
Sejak pagi Alina membereskan peralatan lukis milik Baskara yang berantakan. Semalaman Baskara mengerjakan lukisan yang akan dipajang di salah satu rumah sakit milik sang ayah. Sebenarnya tidak banyak yang perlu dilakukan disana, Alina sampai heran untuk apa Baskara mempekerjakan dirinya.
"Oh iya ... jadi tadi pagi kamu ketemu Arkana?" tanya Baskara dengan tangan fokus melukis.
"Iya, ada yang salah?" tanya Alina sedikit bingung dengan nada bicara Baskara.
Nada bicaranya terdengar seperti Alina tidak seharusnya bertemu dengan Arkana, atau bahkan Arka yang tidak seharusnya bertemu Alina. Sejak hari pertama Alina belum pernah melihat keduanya saling mengobrol satu sama lain.
"Engga, masih aneh rasanya liat dia ada dirumah ini ... " jawab Baskara berhenti melukis dan membalikkan badannya menghadap Alina.
"Dia punya dunianya sendiri, selalu menjauh dan ga pernah ada dirumah."
Alina cukup heran mendengar Baskara mendadak menceritakan hal ini kepadanya. Orang asing yang sama sekali tidak dikenalnya. "Arkana itu lebih muda dari Mas Baskara kan? Beda berapa tahun?" tanya Alina penasaran.
"Satu."
Tidak ingin bercerita terlalu dalam, Baskara mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Alina kembali saja kedalam rumah. Karena tidak ada hal lain yang perlu dikerjakannya. Alina pun kemudian keluar dan memilih pergi ke kebun bunga.
Pagi ini Alina belum sempat menyiram bunga-bunga disana. Menurut Rose, hari ini sudah ada beberapa bunga yang bisa dipetik. Rose biasanya mengganti pajangan bunga dengan bunga-bunga segar itu. Membicarakan Rose, sejak pagi tadi Alina belum melihatnya. Terlalu besar rumah ini sehingga cukup sulit menemukan seseorang disana.
Berjalan disekeliling rumah itu rasanya seperti ada didalam labirin tanpa jalan keluar. Alina bagaikan terperangkap disana dengan sukarela. Dirinya tidak ada pilihan lain selain berada disana. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Al ... katanya rumah keluarga Miller mau di liput, aku baca di berita hari ini."
"Kamu udah tau?" tanya Tari heboh dari balik telepon.
"Di liput? berarti bakal banyak wartawan kesini?" tanya Alina kembali.
__ADS_1
"Harusnya sih iya ya ... " jawab Tari.
Apakah ini sebabnya seharian ini tidak melihat Rose. Sepertinya ia sedang menyiapkan beberapa hal untuk hari ini. Tetapi ada yang aneh. Jika memang rumah ini akan di liput media, setidaknya beberapa pelayan akan melakukan bersih-bersih. Namun, semuanya terlihat normal disini.
Keluarga Miller memang cukup sering menjadi berita utama di beberapa media. Selain karena pencapaian Tuan Miller, beberapa orang banyak yang penasaran dengan bagaimana kehidupan mereka sebenarnya. Mereka cukup tertutup, sepertinya sampai sekarang tidak ada yang pernah berhasil meliput hingga masuk kedalam rumah ini.
Alina yang memiliki Ayah seorang wartawan, kurang lebih tahu tentang keluarga ini. Banyak rumor yang semakin membuat orang-orang penasaran. Salah satunya adalah keluarga Miller adalah keluarga mafia. Sehingga seluruh kehidupan pribadi mereka tidak ada yang bisa mengetahuinya secara pasti.
Bahkan ada yang memberitakan salah satu anak Tuan Miller yang tidak pernah dibicarakan itu memiliki sebuah penyakit aneh sehingga terus ditutupi keberadaannya. "Padahal Mas Arkana keliatan baik dan normal-normal aja ah ... " ucap Alina berbicara sendiri didepan foto keluarga Miller.
"Sekarang aku udah berhasil masuk, dan ternyata ga ada yang aneh seperti yang diberitakan orang-orang."
"Jujur penasaran sih kok Mas Arkana ga pernah muncul di pemberitaan ya?" Banyak hal yang membuatnya a penasaran selama berada dirumah itu.
Turun dari mobilnya adalah seorang lelaki tinggi menjulang dengan jaket kulit hitam favoritnya masuk kedalam sebuah kantor dan disambut beberapa orang. Salah satu dari mereka membawa sebuah kopi yang kemudian disodorkannya kepada lelaki itu.
"Hari ini rapat jam?" tanya lelaki itu singkat.
"Majuin ... habis makan siang saya harus keluar."
"Saya coba aturkan," ucap karyawan itu gesit.
Mereka kemudian masuk ke dalam lift menuju salah satu lantai yang dikhususkan bagi CEO perusahaan itu. Satu lantai yang hanya bisa diakses oleh beberapa orang saja. Siapapun yang naik ke lantai itu memerlukan kartu khusus.
Sampailah di sebuah ruangan besar dengan interior minimalis. Tidak banyak warna mencolok disana. Mungkin hanya ada sebuah area khusus yang sengaja dibuat untuk bermain dart. Didalam sana keduanya terlihat tidak se formal tadi.
Duduklah lelaki itu di sebuah meja dengan plakat nama bertuliskan Arkana B. Miller, Chief Executive Officer (CEO). Menggantungkan jaketnya didekat kursinya, Arkana mulai berbicara santai dengan karyawannya yang sedari tadi bersamanya. Dia adalah Satrio, sahabat sekaligus asisten pribadinya.
__ADS_1
"Habis makan siang mau kemana Ar?" tanya Satrio meletakkan beberapa berkas diatas meja Arkana.
"Ada lah suatu tempat."
"Kali ini kayaknya saya harus stay di rumah beberapa waktu," ucap Arkana tiba-tiba mengangetkan Satrio.
"Tumben banget biasanya seminggu udah balik lagi ke apartemen," balas Satrio heran.
"Ada yang bikin penasaran." Arkana tersenyum tipis, membuat Satrio kebingungan.
Rapat diadakan dua jam lebih awal dari rencana. Yang berarti mereka harus memotong waktu makan siang mereka, tetapi sebagai gantinya akan diberi waktu makan siang lebih panjang dari seharusnya. Se keras dan perfeksionisnya Arkana, dia adalah pemimpin yang baik jika dibandingkan dengan ayahnya.
Setelah rapat Arkana langsung pergi dari kantornya. Pagi tadi dirinya di antar oleh supir pribadi keluarga Miller karena mobilnya rusak dan motornya juga ada gangguan. Supirnya jadi harus menunggu Arkana hingga selesai urusannya di kantor.
"Maaf Pak, saya udah usahain lebih cepet padahal."
"Gapapa Mas, aduh ga perlu minta maaf ... sudah tugas saya," ucap Pak Anton.
Arkana selalu diajarkan ibunya untuk berlaku sopan. Meskipun begitu masih saja banyak orang yaang salah paham dengannya.
Tujuannya kali ini adalah bengkel mobil. Tanpa diketahui sang ibu, Arkana mengalami kecelakaan hebat beberapa hari yang lalu. Membuat mobilnya rusak total dan harus menginap di bengkel. Untung saja dirinya tidak mengalami luka serius, sehingga masalah ini bisa dirahasiakan dari ibunya.
Dirumah keluarga Miller akhirnya Alina berhasil bertemu dengan Rose yang sedang memetik beberapa bunga segar di kebunnya. Tanpa basa-basi Alina pun menanyakan tentang liputan yang akan diadakan dirumah keluarga Miller. Dengan sedikit tertawa Rose membenarkan hal itu.
Beberapa wartawan akan datang kesana dengan maksud meliput kantor workshop milik Baskara. Rose kemudian menenangkan Alina jika liputan yang sebenarnya tidak akan diadakan disini. Tuan Miller sudah menyiapkan sebuah rumah pengganti yang posisinya di bagian bawah bukit, dan cukup jauh dari sini.
"Privasi dirumah ini selalu diutamakan oleh ayahnya Baskara," ucap Rose tersenyum hangat, menyerahkan beberapa bunga hasil petikannya kepada Alina.
__ADS_1
"Dan ini, akan kita rangka untuk hiasan dirumah itu."
Keduanya pergi kedalam dengan membawa satu keranjang bunga segar. Rose tidak punya anak perempuan, sehingga Alina bisa langsung dekat dengannya. Kepribadian Alina yang cerah membuat Rose menyukainya.