Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
22. SISI LAIN


__ADS_3

Alina yang baru saja sampai tidak sengaja bertemu dengan Rose yang terlihat akan pergi kesuatu tempat. Rose dan para pelayannya membawa beberapa box bunga-bunga segar. Melihat Alina, Rose lalu menyambutnya hangat.


"Hai, Al."


"Bu Rose mau kemana banyak banget bawaannya," tanya Alina.


"Hari ini ada pameran di yayasan, saya mau donasi bunga-bunga ini buat pengunjung disana."


"Kamu mau ikut?" tanya Rose kepada Alina.


Alina sebenarnya sudah berjanji akan langsung ke paviliun saat kembali kesini. Namun, dirinya juga penasaran pameran seperti apa yang akan Rose datangi. Melihat Alina yang tampak ragu, tetapi jelas terlihat matanya berbinar saat ia mengatakan tentang pameran Rose pun memaksa Alina ikut.


"Udah ayo ikut. Saya ini atasan kamu juga loh, Al."


Alina tersenyum malu kemudian memutuskan untuk ikut Rose setelah meletakkan tasnya di kamar.


Alina sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa pameran itu. Tiba-tiba Alina teringat sesuatu. Alina bertanya memastikan apa Arkana benar pulang hari ini kepada Rose. Namun Rose menjawab jika Arkana tidak memberitahunya akan pulang.


Bahkan terakhir kali mereka bertemu, ucapan Arkana sangat jelas untuk sang ibu jika ia lebih memilih tinggal di apartemennya. Rose kembali sedih mengingat Arkana yang hidup seorang diri lagi.


Tapi kemaren udah bilang mau pulang kok. Apa surprise buat Mamanya ya? 


Tidak disangka kalau ternyata saat ini sedang bersiap menuju bandara. Ia dan Satrio akan melakukan perjalanan bisnis ke Kalimantan. Salah satu projek yang sedang Arka kerjakan bersama dengan mantan dosennya itu berkaitan dengan permasalahan disana.


"Lo gajadi pulang hari ini berarti?" tanya Satrio duduk dikursi penumpang depan.


"Abis dari sana."


"Lupa gue kalo kita harus ke Kalimantan hari ini," tutur Arkana fokus menyetir menuju bandara.

__ADS_1


Sesampainya di bandara, Satrio pergi memastikan jam keberangkatan dan muatan bagasi. Arkana yang memainkan ponselnya tiba-tiba teringat sesuatu dan secara otomatis mengirim pesan kepada seseorang lalu menutup ponselnya. Setelah hampir 3 menit berlalu, Arkana kembali mengecek ponselnya lagi dengan terburu-buru.


Disana ada balasan dari Alina yang berisi :


Oke. Tapi tumben banget Mas Arkana ngabarin aku. Mas Arkana ketempelan apaan? 


Kedua mata Arkana melotot, ia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tiga menit yang lalu tanpa disadari Arkana mengirim pesan kepada Alina dan memberitahunya kalau ia tidak jadi pulang hari ini karena harus ke Kalimantan.


"Ah!" teriak Arkana mengangetkan beberapa orang yang duduk tidak jauh darinya.


Hampir saja Arkana mengatakan kata-kata kasar, "Kok bisa gue ngabarin Alina sih ... dia siapa?" Arkana heran dengan dirinya sendiri.


Satrio kebingungan melihat Arkana dari kejauhan terlihat sangat frustrasi. Terlebih lagi orang-orang disekitarnya tidak berhenti memperhatikan Arkana. Satrio kemudian buru-buru mendekati Arkana, khawatir jika terjadi sesuatu.


"Kenapa lo?" tanya Satrio melihat sekeliling lalu kembali memperhatikan Arkana.


"Bodoh gue. Kacau ... kalo gini gimana gue ketemu dia nanti dirumah?" Arkana berbicara dengan dirinya sendiri sembari memegang kepalanya.


"Udah deh ayo." Arkana lebih dulu berdiri dan berjalan meninggalkan Satrio.


Sementara didalam mobil Alina tertawa sendiri sembari melihat ponselnya. Ia yang duduk tepat bersebelahan dengan Rose, membuat Rose penasaran. Alina pun menunjukan isi pesan yang dirikimkan Arkana kepada Rose. Melihat itu Rose pun ikut tertawa.


"Dia itu sama saya aja kadang ga ngabarin ... kok ke kamu tiba-tiba ngabarin," ucap Rose tertawa.


Akhirnya Rose dan Alina pun sampai di tempat pameran yayasan yang didirikan oleh Rose dan beberapa temannya. Yayasan ini didirikan untuk memberikan anak-anak terlantar bisa hidup dengan layak.


Hari ini para pengurus dan donatur melakukan perkumpulan rutin bulanan. Kebetulan tema hari ini adalah pameran, Rose pun memberikan donasi berupa bunga-bunga segar dari kebunnya. Nantinya bunga-bunga ini dibagikan kepada para pengunjung atau tamu undangan yang datang.


"Dahulu salah satu teman dekatnya Arkana yang mengenalkan saya dengan anak-anak ini."

__ADS_1


"Anak-anak terlantar yang butuh bantuan." tutur Rose.


"Berarti orang itu hadir juga hari ini Bu?" tanya Alina.


"Sudah lama sejak terakhir saya liat dia," jawab Rose, merindukan anak itu.


Setelah kurang lebih dua jam perjalanan Arkana dan Satrio sampai juga di hotel di Banjarmasin. Keduanya hanya menginap satu malam setelah besoknya harus melakukan perjalanan darat menuju daerah pedesaan. Arkana masih sibuk dengan laptopnya.


Hingga tiba-tiba teringat perkataan pria misterius yang beberapa hari lalu bertemu dengannya. Pria itu menyebut nama Kai, teman dekat Arkana saat SMA dulu. "Hubungannya dia sama donor Baskara apa ya? lagian tu anak juga ga pernah keliatan lagi."


Pria misterius itu sengaja tidak memberitahu Arkana semuanya. Dengan bercanda ia berkata ingin lebih sering bertemu Arkana, jika semuanya dibongkar tidak ada lagi alasan mereka bertemu.


Alina membantu beberapa orang disana membagikan bunga-bunga segar. Alina sebelumnya belum pernah datang ke acara seperti ini. Karena itu semua yang terjadi disana membuat Alina takjub dan tidak berhenti tersenyum.


Semua orang terasa hangat disini. Pantas saja jika Rose tidak terpengaruh keadaan dirumahnya. Tempatnya berkumpul dengan teman-temannya sehangat ini. Anak kecil yang berlarian dan orang dewasa yang mengobrol sembari tertawa.


"Ibu dirumah sama disini keliatan beda loh, Bu."


"Ah, masa? disini lebih lepas ya?" tanya Rose penasaran dengan pendapat Alina.


"Hehehe ... iya Bu," jawab Alina dengan hati-hati.


Saat semuanya sedang berbahagia berkumpul bersama tiba-tiba salah satu asisten Rose mendekatinya dan membisikan sesuatu ditelinganya. Mendengar yang asistennya bisikan, Rose melihat kearah Alina dan memberikan sebuah isyarat untuk mendatanginya.


Rose mendapat kabar dari asistennya jika ia harus pergi dengan Tuan Miller. Ada sebuah undangan penting di luar kota. Sehingga mereka harus segera pulang sekarang, sebelum suaminya itu sampai dirumah. Rose juga berkata jika Tuan Miller tidak mendukung kegiatannya ini, jadi dirinya selalu diam-diam datang kesini.


Membantu Rose membereskan beberapa barangnya, Alina juga tidak lupa berpamitan dengan teman-teman Bu Rose yang lain. Keduanya pun segera masuk kedalam mobil menuju rumah. Mobil yang dibawa Pak Anton ini melaju kencang di jalanan ibukota.


Untung saja sesampainya dirumah, Tuan Miller belum sampai sehingga keduanya pun buru-buru masuk. Beres-beres seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Sesekali keduanya tertawa melihat kepanikan mereka hari ini.

__ADS_1


"Cuma Arkana yang setuju sama yayasan ini, bahkan dia juga salah satu donatur tetapnya." Rose merapikan keranjang berisi bunga segar tadi.


Mengetahui jika pengagas dibuatnya yayasan itu karena teman Arkana, sudah pasti Arkana menjadi orang yang paling mendukung yayasan itu. Sedikit demi sedikit Alina mengetahui sisi Arkana yang lain. Ditambah dengan dirinya sendiri yang membuka sisi lucunya karena tanpa disadari mengirim pesan kepada Alina.


__ADS_2