
Cantik banget ... siapanya Mas Arkana ya?
"Terakhir ketemu pas baru banget balik dari Boston kan?" tanya chef wanita itu.
"Kayaknya iya ya ... udah lama banget ya," ucap Arkana terlihat sangat ramah.
Alina melihat sisi Arkana yang sebelumnya belum pernah dilihatnya. Rasanya aneh melihat Arkana berbicara dengan ramah dan penuh senyum seperti itu. Ekspresi yang tidak pernah diperlihatkannya pada Alina.
"Oke kalo gitu, pesanannya ditunggu ya ... spesial pokoknya buat kalian."
Setelah chef kenalan Arkana itu pergi suasana mendadak canggung dan mereka hanya saling diam. Alina yang biasanya cerewet saja sama sekali tidak mengatakan apapun. Melainkan hanya menyibukan dirinya dengan ponsel.
Sayangnya orang dihadapan Alina ini adalah Arkana. Orang yang tidak mau repot untuk bertanya kepada orang didepannya kenapa hanya diam saja. Akhirnya Alina lagi yang memulai pembicaraan.
"Yang tadi chef disini? keliatan akrab banget sama Mas Arkana."
"Kenapa kalo akrab?" tanya Arkana membuat Alina kaget.
"Gapapa sih."
Menyadari jawaban dan ekspresi wajah Alina yang kurang baik, Arkana pun menceritakan siapa wanita tadi. Ternyata wanita tadi adalah wanita yang dijodohkan dengan Baskara. Meskipun sampai sekarang tidak tahu kelanjutannya bagaimana, tetapi hubungannya dengan Arkana masih terjalin baik.
Wanita itu lebih dulu mengenal Arkana, sehingga sudah pasti mereka lebih akrab. Hanya saja orang tuanya lebih memilih menjodohkannya dengan Baskara. Baskara masih tidak memberi respon, padahal rencana ini sudah berlangsung cukup lama.
"Udah puas?" tanya Arkana.
"Padahal ga minta dijelasin juga kok," ucap Alina melirik sembari tersenyum tipis.
Tidak lama makanan yang mereka pesan datang juga, bersama dengan wanita tadi menjelaskan makanan buatannya. Alina terus saja memperhatikan wanita itu dan sama sekali tidak melihat makanan yang dijelaskannya.
__ADS_1
"Dan makanan ini yang terbaik di restoran kami, aku sengaja bikin ini lebih spesial lagi khusus buat kalian."
"Jadi ini acara anniversary yang ke berapa?" tanya wanita itu polos.
Alina yang sedang minum tiba-tiba tersedak mendengar itu. Sedangkan Arkana hanya diam dan menunggu jawaban dari Alina. Alina melirik Arkana meminta bantuan, tetapi lelaki itu sama sekali tidak berniat membantunya melainkan hanya tersenyum meledek.
"Bukan ... kita cuma mampir makan malam biasa aja, hubungan kita sama sekali ga kayak yang kamu bayangin." Alina menjawab dengan senyuman canggung dan kaku.
Setelah mendengar respon dari Alina, wanita itu hanya tersenyum sembari mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa kemudian segera kembali ke kitchen. Namun sebelumnya wanita itu seakan memberikan kode kepada Arkana.
Wanita itu mengisyaratkan kata 'cantik' dengan gerakan mulutnya kepada Arkana. Namun, Arkana tidak bergeming dan hanya mengangguk biasa. Alina dan Arkana pun memulai makan malam mereka. Sepertinya ini momen makan malam mereka yang pertama.
Terlihat spesial karena dilakukan di sebuah restoran mewah yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Alina. Keduanya memakan menu yang sama, yaitu steak yang dagingnya masih terlihat juicy. Tipe steak yang sama sekali belum pernah Alina rasakan.
Alina cukup kesulitan saat memakan makanannya. Awalnya Arkana terlihat cuek dan hanya fokus memotong steak miliknya. Hingga tiba-tiba ia mengganti piringnya dengan Alina. Sehingga kini Alina mendapat steak yang telah dipotong dengan rapi oleh Arkana.
Bahkan setelah melakukan hal itu Arkana masih terlihat biasa saja. Melihat sedikit perhatian yang diberikan Arkana padanya, Alina hanya bisa senyum-senyum sendiri. Makan malam hari itu berlangsung tanpa banyak hal yang dibicarakan, tetapi setiap gestur yang diberikan Arkana kepada Alina terasa hangat.
Mas Arkana malem ini act of service nya nyala banget.
Setelah selesai makan, mereka pun langsung pulang. Jalanan menuju rumahnya bisa sangat gelap di malam hari. Terutama mereka menggunakan motor. Arkana tidak mau mengambil resiko, karena hari ini ia membawa Alina juga bersamanya.
Arkana memberikan helmnya kepada Alina. Setelah memasangnya dengan benar, Arkana memperhatikannya sekali lagi karena ini bukan helm yang biasanya. Selesai meyakinkan dirinya, Arkana pun menyalakan motornya dan berangkat menuju rumah.
Benar seperti yang dikatakan Arkana, jalanan menuju rumahnya sangat minim cahaya. Bukan karena mereka tidak mau memasang lampu jalanan, melainkan memang sengaja dibiarkan seperti itu oleh Tuan Miller. Entah apa maksudnya.
Sesampainya dirumah, seperti biasa Arkana menurunkan Alina didepan rumah lalu dirinya menuju parkiran untuk menaruh motornya. Tepat di teras depan berdiri Tuan Miller dan asistennya sedang membahas sesuatu, lalu melihat ke arah Alina. Melihat dirinya diperhatikan oleh Tuan Miller jujur membuatnya takut.
Alina kemudian tersenyum lalu mengangguk dan segera masuk. Namun, tiba-tiba Tuan Miller memanggilnya lalu menyuruhnya ke ruangannya segera. Jantung Alina berdegup kencang, kali ini berbeda degup kencang ini karena Alina takut kepada Tuan Miller.
__ADS_1
Meskipun sudah banyak petunjuk yang mengarah kepada Tuan Miller tentang dimana keberadaan kakaknya. Namun, Alina sama sekali tidak berani untuk berhadapan langsung dengan John Miller. Alina pun menurut dan mengikuti Tuan Miller ke ruangannya.
Kebetulan saat Alina sedang berjalan mengikuti Tuan Miller, Arkana yang baru masuk dari pintu belakang melihat itu. Arkana cukup khawatir, bagaimana jika ayahnya sudah tahu tentang siapa Alina sebenarnya. Akan cukup berbahaya jika ayahnya tahu Arkana menyelidiki ini dengan Alina.
"Masuk."
Alina dengan gugup mengikuti Tuan Miller masuk ke ruangannya, "Ada apa ya Tuan?" tanya Alina berhati-hati.
"Saya dengar kamu akhir-akhir ini cukup dekat dengan Arkana ya?"
"Kamu tahu kan Arkana itu siapa?"
Alina sama sekali tidak bisa menebak arah pembicaraan ini akan kemana. "Kami tidak sedekat itu, mungkin hanya beberapa kali bertemu dijalan dan pulang bersama."
Pandangan Tuan Miller sepenuhnya mengarah kepada Alina, "Yang harus kamu tau, saya bisa melakukan apapun yang bahkan kamu ga bisa bayangkan."
"Jadi ... apapun yang kamu dan Arkana sekarang sedang lakukan, lupakan saja kalau tidak kedepannya akan semakin sulit," tegas John Miller.
Kini Arkana berdiri tepat didepan ruangan ayahnya. Siap untuk kapan saja menyerobot masuk jika terdengar sesuatu dari dalam. Namun tiba-tiba pintu dibuka dan keluarlah Alina. Alina tersenyum lebar kepada Arkana, dan heran melihatnya ada disana, "Kok disini?"
Arkana kemudian mengikuti Alina yang berjalan menuju kebun bunga. Sekarang kebun bunga sudah sah menjadi tempat mengisi daya kondisi hati yang drop.
Alina kemudian duduk sembari menghembuskan nafasnya berat. "Ah ... gimana ini?" ucapnya melihat kearah Arkana yang berdiri disampingnya. "Ga boleh nyerah kan tapi? Ah ... ini keputusan yang bener ga ya?" Alina sejak tadi hanya mengoceh.
Arkana sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan Alina sejak tadi. Dirinya hanya terus mengoceh dengan dirinya sendiri sembari sesekali menatap Arkana. Kemudian Arkana pun duduk disamping Alina, dan menghadapkan tubuh Alina padanya.
"Kenapa?" tanyanya tegas.
"Tuan Miller kayaknya tahu kita lagi nyelidikin apa ... katanya jangan dilanjutin."
__ADS_1
"Gimana ga dilanjutin, ini hubungannya sama kakakku kenapa harus berhenti?"
Arkana yang melihat kegelisahan Alina, kemudian memegang pundaknya dan menatapnya dalam, "Jangan khawatir, saya kan udah janji bantu kamu."