
Sesaat setelah Arkana pergi meninggalkan sekolahnya, Alina sempat membalikkan badannya. Ia merasakan seperti ada yang memperhatikannya. Tetapi Alina kemudian mengabaikannya dan masuk kedalam sekolah itu. Kebetulan Alina memiliki kenalan salah seorang guru disana.
Alina bisa mengenal guru tersebut dari Tari. Guru itu telah mengenal orang tua Tari sejak lama. Mengetahui jika Alina tertarik menjadi guru konseling akhirnya membuat ayah Tari merekomendasikannya kepada guru disekolah itu.
Alina langsung dipanggil dan diminta menemui kepala sekolah disana. Hari ini kebetulan hari dimana Alina akan bertemu kepala sekolah itu. Mulanya Alina merasa ragu karena rencananya menjadi guru konseling di sekolah tingkat menengah atau dasar.
Namun sekolah ini adalah sekolah menengah, Alina ragu bisa menghadapi murid-murid disana. Tetapi ini bukan saatnya untuk memilih pekerjaan. Mendapat rekomendasi dan langsung bertemu dengan kepala sekolahnya merupakan hal yang langka terjadi.
Alina harus menghargai semua orang dibelakang ini. Alina sudah berjanji kepada Tari jika dirinya berhasil mendapatkan pekerjaan disana, ia akan mentraktirnya di bar langganan mereka. Kebetulan Alina juga kembali diterima bekerja part time disana.
Jadi rencananya jika Alina berhasil bekerja di sekolah ini, malamnya di akhir pekan Alina juga akan bekerja di bar langganan nya. Berlangganan di sebuah bar ternyata memiliki keuntungan bagi Alina. Buktinya ia bisa dengan mudah mendapat kesempatan kembali bekerja disana.
Mengingat bagaimana ia bisa dipecat saat itu, kembali membuat Alina teringat Arkana. Karena saat itu yang menyebabkan Alina dipecat yaitu Arkana yang mengadukannya kepada pihak manajer. Saat itu Arkana masih tidak peduli dengan orang disekitarnya.
Kini Alina hanya berharap saat bagiannya bekerja tidak ada Arkana disana. Arkana juga pelanggan tetap di bar itu, ia cukup sering pergi kesana bersama teman-temannya termasuk Satrio. Akan tidak jadi masalah jika Alina bertemu Satrio, tetapi Alina akan sangat menghindari Arkana.
Alina tidak mau hatinya kembali goyah saat melihat Arkana. Perasaannya masih perlu ia tata dengan baik. Bahkan hingga saat ini Alina masih belum berani memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Kesehatan ayahnya saat ini menjadi prioritas utama Alina.
Sesampainya di kantor Arkana tidak langsung bekerja, melainkan menghampiri Satrio di ruangannya. "Sat, sibuk?" tanya Arkana didepan pintu.
"Masuk ... kenapa lo? Masih pagi ini," ucap Satrio heran melihat wajah kusut sahabatnya pagi itu.
"Tadi pagi gue liat Alina ... terus waktu gue coba ikutin, dia malah masuk ke sekolah kita."
__ADS_1
"Sekolah kita? SMA? sekolah Kai juga dong," ucap Satrio kaget.
"Mau ngapain?"
Arkana hanya menggelengkan kepalanya, ia pun tidak tahu maksud Alina kesana untuk apa. Ia tidak sempat untuk menanyakannya kepada pihak sekolah. Justru tujuannya yang utama menghampiri Satrio adalah untuk itu. Saat SMA dulu, Satrio merupakan ketua OSIS.
Akan banyak guru dan karyawan disana yang mengenal Satrio, terutama bagi yang masih bekerja sejak dulu. Masa-masa Satrio menjadi ketua OSIS dan Arkana sebagai ketua basket menjadi masa jaya sekolah mereka. Masa yang selalu dibanggakan di setiap angkatan, kabarnya hingga sekarang.
"Lo kenapa ga tanya Tari aja sih, ngapain Alina kesana."
Arkana ternyata tidak terpikir kesana, "Bener juga, gue telepon Tari aja deh ... thanks Sat." Arkana pun kembali ke ruangannya.
Alina sedang menunggu dengan perasaan gugup didepan ruangan kepala sekolah. Ini pengalaman pertamanya di interview oleh kepala sekolah. Bahkan pertama kalinya dirinya di interview. Selama ini selama melamar bekerja part time ia hanya dites langsung di lapangan tanpa melakukan interview.
Akhirnya Alina pun dipanggil masuk kedalam, guru yang tadi pun menyemangatinya sebelum masuk. Didalam Alina berjalan canggung menuju kursi di hadapan kepala sekolah.
"Aduh kok gugup sekali, rasanya kayak melihat salah satu murid membuat kesalahan besar dan dipanggil kepala sekolah ... iya kan?" ucap kepala sekolah itu seraya tersenyum hangat.
Senyuman hangat itu mengingatkan Alina dengan Bu Rose. Senyuman yang membuat orang disekitarnya merasa nyaman. Ternyata benar yang dikatakan ibu guru tadi mengenai sang kepala sekolah yang sangat baik.
"Namanya Alina Prameswari ya? cantik sekali namanya seperti orangnya."
Alina menjadi malui setelah mendengar pujian itu, diwaktu yang sama mengurangi ketegangan nya juga, "Terima kasih iya Bu," jawabnya.
__ADS_1
Alina pun mulai ditanya beberapa pertanyaan yang terkait pengalamannya bekerja juga pengalamannya di masa kuliah. Apa saja yang Alina pelajari dan apa saja yang sudah Alina coba terapkan di kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi membutuhkan jawaban jujur dari yang ditanya.
Bisa-bisanya disaat seperti ini Alina teringat Arkana. Alina sempat melihat Arkana bertemu dengan salah seorang partner bisnisnya, dan bagaimana Arkana berbicara dengan orang itu sangat tenang dan berkarisma disaat yang sama.
Alina mencoba mempraktikan apa yang dilihatnya dari cara bicara Arkana untuk menjawab pertanyaan ibu kepala sekolah tadi. Alina memang selalu memperhatikan perbedaan cara bicara Arkana kepada keluarganya, kepadanya dan kepada rekan bisnisnya.
Diantar itu semua Arkana terdengar lebih manja dengan ibunya, hangat kepadanya, dan tenang profesional kepada rekan bisnisnya. Arkana sempat berkata jika caranya yang tenang saat berbicara dengan mereka membuat mereka tidak bisa menebak langkah selanjutnya dari dirinya.
Setelah mendengar jawaban dari Alina yang terdengar tenang dan percaya diri membuat kepala sekolah itu cukup puas. Tidak membutuhkan waktu lama, Alina pun diterima menjadi tenaga konseling disana. Namun Alina memiliki sebuah tugas.
Alina perlu mengambil lagi kuliah pendidikan psikologi untuk menunjang nya menjadi guru tetap disana. Namun menurut ibu kepala sekolah, hal itu bukan yang harus dikerjakan secepatnya. Hal itu bisa dilakukan secara bertahap.
Siang itu Arkana bertemu Tari yang sedang berjalan dengan teman-temannya kembali menuju kantor. Arkana sebenarnya sudah menunggu Tari disana. Mereka yang saling bertelepon sebelumnya sudah membuat janji untuk bertemu didepan kantor Tari.
"Tadi pagi saya lihat Alina."
"Saya lihat Alina berhenti didepan sekolah menengah saya sama Kai dulu ... Alina ada urusan apa ya disana?" tanya Arkana to the point.
"Oh ... Alina dipanggil buat kerja disana sebagai tenaga konseling."
Jujur hal itu membuat Arkana terkejut sekaligus bangga terhadap Alina. Akhirnya Alina selangkah lebih maju menuju impiannya menjadi guru konseling. Tetapi kebetulan ini rasanya terlalu baik untuk disebut kebetulan, rasanya seperti takdir.
Arkana cukup lega mendengar kemajuan dihidup Alina. Sepertinya Alina hidup baik-baik saja tanpanya. Meskipun cukup sedih didengar, tetapi juga hal yang baik. Artinya Alina sedang berusaha membangun kembali kehidupannya dan menolak terpuruk meratapi kesedihannya.
__ADS_1
Saya bangga sama kamu, Alina. Saya terus berharap kamu punya kehidupan yang baik terus kedepannya, saya janji akan bantu meskipun dari sisi yang kamu ga bisa lihat.