
Alina heran sampai takut melihat respon dari Mirna yang seperti itu. Firasat nya mengatakan jika benar, ada seseorang yang membantu Mirna. Dan saat ini dia merasa dipojokan karena semua kata-kata Alina benar.
"Kamu ini ya masih kecil tau apaan soal itu."
"Kamu punya buktinya, kalo ada seseorang yang bantu saya?" lanjut Mirna menantang Alina.
"Saya memang tidak punya buktinya sekarang, tapi tunggu saja ... Saya akan pastikan kalau Anda akan kalah."
Alina kemudian pergi meninggalkan bar Mirna dalam keadaan marah. Ia sangat kesal karena Alina tahu jika Mirna pasti dibantu orang lain, tetapi Mirna masih tidak mau mengakuinya. Tetapi didepan bar Mirna ada sebuah mobil mewah berwarna hitam.
Cukup aneh rasanya tiba-tiba ada mobil mewah yang parkir di tempat itu. "Masih siang gini, masa ada mobil mewah diem disitu ... " ucap Alina curiga. Karena kecurigaan nya, Alina memutuskan untuk bersembunyi dan memantau mobil itu.
"Bisa jadi itu mobil orang yang bersekongkol sama ibu."
Kebetulan tepat didepan bar tempat Mirna bekerja ada sebuah warung nasi. Alina pun meminta izin kepada pemilik warung nasi itu untuk makan dan menunggu temannya disana, sehingga akan sedikit lama. Untung saja pemiliknya baik dan mengizinkan Alina untuk diam disana beberapa saat.
Sementara di kantor, Satrio sengaja menyuruh semua karyawan yang ada urusan dengan Arkana untuk menemui nya saja. Satrio membiarkan Arkana beristirahat dulu karena jika terus seperti itu di akan tumbang. Di ruangannya setelah makan siang tadi Arkana tertidur.
Beberapa anak buahnya mengabari Satrio jika serangannya cukup mereda untuk saat ini. Tetapi pemberitaan nya masih menjadi trending dan belum juga turun. Satrio meminta mereka untuk terus menghalau semuanya sebisa mungkin.
Alina masih menunggu di warung nasi sembari memantau mobil hitam itu. Sejak tadi Alina sama sekali tidak melihat seseorang keluar dari mobil itu. Alina sempat curiga, apa seseorang didalam sana sempat melihatnya. Hingga beberapa saat kemudian terlihat seorang lelaki masuk kedalam bar itu.
Setelah melihat lebih dekat, Alina seperti pernah melihat orang itu. Namun ia pun tidak yakin. Alina pun memutuskan untuk memfoto orang itu dan mengirimkannya kepada Arkana. Alina yakin jika Arkana sepertinya tahu orang ini.
Sementara di rumah, Rose bersama Bi Iyah sedang mengobrol di kebun bunga. Rose merasa ia tidak bisa melakukan apa-apa dengan kejadian ini. Ia hanya bisa mengkhawatirkan anak-anaknya yang ada diluar sana.
"Saya gatau kenapa khawatir banget sama Arkana."
"Mas Arkana kan selama ini ada pengawalnya Mas Baskara," ucap Bi Iyah.
__ADS_1
"Iya Bi, tapi gatau ya ada apa ya ini?"
Malam itu keadaan sudah mulai mereda, sehingga Arkana dan Satrio bisa cukup tenang meskipun tetap memantau. Sejak tadi Arkana memang tidak sempat membuka ponselnya dan baru melihat pesan dari Alina.
Arkana kaget saat melihat foto yang dikirim Alina. Bahkan ia mengirim pesan kepada Alina memastikan kebenaran foto yang dikirim nya. Alina memastikan jika foto yang ia kirim itu foto asli yang di foto oleh dirinya sendiri.
Arkana lalu menelepon Alina, "Halo, Al. Ini kamu foto dimana?" tanya Arkana.
"Didepan bar tempat kerja ibu, Mas Arkana kenal?"
"Ini Tama ... Saya pernah cerita ke kamu ga ya?"
"Ini orang yang dulu pernah mau bantuin Saya cari Kai, tapi Saya rasa ada yang aneh dari dia."
Arkana cukup kaget karena Tama ini bisa ada hubungan dengan Mirna. Apa mungkin orang dibalik Mirna adalah Tama. Selama Arkana menelepon Alina, Satrio mengecek semua informasi tentang Tama.
"Bukannya dia akan rugi kalo berurusan sama Om Miller?" tanya Satrio.
"Dia juga ada kerjasama di LifeCare, gue baru tahu beberapa hari lalu."
"Salah satu rumah sakit yang kerjasama sama kita itu, salah satu investor besarnya adalah Tama," lanjut Arkana.
Arkana kemudian mencoba memberitahu Baskara tentang yang ia temukan. Ternyata Baskara sejak lama memang sudah mencurigainya. Salah satu alasan Baskara ingin turun langsung mengurus bisnis ayahnya lebih cepat karena ia curiga dengan Tama.
Tama tidak biasanya berada didekat ayahnya. Selama ini Baskara hampir tidak pernah melihat Tama berada di satu lingkungan yang sama dengan ayahnya. Namun, beberapa waktu terakhir Tama selalu hadir dimana pun ayahnya mengadakan sebuah acara.
"Gue tau Om Tama ini berhubungan juga sama lo, jadi gue mau cari tau lebih makanya gue join papa lebih awal."
"Ternyata itu alesan lo, Bas." Arkana akhirnya tahu alasan Baskara yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Sesuai arahan Baskara, John Miller kini meminta anak buahnya untuk mengamati pergerakan Tama. Mereka sudah mulai mencurigai Tama sekarang. Namun, Tama bukanlah Tama jika tidak memiliki rencana licik lainnya.
Tama mengungkapkan identitas Arkana Benjamin Miller. Saat ini Tama sudah tidak peduli lagi, ia mulai merasakan kerugian setelah sistemnya diserang habis-habiskan oleh anak buah Arkana. Satrio mengabari Arkana jika saat ini muncul pemberitaan tentangnya.
Mendengar itu, Arkana hanya tersenyum. Ia semakin yakin jika ini perbuatan Tama. Karena hanya Tama yang tau hubungannya dengan John Miller. Untungnya, Arkana sudah menebak hal ini pasti akan terjadi. Sehingga dengan cepat timnya menghalau berita itu.
Justru, sistem yang dibuatnya untuk melindungi LifeCare lebih baik dibandingkan sistem yang sebelumnya ia buat untuk menghalau berita tentang ayahnya. Sistem yang sebelumnya hanya sistem pengujian, jika gagal Arkana dengan cepat bisa memperbaikinya.
Sementara Rose terus meminta Arkana untuk pulang ke rumah. Sejak kemarin Rose selalu mengkhawatirkan anak bungsunya. Rose tidak tahu kabar dan keadaan Arkana sekarang. Arkana memang cukup sulit dihubungi sejak kemarin.
Ia terlalu fokus bekerja dan mengurus semua kekacauan ini. Tetapi sekarang Arkana bisa lebih bernafas lega, menurut Alina ayahnya sudah mulai reda. Emosinya tidak sebesar sebelumnya, meskipun memang belum bisa sepenuhnya memaafkan.
Menurut Adi selama makam Kai belum ditemukan, ia tidak akan memaafkan keluarga Miller. Selama John Miller tidak meminta maaf kepadanya secara langsung, ia tidak akan berhenti menyuarakan keadilan untuk anaknya.
Setelah mendengar permintaan ibunya, malam ini Arkana pun pulang kerumahnya. Ia bahkan tidak memperdulikan kehadiran ayahnya disana. Arkana hanya ingin fokus kepada ibunya yang sejak kemarin mengkhawatirkan nya.
Begitu sampai dirumah, Rose langsung memeluk erat Arkana. Rose meraba-raba seluruh wajah dan tubuh Arkana. Ia juga mengecek suhu tubuhnya. Arkana yang kebingungan hanya bisa dia menuruti apa yang Rose inginkan.
"Udah puas medical check up nya Ma?" tanya Arkana meledek Rose.
"Mama ga tenang terus selama kamu ga pulang ... Mama takut kamu kenapa-kenapa, Ar."
Arkana menggenggam erat tangan ibunya dan memastikan dirinya akan baik-baik saja. Banyak orang yang akan menjaganya. Lagipula ia bisa melakukan bela diri, sehingga Rose tidak perlu kuatir.
Keduanya saling menatap penuh kehangatan, Rose seperti tidak mau lepas dari pelukan Arkana. Baskara yang melihat itu dari jauh juga bisa merasa lega karena Arkana akhirnya pulang. Tiba-tiba pengawalnya yang selama ini mengawal Arkana memberi laporan kepada Baskara.
"Mas ... saya sempat melihat beberapa orang mencurigakan yang terlihat memantau Mas Arkana dari kejauhan."
"Oke, kamu pantau terus aja ya ... saya bersama pengawalnya papa jadi kamu sementara ini sama Arkana ya," tutur Baskara kepada pengawalnya.
__ADS_1