
Sepulangnya bekerja Arkana menemukan Alina sedang berdiam diri di tempat mereka biasanya. Seraya berjalan menghampiri Alina, Arkana berkata, "Ah ... ada apa nih suasananya ga enak banget." Alina menengok setelah mendengar suara Arkana.
Memang benar saat ini banyak yang dipikirkan Alina. Sepertinya Alina bahkan mulai pesimis bisa menemukan Kai. Karena sampai saat ini yang mereka temukan hanya jalan buntu. Terlebih ancaman dari John Miller.
"Ga usah khawatir ... kan udah saya bilang, saya pasti bantu sampai kita tahu dimana Kai."
"Aku bahkan mulai ragu tentang keadaan Kak Kai, sampai saat ini yang salah dari kita itu ga tanya apa Kak Kai masih-" kata-katanya dipotong.
"Hidup ... Kai pasti masih hidup, Al jangan khawatir," ucap Arkana menenangkan Alina.
Keesokan harinya setelah mengetahui pasti wilayah yang sering didatangi Agus, Arkana dan Satrio mencoba pergi kesana untuk memastikannya. Setelah menghubungi Rose, semua anak-anak Agus sudah dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman.
Namun, untung saja Agus belum tahu jika anak-anak mereka sudah pindah dari sana. Sehingga masih ada kemungkinan ia akan kembali datang kesana untuk menemui anak-anaknya.
Arkana meminta Satrio menaruh beberapa orang disekitar sana untuk berjaga jika Agus benar datang. Jika ia bener datang ikuti kemana ia pergi. Jika ada suatu kondisi darurat lebih baik langsung saja ditangkap.
Alina semakin hari semakin kehilangan keyakinannya bisa menemukan Kai, karena itu Arkana terkesan terburu-buru dalam bertindak. Untung saja ada Satrio yang selalu bisa mengkondisikan semuanya tetap tenang dan tidak gegabah.
Disana Arkana dan Satrio juga mengecek beberapa cctv yang terpasang di beberapa posisi jalanan. Mereka memastikan jika pergerakan Agus bisa mereka dapatkan. Kini sambungan cctv disana sudah disambungkan ke server milik Arkana.
Arkana bisa mendapatkan jejak pergerakan Agus secara langsung. Semua hal sudah Arkana rencanakan serapih mungkin, kini hanya satu hal yang masih mengganjalnya. Arkana khawatir jika ayahnya lagi-lagi menghalangi pergerakannya seperti terakhir kali.
Meskipun kini Arkana sudah memiliki power yang ia butuhkan tidak seperti dulu. Namun, rasa khawatir itu masih saja muncul. Mungkin untuk kali ini karena adanya Alina membuat Arkana harus berulang-ulang kali berfikir untuk pergerakan selanjutnya. Ia tidak mau hal ini justru membahayakan Alina.
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya Arkana mendapatkan pergerakan baru dari Agus. Terlihat dari cctv yang tersambung langsung ke ponsel dan laptopnya, Agus berada di tempat penampungan anak-anaknya dulu tinggal.
Agus terlihat melihat kesana kemari dan tampak berhati-hati. Namun, tidak lama ada sebuah mobil hitam yang menjemputnya lalu Agus pun pergi dengan mobil itu. Arkana berhasil mendapatkan plat nomornya, dan mencoba melacak nya.
Memiliki kenalan ahli IT memudahkan rencana Arkana. Ia meminta temannya itu untuk melacak plat nomor yang ia dapatkan. Tidak butuh waktu lama, pemilik plat nomor itu pun berhasil didapatkan. Lagi-lagi pemiliknya adalah salah satu orang John Miller.
Arkana mencoba memikirkan rencana apa lagi yang harus digunakannya untuk mendapatkan Agus ini tanpa pemaksaan. Karena terlihat dari cctv jika mobil yang menjemputnya tadi sudah mengikutinya dari jauh. Apa jadinya jika mereka melihat Agus ditangkap.
__ADS_1
Arkana tidak mau gegabah dengan rencananya. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menggunakan anak-anaknya untuk menarik Agus kepada Arkana. Arkana akan membuat Agus secara sukarela berjalan menghampirinya.
Setelah mendapatkan ide itu, Arkana kemudian menghubungi Satrio untuk mengaturkan semuanya untuknya. Sejujurnya Arkana sendiri tidak tahu dimana tempat penampungan milik yayasan Rose. Arkana sejak awal memang tidak pernah mau tahu tentang itu.
Namun untuk kali ini ia akan bertanya secara langsung kepada ibunya, "Bentar ... apa minta tolong Alina tanyain aja ke Mama ya." Arkana yakin jika Alina yang menanyakan hal itu, Rose tidak akan menaruh curiga apapun.
Arkana langsung menelepon Alina yang saat ini sedang diperjalanan kembali ke rumah Arkana.
"Halo, Mas kenapa ya?" tanya Alina.
"Kamu dimana ini suaranya rame banget berisik."
"Di bis mau balik ke rumah Mas Arkana, ada apa ya?" tanya Alina kembali.
Arkana sempat terdiam sebentar, berpikir apa ini adalah keputusan yang tepat untuk meminta tolong kepada Alina. Tetapi ia tidak punya pilihan lain, waktu yang mereka punya pun tidak banyak.
"Nanti aja deh dirumah ... ada yang mau saya bicarain sama kamu."
"Gausah nanti aja dirumah, bye." Arkana menutup teleponnya tiba-tiba.
Arkana dengan cepat menutup teleponnya meninggalkan Alina yang kebingungan. Siang ini setelah sempat pulang untuk mengurus ayahnya yang tiba-tiba sakit, Alina kembali ke rumah keluarga Miller. Saat itu Alina tidak mengambil liburnya, melainkan memutuskan untuk cepat kembali ke rumah Arkana.
Masih ditempat biasa, Arkana dan Alina duduk bersama untuk membahas sesuatu. Arkana menceritakan rencananya secara detail kepada Alina. Termasuk dirinya yang membutuhkan bantuan Alina untuk menanyakan tempat penampungan yayasannya kepada Rose.
Alina awalnya heran kenapa harus dirinya yang menanyakan itu, kenapa tidak langsung saja menanyakannya sendiri, "Bu Rose kan mamanya Mas Arkana, kenapa harus saya yang tanyain?" tanya Alina.
"Kalo saya yang tanya, bukan jawaban yang keluar malah bejibun pertanyaan baru buat saya dari mama."
"Dari dulu saya ga pernah tertarik sama yayasan itu, akan aneh kalo tiba-tiba saya penasaran," ucap Arkana yang akhirnya disetujui oleh Alina.
"Lagi pula kamu kan udah beberapa kali mama ajak ke event yayasan ... ga akan aneh kalo kamu penasaran sama tempat penampungan anak-anak," jelas Arkana.
__ADS_1
"Tapi Pak Agus emang diijinin buat ketemu anak-anaknya disana?" tanya Alina.
"Saya ga akan pertemukan mereka disana lah Al, nanti mereka saya giring ke tempat lain yang ga jauh dari sana."
Alina yang mulanya sempat khawatir mulai tenang setelah mendengar keyakinan Arkana terhadap rencananya ini. Selama ini rencana yang dibuat Arkana selalu berhasil dan dibuat dengan hati-hati dan banyak perhitungan.
Setelah sama-sama setuju, esok paginya Alina berniat akan langsung bertemu dengan Rose. Besok jadwal memetik bunga, jadi ada banyak waktu yang akan mereka habiskan bersama. Selain itu bunga-bunga disana bisa dijadikan objek pembuka sebelum menanyakan hal itu.
Sebenarnya akan lebih baik jika bunga-bunga yang dipetik besok dibawa ke yayasan. Alina lagi-lagi bisa menjadikan itu sebagai alasan.
Benar saja, pagi ini Rose mengajak Alina memetik beberapa bunga untuk dibawanya ke yayasan. Setelah beberapa saat mereka memetik dan menyusun bunga-bunga itu, Alina pun memberanikan diri untuk ikut bersama Rose kesana.
"Bener mau ikut?" tanya Rose meyakinkan Alina sekali lagi.
"Hari ini bukan acara yayasan soalnya, ini mau saya anter ke rumah anak-anak."
Mendengar itu Alina semakin bersemangat untuk ikut, "Bener Bu, boleh kan?"
"Boleh ... saya tunggu di teras ya, kamu siap-siap dulu sana."
Alina berfikir dari pada hanya menanyakannya, akan lebih baik jika ia ikut juga kesana. Alina juga ingin melihat keadaan anaknya Pak Agus yang waktu itu ia sempat temui. Lagi pula hari ini tidak ada yang Alina lakukan dirumah.
Sebelum pergi, Alina mengabari Arkana lewat pesan singkat kalau ia akan ikut Bu Rose ke rumah penampungan anak-anak. Akan lebih meyakinkan kalau ia ikut langsung daripada hanya menanyakannya saja.
Arkana yang sedang sibuk mengerjakan beberapa pekerjaannya, langsung mengambil ponselnya ketika melihat notifikasi pesan dari Alina. Setelah membaca pesan Alina, Arkana kemudian meminta beberapa orang untuk mengawasi Alina dan ibunya selama disana.
"Kabari saya kalo ada sesuatu yang mencurigakan." Arkana kemudian menutup teleponnya.
Arkana tidak mau keberadaan Alina disana dicurigai. Terutama oleh kemungkinan adanya orang-orang John Miller yang mengikuti pergerakan ibunya dan Alina. Satrio selalu mengingatkan Arkana untuk selalu waspada dimanapun berada.
"Ada pihak yang jelas tidak suka dengan penyelidikan ini, lo harus kasih penjagaan khusus buat Alina selama lo ga sama dia," saran Satrio kepada Arkana sebelum mereka pergi dari tempat penampungan lama anak-anak Agus.
__ADS_1
Kali ini semua memang terasa lancar dan sesuai rencana, tetapi mereka tidak tahu pihak John Miller diam saja karena tidak tahu atau sedang merencanakan sesuatu untuk menggagalkan rencana Arkana.