak berpenghuni itu untuk kembali ke kamarnya semalam.
Hari ini rencananya ada acara rutin di yayasan seperti waktu itu, sehingga Rose berniat mengajak Alina turut serta. Hari ini tepat hari ulang tahun yayasannnya. Alina lalu menolak ajakan Rose dengan sopan. Alina harus berziarah ke makam saudaranya, hari ini juga ulang tahunnya.
Alina sudah bersiap-siap untuk ke makam. Ia pun dikejutkan oleh Arkana yang beridiri didepan kamarnya, "Ada apa Mas?" tanya Alina kaget.
"Makam Kai?"
"Iya ... ayah percaya kalo kak Kai itu bukan hanya hilang tapi juga sudah tidak ada."
"Ayah ingin kami melanjutkan kehidupan kami masing-masing kedepannya seperti biasa." lanjutnya.
"Saya anterin, bentar." Belum sempat Alina menolak, Arkana dengan cepat menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Kali ini Arkana mengantar Alina menggunakan mobilnya. Kebetulan motornya sedang dibawa oleh Pak Anton ke bengkel langganannya. Motor itu motor tua, sudah pernah jatuh dengan parah namun masih bisa diperbaiki dan dinaiki hingga sekarang, meskipun banyak masalahnya.
Tidak banyak hal yang bisa dibicarakan oleh mereka berdua. Hingga tidak terasa sampai lah merek di pemakaman umum. Makam Kai sengaja hanya berupa batu nisan saja, karena tubuhnya masih belum bisa ditemukan sampai sekarang.
Alina kemudian berdoa untuk hari dimana mereka bisa menyambut batu nisan ini bersama dengan Kai. Alina berharap bisa bertemu dengan kakaknya itu dalam keadaan hidup. Alina sengaja menutup telinga dari banyaknya perkataan orang yang bilang bahwa selama ini tidak ditemukan, maka kemungkinannya sudah meninggal.
Keduanya saling diam didalam mobil. Arkana masih belum berniat menyalakan mobilnya setelah dari makam yang hanya ada nisan milik Kai.
"Udah berapa lama kayak gini?" tanya Arkana.
"Cukup lama ... beberapa tahun setelah kami ga bisa hubungi dan temuin Kak Kai."
"Dia juga ikut memberikan ide ini ke ayah." lanjut Alina.
"Dia?"
"Mirna, ibu aku dan Kak Kai."
__ADS_1
Arkana kemudian meyakinkan Alina kalau mereka akan menemukan Kai bagaimana caranya. Namun, ada satu hal yang perlu Alina terima betul yaitu kemungkinan kalau mereka menemukan Kai dalam keadaan yang tidak diharapkan.