
Arkana masih terus menancap gas nya tanpa melihat ke belakang seperti yang dikatakan Kai. Ia sangat yakin saat ini Kai tepat berada dibelakangnya. Gerimis yang membuat jalanan licin tidak membuat Arkana menurunkan kecepatan motornya.
Hingga akhirnya sampai di wilayah rumahnya membuat Arkana bisa sedikit lega. Namun tiba-tiba ada sesuatu di tengah jalan yang membuat dirinya kehilangan kontrol akan motornya dan akhirnya terjatuh.
Arkana terjatuh dengan cukup parah. Hampir saja helm yang digunakannya terlepas. Meskipun begitu tidak membuat Arkana berhenti dengan cepat ia meraih motornya kembali sekuat tenaga. Saat itu juga ia menyadari kalau Kai tidak ada dibelakangnya.
Arkana yang panik ditambah dengan tubuh babak belurnya dan efek yang timbul karena jatuh dari motor hampir saja pingsan. Namun mendengar suara teriakan yang masih mengejarnya membuatnya tidak bisa berhenti disini. Arkana kembali mengendarai motornya.
Dikit lagi Ar ... dikit lagi sampe rumah.
Benar saja sesaat setelah gerbang terbuka dan Arkana berhasil masuk kedalam. Begitu ia turun dari motor dan membuka helmnya, Arkana langsung pingsan tidak sadarkan diri. Satpam yang panik segera memanggil Rose yang kebetulan ada dirumah.
Rose keluar dengan berlari panik bersama Bi Iyah. Melihat keadaan anak bungsunya yang penuh dengan darah membuatnya tidak berhenti menangis. Terlebih lagi, Baskara saat itu juga sedang dalam keadaan yang buruk. Secepatnya membutuhkan donor.
"Ayo cepet kita bawa ke rumah sakit ... ayo."
"Siap." Pengawal disana dengan sigap membawa Arkana ke rumah sakit seperti yang Rose perintahkan.
Rose tidak siap harus kehilangan anaknya. Kondisi Arkana saat itu benar-benar membuat Rose trauma hingga kini. Setiap anaknya harus pergi berkendara motor selalu membuat dirinya was-was. Ia sama sekali tidak mau hal itu terulang lagi.
Sesampainya di rumah sakit dengan cekatan dokter disana menangani Arkana. Rose meminta mereka untuk melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan anaknya. Di waktu yang bersamaan Tuan Miller juga datang ke UGD melihat keadaan Arkana.
Apa yang dipikirkannya sama sekali tidak bisa ditebak. Kepanikannya saat itu apakah murni karena kondisi Arkana atau kah karena kemungkinan Baskara gagal mendapatkan donornya karena kondisi Arkana sekarang.
__ADS_1
Rose yang melihat suaminya datang segera menghampirinya. Tuan Miller mencoba menenangkan istrinya kalau Arkana akan baik-baik saja, "Arkana akan baik-baik saja ... tidak, dia harus baik-baik saja."
John Miller masih yakin jika Arkana masih bisa melakukan donor hati untuk Baskara. Hingga dirinya tiba-tiba dipanggil oleh Dokter Indra. Dokter Indra harus menyampaikan sebuah kenyataan yang harus diterima John Miller.
"Arkana tidak bisa mendonorkan hatinya untuk Baskara ... kondisinya saat ini terlalu lemah untuk melakukan itu, ditambah benturan yang ada ditubuhnya membuat kondisi organ dalamnya dalam keadaan tidak baik."
"Tapi hatinya baik-baik saja kan?" ucap John.
"Saya tidak merekomendasikan prosedur itu tetap dilakukan, akan berpengaruh buruk pada Arkana."
Mendengar itu Rose menangis histeris. Sudah jelas ia tidak mau kehilangan Arkana seperti itu. Saat itu Rose sangat menentang John Miller untuk memaksakan prosedur donor dilakukan. Melihat kondisi keduanya, saat ini yang lebih buruk justru Arkana jika dibanding Baskara.
John Miller sangat marah. Ia tidak bisa membiarkan Baskara tidak mendapatkan donornya. Namun disisi lain, Arkana juga anaknya. Seberapa tidak sukanya ia dengannya, Arkana masih tetap anaknya.
Sejak Arkana dipindah ke ruang rawat, Rose tidak meninggalkan anaknya itu meski sebentar. Rose mengelus pelan kepala Arkana, "Mukanya sampe kayak gini gara-gara babak belur," ucap Rose. Rose tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Arkana, tetapi ia lega Arkana masih bisa bersama dengannya saat ini.
Arkana tidak sadarkan diri selama empat hari lamanya. Sayangnya saat ia terbangun, hanya amarah ayahnya yang menyambutnya. John Miller marah besar karena Arkana tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.
"Kamu harusnya tau betul sama tanggung jawab kamu buat jaga tubuh itu dengan baik."
"Ini malah berantem, mau jadi jagoan kamu?" John Miller masih tidak berhenti memarahi Arkana.
"Sekarang gimana ... gabisa di donorin kan, rusak karena kelakuan kamu sendiri, Baskara sekarang gimana .... " Arkana hanya bisa memalingkan pandangannya ke arah yang lain dan tidak berani memandang langsung sang ayah.
__ADS_1
Arkana yang baru saja sadar harus langsung mendengar kata-kata menyakitkan dari ayahnya sendiri. Arkana merasa dirinya tidak berguna, di waktu yang bersamaan juga ia khawatir dengan keadaan Kai. Kai mendadak hilang dan Arkana tidak tahu dia ada dimana.
Arkana bahkan tidak bisa menangis dihadapan ayahnya. Padahal ingin rasanya ia menangis karena beban yang selama ini diberikan kepadanya, kegagalannya menyelamatkan Baskara, bahkan kehilangan Kai. Ditambah lagi kondisinya yang masih lemah.
Rose menggenggam erat tangan anaknya. Rose tau betul apa yang dirasakan Arkana saat ini. Tidak pernah sekalipun ia melihat anaknya dalam kondisi seperti ini. Mentalnya benar-benar dijatuhkan sang ayah, Arkana tidak tahu harus bagaimana selanjutnya.
Hingga beberapa hari setelahnya Arkana mendengar ada seseorang yang menggantikannya sebagai pendonor bagi Baskara. Arkana terus bertanya tentang orang itu kepada ibunya. Tetapi Rose sendiri tidak tahu dengan baik, itu hanya urusan John Miller.
Saat itu tidak ada yang tahu secara pasti siapa pendonor pengganti itu. Hanya orang yang menangani langsung proses itu yang tahu. Arkana merasa bersalah, karenanya orang itu harus menjadi pendonor pengganti.
Bahkan setelah prosesnya selesai, dan Baskara berhasil diselamatkan. Identitas pengganti itu masih dirahasiakan oleh semua orang, termasuk Dokter Indra. Satu hal yang hingga saat ini tidak diketahui orang-orang yaitu Baskara mengetahui siapa pendonornya.
Sejak saat itu hubungan antara John Miller dan Arkana semakin jauh satu sama lain. Arkana bahkan sampai memutuskan untuk kuliah di luar kota dan akhirnya sampai melanjutkan S2 di Boston. Arkana sama sekali tidak kembali ke rumahnya.
Berbagai upaya dia lakukan untuk mencari tahu siapa pendonor itu juga mencari tahu keberadaan Kai. Sayangnya upaya itu selalu digagalkan oleh John Miller. Tidak kunjung mendapatkan petunjuk apa-apa, Arkana kemudian berjanji akan mendapatkan powernya sendiri dan mengalahkan ayahnya.
"Waktu saya ketemu kamu di bar, itu kayaknya sebelum saya pergi ke Boston deh."
"Kamu juga ngapain masih kecil udah kerja ditempat kayak gitu," tutur Arkana.
"Cari uanglah ... di bar dapetnya banyak, tapi gara-gara Mas Arkana aku jadi dipecat," ucap Alina yang kembali mengingat saat itu.
Didepan gue ada adik lo Kai ... ga kayak waktu gue malah pergi dan biarin lo hilang, kali ini gue pastiin bakal jaga adik lo dari apapun. Gue janji, Kai.
__ADS_1