Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
31. BINTANG


__ADS_3

Arkana dengan hati-hati memapah tubuh Alina. Karena kedua matanya yang sembab membuat Alina tidak bisa melihat dengan jelas. Kedua matanya pun perih karena terus menangis sejak tadi. Arkana membawa Alina ke mobilnya, memastikan Alina masuk dan memasangkan seatbelt padanya.


Masih dibawah pengaruh minuman, Alina tiba-tiba membuka seatbelt itu dan berjalan keluar. Arkana sempat tidak menyadari itu. Saat masuk kedalam, Arkana langsung kaget karena tidak melihat Alina disana. Dengan khawatir Arkana melihat ke sekeliling mencari Alina.


Tari dan Satrio yang menyusul mereka keluar pun ikut mencari Alina. "Pasti dia belum jauh, ayo berpencar," ucap Satrio.


Setelah mencari kemana-mana, Arkana akhirnya menemukan Alina sedang terduduk didepan sebuah minimarket. Arkana lalu berjalan menghampiri Alina. "Ngapain disini?" Arkana menurunkan tubuhnya dan menyamakan tingginya dengan Alina.


"Hei ... ngapain disini?" tanya Arkana meraih dagu Alina yang menunduk.


Kedua mata Alina menatap Arkana. Matanya berkaca-kaca, kemudian dengan tiba-tiba memeluk Arkana. Alina kembali menangis sambil memeluk Arkana.


"Kak Kai ... " gumam Alina pelan, tetapi terdengar dengan jelas ditelinga Arkana.


Alina mengingat saat perasaan hatinya sedang buruk karena ibu mereka, Kai selalu ada disana menenangkan Alina. Perlakuan yang dilakukan Arkana barusan, sama persis dengan apa yang selalu dilakukan Kai padanya.


*Kai? Kai Pradipta ... Dari mana* Alina tahu Kai? 


Alina masih memeluk Arkana erat, tetapi tiba-tiba pundak Arkana terasa berat. Setelah lelah menangis Alina pun tertidur dipundak Arkana. Tidak sempat menanyakan tentang Kai, Arkana pun menggendong Alina menuju mobilnya untuk segera pulang.


Setelah aman didalam mobil, Arkana pun segera menyalakan mobilnya. Sebelum itu Tari menitipkan Alina kepada Arkana, "Jagain ya," ucapnya.


"Tenang. Sat, gue pulang."


Diperjalanan pulang, sesekali Arkana melihat ke arah Alina yang masih tertidur pulas. Ini kali kedua Alina tertidur di mobil Arkana. Terakhir kali, tanpa rasa bersalah Arkana meninggalkan Alina dimobilnya. Namun, apakah kali ini juga begitu?


Jalanan kota yang cukup lengang membuat perjalanan mereka menuju rumah terasa lebih cepat. Tidak terasa keduanya sampai di rumah keluarga Miller. Setelah memarkirkan mobilnya, Arkana melihat Alina masih tertidur. Dengan perlahan ia buka seatbelt yang dipakai Alina.


Hati-hati Arkana menggendong Alina masuk kedalam rumah. Pelayan mereka membantu Arkana membukakan pintu untuknya. Rose yang kebetulan berada disana kaget melihat Arkana menggendong Alina. Ia mengira terjadi sesuatu dengan Alina.


"Alina kenapa, Ar?" cemas Rose melihat keadaan Alina.


"Ketiduran Ma ... aku bawa ke kamarnya ya."


Sampai di kamar Alina, Arkana meletakkan Alina diatas kasurnya. Bi Iyah menyusul kedalam dan membantu dengan membukakan sepatutnya lalu menyelimuti Alina.

__ADS_1


Rose terlihat khawatir melihat Alina pulang dalam keadaan seperti itu. Rose menanyakan kepada Arkana, tetapi Arkana pun sebenarnya tidak tahu alasan Alina seperti itu. Rose lalu mengecek luka dipunggung anaknya itu.


"Tadi dipake gendong Alina, gapapa ini?" tanya Rose, memegang punggung Arkana.


"Gapapa ... aku juga ke kamar ya Ma, mau mandi."


Bi Iyah masih berada di kamar Alina. Bi Iyah juga tidak kalah khawatir melihat Alina yang biasanya ceria menjadi seperti ini. "Sedih banget ya Al ... bengkak gini aduh matanya." Bi Iyah memastikan Alina nyaman dengan posisi tidurnya, lalu pergi keluar dari kamar Alina.


Di kamarnya Arkana berdiri memperhatikan fotonya dengan Kai. Ia terus mengingat kata-kata Alina tadi. "Sebenernya hubungan lo sama Alina apa sih, Kai?" Arkana kembali mengingat perkataan pria misterius yang ditemuinya. Katanya jawaban dari pertanyaannya justru ada dirumahnya sendiri.


"Kai bahkan belum pernah kesini, Mama sama yang lain juga ga ada yang kenal dia .... "


"Apa ada orang dirumah ini yang tau Kai?" pikiran Arkana kini kembali dipenuhi dengan banyak pertanyaan tentang keberadaan Kai.


Keesokan paginya Alina bangun dengan kepalanya yang terasa pusing. Tubuhnya juga terasa tidak enak. Namun, Alina juga bingung bagaimana caranya bisa sampai kesini. "Tari yang bawa kesini? tapi masa sih .... " Alina melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


Dengan perlahan ia bangun dari kasurnya dan beranjak mandi. Alina mengintip keluar dan melihat keadaan sekitar. Alina berharap tidak banyak orang yang melihat keadaannya semalam. Meskipun ia sendiri pun tidak ingat bagaimana keadaannya.


Bi Iyah tidak sengaja lewat dan memergoki Alina yang mengintip dari kamarnya. "Heh, lagi apa?" tanya Bi Iyah, yang direspon dengan senyuman malu dari Alina. Ingatan terakhir Alina tentang semalam yaitu saat dirinya terjatuh, setelah itu ia tidak yakin.


"Sekitar jam sebelas atau dua belas gitu ya."


"Semalem temenku yang anter pulang ya?" tanya Alina lagi, meyakinkan dirinya kalau Tari yang mengantarnya.


"Mas Arkana." Bi Iyah kemudian pergi menuju dapur.


Mas Arkana? Kok bisa Mas Arkana yang bawa aku pulang ... gimana caranya? 


Alina berfikir dengan keras mengingat kejadian semalam. Apa yang dilakukannya, dan bagaimana ia bisa bertemu dengan Arkana. Apa Arkana ada di bar itu juga? apa berarti Arkana juga melihat keadaannya semalam? Semua pertanyaan itu sekarang yang memenuhi isi kepala Alina.


Pagi-pagi sekali Arkana sudah berangkat ke kantor. Hari ini ada pertemuan penting yang harus dihadirinya. Sebagai seorang CEO di perusahaannya, Arkana ingin memastikan semuanya berjalan sesuai dengan yang diinginkannya. Selain itu, Arka juga ingin karyawannya bisa mencontoh cara bekerjanya.


Ketika ada sebuah pertemuan penting seperti ini, Arkana selalu turun tangan sendiri. Bukan berarti tidak percaya dengan karyawannya, hanya saja sifat perfeksionisnya yang membuatnya begitu.


"Semalem itu siapa Ar?" tanya Satrio disela-sela menyiapkan berkas di ruangan Arkana.

__ADS_1


"Alina ... yang kerja sama Baskara."


"Tumben tapi lo peduli sama orang yang kerja sama Mas Baskara?" tanya Satrio heran dengan Arkana yang tidak biasanya begitu.


"Udah lah gausah dibahas."


Arkana mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Namun, Satrio yakin ada sesuatu yang terjadi antara Arkana dan Alina. Karena Arkana bukan tipe yang ramah kepada orang yang baru dikenalnya. Satrio senyum-senyum sendiri sembari memikirkan banyak kemungkinan tentang hubungan Arkana dan Alina.


"Gila apa lo senyum-senyum sendiri."


"Sana bantu yang lain siapin materinya," tegas Arkana.


Alina duduk di kursi yang berada di kebun bunga. Malam ini Alina berhasil membantu Rose menyelesaikan beberapa bucket bunga untuk dikirim ke yayasan besok pagi. Rose cukup khawatir dengan keadaan Alina semalam.


Alina pun meyakinkan Rose kalau dirinya tidak apa-apa, hanya masalah dengan keluarganya dirumah dan bukan masalah besar. Rose berkata jika ada sesuatu yang perlu Alina ceritakan, ia bisa ceritakan itu kepada Rose. Rose siap mendengarkannya.


Alina bersyukur karena disini ia dikelilingi oleh orang-orang yang perhatian dengannya. Arkana dan Baskara beruntung memiliki ibu yang perhatian dan penuh kasih sayang seperti Bu Rose.


"Bintangnya bagus banget malem ini," gumam Alina berbicara sendiri.


"Iya bagus."


Alina kemudian melirik ke arah sampingnya, ternyata Arkana.


"Lagi-lagi ditempati duluan ... kamu tau ga, ini itu tempat favorit saya sekarang direbut sama kamu."


"Oh sorry ... aku pergi deh," ucap Alina tiba-tiba berdiri.


"Udah disini aja, lagian ga asik bengong sendirian." Arkana meminta Alina untuk tetap disana.


Setelah beberapa saat saling diam, Alina memulai pembicaraan mereka, "Makasih semalem kata Bi Iyah Mas Arkana yang bawa aku pulang ya?" ucap Alina. Arkana hanya meresponnya dengan anggukan. "Maafin ngerepotin."


"Kalo mau di maafin, jawab dulu pertanyaan saya." Arkana menatap Alina dalam.


"Kai ... gimana kamu bisa kenal Kai?" tanya Arkana.

__ADS_1


Kok Mas Arkana tiba-tiba nanya ini ... semalem aku ngomong apaan sih? 


__ADS_2