
Semua orang terdiam. Tidak ada satu pun yang berani melakukan apapun. Tuan Miller menatap Arkana tajam, sama halnya dengan Arkana. Alina tidak tahu apa yang terjadi diantara kedua orang ini, tetapi saat ini udara rasanya sesak karena mereka berdua.
"Ar, udah." ucap Rose memperingatkan anaknya dengan lembut.
Tidak mau berurusan lebih panjang lagi dengan ayahnya, Arkana memilih bangun dari kursinya dan pergi menuju kamarnya. Baskara terlihat biasa saja dengan yang barusan terjadi. Hal ini sepertinya bukan kali pertama mereka seperti itu.
Makan malam bersama pun selesai. Beberapa pelayan membereskan meja makan. Alina pun ikut membantu sebisanya karena tidak mau malah merepotkan.
"Tadi kamu liat kan apa yang terjadi disana?" tanya salah satu pelayan.
"Antara Tuan Miller dan anaknya?" tanya Alina memastikan yang dimaksudkan oleh pelayan wanita itu.
"Iya ... kedepannya bakal lebih sering, kamu jangan aneh aja ya." Pelayan wanita itu kemudian berlalu.
Bakal lebih sering? maksudnya apa nih?
Ternyata benar seperti beberapa media sering beritakan tentang keluarga Miller. Sebuah keluarga konglomerat terpandang yang memiliki kehidupan mewah sekaligus misterius. Contohnya tentang bagaimana hanya Baskara yang sering mendapat perhatian dari banyak orang.
Padahal sudah jelas Tuan Miller memiliki anak lelaki yang lain. Namun, sepertinya anak lelaki Ibu Rose yang satu itu juga cukup tertutup. "Tapi dia sebenernya baik kok, hari ini aja aku udah dibantu dua kali," ucap Alina dengan dirinya sendiri.
Sedang asyik berbicara dengan dirinya sendiri, tiba-tiba Baskara datang menghampirinya. "Gimana hari ini?" tanya Baskara dengan nada bicara yang sama sekali berbeda dari biasanya.
"Gimana apanya ya?" tanya Alina bingung.
"Hari pertama disini ... masih lama loh kamu bakal disini," ucap Baskara mengangetkan Alina dengan kata-katanya.
"Tapi saya gabisa lama disini," tegas Alina.
"Kenapa? utang kamu besar loh ke saya gara-gara lukisan kemaren." Baskara menatap tajam Alina.
Tiba-tiba Rose yang kebetulan sedang lewat menghampiri mereka berdua. Sepertinya ada yang hendak dibicarakan oleh Rose kepada Alina. Terlihat sejak tadi Rose terus mencari Alina.
Baskara sepertinya sedang ada masalah dengan ibunya, sehingga dirinya memilih pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol. Rose ternyata sempat mendengar pembicaraan antara Alina dan Baskara tadi. Terutama mengenai bagaimana Alina tidak bisa lebih lama lagi disana.
__ADS_1
"Maaf kalo saya ga sopan ... tapi tadi maksudnya Alina gabisa lama disini itu gimana ya" tanya Rose.
"Iya Bu, saya gabisa bekerja terus ga dibayar lebih lama disini."
"Saya butuh uang untuk kuliah saya," ucap Alina.
Rose akhirnya mengerti dengan maksud Alina. Rose ternyata dari awal kurang setuju dengan keputusan Baskara mempekerjakan Alina tanpa dibayar disini. Karena itu juga sejak siang tadi Baskara lebih memilih menghindari ibunya.
Setelah banyak berfikir, Rose akhirnya memutuskan untuk mempekerjakan Alina dengan dibayar. Alina mungkin tidak dibayar oleh Baskara. Tetapi Rose akan memastikan Alina mendapat bayaran dari dirinya.
"Kebetulan akhir-akhir ini saya kerepotan mengurus kebun bunga dibelakang."
"Pelayan disini juga sudah dicoba bergiliran mengurusnya, tidak ada yang mampu," jelas Rose.
"Kebun bunga? dari tadi saya belum lihat kebun bunganya Bu," ucap Alina kebingungan.
Rose akhirnya mengajak Alina menuju kebun bunganya. Kebun bunganya terlihat cantik terutama di malam hari. Karena Rose sengaja menghiasnya dengan lampu-lampu yang menyala bekerlap-kerlip. Disana tempa biasanya Rose berdiam diri, juga terkadang bersama dengan Arkana.
Alina dan Rose pun duduk sejenak disana, "Biasanya saya duduk disini sendiri atau sama Arkana." Dulu waktu dia masih kecil sering mainnya disini karena jauh dari tempat kakaknya. Ternyata sejak kecil Baskara sudah menempati paviliun yang ia tempat sekarang. Sejak kecil jiwa kreatifnya sudah terlihat. Baskara kecil sangat suka memiliki tempatnya sendiri untuk berkreasi.
"Jadi gimana? sanggup ga kalo kerja sama saya mengurus kebun bunga ini?" tanya Rose serius.
"Saya pastikan bayarannya bisa kamu pakai untuk bayar kuliah kamu," lanjutnya.
Melihat sekeliling dan berfikir sejenak, Alina pun memutuskan untu menerima tawaran Rose. Lagi pula dirinya belum mendapatkan tawaran part time di tempat lain. Setelah kontaknya berakhir dengan event organizer yang lalu, Alina belum sempat mencari lowongan yang lain.
"Baik Bu, saya siap."
Suara burung yang ramai saling berbincang satu sama lain di batang pohon belakang rumah membuka pagi Alina hari ini. Alina kemudian keluar dari kamarnya dan melihat ke sekeliling. Tidak banyak aktifitas seperti semalam. Seharusnya saat ini para pelayan yang lain akan sibuk menyiapkan sarapan.
Namun tidak hari ini. Hanya ada beberapa pelayan yang berjalan di sekitar rumah. Beberapa hanya lewat, ada pula yang sibuk membersihkan beberapa hiasan rumah yang terpajang rapi diatas lemari pajangan.
"Hari ini kok sepi ya, ada apa?" tanya Alina memberhentikan salah satu pelayan yang kebetulan lewat didepannya.
__ADS_1
"Oh, semalam Tuan Miller berangkat ke Austria jadi tidak ada sarapan bersama." Pelayan itu kemudian melanjutkan jalannya.
Dari pada terus kebingungan, Alina kemudian pergi mandi dan berencana menghampiri Baskara ke paviliunnya. Sejak kemarin selain memberitahukan lamanya dia disana, Baskara tidak memberi arahan apapun tentang pekerjaannya.
Di perjalanannya menuju paviliun, Alina sempat melihat beberapa foto keluarga Miller yang terpasang rapi di beberapa tembok. Bahkan ada sebuah foto besar yang terpasang di ruang makan. Foto yang terdiri dari keseluruhan keluarga Miller.
Alina menatap foto keluarga itu untu beberapa saat. Ada suatu hal yang dipikirkannya dalam. Alina melihat wajah setiap orang disana. Kemudian matanya pun tertuju pada seorang lelaki yang berdiri bersebelahan dengan Baskara.
Dia ... sampe sekarang pun aku belum tau namanya.
Alina kemudian berbalik dengan cepat, tetapi tubuhnya dikagetkan dengan seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya. Hampir saja Alina terjatuh, tetapi tangan lelaki itu dengan cepat menahan punggung Alina dan membantunya berdiri.
"Liatin siapa?" tanya lelaki yang tidak lain adalah adiknya Baskara, Arkana.
"Ga liatin siapa-siapa kok ... " ucap Alina beralasan.
"Oh iya, makasih ya dari kemaren banyak nolong aku."
"Namaku Alina, nama kamu siapa?" Alina tersenyum ramah kepada lelaki itu.
Lelaki itu tidak menjawab melainkan berpaling meninggalkan Alina disana. Tepat dari jauh terdengar suara seseorang yang memanggil nama lelaki itu, "Mas Arkana ... ayo nanti terlambat."
Namanya Arkana ternyata.
Alina melanjutkan perjalanannya, dan kebetulan melihat Baskara berdiri didepan paviliunnya. Menarik nafas panjang, Alina pun memberanikan diri menghampiri Baskara. Berjalan sedikit cepat, Alina akhirnya sampai di paviliun. Tidak lupa memberikan senyum dan menyapa pengawas Baskara yang juga ada disana.
"Lama banget."
"Maaf, tadi didalem ketemu-" katanya terhenti.
"Ketemu siapa?" tanya Baskara penasaran.
Sambil sedikit tersenyum Alina pun menjawab, "Mas Arkana."
__ADS_1