
Mereka pun akhirnya sampai didepan apartemen. Dengan perlahan Arkana membangunkan Alina yang masih terlelap tidur. "Kecapean ni anak kayaknya," gumam Arkana. Ia pun memutuskan untuk menggendong Alina sampai ke unit apartemennya.
Arkana lalu menitipkan mobilnya kepada satpam yang berjaga didepan, ia berkata akan kembali pergi lagi jadi tidak perlu diparkirkan. Arkana tidak memperdulikan beberapa orang yang memperhatikannya. Setelah sampai di unit apartemennya, Arkana kemudian menidurkan Alina di kasur lalu kembali pergi.
Didalam mobil, sebelum menyalakan mesin mobilnya Arkana menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Tari. Pesan itu berisi tulisan, "Titip Alina". Tanpa mereka sadari hubungan mereka semakin lama semakin dalam.
Setelah mengirim pesan itu Arkana pun menyalakan mesin mobilnya dan pergi menuju rumahnya. Disana sudah ada Rose yang menunggu kepulangan anak bungsunya. Sepanjang jalan Arkana tidak berhenti berfikir. Respon apa yang akan ia berikan saat bertemu ayahnya.
Rasa kecewa karena kejadian Alina, ditambah perkataan dokter Arifin siang tadi menjelaskan sisi lain John Miller. Ayahnya akan melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkannya. Dan sampai saat ini ia tidak pernah gagal melakukannya.
Berbeda dengan hal yang diyakini Alina selama ini, kalau Tuan Miller tetap tidak akan menyakiti anaknya sendiri. Justru berbeda dengan yang dipikirkan Arkana. Ia ragu ayahnya masih mempertimbangkan hal itu. Jika anaknya sendiri menghalangi nya, Tuan Miller bisa saja memperlakukan mereka sama dengan orang lain.
John Miller tidak seperti dokter Arifin. Meskipun sudah mendapatkan semua yang diinginkannya selama bekerja di rumah sakit besar di kota, rasa bersalahnya terhadap Kai terlalu besar untuk ia tanggung. Menurut dokter Arifin hal itu semakin dikuatkan setelah bertemu dengan Arkana.
Jujur dokter Arifin tidak bisa lagi bekerja dan berurusan dengan keluarga Miller. Itu yang menyebabkannya memilih menghabiskan masa jabatannya di rumah sakit pinggir kota yang sepi dari pasien.
Alina akhirnya terbangun. Ia kaget karena saat bangun dirinya sudah ada di kamar Arkana di apartemen. "Jangan gini dong ... makin gabisa jauh kan," Alina tersenyum sendiri diatas kasur. Alina kembali mengingat semua momen yang mereka habiskan bersama tadi.
Hari ini Alina sangat bahagia, sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. "Kak ... kalo sama Mas Arkana direstui kan?" Alina memandang wajah Kai di foto keluarga mereka. Foto keluarga pertama dan terakhir yang mereka ambil bersama-sama.
Foto yang bahkan selesai dicetak saat ibu dan kakaknya sudah pergi dari rumahnya. Setiap hari Alina menghabiskan hari-harinya dengan memandang foto keluarga itu dan berharap Kai akan kembali bersamanya.
"Kabar lo gimana Kak?"
"Aku hari ini happy banget, makasih udah kirim temennya ke aku."
Sebelumnya Tari sudah mengabari Alina kalau dirinya sudah pulang dan akan segera menuju apartemen. Karena itu, Alina mulai sibuk menyiapkan makan malam untuk keduanya. Tidak lupa dengan camilan yang akan mereka makan bersama sembari menonton film bersama.
__ADS_1
Arkana menyalakan klakson nya lalu dibukakanlah gerbang rumah keluarga Miller. Arkana tidak pernah merasa se asing ini masuk kedalam rumahnya sendiri. Jelas kini Arkana lebih nyaman berada di apartemennya, karena ada Alina disana.
Arkana masuk kedalam rumah melalui pintu belakang yang tersambung langsung dengan parkiran. Rose merasa ada seseorang yang masuk. Begitu bahagianya ia melihat Arkana lah yang datang. Rose langsung memeluk Arkana dengan erat.
"Ma ... kenapa sih tumben banget kayak gini."
"Mama kangen sama kamu ... gitu sih kamu sama Mamanya," sedih Rose melihat respon dari Arkana.
"Iya ... iya deh."
"Kamu fine kan? oke kan, ga ada apa-apa?" Rose tidak seperti biasanya memang, ia lebih khawatir kepada Arkana dari pada sebelumnya.
Sejak kejadian Alina yang diusir oleh suaminya, Rose secara otomatis menjadi khawatir dengan Arkana. Rose tahu betul hubungan keduanya. Rose tidak mau emosi Arkana meluap jika tahu ayahnya sendiri yang memperlakukan Alina seperti itu.
Namun, Arkana berhasil membuktikan siapa pemenangnya. Arkana tetap tidak bergeming berapa kali pun John Miller memberinya peringatan, ia akan terus maju sampai berhasil menemukan Kai dan siapa pendonor Baskara. Itu tujuan utama Arkana dan akan selalu begitu.
"Sudah lama saya ga liat kamu Ar."
"Papa kangen sama saya?" Arkana tersenyum tipis kepada ayahnya.
"Saya sibuk mengurus sesuatu hal yang menarik akhir-akhir ini." Arkana mulai memancing ayahnya.
"Jangan jadi anak nakal, Ar."
Baskara bisa merasakan dengan jelas tekanan diantara keduanya. Suasana makan malam hari ini lebih berat dari yang diperkirakan. Rose menatap Arkana lalu menggenggam tangan anaknya, membari isyarat untuk menghentikan ini sebelum menjadi lebih serius.
Setelah makan malam, Arkana pun kembali ke kamarnya. Selama ini Arkana meminta Satrio untuk mencari keberadaan Agus. Namun tidak ada kabar darinya, seperti hilang tidak bersisa. Agus sama sekali tidak terdeteksi dimana-mana.
__ADS_1
Arkana yakin jika ayahnya sudah menyingkirkan Agus, memastikan ia tidak membocorkan informasi apapun. Ada beberapa hal lagi yang perlu Arkana pastikan sebelum benar-benar menanyakan langsung hal ini kepada ayahnya.
Ditengah-tengah itu, Alina tiba-tiba menelepon Arkana. Alina hanya memberi kabar jika Tari sudah sampai jadi Arkana tidak perlu khawatir meninggalkan Alina seorang diri di apartemen.
Arkana cukup tenang sekarang karena Alina sudah aman dan tidak seorang diri di apartemen. Kini Arkana bisa lebih fokus memikirkan langkah selanjutnya. Melihat dari ekspresi ayahnya tadi, sepertinya ia tidak tahu tentang Arkana yang pergi menemui dokter Arifin.
Arkana hanya perlu memastikan apa yang dilakukan selanjutnya setelah mengetahui Kai cocok menjadi donor untuk Baskara. "Ga ... ga mungkin Kai yang jadi pendonor nya, kalau memang benar sekarang Kai ada dimana," gumam Arkana.
"Prosesnya seharusnya tidak seberbahaya itu, saya tahu betul prosesnya."
"Tapi kemana Kai setelah proses itu?"
Arkana tidak berhenti mempertanyakan banyak hal didalam pikirannya.
Hingga tiba-tiba Baskara mendatangi Arkana. Baskara tahu jika Arkana sedang mencari siapa pendonor nya juga dimana keberadaan sahabatnya, Kai. "Gue boleh masuk Ar?" tanya Baskara dari balik pintu.
"Masuk, Bas."
"Ada yang mau gue obrolin sama lo."
"Apa?" tanya Arkana. Tidak biasanya Baskara berbicara serius dengannya, "Tumben banget lo mau ngobrol serius sama gue," lanjut Arkana.
Baskara mengungkapkan jika ia tahu apa yang dikerjakan Arkana akhir-akhir ini. Baskara juga khawatir jika alasan diusir nya Alina karena itu. Meskipun begitu Baskara masih belum siap mengungkapkan apa yang ia ketahui selama ini.
Karena sebenarnya ayah mereka pun tidak tahu jika Baskara mengetahui siapa pendonornya. Baskara sengaja diam meskipun sudah tahu Arkana mencari pendonor itu. Alasannya adalah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang didengarnya saat itu.
Gue selalu bertanya-tanya, kalo gue kasih tahu kalo Kai yang jadi pendonor gue dan dia harus meninggal karena itu akan seperti apa reaksi lo, Arkana.
__ADS_1