
"Nah ini ni tempatnya."
Alina menunjukan kedai soto favoritnya. Kedai itu cukup ramai, sehingga mereka perlu menunggu beberapa saat untuk mendapatkan tempat didalam sana. Karena tema makan hari ini Alina yang memilih, Arkana hanya bisa menuruti kemauan Alina dan menunggu antrian.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya mereka mendapatkan tempat. Posisinya memang kurang strategis, mungkin karena dasarnya kedai itu tidak cukup luas untuk menampung membludaknya pengunjung di jam makan siang.
Mereka pun mulai memesan makanan masing-masing dan menunggu makanannya diantar. Merasa kepanasan, Arkana menggulung lengan kemejanya. Tidak sengaja bekas luka di lengannya itu terlihat oleh Alina. Alina yang tidak tahu tentang adanya bekas luka itu pun kaget lalu memegang lengan Arkana.
"Luka kenapa ini?" tanya Alina cemas, ia berpikir luka ini baru saja didapatkan Arkana.
"Oh ... luka udah lama."
"Sakit?" tanya Alina lagi.
"Engga, kan udah lama Al."
Sejak kecil Arkana sering mengharuskan dirinya mendapatkan suntikan jarum yang berukuran cukup besar selama proses donor. Berada di posisi yang sama, sehingga membentuk bekas luka yang selamanya akan ada di lengan Arkana.
Tanpa disadarinya, Alina masih memegang lengan Arkana sambil terus memperhatikan bekas luka itu. Sentuhan lembut Alina beberapa kali mengenai bekas lukanya, dan Arkana sama sekali tidak keberatan.
Hingga akhirnya pesanan makanan mereka tiba. Keduanya pun mulai memakan makanan masing-masing. Arkana memesan soto betawi sedangkan Alina memesan soto spesial komplit. Mereka berdua jelas lebih menikmati momen itu dibandingkan saat di restoran mewah kemarin.
Kesederhanaan ternyata lebih cocok dan membuat Alina lebih nyaman. Banyak hal yang mereka obrolan bersama, termasuk saat Arkana dan Kai satu sekolah dulu. Alina jelas tertinggal banyak sekali cerita tentang kakaknya, dan merasa bahagia saat Arkana membagi kenangannya dengan Kai kepada Alina.
Paviliun Baskara tiba-tiba dipenuhi oleh banyak barang-barang. Rose yang kebetulan lewat terlihat heran dengan keadaan paviliun Baskara yang tidak seperti biasanya. Baskara ternyata telah meminta beberapa pengawalnya untuk membereskan barang-barangnya.
"Ada apa ini?" tanya Rose kepada salah satu pengawal Baskara.
"Kami diminta Mas Baskara untuk bersih-bersih barangnya yang tidak terpakai."
__ADS_1
"Kok tiba-tiba? ada apa?" Rose yang bingung memutuskan menelepon anaknya yang kebetulan tidak ada dirumah.
Beberapa saat akhirnya Baskara mengangkat teleponnya. Saat ini ia sedang bertemu dengan teman-temannya diluar. Baskara hanya berkata jika niatnya bersih-bersih hanya untuk memberikan ruang untuk menaruh barangnya yang lain.
"Kamu mau naro apa lagi sih Bas?" tanya Rose.
"Mau aku taro rak buku sama meja kerja."
"Buat apa? kamu biasanya kan ga butuh itu," tutur Rose heran Baskara tidak seperti biasanya.
"Pokoknya sekarang aku mau serius belajar apapun yang dibutuhin untuk jadi penerus papa."
Entah apa yang terjadi pada Baskara, tetapi tiba-tiba ia bersemangat untuk mempelajari banyak hal. Jika sebelumnya Baskara selalu menolak, kali ini ia justru melakukan inisiatif duluan. Apakah ini berhubungan dengan Arkana?
Arkana dan Alina sekarang berada tepat didepan pasar dan tidak bisa kemana pun. Hujan besar membuat mereka tertahan disana. Dari posisi mereka menuju mobil cukup jauh. Sehingga tidak ada pilihan lain selain menunggu hujan reda didalam pasar.
Mendengar ide itu Alina tersenyum lebar dan melirik Arkana. Arkana yang merasa tatapan mencurigakan dari Alina menolak melihatnya. Alina menarik-narik kemeja Arkana, berniat mengajaknya kembali berkeliling. "Kita belum ngopinya nih," ucap Alina.
Keduanya pun akhirnya berjalan menuju cafe kecil yang berada di sudut pasar. Didalam cafe itu tidak terlalu ramai, tetapi ada saja orang yang melakukan take away kopi ditempat itu. Mereka pun memutuskan menunggu hujan reda didalam cafe.
"Jadi terakhir kali Mas Arkana ketemu Kak Kai itu waktu kalian berantem sama banyak orang?" tanya Alina penasaran dengan kelanjutan cerita di kedai soto tadi.
"Kayaknya iya deh ... kita udah janjian ketemu di taman itu, tapi tiba-tiba waktu saya sampe Kai udah dikerubunin banyak orang."
Alina sama sekali tidak bisa membayangkan momen itu. Dua anak berumur belasan tahun harus melawan lelaki dewasa. Terlebih lagi jumlahnya tidak sepadan.
"Seinget saya, saya liat Pak Agus jadi salah satu orang disana."
"Hal itu yang bikin saya curiga sama papa." Dalam hatinya Arkana tidak mau percaya jika orang-orang ayahnya sendiri lah yang menyerangnya. Tetapi untuk apa?
__ADS_1
Mereka berdua mencoba kabur dengan sepeda motor masing-masing. Namun sayang, Kai yang posisinya dibelakang Arkana harus terhalangi oleh orang-orang itu dan berhasil ditangkap. Memang dari awal sasaran mereka adalah Kai.
Arkana sama sekali tidak melihat kebelakang, dan baru menyadari dibelakangnya sudah tidak ada Kai saat dirinya terjatuh dari motor. Orang-orang itu masih mengejarnya dan tidak ada Kai disana. Mereka baru berhenti mengejar setelah Arkana berbelok ke rumahnya.
Sejak dulu Arkana memang tidak banyak muncul di banyak acara keluarga Miller. Sehingga wajar jika beberapa orang ayahnya itu tidak mengenali Arkana.
"Maaf."
"Maaf kenapa?" tanya Alina bingung mendengar Arkana tiba-tiba meminta maaf padanya.
"Kalo aja saat itu saya posisinya dibelakang Kai, pasti dia ga akan hilang."
"Udah lewat ... yang penting sekarang kita fokus cari dia sampe ketemu," ucap Alina tersenyum hangat.
Membicarakan ini kembali mengingatkan Arkana saat-saat itu, saat terakhirnya bertemu Kai. Masih ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Yaitu saat ia pertama datang, Kai terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan orang-orang itu.
Namun pembicaraan itu terhenti saat dirinya tiba, dan akhirnya mulai lah baku hantam yang sama sekali tidak diduganya. Kai dan Arkana yang sama-sama cukup baik dalam bertarung mulanya bisa mengimbangi. Namun dengan banyaknya lawan, lama kelamaan mereka pun kewalahan.
"Ar ... mereka terlalu banyak, mending kita kabur aja." Kai yang pertama menyarankan mereka untuk kabur.
"Kita mau kabur kemana? sama sekali ga ada celah lari ke motor."
"Kita lari diwaktu yang bersamaan ... jangan liat kebelakang pokoknya lari aja terus langsung kabur," tutur Kai meyakinkan Arkana.
Setelah beberapa saat terpojok, tubuh mereka sudah tidak mampu lagi menerima dan membalas pukulan orang-orang itu. Mereka pun sepakat ini waktu yang tepat untuk berlari menuju motor mereka dan kabur. Karena jika terlambat mereka bahkan tidak akan mampu mengendarai motor untuk kabur.
Arkana dan Kai pun berlari diwaktu yang bersamaan. Sekuat tenaga Arkana berlari menuju motornya, menyalakannya dan langsung kabur. Terdengar dari belakang suara orang-orang itu berteriak memanggilnya lalu mencoba menyusulnya dengan motor.
Seperti yang dikatakan Kai, dirinya sama sekali tidak melihat kebelakang. Hingga ia tidak menyadari diwaktu yang bersamaan Kai dengan sengaja mengorbankan dirinya menghalangi orang-orang itu dan membiarkan dirinya tertangkap agar Arkana bisa kabur lebih dulu.
__ADS_1
Jika saja saat itu Arkana mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia pasti tidak akan kabur dan memilih kembali bertarung dengan orang-orang itu. Atau bahkan sama dengan Kai membiarkan orang-orang itu menangkapnya untuk tahu siapa yang menyuruh mereka.
Sorry Al ... kalo aja gue ga jadi pengecut saat itu.