Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
39. NAIK MOTOR


__ADS_3

Satrio menghampiri Arkana diruangannya. Tidak sengaja melihat Arkana yang sedang tertidur di atas mejanya yang penuh berkas-berkas rapat tadi. Rapat hari ini cukup melelahkan baginya, banyak keinginan klien yang harus ia penuhi, tetapi harus tetap memikirkan keadaan perusahaannya.


Dengan perlahan Satrio membangunkan Arkana. Satrio berniat mengajak Arka makan siang bersama. Karena setelah makan siang mereka ada jadwal lagi, sehingga jika tidak makan sekarang kemungkinan tidak ada waktu lagi.


Mereka pun turun untuk mencari makan siang bersama. "Semalem lo kemana habis dari bar?" tanya Satrio yang ditinggal begitu saja di bar. Arkana tidak menjawab dan hanya fokus pada makanannya. "Aneh ... ada yang aneh nih, ga biasanya lo kayak gini." Satrio curiga dengan gerak gerik tidak biasa Arkana.


"Udah makan, ga banyak nih kita waktunya."


Satrio kembali melanjutkan makannya, tetapi sesekali melirik penuh kecurigaan kepada Arkana, "Tapi bener deh, napa sih lo?"


"Lo bener-bener ya ... udah cepet makan." Hampir saja sendoknya melayang untuk melempar Satrio.


Tari menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Ibunya sedang keluar kota, sehingga selama beberapa hari Tari tinggal seorang diri dirumahnya. Wajah Alina masih terlihat lesu meskipun sedikit lebih baik dari sebelumnya.


Sore nanti Tari janji mengantarkan Alina ke rumah keluarga Miller. Padahal Tari sudah berusaha membuat Alina menginap dirumahnya saja sebelum kembali kesana. Tari melihat Alina sepertinya butuh waktu untuk menyendiri.


"Jadi semalem kamu di apartemennya Arkana?" tanya Tari.


"Iya ... kalo ga ada Mas Arkana bisa-bisa jadi gembel aku semalem."


"Tapi kebetulan banget ya kamu larinya ke arah sana, ya meskipun emang ga sejauh itu sih jarak rumah kamu kesana," ujar Tari.


Satrio dan Arkana pun kembali ke kantor dengan membawa kopi di tangan masing-masing. Setelah ini Arkana ada pertemuan dengan beberapa perwakilan dokter yang berada dibawah LifeCare. Jadwal Arkana hari ini cukup padat, bahkan ia pun tidak sempat melihat pesan yang dikirim Alina pagi tadi.


Sebelum masuk kedalam loby kantor, Arkana sempat melihat seseorang yang ia lihat sebelumnya. Orang itu tampak mencurigakan. Arkana sempat ingin menghampiri orang itu, tetapi tangannya ditarik oleh Satrio yang sudah melihat salah satu perwakilan dokter sudah menunggu Arkana di loby.


Kali ini orang misterius itu berhasil lolos kembali. Gerak gerik Arkana kini selalu diamati oleh John Miller. Ia tidak mau sampai Arkana mengetahui rahasianya. John akan memastikan Arkana tidak akan pernah mengetahui kebenarannya.

__ADS_1


Tidak terasa kesibukannya hari ini hampir berakhir. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, dan Arkana masih berada diruangannya. Baru saat itu ia bisa membuka pesan dari Alina. Tanpa disadarinya Arkana membaca pesan dari Alina dengan senyuman di wajahnya.


Arkana pun akhirnya membalas pesan dari Alina, menanyakan apakah Alina sudah sampai dengan selamat kerumahnya. Alina yang kebetulan sedang memainkan ponselnya, langsung membalas pesan itu.


Iya. Sekarang nginep dirumah Tari, besok baru balik ke rumah Mas Arkana. 


Alina memutuskan untuk menginap semalam dirumah Tari. Banyak hal yang ingin mereka obrolkan bersama, selain itu Tari berhasil membujuk Alina dengan film yang baru didapatkannya untuk ditonton bersama.


Arkana kemudian menanyakan jam berapa Alina kembali kerumahnya. Arkana ingin mengambil helm yang ia berikan kepada Alina beberapa hari lalu. Alina lalu berkata jika ia akan kesana jam lima diantar oleh Tari. Namun, tiba-tiba Arkana membalas pesan Alina dengan berkata.


Besok jam lima saya tunggu di halte sebelumnya. 


Alina hanya membalas dengan emotikon jempol yang artinya menyetujui ajakan Arkana. Pipinya tiba-tiba memerah, Alina melempar ponselnya ke kasur dan tersipu malu. Tari yang melihat tingkah Alina hanya bisa geleng-geleng kepala.


Hari ini Arkana pamit pulang lebih cepat kepada Satrio. Satrio lagi-lagi memberikan tatapan penuh kecurigaan, banyak yang berubah dari Arkana dan Satrio yakin ini karena wanita yang bersamanya di apartemen kemarin malam.


Auranya yang biasanya gelap dan dingin, kini terkadang bisa tiba-tiba cerah dan berwarna warni. Satrio dibuat penasaran dengan sosok wanita ini. Wanita yang berhasil membawa kehangatan di hati Arkana.


Alina sudah menunggu Arkana di halte yang dimaksudnya. Lalu dari kejauhan muncul lah Arkana dengan motor sport kesayangannya menjemput Alina.


"Sorry tadi ke apartemen dulu ambil motor."


"Gapapa," ucap Alina sembari memakai helmnya, lalu sedikit dibenarkan oleh Arkana.


"Ayo cepet naik, keburu dateng bus nya."


Alina kemudian naik, dan memegang erat jaket Arkana. Merasa pegangannya kurang aman, Arkana menarik kedua tangan Alina memperbaiki posisi genggamannya. Alina yang malu hanya bisa terdiam sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Arkana menancap gas agar mereka cepat sampai dirumah. Motornya melaju membelah kemacetan ibukota. Arkana terlihat lebih terbiasa mengendarai motor daripada mobil. Lagipula Arkana memang lebih banyak menggunakan motor kemana pun ia pergi.


Berbeda dengan Baskara yang sama sekali tidak bisa mengendarai motor. Ayah mereka John Miller tidak pernah mengizinkan Baskara mengendarai motor, bahkan mendekat sekalipun. Arkana yang cukup sering terjatuh, membuat John tidak mau Baskara juga seperti itu.


Akhirnya mereka pun sampai di rumah keluarga Miller. Satpam yang berjaga didepan pun membukakan gerbangnya untuk Arkana. Arkana lalu menurunkan Alina didepan karena ia harus memarkirkan motornya dulu dibelakang.


"Makasih ya Mas Arka."


"Oke ... sama-sama, masuk sana." Arkana kembali mengendarai motornya ke area belakang rumah dimana semua kendaraan keluarga mereka terparkir.


Akhirnya balik lagi aku kerumah ini. Ayo fokus nyari Kai lagi, Al. 


Arkana tidak sengaja bertemu dengan Baskara saat dirinya hendak masuk kedalam rumah. Baskara mengatakan sesuatu saat mereka berpapasan, "Gausah dicari, Ar." Arkana yang mendengar itu membalikkan badannya dan menghampiri Baskara.


"Maksud lo apa?"


"Jangan cari hal yang ga seharusnya lo tau, Ar."


"Bisa bahaya buat lo." lanjut Baskara memperingatkan adiknya.


Dibalik hubungan mereka yang seperti itu. Baskara sebenarnya menyayangi adik satu-satunya itu, bahkan sejak kecil Baskara sering sekali menolak bantuan dari Arkana. Baskara sering melihat Arkana kesakitan dimalam hari, karena paginya harus mendapatkan suntikan besar untuk menolongnya.


"Bas ... gue ga akan berhenti sampe gue tahu siapa yang donorin hatinya buat lo, dan buktiin kalo feeling gue salah selama ini."


"Please, kalo lo ga bisa bantu apa-apa seengganya jangan halangin gue."


Bener kata om Tama, Papa sama Arkana itu sama. Ada banyak hal yang nunjukin kalo mereka itu mirip, salah satunya saat mereka sudah menentukan sebuah tujuan, bagaimana pun caranya harus mereka dapatkan. 

__ADS_1


__ADS_2