Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
32. LEBIH BAIK


__ADS_3

"Kenal Kai dari mana, Al?" tanya Arkana.


Alina masih terdiam dan tidak berkata apapun, sebenarnya ia pun kaget mendengar pertanyaan Arkana. Sebuah pertanyaan yang sudah lama ingin Alina tanyakan padanya.


Arkana terlihat serius, ia bahkan berniat akan tetap disana sampai Alina menjawab pertanyaannya. Beberapa saat Alina memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Apakah Alina harus jujur, atau mengalihkannya kepada pembahasan yang lain.


Namun, Alina juga tidak mau mengulur waktu lagi. Akhirnya ia pun berani menjawab pertanyaan Arkana, "Kai itu kakak Alina, Mas Arkana."


Arkana membeku. Dia sama sekali tidak menduga jawaban itu dari Alina. Kai memang pernah menyebutkan tentang adik perempuannya. Tetapi, Kai belum sempat mengenalkan Alina kepada Arkana. Saat itu posisi kedua orang tua mereka sudah berpisah.


Sehingga Alina tinggal dengan ayahnya, dan Kai dengan ibu mereka. Untuk beberapa saat Alina dan Arkana saling diam. Alina menunggu respon dari Arkana. Karena sejak tadi Arka masih terdiam.


"Aku sebenarnya udah penasaran waktu pertama kali liat foto Mas Arkana sama Kak Kai."


"Aku selalu penasaran bagaimana caranya kalian bisa saling kenal," ucap Alina.


Kai seorang siswa baru di SMA yang sama dengan Arkana. Tidak membutuhkan waktu lama mereka langsung saling akrab satu sama lainnya. Arkana yang merupakan kapten tim basket, mengajak Kai bergabung dan semenjak itu pertemanan mereka dimulai.


Hingga suatu hari Kai menghilang dan tidak pernah kembali hingga hari ini. Kai bukan anak yang sering membicarakan tentang kehidupannya, tetapi pernah suatu saat ia menyebutkan adik perempuannya. Arkana sendiri selalu penasaran, karena itu obrolan pribadi pertama Kai padanya.


"Terus sekarang Kai ada dimana, Al?" tanya Arkana akhirnya mulai berbicara.


"Aku gatau ... aku fikir Mas Arkana yang lebih tau."


Arkana menggelengkan kepalanya, "Justru saya pikir Kai hidup dengan aman bersama keluarganya."


Saat itu tiba-tiba salah satu pelayan mereka memanggil Arkana. Ternyata ada yang perlu Tuan Miller sampaikan padanya. Arkana pun pergi, tetapi sebelum ia pergi Arkana sempat mengatakan kepada Alina kalau pembicaraan mereka belum selesai.

__ADS_1


Setelah Arkana pergi, Alina juga pergi ke kamarnya karena hari semakin malam. Di kamarnya Alina memandang foto keluarganya. Alina mengelus pelan wajah kakaknya dan ayahnya yang menjadi korban ke egoisan Mirna. Apa sebenarnya yang terjadi antara Kai dan ibunya.


Arkana mengetuk pintu ruangan ayahnya. John Miller sudah berdiri disana menunggu anak bungsunya itu. "Ada apa Pa?" tanya Arkana setelah masuk kedalam ruangan.


"Ada apa antara kamu dan pelayan itu?" tanya Tuan Miller to the point.


"Pelayan yang mana?" tanya Arkana benar-benar tidak tahu siapa yan dimaksud ayahnya.


"Itu si pembuat onar pelayannya Baskara."


Ternyata yang dimaksud Tuan Miller adalah Alina. Arkana dan Rose selama ini sama sekali tidak menganggap Alina sebagai pelayan disana.


John Miller memperingatkan Arkana untuk tidak terlalu dekat dengan Alina. Apalagi memiliki hubungan lebih. Menurut Tuan Miller, Alina bukan level yang setara dengan keluarga mereka. Terutama untuk CEO seperti Arkana.


"Sejak kapan Papa ikut campur urusan pribadi saya?"


"Seberapa dekat saya dengan Alina sepertinya bukan urusan Papa."


Rasanya lucu mendengar hal itu dari seseorang yang tidak menganggap Arkana ada selama ini. Arkana hanya tertawa mendengar perkataan ayahnya. Ternyata setelah selama ini mengabaikannya, ayahnya itu masih merasa bisa mengatur hidupnya juga.


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya harus ke kamar ... ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


Arkana pun segera keluar tanpa menunggu jawaban dari Tuan Miller.


Tidak sengaja Arkana bertemu dengan Baskara didepan ruangan Tuan Miller. Tanpa mengatakan apapun Arkana pun langsung pergi. Baskara yang tidak mencoba menghalanginya kemudian masuk ke ruangan ayahnya.


Seperti biasa keadaan pagi hari dirumah keluarga Miller selalu sibuk terutama saat Tuan Miller ada di rumah. Sayangnya pagi ini Arkana tidak ikut sarapan bersama  dengan keluarganya. Pagi-pagi sekali ia sudah keluar untuk mengejar jadwal penerbangannya.

__ADS_1


Mendadak sekali pihak partnernya di Kalimantan minta untuk bertemu secara langsung hari ini juga. Karena itu semalam ia dan Satrio mengerjakan banyak materi untuk pertemuan hari ini.


"Ma, hari ini aku ikut Papa ketemu beberapa klien." Tidak biasanya Baskara pergi dengan ayahnya, apalagi untuk bertemu klien. Sepertinya Tuan Miller sudah mulai menyiapkan Baskara sebagai penerusnya dengan menyuruhnya turun langsung.


Rose cukup kaget mendengarnya, tetapi tidak ada yang bisa dirinya lakukan jika hal itu berhubungan dengan Tuan Miller. Rose pun hanya bisa mengizinkan nya, lagipula hari ini ia pun ada urusan di yayasan. Karena Baskara yang akan pergi dengan ayahnya, Rose bisa tenang karena Tuan Miller tidak akan memergokinya di yayasan.


Setelah semua orang pergi dengan urusannya masing-masing, Alina kembali mencari beberapa petunjuk keberadaan kakaknya. Juga tentang kebenaran hutang yang dimiliki kakaknya itu. Alina curiga jika itu adalah hutang ibunya.


Jika benar hutang itu adalah hutang Mirna, tetapi Kai yang harus menanggungnya Alina tidak akan tinggal diam. Alina terus berusaha mencari ke semua sudut rumah yang bisa dirinya jangkau. Namun, tetap saja Alina tidak bisa menemukan apapun.


Dimana anda simpan berkas kopi yang asli dari surat perjanjian hutang itu, Tuan Miller?


Kini tinggal satu ruangan di lantai bawah, yaitu ruangan kerja Tuan Miller. Jika Alina berhasil menyelinap kedalam, maka ia akan menemukan banyak petunjuk.


"Sedang apa, Al?" Bi Iyah berhasil memergoki Alina.


"Eh Bi Iyah ... engga ini kayak ada serangga yang masuk makanya aku inip-intip kedalam."


Bi Iyah sebenarnya curiga dengan jawaban aneh Alina. Namun, Bi Iyah sengaja membiarkanny karena Alina pasti memiliki alasannya sendiri. "Yasudah nanti kebelakang ya, ada rujak kita makan sama-sama." Bi Iyah pun pergi menuju teras depan.


Di mobil Baskara tampak canggung dan tidak biasa dengan kegiatan seperti ini. Sebelumnya ia dan ayahnya bertemu dengan perwakilan perusahaan kerjasama ayahnya. Entah apa yang ada dipikirkan Baskara, kenapa tiba-tiba saja ia setuju untuk ikut ayahnya pergi.


Hingga sampai lah mereka di sebuah restoran yang tidak cukup ramai pengunjung. Klien yang akan mereka temui sudah duduk disebuah kursi yang telah disiapkan. Saat Baskara dan Tuan Miller menghampirinya, orang itu tiba-tiba menanyakan Arkana.


"Anakmu yang satu lagi itu kemana?"


"Sepertinya dia yang lebih cocok pergi denganmu."

__ADS_1


"Hei ... jangan gegabah, anak itu tidak akan menjadi penerusku."


Lelaki itu hanya bisa tertawa mendengar jawaban Tuan Miller. "Aku pernah bertemu dengannya, dan ku rasa dia lebik baik."


__ADS_2