
Alina terbangun bukan karena alarm nya melainkan karena suara riuh diluar kamarnya. Tidak seperti beberapa hari belakangan, pagi ini suara riuh para pelayan yang melewati kamarnya. Alina membereskan kasurnya lalu mengintip keluar melihat apa yang terjadi.
Hingga salah satu pelayan menarik lengan Alina dan mengajaknya menuju dapur belakang. Alina yang kebingungan hanya bisa mengikuti kemana dirinya dibawa. Sesampainya dibelakang sudah banyak macam makanan tertata di dapur.
"Pagi ini Tuan Miller akan sarapan dirumah, rencananya beberapa kerabat juga datang," ucap pelayan yang menarik Alina tadi.
"Jadi, kamu ikut bantuin ya."
Jujur Alina takjub dengan banyaknya jenis makanan yang mereka siapkan. Ini pertama kalinya Alina melihat menu sarapan sebanyak ini. "Ayo, ngapain bengong aja." Alina kemudian bergerak cepat membantu pelayan yang lain. Dari membawa lauk pauk hingga beberapa alat makan.
Anggota keluarga dan tamu yang akan hadir hari ini memang belum terlihat. Namun, karena itu mereka harus lebih cepat bergerak sebelum sau persatu kursi terisi. Saat giliran Alina yang membawa pitcher berisi air minum, ia bertemu dengan Arkana.
Arkana orang pertama yang turun dari kamarnya dan duduk dialah satu kursi. Keduanya saling bertatapan sesaat lalu Alina memalingkan pandangannya kembali menuju dapur. Arka kembali memainkan ponselnya. Tidak lama ponselnya berbunyi membuat Arka pergi keluar untuk mengangkatnya.
Beberapa saat saling bertelepon dengan seseorang, Arka mulai melihat kerabatnya mulai berdatangan satu persatu. Terlihat jelas dari raut wajahnya rasa tidak nyaman dengan kedatangan mereka.
"Arka ... gimana sehat kamu? ayo masuk." Salah satu kerabatnya yaitu pamannya menyapa Arka.
Arkana tidak menjawab melainkan hanya menundukan kepalanya menyapa. Keluarga Miller yang datang hari ini yaitu paman termasuk istri dan anak lelaki mereka juga istri dan anak perempuan dari adik Tuan Miller yang sudah meninggal.
Kedua keluarga ini lah yang begitu memojokan Arka di masa lalu. Karena itu kedatangan mereka membuat Arkana merasa tidak nyaman, sangat tidak nyaman. Bahkan setelah waktu berlalu, setelah Arka lama menetap di Boston pandangannya kepada mereka tetap sama.
Didalam sudah terdengar suara yang ramai. Suara saling bertegur sapa, saling tertawa satu sama lain. Maklum mereka sudah cukup lama tidak berkumpul.
Alina mengintip dari balik pilar di lorong yang menyambung langsung ke ruang makan. Alina penasaran dengan anggota keluarga Miller yang lain. Meskipun diantara mereka semua, satu-satunya yang memiliki power besar hanya Tuan Miller. Namun, mereka juga termasuk orang-orang hebat.
Alina kemudian mencari seseorang yang sedari tadi tidak terlihat, meskipun datang paling awal. Ya, ternyata Arkana masih diluar dan tidak kunjung masuk. Cukup aneh bagi Alina yang selalu senang saat pamannya datang.
__ADS_1
"Ayo-ayo diicipi makanannya." Tuan Miller membuka acara sarapan bersama ini.
Suara di meja makan cukup ramai, beberapa saling berbincang. Namun, ada pula yang hanya memainkan ponselnya sambil memegang sandwich di tangannya yang lain terlihat acuh dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
Rose kemudian bangun dari kursinya dan berjalan ke arah Alina. Alina yang kaget buru-buru pergi tidak mau ketahuan. Rose pergi untuk menemui Bi Iyah di dapur belakang.
"Bi, lihat Arka?" tanya Rose khawatir karena anak bungsunya itu tidak terlihat disana.
"Tadi pagi saya sempat lihat sudah di meja makan."
"Tadi liat angkat telepon diluar Bu," ucap Alina membantu Bi Iyah menjawab.
Rose yang sudah menduga ini kemudian mengambil piring yang ada di dapur. Bi Iyah yang kebingungan segera membantu Rose dan mencoba mengambil piring itu, "Udah sama saya aja."
"Nanti ini tolong masukin ke tupperware terus bawain ke Arka."
Dengan langkah hati-hati Alina berjalan menuju kamar Arkana. Karena semua orang sibuk, Alina lah yang diutus Bi Iyah ke kamar Arkana. Setelah diberitahu jalannya, dengan percaya diri Alina pergi menuju kamar Arka. Namun, tiba-tiba nyalinya menciut setelah berada tepat didepan kamarnya.
Alina mengetuk pintu kamar beberapa kali. Tidak ada respon sama sekali dari dalam. Alina sempat berfikir apa mungkin Mas Arkana sudah berangkat, tetapi menurut pak satpam mobil Arkana belum lewat. Alina kemudian kembali mengetuk dengan sedikit lebih keras.
Tidur lagi apa ya? Hah ... apa terjadi sesuatu ya?
Alina mendekatkan telinganya pada pintu untu mengetahui apa yang terjadi didalam. Tiba-tiba ada sebuah tangan dari arah belakang yang melewati depan matanya dan meraih gagang pintu. Seketika Alina mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang dibelakang.
Namun, disaat yang sama pintu itu terbuka dan membuat Alina hilang keseimbangan. Arkana yang sudah hampir masuk menahan tubuh Alina yang kehilangan keseimbangan ke arah depan. Hal itu membuat Alina kini terjatuh di dada bidang milik seorang Arkana Benjamin Miller.
Tinggi badan mereka yang serasi membuat posisi tubuh Alina tepat mendarat disana. Untuk beberapa saat keduanya saling diam dan tidak bergerak. Sampai akhirnya Arkana yang mendorong Alina menjauh.
__ADS_1
Rasanya familiar, jaket kulit hitam dan aroma ini semuanya familiar.
Alina menggerakkan bola matanya panik dan salah tingkah. Namun, tiba-tiba teringat akan sesuatu. Pandangannya tepat memperhatikan seluruh detail wajah Arkana. Sembari mengingat sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Ga usah ngeliatin segitunya."
"Apaan sih, ini saya bawain sarapan dari Bu Rose buat Mas Arkana," ucap Alina menyerahkan kotak makanan yang telah disiapkan Bu Rose dan Bi Iyah.
"Makasih."
"Terus ada apa lagi?" tanya Arkana sinis, suasana hatinya jelas sedang tidak baik pagi ini.
Alina memasang raut wajah cemberut, merasa jerih payahnya tidak dihargai. Sudah jauh-jauh membawakan kotak bekal sarapan untuk Arka tetapi hanya diberi ucapan makasih yang tidak terdengar ikhlas. Arkana kembali mengulangi pertanyaannya, "Ada apa lagi Alina?"
Alina sedikit terhentak, tidak menyangka namanya akan keluar dari mulut seorang Arkana. Raut wajahnya yang cemberut kini berubah tersenyum. Arkana kebingungan dengan perubahan emosi yang drastis dari Alina, memilih langsung penutup pintunya.
Tadi jelas bilang nama gue kan?
Alina kembali ke dapur dan bertemu dengan Rose. Alina sudah memastikan jika bekal sarapannya sudah ia antar sampai ke tangan pemiliknya. Rose tersenyum lega, sudah beberapa hari ini setelah Baskara di rawat di rumah sakit seluruh perhatiannya tertuju kepada Baskara.
Rose merasa lagi-lagi dirinya mengabaikan anak bungsunya. Alina melihat tatapan kesedihan dari Rose, "Ada apa Bu memangnya kalo Alina boleh tahu?" tanyanya berhati-hati.
"Arkana lahir sebagai anak yang tidak diharapkan hadir, tetapi sangat dibutuhkan."
"Saat itu kebahagiaan yang muncul di wajah ayahnya jelas bermakna lain," ucap Rose mulai bercerita kepada Alina.
"Kami menjaga kandungan ini, dengan maksud lain dibelakangnya. Awalnya saya sangat yakin tidak bisa mengurus anak lagi. Cukup Baskara."
__ADS_1
"Namun saat Arka lahir, kedua tangan mungilnya itu menggenggam jari saya erat. Saat itu saya berjanji akan menjaga anak ini lebih baik lagi. Sayangnya saat dia dewasa, saya sendiri yang melanggar janji itu." Suaranya mulai bergetar, Rose jelas menahan tangisnya.